Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 261


__ADS_3

Dion menyuruh sopir rumah mengantar Dwi dan Bela ke bandara. Sementara Bela memaki dan mengumpat selama perjalanan ke bandara. Dia yang sudah sangat senang dan bahagia karena mengira Dion akan mengantar mereka ke bandara untuk jalan jalan ke Bali. Sudah terpikir di kepalanya hal indah yang akan di lakukan saat duduk di dalam mobil bersama pria yang sudah mencuri hatinya ini. Dia sudah menghayal akan duduk di dekat Dion sambil meletakkan kepalanya di lengan kekar Dion yang sedang menyetir dan menautkan jarinya dengan jemari Dion.


"Soal, semua gara gara wanita bodoh itu!" ucapnya mengumpat Cindy.


Dion mengejar mobil papanya dan mencegat di pinggir jalan.


"Kenapa anak ini?" kata Raymond menyuruh sopir menepikan mobil tepat di belakang mobil Dion. Setelah mobil berhenti dia segera membuka kaca mobil melihat mobil Dion di depan.


Dion turun dari mobil dan melangkah cepat ke mobil mereka.


"Ada apa Dion?" tanya Ray.


Dion langsung membuka pintu mobil di dekat Cindy tanpa menjawab papanya.


"Turun Cindy, kakak ada perlu sama kamu." menarik tangan Cindy untuk turun.


"Nggak, aku mau ikut papa Ray ke rumah Ara. Kakak pergilah ke kantor." kata Cindy seraya melepaskan tangan Dion.


"Jangan membantah Cindy," kata Dion menatap tajam.


"Tapi aku ingin ke rumah Ara kak. Aku pengen ke temu dia. Kalau ada yang ingin kakak bicarakan, nanti saja setelah kakak pulang dari kantor." Cindy tetap bersikeras tak mau turun.


"Turun kataku." suara Dion mulai meninggi.


Cindy kaget, tubuhnya mulai gemetar takut melihat kemarahan di wajah Dion.


"Jangan meneriaki istrimu Dion, dia sedang hamil anakmu." kata Ray.


Dinda membuang nafas berat.


Mulutnya tertutup. Dia tak ingin ikut campur dalam persoalan rumah tangga anak anaknya yang belum diketahui apa permasalahannya.


Entah ada apa di antara mereka berdua sejak semalam pulang dari dokter kandungan. Dinda lebih memilih diam sebelum ada di antara mereka berdua meminta bantuannya untuk menyelesaikan permasalahan.


Sedangkan Ines jadi tidak tenang di tempat duduknya. Dia khawatir dengan keadaan Cindy.


Dion berusaha menghilangkan luapan emosi yang menguasai hati dan pikirannya.


"Nak, kamu kan mau ke kantor, biarkan Cindy ikut bersama papa dan mama. Dia dan Ines sangat ingin bertemu Ara. Kamu sendiri menolak untuk ikut, jadi biarkan istrimu pergi bersama papa dan mama." kata Dinda pelan.


"Biar aku yang akan mengantarnya Ma, ayo Cin cepat turun." menarik kembali tangan Cindy.

__ADS_1


Cindy mulai menangis terisak.


"Aku gak mau, Kakak pasti bohong."


"Udah Cindy, jangan membantah terus." sentak Dion mulai emosi.


Karena Cindy tetap diam ditempat duduknya tak mau turun, maka Dion segera mengangkat tubuhnya.


Cindy kaget dan meronta.


"Cindy __!" pekik Ines dengan tangan menggapai Cindy, tapi perlahan dia menurunkan tangannya karena sadar tidak berhak ikut campur dalam masalah Cindy dan Dion.


Sementara Ray geleng geleng kepala melihat tingkah Dion."Ya tuhan, ada apa dengan anak itu? Ada apa dengan mereka Dinda? Apa ada masalah? Aku perhatikan tadi sikap mereka di meja makan__"


"Udah Pa__kita jangan ikut campur permasalahan mereka. Biar mereka sendiri yang menyelesaikannya. Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan ke rumah Tuan Artawijaya, biarkan saja mereka." Dinda memotong ucapan suaminya.


"Tapi bagaimana jika Dion berbuat kasar pada Cindy? Kau lihat sendiri bagaimana cara dia meminta Cindy turun? Dia di kuasai emosi."


"Dion tidak akan setega itu pa, dia tak mungkin menyakiti Cindy meski sedang marah. Kita juga sudah tahu sikap mereka sejak dulu yang selalu bertengkar seperti itu, lalu berbaikan lagi. Sudah__sebaiknya kita lanjutkan perjalanan ke rumah Tuan Artawijaya." Dinda memberi isyarat pada sopir untuk melanjutkan perjalanannya. Sopir mengikuti perintah bosnya.


