Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 72


__ADS_3

Ara teringat akan janjinya untuk datang ke panti hari ini. Dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan sudah hampir jam 5 sore.


"Ini sudah sore, sebaiknya nona kembali saja, keadaan tuan juga sudah membaik, nona tidak perlu khawatir lagi" Kata Wisnu.


"Sekretaris Wisnu benar, pulang lah ke rumah, kami akan segera membawa kembali kakak iparmu ke apartemennya sebelum dia sadar" Rizal menambahkan .


Dahi Ara mengernyit


"Kok di bawah ke apartemen sih dok? kenapa nggak di rawat di sini dulu?"


"Kau tahu sendiri bagaimana watak kakak iparmu itu? pemarah dan keras kepala. Aku pasti akan di marahi habis habisan jika dia sadar nanti dan mendapati dirinya berada di sini. Bahkan bisa bisa aku di pecat dan di hukum" berbisik seraya melirik Wisnu yang menatapnya tajam.


"Kok di pecat sih dok? kan dokter udah nyelamatin dirinya.... seharusnya kak Rafa terimakasih sama dokter" menatap lekat Rizal dan Wisnu bergantian.


Rizal membuang nafas berat, dia bangkit berdiri seraya menarik tangan Ara mengajak berdiri, dan berjalan sedikit menjauh dari Wisnu.


Dia membisikkan sesuatu di telinga Ara.


Wisnu meliriknya semakin tajam.


"Ra, nanti kalau kakak iparmu itu sadar dan menanyakan kenapa lukanya udah di operasi, aku akan mengatakan kalau dia di operasi di apartemen dan atas permintaan dirimu... yaaa? tolong aku ya..aku akan ngomong gitu ke dia"


Dahi Ara kembali mengerut.


Rizal kembali mendekatkan wajahnya.


"Aku gak mau di hukum dan di pecat. Kalau ku katakan dirimu yang meminta, dia pasti tidak akan marah dan tidak akan menghukum dirimu karena kau adik iparnya, istri dari adiknya, wanita yang sangat di cintai Raka! tolong ya? please deh Ra." Rizal memelas.


Ara mendesah pelan.


"Tapi aku juga takut dok, giman kalau kakak ipar marahin aku?"


"Itu gak akan mungkin, kau istri Raka, menantu Artawijaya. Percayalah padaku....!"


menatap lekat mata Ara.


Ara menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan


"Baik dok"


Rizal langsung tersenyum senang.


"Terimakasih adik iparku yang cantik, sekarang kau pulanglah, kau pasti capek kan? Raka juga sedikit lagi balik ke rumah. Aku juga mau siap siap untuk membawa dirinya kembali ke apartemennya."


"Iya dok"


"Wisnu, nona mudamu akan pulang, antar dia kedepan." Rizal menyeru pada Wisnu.


"Silahkan nona, saya akan menyuruh sopir kantor untuk mengantar nona." kata Wisnu


"Tidak perlu sekretaris Wisnu, aku akan naik taksi online saja, soalnya aku masih akan mampir ke sala satu tempat."

__ADS_1


"Tidak apa nona, sopir akan mengantar dan menunggu nona. Nona cukup beritahu saja kemana tujuan nona."


"Tapi aku tidak mau merepotkan orang, dan lagi pula dia adalah sopir kantor."


"Sudah jangan membantah, sopir itu di gaji tinggi untuk mengantar dan menunggui kemanapun majikannya pergi ! ini juga sudah sangat sore, kau pasti akan kesulitan turun naik mencari taksi." sela Rizal.


"Baiklah ..." Ara mengalah.


"Silahkan nona, saya antar sampai ke depan." ujar Wisnu kembali.


Ara segera melangkah kaki setelah pamit pada Rizal, di ikuti Wisnu dari belakang.


Salah satu mobil mewah kantor milik Rafa set dengan sopirnya sudah terparkir di depan pintu utama rumah sakit yang akan di pakai mengantar Ara.


