
Cindy kaget setelah terbangun dari tidurnya melihat wajah Dion di depannya. Posisi tubuh mereka saling berhadapan berpelukan. Cindy lupa kalau dia telah menikah dan bersuami.
Cindy kembali mengingat kejadian semalam mengenai pernikahannya, seperti mimpi baginya menikah dengan kakak sepupunya sendiri. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya, kenapa Dion sampai batal menikah, dan dari mana Dion maupun yang lainnya mengetahui kehamilannya sementara tak ada satu orang pun yang di beritahu tentang kehamilannya. Terus bagaimana reaksi Sophia dan orang tuanya dengan pembatalan pernikahan, dan juga nasib perusahaan pamannya Raymond Alkas dengan pembatalan pernikahan?
Cindy menatap dalam dalam wajah tampan kakak sepupunya, yang kini telah menjadi suaminya. Cindy sungguh tidak menyangka pria yang sudah di anggap seperti kakak kandungnya sendiri malah menjadi suaminya.
Wajah Cindy berubah mendung setelah beberapa saat menatap wajah Dion. Dia tahu Dion terpaksa menikahnya.
Perlahan Cindy melepaskan diri dan mundur pelan pelan agar tidak membangunkan Dion. Dia turun menuju kamar mandi untuk bersih bersih. Lalu segera menunaikan shalat subuh seorang diri. Setelah itu dia turun ke dapur untuk membuat sarapan untuk Dion, karena dia tahu semalam Dion tidak makan.
Seperti biasa Cindy menyumbat lubang hidungnya dengan tisu sebelum beraksi. Selama satu jam lebih mondar mandir di dapur, salad sandwich dan pancake telah berhasil di buat. Cindy segera menyajikannya di atas meja, dengan minuman pendamping Capuccino dan teh hangat.
Sebuah pelukan di perut mengangetkan Cindy. Pelukan yang berubah menjadi elusan lembut di perutnya.
Cindy segera membalikkan tubuhny.
"Kak Dion? Selamat pagi kak." ucapnya canggung dan gugup menatap wajah tampan suaminya. Dia menghirup wangi aroma tubuh Dion yang telah mandi.
"Kakak nggak ke kantor?" tanyanya melihat Dion hanya memakai pakaian rumah.
Cindy mengalunkan ke-dua tangan di pinggang ramping Cindy"Hari ini aku cuti. Aku ingin di rumah menemani mu!" kata Dion. Dia melihat menu sarapan di atas meja."Kenapa kamu gak bangunin aku? Kamu masak sendiri dengan keadaanmu seperti ini?" kata Dion memperhatikan wajah Cindy yang keringatan, dan juga tisu yang berada di kedua lubang hidung Cindy. Dia mengeluarkan tisu itu.
"Seharusnya kamu gak usah masak kalau gak enakan, aku bisa masak sendiri." Melap keringat di dahi dan pelipis Cindy.
Cindy tersenyum.
"Gak apa-apa kak, aku masih bisa melakukannya. Yang penting pakai penutup hidung biar gak nyium bau rempah rempah dan masakan. Aku tahu semalam kakak gak makan. Kakak pasti lapar kan? Silahkan duduk dan nikmati sarapannya." Cindy menarik kursi.
"Duduklah!" ujarnya lagi mendorong pelan tubuh Dion untuk duduk.
Dion menatapnya sesaat. Dia teringat sesuatu setelah melihat tak ada susu hamil Cindy di meja."Kamu duduklah dulu, aku ke dapur sebentar," ucapnya seraya mendudukkan Cindy.
Dion segera pergi ke dapur dan membuat susu untuk Cindy, lalu memasukkan obat dan vitamin. Kemudian kembali lagi ke meja makan, meletakkan susu hangat di depan Cindy.
"Kamu pasti belum minum susu dan sarapan kan? Mari kita sarapan sama sama."
Cindy menelan ludahnya yang terasa pahit. Perutnya terasa di aduk aduk melihat makanan di depannya.
Dion menyentuh perutnya, Cindy kaget.
"Makanlah sedikit demi sedikit. Kamu belum makan apapun, janin dalam kandungan mu butuh makan dan asupan gizi yang cukup untuk pertumbuhan mereka. Berusahalah untuk makan ini demi calon anak anak kita." Dion menatapnya lekat.
Cindy kembali menelan ludah.