"Nes, kamu ikut tante saja. Jika Cindy tidak sempat datang, masih ada kamu yang akan membuat Ara senang dengan kehadiranmu." kata Dinda menoleh pada Ines yang sejak tadi Diam.


"Iya Tante.__" jawab Ines tersenyum meski hatinya masih tidak tenang memikirkan Cindy.


Ines mengangguk tersenyum. Dia juga dapat merasakan kejanggalan pada Cindy dan Dion tadi di meja makan. Keduanya tampak acuh dan saling mengabaikan. Dion terlihat tegang sambil menahan emosinya dan Cindy acuh meski sebenarnya dia juga sedang menahan luapan emosinya.


"Apa semua karena Bela?" batin Ines.


Meski dia baru pertama kali bertemu Bela, dia dapat merasakan kalau wanita itu menyukai Dion. Dengan sikapnya pada Dion yang sangat berlebihan dalam memberi perhatian meski di depan Cindy. Semoga saja wanita itu tidak menjadi duri dalam rumah tangga sahabatnya.


***


Setelah mendudukkan Cindy dan memasangkan sabuk pengaman, Dion segera melarikan mobilnya. Cindy menangis di tempat duduknya dengan pandangan menatap ke samping kaca mobilnya.


"Jangan menangis Cin, tidak baik untuk janin mu." kata Dion memegang tangan Cindy tapi Cindy segera menarik tangannya.


"Turunkan aku. Aku mau ke rumah Ara."


Dion membuang nafas kasar. Dia segera menepikan mobilnya. Melepas sabuk pengaman dan miring setengah badan pada Cindy.


"Kamu sebenarnya kenapa sih Cind? Katakan apa yang membuatmu marah padaku?" memegang paksa wajah Cindy dan di hadapkan padanya.

__ADS_1


"Sudah ku katakan aku tidak marah. Lepas..." Cindy melepaskan pegangan Dion di wajahnya.


"Lalu kenapa sikapmu begini padaku? Kau menghindari ku! Bahkan demi menghindari ku kau sampai tidak mandi dan langsung turun. Kau juga tidak membantu ku bersiap siap. Dan di meja makan pun kau acuh dan mengabaikan ku."


Cindy hanya mengulum bibirnya yang kering lalu menelan ludah pahitnya. Dia diam tak menjawab.


"Jawab Cindy."


Cindy mendesah sedih tetap diam. Dia semakin memiringkan tubuhnya membelakangi Dion menghadap ke pintu mobil.


"Cindy...."


"Aku tidak mau berdebat kak, tolong antarkan aku ke rumah Ara." kata Cindy cepat dengan serak seraya menyapu air matanya yang sudah kembali tumpah di pipinya.


Dion mendengus pelan. Kembali lagi dia menekan kemarahannya. Agar tidak membuat Cindy terus menangis. Setelah suasana hatinya tenang, dia segera melarikan mobilnya cepat, bukan ke rumah Ara, tapi ke apartemen mereka. Karena hunian itu dekat dari posisi mereka.


"Kak, ngapain kita ke sini? Aku ingin ke rumah Ara, bukan kesini." kata Cindy kaget melihat Dion memarkir mobil di apartemennya.


Dion tak menggubris pertanyaannya. Setelah membuka sabuk pengaman, dia membuka jas, dasi dan tuxedo lalu di lempar asal ke jok belakang.


Cindy membuka pintu mobil, tapi terkunci otomatis.


"Buka pintunya. Aku tidak mau kesini, aku mau ke rumah Ara. Kalau kakak tak mau mengantarku, aku naik taksi saja." kata Cindy kembali seraya membuka buka pintu mobil.


Dion membuka kunci pintu mobil, lalu segera turun, Cindy juga cepat turun sambil menghubungi taksi online.


Dion menarik tangannya, Cindy berusaha melepas dengan menarik tangan dan menghentakkan tangan Dion yang terus menarik, hingga terjadi tarik menarik di antara mereka.


"Lepas kak, tanganku sakit." keluh Cindy menangis merasakan pegangan kuat Dion.


Dion melepaskan pegangannya melihat tangan Cindy yang memerah. Tapi dia langsung mengangkat tubuh Cindy dan di bawah menuju lift, tak di perduli kan padangan orang orang pada mereka.


"Lepaskan aku, kenapa kakak seperti ini?"


Dion tak menjawab, lift terus berjalan.


Cindy menekan tangisnya saat ada yang masuk, dia menyembunyikan wajahnya di dada Dion.


"Ada apa dengan adik anda pak Dion?" tanya seorang lelaki yang juga penghuni apartemen ini melihat Cindy dalam gendongan Dion. Mereka yang sudah biasa melihat Dion dan Cindy bersama sebagai kakak dan adik sepupu.


Dion menjawab Cindy sedang tidak sehat dan lemah harus di gendong. Dion yang memang sedang di kuasai emosi tetap melindungi adiknya. Dia menyembunyikan wajah Cindy dalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2