Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 92


__ADS_3

...Happy Reading....


Dengan kecepatan tertinggi 351 km/ jam yang di miliki oleh Maybach Exelero Membuat mereka sampai di rumah utama Artawijaya dengan cepat. Para penjaga terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba tiba. Para penjaga segera berdiri rapi memberi hormat.


Rafa segera membuka pintu mobil begitu kendaraan itu berhenti. Dia langsung berlari mendekati pintu utama dan membukanya. Tak ada penyambutan seperti biasa, karena Wisnu tidak sempat menelepon Sam untuk memberi tahu kedatangan mereka. Keadaan rumah nampak sepi. Tak ada pergerakan apa pun, suasana ruangan sedikit gelap dan tenang.


Pandangan Rafa teralih ke atas, dia segera menuju tangga dan berlari naik, di ikuti Wisnu mengikuti dari belakang. Keduanya berhenti tepat di depan kamar Raka dan Ara. Pintu kamar adiknya itu tertutup, lampunya terlihat padam, tak ada cahaya yang terlihat dari luar.


Keduanya saling berpandangan.


"Tuan, mungkin keadaan Nona sudah membaik, dokter Rizal sudah menanganinya. Keadaan tampak tenang, penghuni rumah sepertinya sudah kembali tidur." kata Wisnu.


Rafa pun berpikir begitu. Sepertinya keadaan adik iparnya sudah tidak ada apa apa, dan mereka kembali tidur. Di lihat dari tak adanya pergerakan dari kamar Raka.Tapi Rafa tidak akan tenang sebelum melihat langsung keadaan Ara.


"Semoga saja." ucapnya menjawab perkataan Wisnu. Dia juga sangat berharap tidak terjadi apa apa pada Ara. Rafa menarik nafas pelan, menenangkan jalan pernapasan yang tidak beraturan sembari menyapu keringat di wajah. Lalu melangkah menuju kamarnya. Dia tidak menyadari kalau sewaktu dari apartemen tadi dia tidak memakai alas kaki dan hanya memakai bokser ketat karena terlalu panik dan terburu buru.


Sam datang tergopoh-gopoh mendekat ke arah mereka. Seorang penjaga keamanan baru saja memberi tahu padanya tentang kepulangan tuannya. Dia kaget dan cepat menuju keatas.


"Tuan, maafkan saya yang tidak mengetahui kepulangan anda." kata Sam dengan kepala menunduk sebagai penghormatan pada tuannya. Lalu mengikuti langkah Rafa dan wajah Wisnu.


"Bukan salah Anda pak Sam, aku yang tidak sempat memberitahumu." kata Wisnu.

__ADS_1


Rafa menghentikan langkah tepat di depan pintu kamarnya, dia berbalik menatap pada pria paruh baya ini."Apa tadi Rizal datang kesini?" tanyanya.


"Iya tuan. Tuan muda memintanya datang untuk memeriksa keadaan Nona muda." jawab Sam sopan.


"Kenapa? Apa Nona mudamu sakit?" menatap dalam-dalam wajah Sam.


"Iya tuan, Nona mengalami sakit perut sudah beberapa hari ini." jawab Sam kembali.


"Sakit perut? Dan sudah berhari-hari?" ulang Rafa menatap tajam pada kepala pelayan itu.


Wajahnya nampak terlihat merah menahan emosi."Ara sakit sudah berhari-hari dan kalian baru menghubungi Rizal?" bentaknya keras.


Rafa menyadari keadaan dan segera menormalkan suasana hatinya.


"Lalu bagaimana keadaan Nona muda mu sekarang?" tanyanya kemudian.


"Setelah di periksa dan minum obat yang di beri oleh dokter Rizal, nyeri perut Nona sudah mereda." jawab Sam menunduk, tidak berani menatap wajah tuannya yang di penuhi kemarahan.


Rafa menarik nafas lega, tapi meskipun begitu dia belum merasa tenang sebelum melihat langsung keadaan Ara.


"Kenapa Ara bisa sampai sakit perut?"

__ADS_1


"Hal yang wajar terjadi dan di rasakan perempuan saat mengalami menstruasi." jawab Sam.


Wajah Rafa mengernyit. Jadi sakit perut Ara karena sedang datang bulan.


"Pergilah pak Sam, lanjutkan istirahat anda." Wisnu menyuruh Sam turun. Sam menunduk patuh, lalu berbalik menuju tangga dan turun.


"Setidaknya Tuan sudah tahu keadaan Nona Muda baik baik saja. Sebaiknya tuan istirahat." Wisnu menatap tuannya yang sedang melihat ke arah kamar Raka.


Wisnu membuka pintu kamar Rafa setengah terbuka. Keadaan kamar terlihat gelap dari luar.


"Tuan masuklah dulu, saya ingin menghubungi seseorang sebentar." katanya kembali.


"Sebaiknya kau istirahat, tidak perlu lagi melakukan apapun dan juga menemani ku. Ragamu juga butuh istirahat." kata Rafa. Dia tahu Wisnu juga belum memejamkan mata dari kemarin.


"Baik tuan, jika ada apa apa segera hubungi saya." Wisnu menyerahkan ponsel pada tuannya, lalu berbalik melangkah. Ada sesuatu yang harus di selesaikan dengan seseorang yang di duga telah menangkap basah tuannya dengan suatu jebakan.


Wisnu merasakan hal itu karena melihat sesuatu yang janggal ketika masuk ke rumah ini tadi."Dokter Rizal, aku tahu itu perbuatan mu." ucapnya di dalam hati.


...Bersambung....


Jangan lupa dukung ya, like komen, vote, hadiah Kopi, rate bintang lima dan masukan ke favorit. Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2