
10 hari kemudian.
Wisuda yang seharusnya di laksanakan seminggu yang lalu baru bisa di selenggarakan hari ini. Rafa menyuruh rektor mengundur pelaksanaan Wisuda untuk memulihkan ketiga wanita itu dari traumatik setelah pasca penculikan yang terjadi pada mereka.
Selain itu Rafa mengambil waktu pelaksanaan hari ini karena ada sesuatu yang spesial untuk di persembahkan pada istrinya.
Segala persiapan untuk Wisuda telah di lakukan. Termasuk urusan pakaian yang akan di gunakan. Ara mempersiapkan pakaian mereka bertiga sesuai hasil pembicaraan bersama untuk mereka kenakan di momen paling membahagiakan setelah hampir empat tahun mengenyam pendidikan.
Kebaya brokat modern menjadi pilihan ketiganya sesuai bentuk tubuh mereka. Dari bahan dan warna yang sama. Desain polanya berbeda dengan Ines karena Ara dan Cindy yang tengah hamil.
Saat ini Ara sedang berada di ruang pribadi Rafa di universitas. Menunggu suaminya yang sedang berada di ruang rektor.
Ara sedang memandangi wajah orang tuanya dan juga Raka yang berada dalam galeri ponselnya.
Wajahnya yang sedih bercampur haru dan bahagia.
"Bapak, ibu, kak Raka....Aku ingin berbagi kebahagiaanku kepada kalian." katanya tersenyum bahagia.
"Hari ini aku akan Wisuda. Aku sangat bahagia sekali dan bersyukur. Akhirnya aku bisa menyelesaikan pendidikan ku dan meraih gelar sarjana. Kalian lihat ini.....?" ucapnya tersenyum haru seraya memperlihatkan topi toga yang terbuat dari bahan bludru dan saten di depan wajah orang orang yang di kasihi nya itu.
Ara kembali tertawa kecil penuh haru.
Matanya basah oleh air mata kebahagiaan.
Dia kembali berceloteh menceritakan masa masa dulu saat menjadi mahasiswa, serta perjuangannya hingga sampai ke titik ini.
"Terimakasih atas doa doa kalian dari alam sana! Aku sangat merindukan kalian.... sangat! Seandainya kalian ada di sini, hadir dan menyaksikan secara langsung, juga menemaniku........!" katanya lirih.
"Sayang.....!" sebuah panggilan di susul pelukan dari belakang menghentikan ucapan sedih serta isak tangisnya.
Rafa yang baru saja masuk setelah dari ruang rektor dan tidak di sadari Ara.
Rafa membalikkan tubuhnya menghadap kepadanya.
Dia memegang wajah istrinya lembut.
"Jangan sedih sayang. Ini hari bahagia mu. Nanti bapak, ibumu, juga Raka akan ikut ikutan sedih melihat kamu menangis seperti ini.....!" menyapu air mata Ara yang semakin membanjir di kedua pipinya.
"Aku sangat merindukan mereka kak....! seandainya mereka ada di sini bersama kita.....!!!"ucapnya kembali menangis terisak.
Rafa segera memeluknya penuh kasih sayang.
"Ssssst.....cup cup, jangan sedih sayang! Mereka pasti ikut bahagia serta menyaksikan momen bahagia mu hari ini dari alam sana. Sudah ya, jangan menangis, kasihan anak anak nanti ikutan sedih melihat ibunya menangis!" Rafa membelai lembut punggung dan perutnya bergantian.
.
.
.
.
Auditorium di penuhi oleh para mahasiswa peserta wisudawan wisudawati, orang tua pendamping dan juga tamu tamu penting.
Cindy di dampingi oleh Dion, orang tuannya, serta ayah dan ibu mertuanya.
Kebetulan Dion, Ray dan juga Dinda merupakan tamu penting dalam acara ini.
Terlihat para pejabat dan juga tamu tamu penting lainnya dari kalangan kelas atas sebagai tamu undangan penting.
Ada juga yang ikut mendampingi putra putri mereka wisuda.
Ines juga di dampingi oleh Wisnu, orang tuannya, si kembar dan juga ibu mertuanya.