"Kamu pasti bisa Cind. Semalam kamu hanya muntah sekali setelah minum susu. Kali ini berusahalah untuk tidak muntah." Dion meraih sepotong sandwich, lalu memakannya.
"Enak banget, masakan mu benar benar enak, aku suka banget!" dia mendekatkan tubuhnya lebih dekat pada Cindy.
"Pas banget nih, sandwich merupakan sala satu makan sehat untuk ibu hamil Cobalah walau hanya sedikit!" ucapnya lagi seraya menyuapkan sandwich ke Cindy.
Cindy membuka mulutnya dan menggigit sedikit, mengunyah perlahan lahan, berusaha menelan karena tenggorokannya terasa pahit, perutnya mual.
"Ya bagus, pelan pelan!" Dion tersenyum.
"Susu kak!"
Dion segera meraih susu dan meminumkannya. Cindy minum perlahan lahan sampai setengah gelas mendorong makanan itu masuk ke perutnya. Sementara perutnya semakin di aduk aduk, tapi dia tetap bertahan dan memaksa makan. Teringat kedua anaknya butuh asupan gizi dan nutrisi melalui dirinya. Cindy mengambil sepotong sandwich dan cepat memakannya sebelum mualnya semakin bertambah, minum susu lagi .... sampai habis.
Dion tersenyum melihatnya.
"Bagus! Tahan ya, jangan sampai muntah."
"Tapi aku mau muntah kak ....!" Cindy menekan tenggorokannya, karena makanan sudah naik ke tenggorokannya. Wajahnya memerah karena menahan rasa mual yang semakin menyiksa.
"Tahan sebentar Cind, jangan di keluarin. Biarkan dulu janin menyerap nutrisi makananmu." kata Dion memberi semangat.
Cindy semakin gelisah, keringat dingin semakin banyak keluar dari pori-pori kulit wajahnya.
"Aku nggak kuat kak." meletakkan tangannya ke mulut, seakan mau menampung makanan yang mau keluar. Dia bangkit dari duduknya untuk menuju wastafel.
Tiba tiba Dion menarik tangannya dan mendudukkan di pangkuannya. Lalu dengan gerakan cepat mendaratkan bibirnya ke bibir Cindy.
Cup ...dia mengecup bibir Cindy.
Cindy terbelalak dengan mata membulat, pupil matanya membesar.
Dion menarik bibirnya, lalu kembali mendaratkan kecupan ke bibir Cindy, menekan lama seraya menatap pupil mata Cindy. Keduanya saling menatap.
Rasa mual Cindy tiba tiba saja menghilang, karena berganti dengan rasa deg degan. Dia merasakan sensasi kupu kupu, jantungnya berdegup kencang, tangannya bahkan terasa kaku membeku. Dion memegang wajah Cindy, dan kembali mengecup dan mengecup lagi.
Cindy segera menutup bibirnya dengan kedua tangan. Wajahnya merah merona seperti tomat. Dia segera turun dari pangkuan Dion, mengambil gelas susunya lalu melangkah cepat menuju wastafel. Menyembunyikan rasa malu dan salah tingkahnya. Dia sungguh tidak menyangka Dion mencium bibirnya.
Dion tersenyum melihatnya. Hatinya lega karena Cindy tidak muntah. Ternyata saran dari mamanya manjur. Semalam Dinda berkata.....
"Dulu saat mama ngidam hamil kamu, mama suka cemburuan. Mama juga sama seperti Cindy, benci makanan, dan bau bauan. Tapi suka sama aroma tubuh papamu entah dia dia lagi wangi atau bau. Mama ingin meluk dan dekat terus sama papamu, pokoknya mama maunya di manja terus! Papa selalu berusaha apa saja untuk menyenangkan hati mama! Papa juga melakukan apa saja agar mama bisa makan. Saat mama makan, papa yang nyuapin mama dan memberi kecupan dan ciuman di bibir, kening , pipi. Di peluk, di belai, di manja! Sentuhan itu membuat Mama jadi deg degan dan malu, sehingga rasa mual dan keinginan ingin muntah tiba-tiba saja hilang dengan sendirinya! Coba deh kamu praktekan pada Cindy!" kata mamanya semalam sebelum meninggalkan apartemen.