Wisnu membukakan pintu untuk nona mudanya, memberi isyarat pada sopir, lalu menutup pintu mobil kembali setelah Ara masuk.


Setelah mobil bergerak meninggalkan rumah sakit, Wisnu memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengikuti mobil Ara dari belakang, lalu dia kembali masuk ke dalam.


*****


Ara menghidupkan ponselnya .


Banyak chat yang masuk, dari Raka yang menghawatirkan nya, dari Tito yang menanyakan kedatangannya ke panti, dari Cindy dan Ines yang menanyakan ketidakhadirannya di kampus, serta si kembar yang menuntut janjinya tadi pagi.


Ara menghela nafas, lalu menghembuskan


pelan. Dia menyandarkan kepala serta seluruh


mobil, untuk meminimalkan rasa capek dan


lelah yang ia rasakan di seluruh tubuhnya.


Dia berusaha menenangkan pikiran dan kekalutan di dalam kepalanya atas kejadian buruk yang menimpa kakak iparnya tadi.


Tapi dia sangat bersyukur pada akhirnya semua baik baik saja.


Krucuk krucuk ..


Terdengar bunyi dari perutnya, sebagai tanda bahwa perutnya itu kosong dan ia sedang lapar. Karena tadi hanya di isi lima sendok bubur oleh kakak iparnya.


Ara memegang perutnya.


Sang sopir yang mendengar bunyi dari perutnya melirik dari kaca spion tengah mobil .


"Nona muda, sebaiknya nona makan dulu.


Ada restoran mewah dekat sini, saya akan mengantar nona ke situ."


Ara tersipu kaget, ternyata bunyi keroncongan perutnya sampai terdengar oleh sopir.


"Tidak usah, saya akan makan di rumah saja, antarkan saja saya pulang, sebentar lagi magrib " kata Ara tersenyum.

__ADS_1


"Baik nona"


Ara membatalkan niatnya ke panti hari ini mengingat sudah sore.


Dia segera mengirim pesan pada Tito, nanti


akan datang besok setelah ia selesai kuliah.


Tidak lama kemudian mobil mewah dengan harga selangit itu memasuki pintu gerbang utama.


Para penjaga keamanan memberi hormat dengan menundukkan kepala ketika mereka lewat. Ara melihat mobil Raka begitu mobil yang ia naikin masuk halaman parkir, menandakan kalau suaminya sudah pulang.


Mobil berhenti, sang sopir turun membuka pintu untuknya. Ara turun dan mengucapkan terimakasih.


Lalu ia segera masuk yang langsung di sambut oleh pak Sam di pintu masuk.


"Selamat sore nona muda." sapa Sam


"Sore pak Sam, apa kakak Raka sudah lama pulang ?"


"Sekitar 10 menit yang lalu nona."


"Oh iya, Kalau begitu saya ke atas dulu." Ara segera menuju tangga.


Tapi dia balik lagi memanggil pak Sam


"Pak Sam.."


"Ya nona.."


"Makanan tadi ....apa untuk kak Rafa?"


"Iya nona, maaf tidak memberitahukan pada anda ! karena tuan tidak ingin orang rumah mengetahui keadaannya! lalu, bagaimana keadaan tuan Rafa sekarang ?" Sam merendahkan suaranya sambil melirik ke kanan dan kiri sesaat.


"Kakak ipar sudah di tangani dokter Rizal, dia sekarang berada dirumah sakit dan sudah menjalani operasi."


"Syukurlah, akhirnya luka tuan sudah di jahit." ucap Sam senang.


Ara mengangguk tersenyum.


"Oh ya pak Sam, apa mbak sita menelpon anda ?"


"Tidak nona, saya mencoba menghubungi nya, tapi nomornya tidak aktif."


"Baik pak, saya ke atas dulu."


Ara kembali melangkah menaiki tangga.


Sam menundukkan kepalanya, dia sangat senang nona mudanya bisa membuat tuannya di bawa kerumah sakit.


*****

__ADS_1


__ADS_2