
...Happy Reading....
"Yang ku inginkan darimu?" Rafa mengulang kalimat itu sambil mendekat. Dia berhenti pada jarak dua jengkal di depan Ara. Mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Ara dan berhenti pada jarak sejengkal. Dia tak berkedip menatap sepasang mata indah yang berada di belakang kacamata tebal.
Ara dapat merasakan bahwa kakak iparnya berada sangat dekat dengan dirinya. Dia dapat merasakan hembusan nafas Rafa pada wajahnya."Apa yang kak Rafa inginkan dariku?" batinnya dengan perasaan tidak tenang akibat dari jarak dekat ini. Kedua tangannya semakin meremas kuat ujung bawah kausnya. Juga semakin kuat menggigit bibir bawahnya. Dia memalingkan wajahnya ke samping merasakan hembusan nafas Rafa yang tak beraturan pada wajahnya.
Selanjutnya Ara terkejut, saat merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Seketika Ara membuka mata dan berpaling membawa pandangannya ke depan. Dia kaget melihat wajah Rafa yang begitu dekat dengan wajahnya dengan ibu jari menyentuh lembut
bibir atas dan bibir bawah nya bergantian.
"Kak....!" reflek Ara memegang tangan Rafa. Gerakan jemari Rafa berhenti. Matanya melihat kedua tangan Ara yang memegang tangannya. Terus kembali beralih ke bibir yang terkatup.
"A_apa yang kakak lakukan?" Ara melepas tangan Rafa dan Selanjutnya menutup bibirnya dengan ke dua tangan. Dia menatap bingung dan takut pada Rafa.
Rafa menatap ke dua mata teduh yang terlihat takut.
"Aku sedang membersihkan bibirmu dari gincu." menatap dalam-dalam kedua netra teduh itu.
Wajah Ara mengernyit semakin bingung tidak mengerti."Gincu apa?"
"Seorang Betty Lafea tidak memakai bedak, lipstik, dan make-up lainnya." kata Rafa kembali menjawab kebingungan Ara.
"A-aku tidak pernah memakai riasan wajah seperti itu." Ara kembali membawa tatapannya pada mata Rafa hingga membuat keduanya saling menatap karena Rafa juga masih menatapnya.
"Iya, aku pikir kau memakai lipstik. Semakin ku bersihkan malah semakin memerah. Ternyata aku salah, warna merah di bibirmu memang warna alami dari bibirmu." Rafa menelan salivanya berbarengan dengan menarik mundur wajahnya.
Ara mulai faham dengan perkataan Rafa.
"Permintaan ku nanti saja. Untuk sekarang ini aku belum menginginkannya karena belum terpikir olehku." sambung Rafa.
Ara menarik nafas lega. Akibat kedekatan itu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Kau ingin ke kampus?" tanya Rafa
"Iya__." jawab Ara di selingi anggukan.
"Dengan penampilan seperti ini?" tanya Rafa lagi seraya melihat penampilan Ara dari rambut hingga kaki.
"Iya, aku sudah janji sama si kembar akan berpenampilan seperti ini selama seminggu, kemana pun aku pergi. Tapi aku janji tidak akan membuat kalian malu. Aku akan menyembunyikan identitas ku. Aku tidak akan menyapa kalian bila nanti bertemu
di luar." kata Ara segera. Dia berpikir mungkin Rafa akan malu bertemu dengan dirinya dengan penampilan seperti ini jika nanti bertemu di luar.
Rafa tersenyum kecil.
"Siapa yang akan malu? Justru aku lebih suka kau berpenampilan cupu begini." batinnya.
"Kau sendiri, apa tidak malu datang ke
kampus dengan seperti ini? Bagaimana jika teman-teman mu menghina dan mengejek mu?" tanya Rafa kembali.
"Aku tidak masalah. Cukup menghindar dan menjauh saja dari mereka, tidak perlu di ladeni." kata Ara dengan pemikirannya.
Rafa tersenyum kagum, pemikiran yang bagus untuk menghindari masalah.
"Baiklah, silahkan ke kampus. Nanti aku akan membaca kertas permintaanmu. Kau belum terlalu membutuhkannya kan?"
__ADS_1
"Jujur aku sangat membutuhkannya. Dan aku sangat berharap, kakak segera memenuhi apa yang ku tulis di kertas itu." kata Ara dengan serius.
Rafa kembali menatapnya dalam dalam. Permintaan apa yang di tulisnya? Apa dia juga meminta sesuatu yang mewah seperti Levina? Tapi apa pun itu, dengan senang hati akan di penuhinya.
Ara kembali menyodorkan kartu kredit.
"Kak, ini kartu kreditnya,"
Rafa melihat benda tipis itu, tapi belum di terima.
"Tapi ....!" sambung Ara kembali, tapi menggantung.
Dahi Rafa mengerut menatapnya.
"Tapi apa?"
Ara ragu untuk mengatakan.
"Aku takut mengatakannya, kakak pasti akan marah." jawabnya takut takut.
"Justru aku akan marah jika kau tidak mengatakannya." Rafa menatap tajam.
"Itu __isinya berkurang 4 miliar." kata Ara terbata melihat tatapan tajam Rafa."Tapi aku janji akan mengembalikannya__." katanya segera untuk membuat Rafa tidak marah.
"4 Miliyar? Kau gunakan untuk apa? Apa kau ber foya-foya?" Rafa semakin menatap tajam.
Ara geleng geleng kepala."Tidak kak, tidak sama sekali."
"Terus kau pakai untuk apa?"
"Aku apa?" suara Rafa mulai meninggi, membuat tubuh Ara bergidik dan semakin takut.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu? Atau kau sedang berbohong?"
"Tidak kak, bukan begitu." Ara seketika menatap Rafa.
