Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 296


__ADS_3

Kita ke Rafa Ara dulu ya πŸ’—


Saat ini Ara sedang berada di butik miliknya. Tepatnya di ruang kerjanya.Dia ditemani suaminya, yang semakin hari makin posesif dan manja. Maunya pengen nempel terus karena semakin kecanduan sama tubuh Ara.


"Kakak nggak ke kantor? Kok malah di sini?"


"Aku malas kerja sayang. Maunya sama kamu terus." kata Rafa seraya mencium perut istrinya.


Saat ini Rafa sedang bermalas-malasan berbaring di paha Ara yang sedang memasang hiasan mutiara pada baju gaun pengantin. Sengaja dia menganggu agar perhatian Ara berpindah kepadanya.


Ara segera meletakkan pekerjaannya.


Lalu mengecup kening suaminya, membelai rambutnya lembut.


"Kakak gak boleh malas. Harus semangat. Nasib hidup seluruh karyawan tuh ada di tangan kakak." katanya pelan dengan suara khasnya yang lembut dan manja bikin Rafa sejuk dan adem.


"Aku tahu sayang. Biarkan aku berbaring dulu di pangkuanmu. Aku ingin ngobrol bersama anak anakku. Sepertinya mereka sedang mengajakku bicara." kata Rafa seraya meletakkan telinganya di perut istrinya.


"Tuh kan sayang, mereka sedang membisikkan sesuatu." kata Rafa kembali semakin mendekatkan telinganya pada perut istrinya.


Ara tersenyum, bingung.


"Emang mereka bilang apa sama kakak?" menggelitik telinga suaminya.


Rafa merasa geli. Dia menangkap tangan Ara dan menciumnya.


"Mereka bilang untuk ngecup bibir kamu sayang." kata Rafa tersenyum menggodanya.


Kening Ara mengerut.


"Masa sih? Tapi kata anak anak mereka gak ngomong begitu. Mereka bilang ayah bohong." katanya menatap lekat wajah suaminya sambil tersenyum.


Rafa tertawa dia kecil.Dia segera bangun dan membawa tubuh istrinya ke dalam pangkuannya. Lalu langsung menciumi bibir Istrinya gemas. Beberapa saat di lepas melihat Ara perlu oksigen. Dia mengakhiri ciumannya dengan mengecup kuat leher istrinya hingga meninggalkan bekas lagi di atas bekas semalam dan kemarin kemarin yang tidak akan pernah hilang.


Ara mengerang keras sambil menyentuh lehernya.


"Kenapa sih harus meninggalkan bekas? Yang semalam aja belum hilang, kemarin kemarin juga masih membekas. Sekujur tubuhku dari ujung kaki hingga atas, bagian depan sama belakang kakak penuhi dengan bekas bibir kakak. Bibirku juga bengkak dan semakin tebal. Kakak nggak bosan apa nyium terus?" kata Ara dengan wajah cemberut.


Rafa kembali tertawa kecil.


"Aku suka melihat hasil karyaku di tubuhmu sayang, aku gak mau mereka hilang. Dan Aku gak akan pernah bosan dengan dirimu. Kamu seperti candu bagiku untuk terus ku nikmati setiap saat. Habisnya kamu sangat nikmat sayang. Kamu begitu menggoda dan menggairahkan." katanya lembut merayu dengan kedua tangan terus bermain lembut di bagian favoritnya.


"Memangnya aku makanan di bilang nikmat begitu?" kata Ara dengan wajah semakin cemberut.


Rafa tersenyum lebar.


"Kamu bahkan lebih nikmat dari makanan terenak yang berada di seluruh restoran mewah di dunia sayang."


"Ishh kakak....aku serius. Ini sesuatu yang sangat memalukan. Aku malu jika ada yang melihat. Kakak lihat tadi kan banyak pengunjung diluar." keluh Ara kesal.


Rafa menyambar cepat bibir yang mengerucut menggemaskan itu. Membuat si empunya tak bisa menghindar.