Selain Rafa, turut hadir juga Maya, Mia, Nesa, Cio Cia, Rizal Moly serta beberapa pengurus panti yang datang mendampingi Ara untuk menyaksikan momen bahagianya tersebut.
Para pendamping tersebut untuk sementara duduk terpisah dengan para wisudawan/wati.
Beberapa selang kemudian, masuklah Rafa sebagai pendiri sekaligus ketua yayasan universitas di ikuti Wisnu, rektor, para pembantu rektor dan juga dekan dekannya ke ruang auditorium. Mereka langsung menuju tempat yang telah di sediakan.
Rafa tampak semakin tampan dan gagah dengan penampilannya yang mewah di tunjang dengan postur tubuhnya yang proporsional.
Membuat hati para mahasiswi klepek-klepek terpesona melihatnya.
Rafa hanya fokus melihat ke arah istrinya yang terlihat semakin cantik di matanya. Senyum manisnya, serta tatapan mata teduhnya membuat hatinya sejuk.
Tidak berapa lama acara segera di mulai di pandu oleh sang MC.
Di mulai dengan sambutan yang di sampaikan oleh Rafa sebagai ketua yayasan. Sambutan yang berisi tentang perjuangan mahasiswa/wi selama tiga tahun 8 bulan menempuh pendidikan di tempat ini serta keberhasilan yang di dapatkan dengan di tandai prosesi Wisuda hari ini, sebagai momen yang paling membahagiakan.
Terus di lanjutkan sambutan rektor.
Rangkaian acara terus bergulir hingga tiba waktunya yang paling membahagiakan bagi mahasiswa.
Mereka di panggil satu persatu sesuai nama maju ke depan menghadap rektor yang memindahkan tali toga mereka dari kiri ke kanan.
Dan saat giliran nama Ara di panggil, Rafa sendiri yang memindahkan tali toga istrinya.
Hal yang membanggakan bagi para mahasiswa saat wisuda seperti ini.
Berharap mendapatkan kesempatan dan kehormatan dari ketua yayasan universitas ini untuk memindahkan tali toga mereka. Sama seperti yang dilakukannya pada Ara.
Tapi Rafa melakukan itu hanya pada istrinya sendiri.
"Selamat ya sayang!" bisik Rafa tersenyum bahagia.
Mata Ara berkaca kaca. Dia mengangguk pelan tersenyum senang.
Keduanya saling menatap sesaat dengan senyuman bahagia menghiasi wajah.
Pemindahan tali toga terus berlangsung.
Hingga Akhirnya pengumuman mahasiswa dengan nilai terbaik dari setiap fakultas pada wisuda periode tahun ini.
Dengan meraih IPK sempurna, Lima mahasiswa dari program studi berbeda, Termasuk Ara.
Dan sebagai bentuk penghargaan kepada mereka mahasiswa teladan dan berprestasi ini, Mereka mendapatkan kehormatan dengan gelar Cumlaude.
Kebahagiaan Ara belum berkahir, setelah dia di nobatkan sebagai mahasiswa berprestasi yang memiliki nilai tertinggi dari kelima cumlaude tersebut.
Ara di undang sang mc untuk tampil ke depan.
"Yang akan memberikan ucapan penghargaan sebagai kehormatan kepada nona AZAHRA Radya Almira adalah ketua yayasan universitas ini, yakni bapak Rafa Ravendro Artawijaya. Beliau akan menyampaikan rasa kebanggaannya langsung secara pribadi." kata sang MC.
"Dan nona Azahra, di minta dengan hormat untuk terus menghadap ke depan, jangan berpaling ke arah lain sampai ada instruksi dari kami!" kata MC kembali.
Ara mengikuti instruksi MC dengan bingung. Puluhan lampu kamera menyorot kepadanya dari berbagai arah.
"Harap tenang....!" kata sang MC menenangkan para hadirin yang berada di ruangan, melihat Rafa muncul sambil membawa kue ultah yang indah, juga buket bunga.
Bukan hanya Rafa...di belakangnya juga keluarganya tampak memegang kue tart, buket bunga dan hadiah untuk Ara.