"Selain itu kamu harus manjakan Cindy, senang kan hatinya, buat dia merasa di perhatikan. Jaga kesehatannya, dengar keluhannya, temani dia periksa kehamilan ke dokter, menemaninya ke kelas olahraga, dan pantau terus nutrisinya serta asupan gizi janin dalam kandungannya!"
"Menjalani masa kehamilan bukan hal yang mudah. Wanita akan mengalami perubahan fisik maupun emosi, begitu juga sekarang yang di alami Cindy. Belum lagi ketika perutnya semakin membesar dia akan kesusahan menjalani aktivitasnya sehari hari! Apalagi yang ada dalam kandungannya itu ada dua. Pasti dia akan sangat kesusahan menjalani masa kehamilannya. Makanya peran kamu, perhatian kamu sangat di butuhkan untuk mendukung psikologi dan kesehatan Cindy selama masa kehamilannya. Kau harus siap siaga sebagai penolongnya yang selalu menemaninya sampai dia melahirkan anak anakmu nanti!" ujar Dinda panjang lebar setelah tahu Cindy ngidam jahat dan susah makan.
Makanya tadi itu, dia mengecup bibir Cindy untuk menekan rasa mual muntah Cindy. Mempraktekkan saran dari mamanya dan ternyata berhasil.
Dion kembali tersenyum, dia bangkit dari duduknya melangkah mendekati Cindy yang berada di wastafel mencuci gelas susunya. Dion memeluk dari belakang, mengelus perut Cindy lembut, memberikan kenyamanan dan perhatian.
"Kak...!" Cindy kembali canggung dan salah tingkah. Dia segera membalikkan tubuh menghadap pada Dion.
"Apa yang kakak lakukan? Kakak membuatku salah tingkah dan malu!" menunduk dengan wajah kembali memerah.
Dion tersenyum kecil.
"Kenapa? Kamu kan istriku! Dulu kita juga biasa seperti ini kan?"
"Iya sih, Tapi aku merasakan perbedaan dulu dan sekarang setelah menjadi istri kakak!"
"Biar kamu nggak canggung, anggap saja perlakuanku sama kamu sekarang seperti yang ku lakukan padamu sebagai seorang adik!" ujar Dion.
Cindy mengangguk pelan.
"Bagaimana perasaanmu? Apa masih mual dan ingin muntah?" menatap Cindy yang menunduk.
Cindy menggeleng pelan, malu malu."Udah enakan."
"Syukurlah, aku senang!" Dion mengelus ngelus perut Cindy.
"Sepertinya aku harus melakukan itu padamu setiap kali kau makan...biar kamu nggak muntah!" Dion tersenyum lebar menggoda.
Wajah Cindy semakin memerah. Dia tambah menunduk menyembunyikan wajahnya.
Dion tertawa kecil, lalu meraih tubuh kurus ini dalam pelukannya.
__ADS_1
Dion masih benar benar belum percaya kalau wanita yang sudah di anggap adik kandungnya sendiri ini sedang mengandung anak anaknya dan menjadi istrinya.
Dion melepaskan pelukannya, meletakkan kedua tangannya di samping kiri kanan pinggul Cindy.
"Bersabarlah satu dua bulan lagi! Kata dokter, saat usia kandungan mu sudah masuk lima bulan, perasaan gak enak seperti ini akan hilang! Nafsu makan mu dan emosi jiwamu akan kembali normal dan stabil!" menatap dalam wajah Cindy.
Cindy mengangguk.
"Sebaiknya kakak makan deh!" menyingkirkan tangan Dion yang menekan dan mengurung tubuhnya di wastafel. Jantungnya semakin berdegup kencang karena tidak tahan dengan kedekatan tubuh mereka. Dia segera menarik tangan Dion melangkah ke meja makan.
"Kakak makanlah dulu. Aku mau membereskan tempat tidur." mendudukkan Dion.
"Aku sudah mengatur tempat tidur. Kamu duduklah di sampingku, temani aku makan!" Kata Dion menarik tangannya duduk di sampingnya.
Cindy ikut saja perkataan Dion, duduk diam menemani kakaknya makan sampai selesai.
Dion menyodorkan irisan buah apel di depan mulutnya.
Cindy menatapnya sejenak, lalu segera meraih buah tersebut dan memasukkan ke dalam mulut. Dion juga ikut memasukkan ke dalam mulutnya.
"Kak...!" panggil Cindy pelan.
"Hmmm? Mau lagi?"
Cindy menggeleng.