"Apa yang membuatmu malu sayang. Katakan kepada mereka aku yang membuatnya. Suamimu tercinta, Rafa Ravendro Artawijaya." kata Rafa setelah melepas pangutannya.


Ara mendesis kesal. Dia tidak akan menang kalau berdebat terus mengenai hal pribadi mereka.


"Sudah ah, Lebih baik kakak pergi ke kantor.


Aku mau melanjutkan pekerjaan ku. Kalau gini terus nanti gak akan kelar." katanya seraya menarik tangan Rafa dari dadanya. Lalu segera turun dari pangkuan Rafa. Dia menurunkan bra dan blousnya.


Rafa menahannya dan kembali memeluknya.


"Sayang, ikut aku ke kantor yuuk. Aku tidak mau jauh jauh darimu. Aku ingin terus dekat dirimu." katanya memelas manja, menciumi punggung istrinya.


Ara mengeluh pelan. Dia berbalik menatap wajah suaminya. Mengecup bibir suaminya.


"Kakak sayang, suamiku paling tampan, paling baik sedunia." membujuk merayu.


"Kakak ke kantor kan untuk kerja. Kalau aku ada di sana yang ada kakak malah nggak kerja kerja. Kerjanya pasti ngerjain aku. Aku gak yakin kakak akan bekerja jika aku ada di sana." katanya pelan, disusul cium kening lagi.


Rafa tersenyum kecil mendengar ucapannya.


"Tuh kan, senyum manisnya sudah menjawab dan membenarkan ucapan ku! Sekarang kakak ke kantor ya, sayangku cintaku dunia akhirat. Aku juga mau melanjutkan pekerjaanku." katanya lembut, membuat hati Rafa klepek-klepek, terbuai, dan tenang mendengarnya.


"Terus ini gimana sayang? Kamu gak pengen nenangin?" pinta Rafa. Menunjuk miliknya.


Ara membuang nafas berat, memegang wajah suami.


"Kata dokter berapa kali seminggu?"


"3-5 kali demi kesehatan dan keselamatan kamu dan janin." kata Rafa mengingat perkataan dokter mengenai hubungan se*KS selama masa kehamilan.


"Terus yang kakak lakukan berapa kali seminggu?" tanya Ara menatapnya.


Wajah Rafa tampak mengerut karena sedang berpikir dan menghitung.


"30..35...Aku lupa sayang. Gak kehitung." kata Rafa menyerah karena dia benar tak ingat.


"Ya tentu saja, karena terlalu banyak makanya lupa dan sudah tak terhitung. Kakak menyalahi anjuran dokter. Itu artinya kakak gak sayang sama aku dan anak anak kita."


Rafa terkejut mendengar ucapannya.Dia langsung memeluk tubuh Ara.


"Kok ngomongnya gitu sayang? Aku sayang banget sama kamu dan anak anak. Kalian harta milikku yang paling berharga di dunia ini dari semua apa yang aku punya." katanya merasa bersalah. Dia semakin memeluk istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, hasratnya tidak terkendali dan tidak dapat di kendalikan dekat dengan Ara seperti ini. Dia tegang terus kalau dekat begini. Bahkan saat jauh pun dia akan tegang saat mengkhayalkan tubuh indah istrinya.


Ara tersenyum kecil melihat suaminya yang tampak sedang melamun dan berpikir.


"Kalau sayang sama aku dan anak anak, kakak harus kurangin porsi jatahnya. Mulai detik ini Ikuti anjuran dokter." katanya tertawa kecil dalam hati merasa menang.

__ADS_1


"Sayaaang, gak bisa gitu. Aku sayang sama kalian. Sayangku sama kamu gak boleh di kaitkan dengan hubungan se*s kita. Aku nggak akan bisa tahan kalau hasratku di luar kendaliku. Lagi pula aku mainnya selalu lembut gak nyakitin kamu dan anak-anak. Aku juga menjaga kamu untuk tidak capek da dan lelah. Aku bermain sendiri dan hati hati agar tidurmu tidak terganggu. Aku tetap menjaga kalian. Aku tahu kok apa yang ku lakukan dan yang terbaik untuk kalian. Nggak mungkin aku nyakitin kalian. Jadi nggak ada masalah jika ngelakuin di luar anjuran dokter." kata Rafa membantah dan menanggapi perkataan istrinya. Lalu tersenyum penuh kemenangan melihat wajah manyun istrinya.