Hari ini bukan hanya hari bahagia wisuda untuk Ara. Tapi hari ini juga...adalah hari istimewanya bersama Rafa, hari ulang tahun mereka. Ara mungkin lupa karena di sibukkan dengan wisuda.
Suasana kembali gaduh dengan jeritan histeria dari mahasiswa dan penghuni ruangan.
Ara tetap pada posisinya, meski bingung dan bertanya-tanya ada apa gerangan dengan kegaduhan yang terjadi.
Ines dan Cindy memberi isyarat kepadanya untuk tetap diam. Kedua wanita itu telah siap juga dengan kue ultah untuk sahabat mereka.
Rafa perlahan melangkah mendekati istrinya dari arah belakang.
Musik berbunyi setelah mendapat isyarat dari Rizal.
"Hari ini..hari ulang tahunmu.
"Bertambah satu tahun usiamu.
"Ku doakan bahagia selalu untuk mu
"Tercapai segala cita citamu.
(Nyanyian Rafa) di sela sela langkahnya mendekati istrinya.
Senyuman manis menghiasi wajahnya.
Jeritan histeria mahasiswa kembali memenuhi ruangan mendengar nyanyian Ketua yayasan mereka.
Ara terkejut mendengar nyanyian itu.
__ADS_1
Dia kenal suara merdu suaminya. Dengan segera dia berbalik. Melihat suaminya berjalan mendekat dengan senyuman manis di wajah sambil memegang kue tart indah.
Ara melongo melihat pada suaminya.
Dia menutup mulutnya yang terbuka menganga karena keterkejutannya.
"Selamat ulangtahun ku ucapkan untuk mu
"Semoga bahagia kan mengintari langkahmu
"Tiada kata yang dapat ku beri
"Hanya doa dan rasa cinta
"Yang tulus dariku tuk dirimu
Wajah Ara mengernyit setelah menyadari kalau hari ini adalah hari kelahirannya. Dia diam terpaku tak bergeming di tempatnya. Seperti mimpi dan belum percaya kalau suaminya memberi kejutan ulang tahunnya di tempat ini, di depan orang banyak dan di liput kamera bahkan di siarkan langsung di beberapa stasiun televisi.
Ara menatap suaminya dengan senyuman haru. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Hari ini adalah hari spesial dari sang juara kita. Di mana hari ini merupakan hari kelahirannya nona AZAHRA Radya Almira!" kata Rafa dengan senyuman manis. Suaranya menggema di seluruh ruangan dengan bantuan alat pengeras suara.
"Kakak...!" ucapnya pelan dengan mata berkaca-kaca. Ucapan suara yang hanya dapat di dengar oleh suaminya. Dia baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dia benar-benar lupa. Lupa hari ulang tahunnya dan juga ulang tahun suaminya. Dan ternyata suaminya malah ingat.
Rafa yang sudah berada di depannya menatap lembut dengan masih dengan senyuman manisnya.
Dia menyerahkan buket bunga kepada Ara. Yang di terima Ara dengan ragu ragu karena di depan banyak orang.
Rafa meraih satu tangannya di genggam lembut.
Ara menarik tangannya karena menyadari keberadaan mereka di tempat umum dan sedang menjadi tontonan. Dia tidak ingin hubungan pribadi mereka di ketahui publik. Tapi Rafa menahan tangannya dan di pegang kuat. Rafa menggelengkan kepalanya memberi isyarat padanya untuk tidak melepas pegangan tangan mereka. Karena sudah waktunya dia akan memperkenalkan istrinya pada publik.
"Sayang, sepertinya kau lupa kalau hari ini hari yang sangat spesial untukmu, untuk ku..... Untuk kita berdua!" ucap Rafa menatapnya lembut.
Ara kembali melongo mendengar kata sayang yang di ucapkan suaminya. Bukan hanya Ara, tapi juga para mahasiswa melongo kaget mendengar panggilan sayang sang di sematkan ketua yayasan mereka pada Ara.
"Selamat ulang tahun sayang, istriku, kekasih hatiku, cintaku dunia dan akhirat!" ucap Rafa tersenyum tulus tanpa ragu. Dia mengecup tangan Ara, beralih ke kening, berlanjut ke bibir. Lalu memeluk tubuh istrinya penuh cinta. Ara tak bisa mengelak dan menghindar karena pelukan itu datang tiba-tiba.