"Aku ingin bertanya sesuatu! Dari mana kakak tahu aku hamil?"
"Ara dan Ines!" kata Dion sambil mengunyah.
"Ara dan Ines?" dahi Cindy mengerut.
Dion mengangguk."Kedua sahabatmu itu. Untung saja mereka datang tepat waktu. Mencegat kami saat menuju ruang akad nikah. Lalu memberitahu kehamilan mu!"
"Terus mereka tahunya dari mana? Karena aku menyembunyikan kehamilan ku dari mereka!"
"Nanti kau tanyakan langsung pada mereka! Mungkin saja mereka merasakan peka keanehan pada dirimu. Sebagai sahabat sejati yang selalu ada dalam suka dan duka tentu mereka dapat merasakan perubahan pada dirimu." kata Dion.
Cindy terharu teringat kedua sahabatnya itu.
Dia menatap Dion kembali.
"Jujur aku belum percaya menjadi istri kakak. Ini seperti mimpi bagiku."
"Aku sendiri lebih gak menyangka bisa nidurin kamu dan membuatmu hamil. Aku benar-benar manusia bejat. Tega nidurin adik sendiri!" Dion mendesah kasar dengan wajah bersalah.
Cindy mendesah sedih.
"Kejadian malam itu sebuah kesalahan karena kita berdua tidak menginginkannya. Kakak melakukannya di luar kesadaran kakak! Aku sudah berusaha melawan dan menghentikan kakak, tapi pengaruh obat itu sangat kuat. Aku juga salah karena ceroboh mengurung diri bersama kakak yang sedang dalam pengaruh obat perangsang! Jadi tidak ada yang harus merasa bertanggung jawab pada apa yang terjadi malam itu. Karena itu murni sebuah kesalahan dan kecelakaan!"
Cindy memegang kedua tangan Dion dan menatapnya lekat.
"Kak, setelah anak anak ini lahir, aku akan menyerahkannya pada kakak! Kakak bisa meninggalkanku! Aku gak apa-apa. Karena aku sadar, pernikahan kita adalah sebuah keterpaksaan untuk menutupi aib keluarga kita. Juga untuk menyelamatkan masa depan janin yang ada dalam kandunganku." serak.
Dion mendesah kasar, menatapnya tajam.
"Bicara apa kamu? Kamu pikir pernikahan hanya sebuah mainan?" sentaknya agak marah.
"Pikirkan kehidupan kita selanjutnya kak! Bagaimana nantinya kita menjalani hidup tanpa adanya rasa? Rasa di antara kita hanya sebatas kasih sayang kakak dan adik. Aku tidak akan mengekang hidup dan kebebasan kakak! Jika nanti kakak menemukan wanita yang kakak cintai sebagai pengganti Ara, aku ikhlas kakak tinggalkan dan juga d ceraikan." kata Cindy dengan serius meski hatinya tidak menginginkan itu.
Dion kembali menatap tajam.
"Mau kemana?" Cindy kaget.
"Kita akan kerumah papa dan mama. Papa sama mama membuat acara syukuran kecil atas pernikahan kita. Mereka mengundang keluarga dan kerabat untuk memperkenalkan mu sebagai istriku!"
"Keluarga kita?" Cindy tercengang.
"Iya !" memegang tangan Cindy menaiki tangga.
"Tapi, aku malu. Mereka pasti akan membicarakan diriku. Karena yang mereka tahu kakak akan menikah dengan Sophia, tapi kenapa tiba tiba malah menikah denganku dan tanpa sepengetahuan mereka " Cindy mengeluh sedih menahan tangan Dion.
"Gak usah pikirkan apa kata mereka. Abaikan apa pun yang mereka katakan dan kamu dengar nanti!" kata Dion menoleh padanya.
Cindy menatapnya dengan gelisah.
"Udah, ayoo ....!" Dion segera menarik tangan Cindy naik ke atas menuju kamar.
Cindy kaget ketika masuk kamar. Melihat beberapa barangnya yang di perpak dalam kardus.
"Karena kamu sedang hamil, maka kita akan tinggal di rumah mama!" ujar Dion melihat ekspresi wajahnya.
Cindy terkejut.
"Aku ingin tinggal di sini, kalau kakak tidak suka tinggal di sini, kakak bisa tinggal di apartemen kakak, dan aku di sini."