Ara kembali mendesis kesal. Memang sudah dapat di pastikan suaminya akan selalu menang terus jika berdebat mengenai hubungan se*s mereka.


"Sudah ah__dari pada berdebat terus mending bantuin aku." comel Ara dan cepat turun dari pangkuan suaminya. Dia meraih gaun pengantin dan di pasangkan pada patung manekin. Lalu dia berdiri sambil di atas sofa.


Rafa tertawa kecil melihat kekesalan di wajah istrinya. Dia segera bangkit dan membantu.


Ara kembali memasang pernak-pernik mutiara dan Payet lainnya. Rafa kembali mengganggu dengan memeluk dari belakang. Menyerang terus tengkuk, leher dan punggung Ara. Satu tangannya memegang wadah kecil tempat pernak pernik perhiasan, satunya lagi bergerak liar.


Ara hanya bisa membuang nafas dengan kelakuan nakal suaminya ini. Dan sekuat mungkin menahan hasratnya dan menahan desahannya yang akan semakin memancing gairah suaminya.


Ara merogoh ponsel Rafa di saku celananya membuat Rafa mengerang karena tangannya tanpa sengaja menyentuh milik suaminya yang sudah sangat tegang mengeras.


Ara tertawa kecil dalam hati. Tapi juga merasa berdosa karena menyiksa suaminya. Bukan di sengaja, tapi karena miliknya juga masih sakit karena setiap malam, setiap saat selalu digerayangi suaminya. Dia hanya bisa bebas saat suaminya pergi urusan bisnis keluar kota dan luar negeri.


"Mau menghubungi siapa sayang?" tanya Rafa merem melek menikmati sendiri setiap sentuhannya pada tubuh Ara. Dia merungut kesal. Dirinya sudah sangat tersiksa, sedangkan Ara malah tampak santai dengan pekerjaan tak terpengaruh sedikit pun.


"Ines kak! Oh ya bagaimana perkembangan pendekatan sekretaris Wisnu pada Ines?" katanya untuk mengalihkan sensasi nikmat yang di rasakan oleh sentuhan nakal suaminya.


"Gak ada perkembangan sama sekali. Aku sudah memerintahkan dirinya untuk segera melamar temanmu itu, tapi dia tidak punya nyali dan keberanian. Baginya Itu pekerjaan yang sangat sulit. Dia lebih memilih perintah bertempur di medan perang dan meminta di bunuh saja dari pada merayu dan melamar perempuan. Lepas dari itu, dia juga masih sangat mencintai almarhumah Istrinya. Dia belum bisa melupakan Ayirin hingga saat ini." kata Rafa dengan tangan yang terus bergerak aktif kebagian bagian sensitif Ara.


Ara menggigit bibirnya, berusaha menahan hasratnya. Jari jemarinya bahkan sampai tegang dan kaku.


"Itulah namanya cinta sejati kak. Aku pun hingga detik ini tidak bisa melupakan kak Raka. Terkadang aku masih sangat merindukannya! Mengharapkan dia datang ke dalam mimpiku! Semoga Allah menempatkan kak Raka di tempat terbaik dan paling mulia di sisinya." ucap Ara sedih teringat lagi pada almarhum suaminya.... Raka.


"Aamiin." ucap Rafa yang tidak marah lagi saat Ara teringat dan merindukan Raka, adiknya.


"Aamiin ya rabbal Alamin!" sambung Ara.


"Terus kakak akan menyerah dengan sekretaris Wisnu?" katanya kembali.


"Aku nyiapin gaun ini untuk Ines. Dulu aku janji sama dia dan Cindy, akan memberikan gaun pengantin saat mereka menikah nanti. Ines suka yang modelnya kayak gini." kata Ara kembali.