Dia tidak dapat lagi menyembunyikan status dirinya sebagai istri Ravendro. Karena Semua ucapan dan perlakuan manis suaminya kepada nya sudah tertangkap kamera dan juga di lihat oleh mata seluruh hadirin yang berada di ruangan ini.
Rafa memeluk Istrinya beberapa saat tak perduli dengan suara gaduh seisi ruangan yang terkejut dengan status hubungan mereka.
Sebagian dari mereka tahu kalau Rafa sudah menikah setelah mendengar klarifikasi Wisnu dan Moly kepada wartawan beberapa waktu lalu. Tapi yang sungguh mereka tidak sangka kalau Ara ternyata adalah istrinya. Sala satu mahasiswi yang kuliah di universitasnya sendiri. Janda dari adiknya sendiri, Almarhum Raka Rahardian Artawijaya.
Rafa melepaskan pelukannya. Dia menurunkan sedikit tubuhnya, membelai dan mengecup berulang perut Ara yang sudah membesar di usia kandungannya yang sudah enam bulan.
Lalu dia bangkit dan mengangkat kue ultah sejajar dengan dada Ara.
"Selamat ulangtahun sayang, berdoa dulu, setelah itu tiup lilinnya!"kata Rafa tersenyum manis.
Ara tersenyum terharu. Matanya berkaca kaca.
"Selamat ulangtahun juga untuk kakak! Maaf, aku lupa kalau hari ini hari kelahiran kita! Aku benar-benar lupa!" kata Ara.
Rafa mengangguk tersenyum.
Moly mengambil alih MC.
"Hari ini bukan hanya hari yang spesial untuk nona Azahra Radya Almira, tapi juga untuk bapak Rafa Ravendro Artawijaya..... tanggal dan bulan yang sama untuk mereka berdua! Mari kita ucapkan selamat ulang tahun dan berikan doa terbaik untuk ketua yayasan kita bapak Rafa Ravendro Artawijaya dan istrinya Nyonya Azahra Radya Almira!" suara Moly menggema di seluruh ruangan. Terdengar tepukan tangan.
Rizal datang mendorong sebuah kue tart indah dalam ukuran besar, yang bertuliskan nama Rafa dan Ara, juga foto mereka.
Ikut bersama Rizal juga keluarga besar Artawijaya. Maya, Nesa, si kembar, Mia mendampingi Rafa dan Ara. Secara bersama sama Rafa dan Ara meniup lilin, memotong kue ultah dan saling menyuapi di pandu oleh Moly dan juga para mahasiswa yang tampak antusias. Sesuatu yang tidak di sangka oleh mereka, ternyata Ara si cupu kutu buku cerdas, yang kehidupannya sangat sederhana, ramah dan gemar membantu adalah istri ketua yayasan mereka sekaligus pemilik kampus ini. Dan Ara menyembunyikan identitas dirinya sebagai istri pengusaha konglomerat ternama ini.
Ucapan dan doa juga di sampaikan oleh rektor dan dekan, pejabat serta tamu tamu penting yang hadir, juga para teman dan sahabat mereka.
Selanjutnya Rafa memberi klarifikasi di depan wartawan tentang istrinya, pernikahan mereka yang sudah berjalan setahun lebih dan juga kehamilan Ara yang merupakan anugerah yang paling membahagiakan dalam hidup mereka. Tidak lama lagi mereka akan menjadi orang tua seutuhnya untuk anak anak mereka. Rafa meminta doa yang baik dari mereka semua.
Ucapan terkahir yang di katakan Rafa di depan media adalah betapa dia sangat beruntung dan bersyukur memiliki Ara sebagai istrinya..... Memiliki Ara sebagai pendamping hidupnya, ibu dari anak anaknya.
Baginya Ara adalah anugerah terindah dan begitu berharga yang di berikan tuhan untuknya. Tak ada yang bisa menandingi rasa bahagianya dapat memiliki wanita ini menjadi istrinya. Apalagi setelah kehamilan Ara, semakin besar rasa cintanya pada istrinya dan semakin sempurnalah kebahagiaan hidupnya.