"Lalu apa?" Rafa melangkah mendekati Ara.
Ara menelan ludahnya bergerak mundur.
"Aku harus bilang apa? Jika ku katakan karena menolong kak Nesa sudah pasti kak Nesa akan kena imbasnya lagi. Dan bisa bisa kartu kredit kak Nesa akan di sita kembali," batinnya tidak tenang. Punggungnya menabrak pintu. Dia tidak bisa lagi mundur.
"Jawab Ara." Rafa menggertak karena melihat gadis itu bengong dan bingung.
Ara tersentak, tubuhnya bergetar. Dia berusaha tenang."Bisakah kakak jangan mempertanyakan untuk apa uang itu ku gunakan? Aku janji akan mengembalikannya sedikit demi sedikit. Aku akan berusaha." katanya gugup.
"Aku berhak tau, kau pakai untuk apa uang itu? Atau kau sedang berusaha menyembunyikan sesuatu?" kata Rafa.
"Gak kak, tidak begitu. Aku gunakan untuk__." Ara masih tak berani melanjutkan kata.
"Gunakan untuk apa, kenapa kau bungkam terus?" Rafa memegang dagunya, menatap lekat wajah yang semakin tertunduk.
"Apa yang ingin kau tutupi dariku? Atau jangan-jangan kau berikan pada teman lelakimu?" katanya pelan dengan suara di tekan.
Ara tersentak mendengar tuduhan buruk itu.
__ADS_1
"Apa?" dia mengangkat wajahnya menatap Rafa dengan mata membulat.
Mereka saling menatap.
"Kakak kok ngomongnya gitu?" wajahnya berubah memerah. Antara kesal dan ingin menangis karena menangkap maksud buruk dari ucapan Rafa.
Hahaha.....
Rafa tertawa di dalam hati."Sekarang dia berani menatapku dengan berani, setelah dari tadi gemetaran, takut, dan menunduk terus," batin Rafa melihat perubahan wajah Ara yang kesal karena tidak terima dengan kata katanya.
"Kamu berusaha menutupinya, tidak mau ngomong, tidak mau memberi tahu, keras kepala, seolah olah menyembunyikan
sesuatu." melepaskan dagu Ara.
"Sesuatu apa yang kakak maksud? Kakak bicaranya aneh seolah olah aku melakukan hal yang gak benar. Kakak berpikir buruk kepadaku?" kata Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Ngomong aneh gimana? Dan aku bicara buruk apa padamu?"
"Kakak mengatakan aku memberikan uang itu pada lelaki lain, seolah-olah aku punya hubungan dengan......." Ara menggantung ucapannya, diam tak meneruskan.
Rafa tertawa dalam hati. Ya ampun anak ini benar-benar .....Rafa berbalik membelakangi menyembunyikan wajahnya yang tersenyum lebar. Setelah itu dia berbalik kembali menatap mata Ara yang berkaca.
"Dengar Ara, aku hanya bilang apa kamu pakai buat nolong teman lelakimu? Bukan nolongin pacar kamu atau selingkuhan mu. Kamu tuh salah dengar. Sekarang kamu malah fitnah aku, nuduh aku dengan ngata ngatain yang gak benar. Yang sebenarnya sikap diam mu yang menutupi sesuatu membuat aku curiga." kata Rafa meninggikan suara.
"Daripada nanti bikin salah faham dan timbul fitnah, mending kamu jujur aja. Jangan muter-muter cerita, bikin curiga." Rafa menatapnya lekat. Kasihan juga melihat wajah sedih campur kesal adik iparnya.
Ara menelan ludah dan berpaling ke sebelah menghindari tatapan Rafa.
Rafa mendekat dan kembali memegang dagu Ara. Ara kaget.
"Dengar Ara, aku sangat sibuk, banyak kerjaan, kamu juga mau ke kampus kan? jadi sebaiknya bicaralah dengan jujur." kata Rafa menatap dalam-dalam.
Ara kembali menelan ludahnya, mengulum bibir bawah, mengatur nafasnya yang tak beraturan.
"A-aku__aku gunakan buat nolongin kak Nesa." Katanya kemudian dengan terbata bata.
Rafa menarik tangannya dari dagu Ara. Akhirnya wanita ini bicara juga.
"Waktu itu aku dan teman teman datang ke mall. Aku tak sengaja melihat kak Nesa di sebuah kafe. Kak Nesa lagi ngumpul bersama gengnya. Dia di hina dan di permalukan. Aku nggak tega lihat kak Nesa di permalukan oleh teman temannya di depan umum." katanya perlahan.
Rafa membuang nafas kasar. Dia berbalik membelakangi Ara, lalu melangkah berjalan.
Tanpa sadar Ara memegang sala satu lengannya, membuat langkahnya berhenti. Rafa melirik pegangan tangan itu.
"Kak, itu salahku. Bukan salah kak Nesa. Karena aku sendiri yang memberikan kartu kredit itu. Kakak jangan salahkan kak Nesa. Kalau kakak ingin marah, marahlah padaku, hukumlah aku, jangan kak Nesa." pinta Ara.
Rafa lagi lagi membuang nafas kasar. Dia bukannya tidak tahu kejadian yang menimpa Nesa di cafe itu juga kehadiran Ara dan kedua temannya di sana. Karena setiap pergerakan mereka di awasi, termasuk semua penghuni rumah ini. Rafa hanya ingin menguji kejujuran Ara.
"Kak." Ara semakin kuat memegang tangannya karena melihat Rafa hanya diam.
Rafa kembali melirik tangan Ara pada tangannya. Ara gugup dan cepat melepaskan.
"Ma maaf kak, aku tidak sadar." ucapnya takut dan segera mundur.
Bersambung.
__ADS_1