"Aku akan mencari cara lain sayang. Aku akan melakukan apapun untuk Azham dan Azhar. Anak anak itu sangat menyukai dan menyayangi sahabatmu."


"Tapi, sekretaris Wisnu tidak mencintai Ines. Aku tidak ingin sahabatku tersakiti." kata Ara.


"Sayang, sahabat mu itu juga menyukai dan menyayangi Azham Azhar. Aku yakin dia akan mengesampingkan perasaannya pada tahun Wisnu demi kebahagiaan si kembar. Makanya kau bantu aku untuk menjelaskan pada Ines tentang Ayirin dan kehidupan Azhar Azham sejak mereka masih dalam kandungan ibunya dan hingga saat ini. Anak anak yang sangat haus cinta dan kasih sayang seorang ibu. Dan mereka mendapatkan itu hanya pada sahabatmu itu. Aku yakin hati sahabatmu pasti akan tergugah. Kau sendiri bilang kan? dia itu orang baik dan tidak tega'an! Mengenai Wisnu, serahkan padaku. Aku sedang berusaha untuk membuat dia bisa membuka hati pada wanita lain. Aku yakin dia bisa jatuh cinta lagi___kecuali hatinya terbuat dari batu." kata Rafa kembali.


"Baik kak, aku akan mencoba bicara dengan Ines. Nanti aku akan bertemu dengannya


! Aku mau menghubungi dia dulu." kata Ara seraya menekan nomor Ines.


Empat kali berdering akhirnya tersambung.


"Assalamualaikum Nes___"


"Waalaikumsalam Ra___bagaimana kabarmu sayang? Keponakan ku juga bagaimana?" kata Ines dari seberang.


"Alhamdulillah kami baik Nes. Kamu sendiri gimana, sehat?"


"Syukurlah, kamu lagi ngapain sekarang?"


"Aku lagi di jalan sama Azham dan Azhar"


"Ohh.... kalian lagi bersama ya?"


"Iya Ra, kebetulan kami lagi di jalan. Azhar dan Azham mau mengajakku ke suatu tempat yang indah."


"Wah___asik dong kalian senang senang terus. Gak nyangka kalian semakin akrab dan dekat saja."


"Iya Ra, mereka sangat menyukaiku. Aku gak nyangka mereka menyayangiku. Mereka bahkan tak mau lepas dariku. Padahal kita baru seminggu bertemu! Aku gemes, suka dan sayang sama mereka. Mereka anak anak baik dan sopan!" kata Ines dengan antusias.


"Wah bagus dong, syukur deh kalau begitu. Pantas saja kau tidak menghubungi ku sejak kemarin, karena udah ada teman baru." comel Ara. Tapi dia merasa senang karena ternyata benar, Ines dan anak anak itu saling menyayangi.


"Hey nona muda Artawijaya, kau cemburu sama anak kecil ya? hahaha....kau dan Cindy tetap sahabat terbaikku selama lamanya. Aku menyayangi kalian."


"Aku juga menyayangi mu Nes. Aku senang Azham dan Azhar dapat kakak sekaligus teman terbaik seperti dirimu. Salam ya sama mereka. Kapan kapan datanglah ke rumah."


"Oke Non ___Btw ada apa kau menghubungi ku?"


"Gak ada apa Nes, aku hanya kangen kamu dan Cindy!"


"I Miss you too honey! Terus kamu lagi ngapain sekarang?"


"Aku lagi di butik sekarang. Aku sedang memasang Payet mutiara pada gaun pengantin."


"Dapat orderan lagi ya? Syukur Alhamdulillah, semoga rezeki mu dan juga suamimu semakin mengalir banyak. Kalian orang yang sangat baik. Sudah pasti Allah selalu ganti dan selalu masukkan rezeki untuk kalian."


"Aamiin Nes, makasih doanya. Tapi ini bukan pesanan orang. Tapi aku siapkan untuk seseorang."


"Oohh, buat buk Moly ya? aku dengar dia mau nikah sama dokter Rizal."


