Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 132


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 01.30 dini hari.


Ara menaiki tempat tidur.


Menatap wajah tampan suaminya yang tertidur lelap dengan dengkuran lembut.


Ara tersenyum, lalu mengecup kening suaminya lembut dan sangat hati hati, agar tidak menimbulkan suara yang akan membuat Raka bangun, dia memperbaiki selimut, berdoa sejenak lalu segera merebahkan tubuhnya di samping suaminya.


Ara menyampingkan tubuhnya menghadap kearah suaminya. Mengusap lembut dagu suaminya."Semoga Allah limpahkan kesehatan dan kebaikan untukmu sayang." ucapnya pelan.


"Aamiin." ucapan terdengar dari mulut Raka .


Ara terkejut "Kakak nggak tidur?"


Raka berbalik menghadap pada Ara. Dia tersenyum membelai lembut wajah istrinya.


"Doa yang sama juga untukmu sayang!" bisiknya lembut balas mengecup kening istrinya."Aku tadi memang tidur, tapi terbangun merasakan gerakan tubuhmu, kecupan mu, belaian mu." katanya menatap lembut.


Ara tersenyum."Maafkan aku kak, membuat tidurmu terganggu. Aku baru saja masuk."


"Tidak sayang, kamu tidak menggangu tidurku. Lihat jamnya, sekarang sudah pukul berapa?"


Oh iya... Ara baru ingat, kebiasaan mereka di jam begini, waktunya untuk shalat malam.


Suaminya tidak pernah lalai melaksanakannya dan selalu terjaga di antara sepertiga malam, untuk melaksanakan kewajibannya. Ara sangat bersyukur dan bahagia di berikan suami yang baik dan taat beribadah.


Raka segera bangun. Ara juga ikut bangun.


"Tidurlah, kamu pasti mengantuk! Lagi pula kamu belum bisa menunaikannya kan?"


"Aku mau menemani kakak, aku belum mengantuk." Ara duduk dan bersandar pada bantal kepala.

__ADS_1


"Sudah berbicara dengan sekretaris Wisnu?"


"Sudah, dengan kak Rafa juga."


"Terus mereka bilang apa tentang gadis gadis itu?"


"Kata sekretaris Wisnu mereka sudah di bebaskan,"


"Kamu sudah tenang sekarang kan? jadi tidurlah. Jangan mikir macam macam lagi, nanti kepalamu sakit. Setelah subuh kakak akan bangunin kamu. Kita akan melihat pantai," Raka membaringkan kembali tubuh istrinya, menyelimutinya.


"Tidurlah, kakak mau bersih bersih dulu." sambungnya kembali.


Ara tersenyum mengangguk, lalu memejamkan mata. Raka segera menuju kamar mandi.


Biasanya sebelum shalat malam, suaminya selalu meluangkan waktu untuk membaca Alquran. Lantunan suara merdu yang keluar dari mulut suaminya melafalkan ayat-ayat suci Alquran mengantar Ara ke dalam tidur yang nyenyak.


Setelah subuh.


Di depan pintu kamar, mereka melihat Levina dan Rafa berdiri. Levina tampak memeluk Rafa dan mendaratkan satu kecupan di lengannya yang berusaha di hindari Rafa tapi tidak sempat karena terlalu tiba tiba. Rafa mendengus geram.


Raka dan Ara merasa tidak enak hati datang di saat yang tidak tepat.


"Kak Rafa sepertinya lagi sama kak Levina. Apa kedatangan kita tidak menggangu mereka?" kata Ara pada suaminya. Raka juga berpikir sama dengan Ara. Dia hendak berkata untuk tidak menggangu kakaknya, tapi keberadaan mereka telah di ketahui oleh Levina.


"Raka, kalian di sini?" seru Levina melihat keduanya. Rafa segera mengikuti pandangan Levina begitu mendengar nama Raka di sebut.


Rafa melihat Raka dan adik Ara yang tampak mengenakan pakaian pantai. Dia menatap keduanya dari atas hingga ke bawah. Matanya tak berkedip melihat Ara.


"Maaf kak Rafa, kak Levina, karena telah mengganggu kalian. Kami tidak tahu kalau kalian lagi bersama." kata Raka.


"Tidak apa-apa, santai saja." jawab Levina. Dia memperhatikan penampilan keduanya, terutama pada Ara. Matanya berhenti pada kaki jenjang, putih mulus tak bernoda milik Ara. Dia tidak menyangka gadis cupu ini memiliki kulit putih, bersih dan mulus.

__ADS_1


"Kalian mau ke pantai?" tanyanya kemudian.


"Iya. Kami ke sini mau izin sama kak Rafa." kata Raka.


Sementara Ara hanya diam dan menghindari tatapan Rafa mengingat apa yang terjadi di antara mereka berdua semalam. Ara sedikit takut, merasa mungkin Rafa masih marah padanya.


"Kakakmu pasti mengizinkan." Levina melirik Rafa yang hanya diam menatap dingin pada Ara.


"Selagi ada di sini bersenang-senanglah! Ajak istrimu ke semua tempat wisata yang ada di bali. Ini pasti pertama kalinya dia datang kesini kan? Nah__Ara nikmatilah sepuasnya, mumpung kau ada di sini. Karena entah kapan lagi kau bisa datang kesini." kata Levina menyindir sambil menatap Ara dengan senyuman palsu.


Ara merasakan hal itu, tapi dia tidak ambil pusing dan hanya tersenyum.


"Iya kak." jawabnya pelan.


"Kembalilah Levina." kata Rafa menatapnya tajam. Darahnya mulai panas mendengar sindiran itu.


"Baiklah sayang, kita juga sudah selesai. Aku akan segera balik ke kamar. Nanti siang aku akan menghubungimu." kata Levina. Dia kesal merasakan tatapan mata Rafa yang serasa ingin menerkamnya karena perkataannya pada Ara.


"Kalau kak Levina punya waktu bergabunglah bersama kami. Biar makin rame dan seru." ajak Raka menoleh pada kakaknya.


"Itu bagus skali. Aku setuju! Pasti aku akan datang bersama kakakmu. Sudah lama juga kami tidak jalan jalan bersama ke pantai. Ya sayang ya?" Levina memeluk lengan Rafa yang hanya menggunakan jubah tidur pendek dan celana bokser sepaha. Dada bidangnya yang putih kokoh dan berotot, serta perutnya yang six-pack sangat menggoda Levina. Berulang kali ia menelan ludah. Dia hendak menyentuh dada Rafa, tapi Rafa cepat menangkap tangannya.


"Kita sudah selesai Levina, pergilah." ucap Rafa menatap tajam.


"Baiklah, nanti aku akan menghubungimu." kata Levina kesal. Tidak kesampaian menyentuh dada Rafa, dia alihkan dengan mengecup lengan Rafa. Rafa mendengus geram menatap tajam kepadanya.


"Raka, Ara, aku pergi dulu." melambaikan tangan pada pasangan suami istri itu dan segera berlalu.


"Kakak bisa bergabung dengan kami ke pantai? Aku juga sudah mengirim pesan pada kak Nesa." kata Raka ingin mengajak ke dua kakaknya bergabung bersama mereka ke pantai.


"Kakak sibuk, ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan." kata seraya Rafa masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2