Tidak berapa lama momen pernikahan, dan juga kehidupan bahagia kebersamaan yang mereka lalui sejak menjadi pasangan suami istri hingga detik ini muncul di media massa, terutama di media online dan ramai menjadi perbincangan dan konsumsi publik, terutama di kalangan para artis dan menjadi buah bibir dan makanan berita berbagai infotainment.
Sikap dan kepribadian Ara yang memiliki jiwa sosial tinggi terhadap lingkungan, juga gerakan amal sosial yang telah di laksanakan Ara selama ini sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan sesama yang membutuhkan.
Sebagian banyak masyarakat yang mendapat bantuan uluran tangan Ara selama ini ikut berkomentar baik tentang wanita ini. Semua memberikan komentar positif tentang Ara.
Publik juga di kaget kan dan dibuat kagum dengan status Ara seorang wanita muda yang memiliki beberapa Yayasan Panti Asuhan yang tersebar hampir di seluruh daerah tanah air. Dan yang menjadi sorotan pihak media adalah Yayasan terbesarnya yaitu yayasan panti asuhan AZAHRA yang sudah terkenal dan tersebar luas ke publik. Dan mereka tidak tahu kalau pemiliknya adalah dirinya.
Mereka sangat bangga dengan kehidupannya yang sederhana, tertutup, jauh dari kesan glamor meski di limpahi kemewahan, harta yang melimpah serta uang yang tak akan ada habisnya. Dan juga sebagai statusnya sebagai istri dari sala satu pengusaha konglomerat terkaya tanah air yang usaha bisnisnya sudah terkenal dan merambah hingga ke beberapa benua, tapi menutupi dirinya sebagai istri pengusaha konglomerat tersebut.
Rafa lega karena telah mempublikasikan Istrinya pada publik umum tanpa ada lagi yang di sembunyikan.
Di ruang kerja rumah pribadi.
Wisnu tampak berlutut di depan Rafa yang sedang menatapnya dengan wajah memerah, sorotan tajam menahan amarah. Sudah setengah jam dia berlutut di kaki tuannya.
"Pergilah dari sini. Aku tidak butuh dirimu lagi untuk menjadi sekretaris ku! Kau tidak perlu lagi bekerja padaku dan juga mengikutiku!" kata Rafa dengan suara meninggi.
"Tuan.....!" Wisnu semakin menunduk tak bergerak dari posisinya.
"Jangan membantah, ini perintahku! Cepat keluar." sentak Rafa kasar.
Rafa membebaskan Wisnu dari posisinya sebagai sekertaris pribadinya. Mengingat pria ini telah menikah. Dia ingin Wisnu membina kehidupan rumah tangga yang baik bersama keluarganya. Tapi Wisnu tetap bersikeras dan tidak mematuhi perintahnya.
Karena dulu Wisnu sudah bertekad pada dirinya sendiri akan mengabdi pada tuannya selama lamanya hingga akhir hayat. Walau apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan tuannya.
Meski Rafa sudah melakukan kekerasan dengan memberi pukulan dan tendangan, Wisnu tetap pada posisinya. Duduk berlutut.
Lima tahun lalu, Secara diam-diam Rafa telah menyiapkan sebuah usaha untuk Wisnu. Dia memberikan sala satu perusahaannya yang berada di Amerika untuk Wisnu mengingat kerja keras serta kesetiaan pria ini kepada dirinya.
Rencananya dia akan menyerahkan perusahaan itu untuk Azhar dan Azham, saat kedua anak itu tumbuh dewasa. Tetapi karena Wisnu telah menikah maka sudah waktunya memberikan perusahaan itu untuk di kelola Wisnu sendiri.
Rafa mempersiapkan semuanya dengan bantuan Rizal yang datang ke Amerika beberapa waktu lalu hingga membuat pernikahan dokter muda itu bersama Moly di tunda.
"Pergilah dari sini...!" usir Rafa kembali dengan keras.
"Tuan....!" Wisnu tetap tak bergerak dari posisinya.