"Iya kamu benar. Tapi ini bukan untuk kak Moly. Gaun mereka sudah ada kok. Ini khusus aku siapkan untuk sahabat ku."


"Sahabat? Siapa? memang kamu punya


sahabat selain aku dan Cindy?"


"Pokoknya ada deh! Sudah dulu ya Nes? nanti kapan-kapan kita bertemu. Aku juga pengen ketemu kamu dan Cindy. Aku kangen sama kalian."


"Oke Ra, nanti aku akan datang ke rumahmu bersama Cindy. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Ara sudah mematikan telepon.


"Udah selesai ngomongnya?" tanya Rafa yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perbincangan mereka tanpa menghentikan aksi liarnya.

__ADS_1


"Iya kak! Ines juga sayang sama mereka. Aku akan bantu untuk....." suaranya lenyap hilang dalam bungkaman bibir Rafa


Rafa langsung menyambar bibirnya. Selanjutnya mengangkat tubuh Ara ke tempat tidur.Sudah sejak tadi dia menahan segala hasratnya yang menggebu, membuatnya pusing, sakit kepala


Dan Ara hanya bisa pasrah pasrah pasrah dan pasrah dengan serangan ini. Suaminya tidak akan berhenti mengganggunya sampai hasratnya tersalurkan.


.


.


Taksi yang di naiki Ines dan si kembar berhenti pada sebuah pemakaman umum.


Sebenarnya Ines ragu dan takut keluar rumah.


Karena mereka tidak memberi tahu Wisnu untuk keluar. Wisnu sudah mengatakan tadi untuk tetap di rumah jangan kemana mana.


Tapi si kembar merengek dan memaksa untuk pergi mengunjungi ibu mereka. Ines tidak tega menolak dan membuat mereka kecewa, jadi dia menuruti keinginan anak anak itu. Yang penting segera kembali sebelum ayah mereka pulang ke rumah.


Setelah melapor pada penjaga makam pintu gerbang, mereka segera masuk. Sebuah lokasi pemakaman umum yang bersih dan posisi setiap makam kuburan berjejer rapi dan teratur.


Ines bingung menatap kepada si kembar. Dia Ingin bertanya untuk apa mereka ke sini. Tapi si kembar berlari kecil meninggalkan dirinya.


Ines menatap mereka sesaat, lalu segera mengikuti menyusul dengan langkah cepat.


"Ayo kak cepat." teriak si kembar.


Mereka berhenti pada sebuah makam.


Untung saja makam Ayirin yang tidak terlalu jauh dari pintu gerbang, hanya melewati dua jalur makam pekuburan orang lain.


Setelah dekat dengan makam Ayirin, Azham dan Azhar menarik tangan Ines membawa lebih dekat ke makam ibu mereka.


"Azham Azhar, untuk apa kita kesini?" tanya Ines bingung masih belum menyadari.


"Mau mengunjungi ibu. Kakak ingin ketemu ibu kan? Nah di sinilah ibu tinggal. Itu rumah ibu." kata Azham menunjuk makam di depan mereka.


"Apa?" Ines tercengang mendengar ucapannya. Dia segera memalingkan wajahnya ke depan. Mengikuti arah telunjuk Azham pada sebuah makam yang tampak bersih dan terawat dengan baik. Dia melihat batu nisan yang bertuliskan Ayirin Binti......


Hati Ines seketika membuncah.


"Ja- jadi...ibu Azham dan Azhar sudah meninggal?" tanyanya terbata bata seakan tak oert.


"Iya kak, ibu sudah berada di tempat yang sangat jauh. Di surganya Allah." kata Azhar tersenyum.


"Hahhh..." Ayirin terbelalak sambil menutup mulutnya yang terbuka. Kesedihan menyeruak seketika. Dadanya terasa sesak. Matanya berkaca-kaca.


Azham dan Azhar segera berlutut di depan pusara ibunya.


"Assalamualaikum ibu. Azham dan Azhar datang lagi mengunjungi ibu." kata Azham dengan senyuman bahagia. Dia memegang batu nisan Ayirin. Azhar juga mengikutinya.