"Kamu sekarang adalah istriku dan sedang hamil anakku. Kamu tanggung jawabku! Aku tidak mungkin meninggalkan mu sendiri di sini, tidak ada yang menemani mu di saat aku kerja. Kalau di rumah mama ada pelayan yang akan menemani mu dan membantu menyediakan keperluan mu ! lagi pula kita sudah menikah, apa kata orang tua kita bila mengetahui kita hidup terpisah tinggal di apartemen masing-masing !" jawab Dion gusar.
"Tapi aku ingin tinggal di sini kak, aku minta satu pelayan di rumah tante Dinda saja untuk menemaniku di sini!"
"Bukan tante Cind , tapi mama__mama Dinda! Kamu lupa kata mama semalaman? Kau harus manggil beliau mama, bukan tante. Begitu juga dengan papa! Bukan Paman Ray lagi!"
Cindy mendesah pelan seraya mengulum bibirnya. Dia merasa terharu mendengar ucapan Dion.
"Maaf kak, aku lupa. Nanti pelan pelan aku akan membiasakan diriku! Soalnya aku udah biasa manggil mereka seperti itu."
Dion menatapnya lekat
"Dari pada di sini lebih baik kamu tinggal di apartemenku saja. aku akan meminta bik Ira menemanimu dan mengurus mu selama aku bekerja !"
"Tapi kak...!" Cindy tetap menolak.
"Apartemen ku dekat dengan kantor dan rumah sakit. Jadi kalau ada apa-apa dengan mu atau kau butuh diriku, aku bisa pulang dengan cepat. Dari pada di sini jauh dari tempat tempat umum, terutama rumah sakit! Sudahlah Cin, jangan protes lagi, kalau tidak kita akan tinggal di rumah papa dan mama? pilih yang mana?"
Cindy mendesah pelan dengan wajah manyun"Baiklah, tinggal di apartemen kakak saja!" mengalah.
"Sudah, ganti pakaian sana." ucap Dion kembali.
Cindy mengikuti perintahnya, mengambil pakaian di lemari, lalu masuk kamar mandi. Tidak mungkin dia mengganti pakaian di dalam kamar karena ada Dion, meskipun Dion adalah suaminya, dia tetap merasa risih.
Sementara Cindy ke kamar mandi, Dion menelpon asistennya, Toni.
Beberapa menit berlalu, terdengar jeritan kecil dari kamar mandi, Dion kaget.
Dengan cepat melangkah menuju kamar mandi dan membukanya.
"Cindy, kamu kenapa ?" langsung masuk.
Cindy terkejut melihat kemunculannya,
__ADS_1
pasalnya dia hanya mengenakan cidi dan berdiri di depan cermin.
Cindy segera meraih daster yang di pakainya tadi dan di tutup kan pada dadanya.
"Ada apa ?" Dion mendekatinya .
"Kenapa kakak masuk ? cepat keluar !"
"Kenapa kamu menjerit, aku mendengar jeritan mu dari luar, aku jadi khawatir takut kamu kenapa Kenapa" menatapi punggungnya
yang terbuka hingga ke kaki hanya ditutupi cd,
di pinggangnya tergantung bra.
Posisi Cindy membelakanginya.
"Aku gak kenapa kenapa, sekarang kakak keluar, jangan dekat dekat, aku malu !"
"Kenapa kau harus malu?"
"Kakak gak lihat aku tidak memakai baju ?"
"Terus kenapa ? aku suamimu !"
Cindy semakin gelisah dan tidak tenang .
"I iya..tapi tetap saja aku malu !" menunduk melirik sesekali pada Dion dari pantulan cermin.
Dion melangkah ke sudut ruang kamar mandi dan segera meraih handuk, menutupkannya pada tubuh cindy dan di lilit kan di bawah ketiak .
"Awww.....!" Cindy meringis.
Dion terkejut .
"Ada apa? apa yang sakit ?"
Cindy menyentuh dadanya yang terasa sakit kena himpitan handuk.
"Apa yang sakit Cind ? katakan, jangan diam saja dan menutupinya dari aku!" berkata agak keras seraya membalikkan Cindy menghadap kepadanya.
Cindy menunduk seraya menunjuk buah dadanya.
"Payudara mu sakit ?"
Cindy mengangguk pelan .
"Biar ku periksa !" Dion membuka handuk.
Cindy terkejut dan cepat menahan tangannya .
"Kakak mau apa? jangan kak ..!"