"Kalau kau tidak enyah dari hadapan ku, aku akan membunuhmu!" teriak Rafa keras. Dia mengambil pistol dan di arahkan pada kepala Wisnu.
"Keluar dari sini atau ku tembak!" gertak Rafa keras.
Wisnu tak bergeming. Dia diam dan perlahan memejamkan mata. Siap menerima hukuman meskipun itu kematian. Sikap keras kepalanya membuat emosi Rafa semakin menjadi. Dia segera menodong kan pistol ke pelipis Wisnu, lalu menarik pelatuknya. Terdengar dentuman keras memenuhi ruangan.
Ara dan Ines yang menguping diam diam di belakang pintu menjerit ketakutan. Keduanya saling berpegangan dengan tangan gemetaran.
"Mas Wisnu....!" Pekik Ines khawatir dengan suaminya."Ra....apa yang terjadi di dalam sana? Apa yang terjadi dengan suamiku? aApa tuan Rafa benar benar telah membunuhnya?" panik, ketakutan.
Ara memegang kuat kedua tangan Ines.
"Tidak terjadi apa-apa pada suamimu Nes. Suamiku tidak akan mungkin melakukannya! percayalah kepadaku!" menenangkan Ines. Meski dia sendiri gemetar ketakutan. Tapi dia yakin suaminya tidak akan menembak Wisnu. Dia menatap lekat wajah Ines.
"Nes, kita tidak tahu perjalanan hidup serta kebersamaan yang mereka lalui dulu. Baik suka dan duka! Entah janji apa yang telah dibuat sekertaris Wisnu pada dirinya sendiri sehingga tidak ingin meninggalkan kak Rafa. Aku berpikir Ini bukan hanya sekedar janji, tapi bentuk pengabaian dan kesetiaan. Juga Ikatan kuat di antara mereka yang tidak bisa di pisahkan." Ara menjelaskan. Ines mengerti penjelasan Ara. Karena dia tahu kedua pria itu sudah bersama sejak dulu. Tidak bisa di pisahkan.
"Sekarang semuanya ada pada dirimu Nes. Jika suamimu tidak mau melakukannya, maka kau yang akan menggantikan dirinya mengurus usaha bisnis yang telah di persiapkan kak Rafa. Tolong lakukanlah untuk kalian, terutama untuk si kembar dan anak anak kalian nanti." kata Ara kembali memberi penjelasan sekaligus pengertian.
Ines yang mengerti perkataan Ara hanya bisa diam menatap sahabatnya.
.
.
.
Sehari setelah pernikahan Rizal dan Moly di laksanakan, si kembar Azhar dan Azham kembali ke Amerika bersama Wisnu, Ines dan Rani. Seperti perintah Rafa, Wisnu di berikan cuti selama sebulan untuk bulan madu pernikahan mereka. Ines melanjutkan kuliah pasca sarjananya di Amerika.
Waktu terus berjalan tanpa terasa.
Di sela sela kuliahnya, dan juga sebagai kesibukannya sebagai ibunya A'A, Ines bekerja keras dengan posisinya sebagai wakil direktur utama perusahaan menggantikan posisi Wisnu sebagai Direktur Utama di perusahaan mereka. Ines bekerja keras terjun ke dunia bisnis dan mengelola perusahaan dengan pantauan dari Wisnu meski suaminya itu berada jauh darinya. Ines terus belajar dengan bimbingan suaminya yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia bisnis.
Wisnu hanya sesekali mengunjungi perusahaannya jika dia sangat di butuhkan perusahaan. Terkadang dia juga mengunjungi perusahaan saat mengikuti tuannya untuk perjalanan bisnis ke Amerika atau mengunjungi anak anaknya.
Ines juga sering meminta bantuan kepada kedua sahabatnya, Ara dan Cindy. Meski terpisah oleh jarak yang sangat jauh, di sibukkan oleh banyak aktivitas, ketiganya tetap saling berhubungan, saling mendukung, bercanda dan bersenda gurau.
Waktu terus berjalan.
Usia kandungan Ara sudah semakin besar.