"Kali ini kami datang bersama teman." kata Azham kembali.


Azham menoleh pada Ines yang mematung di tempatnya menatap tak bergeming pada batu nisan Ayirin dengan mata berkaca-kaca.


"Ayo kak, duduk di dekat kami. Kami akan perkenalkan kakak pada ibu." menarik tangan Ines.


Ines kaget, Dia segera menyapu air matanya yang jatuh. Lalu segera menurunkan tubuhnya.


"Nah Ibu, Ini teman kami, namanya kak Ines. Itu lho...teman yang kami ceritakan pada ibu. Kak Ines sangat baik pada kami. Kak Ines juga cantik___benar kan yang kami katakan ibu?"


Hahhh...lagi lagi Ines mendesah sedih.


Tanpa terasa air matanya kembali jatuh menetes. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Azham Azhar ternyata anak piatu. Ibu mereka sudah meninggal. Dan ternyata ibu mereka meninggal sudah 12 tahun yang lalu? batinnya melihat tahun kematian Ayirin yang tertulis pada batu nisan.


"Ya Allah, jadi anak anak ini sudah sangat lama ditinggalkan oleh ibu mereka? 12 tahun? sama seperti usia mereka sekarang ini." batin ini kembali.


"Jadi selama ini mereka tidak pernah merasakan cinta dan kasih sayang seorang ibu?" batinnya kembali.


"Kakak tahu? ibu sudah lama pergi meninggalkan kami, ibu pergi setelah melahirkan kami. Dan hari ini tepat 12 tahun ibu pergi di panggil Allah. Makanya kami memaksa untuk mengunjungi ibu hari ini." kata Azham menatapnya tersenyum.


Bahu Ines terguncang guncang menahan tangisnya. Dadanya terasa sesak dan bergemuruh kuat menahan tangis. Hanya air matanya yang terus jatuh. Dia memegang bahu kedua anak itu. Menatap wajah polos anak anak yang tampak tersenyum bahagia tak menunjukkan kesedihan sedikit pun.


"Kak Ines jangan menangis. Nanti ibu akan ikutan sedih melihat kita menangis. Kami ingin ibu tersenyum bahagia. Kakak jangan menangis ya." kata Azhar menyapu air matanya.


Ines tak dapat membendung kesedihannya.


Dia segera memeluk ke dua anak itu sambil menangis terisak Isak. Air matanya semakin membanjir di kedua pipinya.


"Azham Azhar...kakak sama sekali tidak tahu kalau ibu kalian telah meninggal. Kakak mengira ibu kalian ada di Amerika." katanya terbata bata di sela isak tangisnya.


Pantas saja anak anak tak mau lepas darinya, ingin terus bersamanya, minta di temani tidur sambil di bacakan dongeng, dan sangat butuh perhatian darinya. Ternyata karena mereka tidak mendapatkan semua itu dari ibu mereka.


"Ya Allah, Sungguh malang sekali mereka. Sejak lahir tidak pernah melihat wajah ibu mereka. Dan tidak pernah merasakan kasih sayang, dan cinta seorang ibu." batin Ines.


Dia semakin erat memeluk anak anak ini.


"Azham Azhar." suara panggilan dari belakang mengagetkan mereka. Ketiganya membalikkan tubuh melihat ke belakang.


"Ayah..." Azhar dan Azham terkejut melihat Wisnu berdiri sambil memegang sebuah buket bunga.


Ines buru buru menyapu air matanya.


"Ayah sudah bilang pada kalian jangan keluar rumah. Kenapa kalian tidak mendengar?" kata Wisnu sedikit menyentak sambil menatap tajam pada mereka secara bergantian.


Azham dan Azhar langsung memeluk Ines dan menyembunyikan wajah mereka di belakang Ines. Keduanya takut menatap ayah mereka.


Bersambung.

__ADS_1


Tinggalkan jejak ya πŸ˜ŠπŸ™


__ADS_2