"Aku mau melihatnya, katamu sakit kan ?"
"Jangan ah..!" menyingkirkan tangan Dion.
"Kamu kenapa sih ? aku hanya ingin melihatnya, aku gak akan ngapa ngapain ! kemarin kemarin kau juga mengeluhkan payudaramu sakit kan? jangan jangan payudara mu terkena penyakit yang berbahaya !"
"Ini bukan penyakit kak, tapi karena pengaruh hamil, aku merasakan sakit seperti ini sejak hamil. Bengkak dan nyeri walau hanya di sentuh, apalagi di tekan ! tadi saat aku memakai bra, aku merasakan sakit, makanya tanpa sadar aku menjerit sakit !"
Dion mendengar kan dengan cermat .
"Bengkak ?"
Cindy mengangguk.
Dion melepaskan lilitan handuk .
"Kakak mau apa ?" terkejut lagi menahan tangan Dion.
"Biar ku periksa ! katamu bengkak kan ?"
"Jangan kak, gak usah di lihat ! udah reda nyerinya !" memegang kuat handuknya.
"Jangan membantah !" agak menyentak menatap tajam.
Cindy mengeluh pelan dengan wajah sedih campur malu.
"Aku suamimu, kenapa harus malu ?" kata Dion kembali . Dia menyingkirkan tangan Cindy, lalu segera melepaskan lilitan handuk ditubuh Cindy pelan pelan.
Cindy mendesah pelan seraya memejamkan matanya.
Dion menatap tak bergeming dua buah milik adiknya yang besar dan kencang terbungkus kulitnya yang putih, putingnya yang berwarna kecoklatan tampak berdiri tegang.
Dion mendesah seraya menelan salivanya, jantungnya berdegup kencang , libidonya naik , gairah seksualnya muncul .
Sebagai laki laki normal tentu saja dia terangsang melihat keindahan di depannya ini yang seakan-akan menantangnya.
Dion berusaha kuat menenangkan diri dan mengontrol emosinya .
Meski wanita yang berdiri di depannya ini adalah istrinya, tidak mungkin baginya menyentuh karena mengingat Cindy adalah adiknya.
Dion kembali menatap wajah cindy yang terpejam sambil menggigit bibirnya yang merah, kedua tangannya yang saling meremas di depan milik pribadinya yang terbungkus kain tipis.
"Sial...kenapa dia begitu terlihat menggoda dan menggairahkan? batin Dion mengumpat dalam hati, menatapi tubuh telanjang adiknya yang hanya tertutup kain kecil tipis pada area sensitifnya.
Dion mendesah kasar. Dia segera mengalihkan pandangannya ke atas seraya menelan ludahnya.
"Kak, sudah belum ?" tanya Cindy pelan, meletakkan kedua tangannya ke dadanya dengan mata masih terpejam, wajahnya memerah dan gelisah.
Dion mendesah panjang, mengatur nafasnya yang memburu cepat . memenangkan hati dan emosinya, perlahan dia meraih handuk yang jatuh di lantai tadi, lalu menutupkannya ke tubuh Cindy tanpa melilit.
"Jangan memakai bra dulu, dan pakailah pakaian yang longgar !" katanya seraya melepaskan bra yang tergantung di pinggang Cindy .
Setelah itu dia mengambil ponselnya di saku, lalu menekan kontak dokter kandungan yang memeriksa cindy semalam, terlibat pembicaraan serius di antara mereka seputar kehamilan Cindy dan juga mengenai perubahan yang terjadi pada payudaranyam
"Kata dokter itu hal yang normal terjadi dan di alami saat wanita sedang hamil. Bengkak nyeri, perubahan warna pada ****** dan areanya! jika terasa nyeri dikompres dengan air dingin, bisa juga mandi dengan air hangat ! kamu juga harus memakai pakaian yang longgar dan ukuran bra yang lebih besar !" kata Dion pada Cindy setelah selesai mendegar penjelasan dokter.
"Sebelum ke rumah mama , kita akan belanja keperluan mu dulu ! pakailah pakaian yang besar dan jangan memaki bra . Kamu bisa pakai jaket ku untuk menutupi dadamu !"
Cindy mengangguk kepalanya.
"Aku tunggu di luar !" Dion memegang bahunya.
Cindy kembali mengangguk .
Dion segera keluar, melanjutkan kembali menelpon Toni.
******
__ADS_1