__ADS_1
Memasuki trimester ketiga, masa ngidam aneh yang di alami Ara telah hilang. Perubahan sikap Ara kembali ke aslinya... seorang pemalu dan penakut pada Rafa, suaminya. Ara selalu menjaga jarak dengannya dan menghindar jika di dekati. Ara tak lagi, manja, mesra dan agresif seperti saat dia mengalami masa ngidam dulu. Ara terlalu takut dan pemalu untuk dekat apalagi menyentuh Rafa. Dan itu membuat Rafa kesal, marah dan sering emosi, sampai terbawa ke kantor. Dan tak elak lagi Moly, Wisnu bahkan karyawan menjadi pelampiasan amarahnya jika mereka melakukan kesalahan walau itu hanya kesalahan kecil.
Tapi meski sikapnya seperti itu, tak mengurangi kebahagiaan dalam pernikahan rumah tangga mereka. Rafa berusaha memahami sifat dan kepribadian istrinya. Cinta Rafa kepada Ara semakin bertambah setelah istrinya itu melahirkan ke empat bayi kembar mereka. Kebahagiaan mereka semakin lengkap dan sempurna. Dia sangat bahagia dan bersyukur.
Sejak melahirkan bayi kembar mereka, Ara memantapkan hati menutup aurat dengan memakai hijab. Dan itu membuat Rafa semakin jatuh cinta dan tergila gila padanya.
Empat tahun kemudian.
"Khanza, jangan lari lari, nanti jatuh! Stop dek!!" teriak seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dari dalam mobil, kepada bocah perempuan yang berlari ke arahnya. Tapi gadis bocah perempuan itu terus berlari ke arahnya.
Sementara di taman, terlihat tiga bocah kecil laki laki sedang bermain mobil-mobilan di jaga oleh beberapa pelayan.
"Kak Cio jangan pergi ! Jangan tinggalkan Khanza!" teriak bocah kecil yang di panggil Khanza. Dia berlari lari ke arah mobil yang akan di naiki Cio.
Cio yang saat itu sudah berada didalam mobil hendak menuju bandara untuk pergi ke Eropa. Dia akan melanjutkan sekolahnya di sana setelah lulus SD. Si kembar Cio dan Cia baru lulus SD.
Cio segera turun dari mobil dan menyambut kedatangan Khanza. Dia langsung menggendong bocah kecil itu dan mengecup pipi tembemnya. Cio sangat menyayangi bocah kecil ini sejak dalam kandungan tantenya, Ara.
Khanza adalah anak perempuan bungsu Rafa dan Ara.
Khanza Ghaniya..... adalah nama yang telah di persiapkan Cio sejak gadis kecil itu hadir dalam rahim Ara dan di berikan setelah bayi cantik itu lahir.
"Kak Cio akan segera kembali dek. Khanza tunggu kakak pulang ya?" kata Cio memberi pengertian sambil mengelus pipi Khanza.
"Jangan pelgi!" kata Khanza dengan wajah sedih, mau menangis.
"Kakak gak akan lama dek, kakak Janji akan segera kembali. Khanza jangan sedih!" kata Cio ikut sedih.
Khanza malah memeluk Cio dan menangis.
Mata Cio basah, dadanya sesak.
"Percaya sama kakak dek. Kakak akan cepat pulang dan menemui Khanza. Kita akan sama sama lagi."
"Kakak Janji?"
"Janji!"
"Kakak gak akan lupa sama Khanza?"
"Khanza akan selalu ada di hati kakak. Kakak Janji, hanya Khanza ada di hati kakak!" Cio membawa satu tangan Khanza dan di letakkan di hatinya."Kak Cio akan selalu ingat kamu, sayang kamu di mana pun kakak berada! Selamanya kakak akan sayang Khanza!" lanjutnya kembali menyakinkan Khanza.
"Khanza juga sayang sama kak Cio. Khanza akan tunggu kakak pulang! Kakak juga akan ada di sini..." kata Khanza berusaha bicara benar dengan mulut mungilnya. Karena dia belum terlalu lancar bicara. Dia membawa tangan Cio ke hatinya. Mengikuti apa yang di lakukan Cio tadi.
Cio tersenyum haru dan kembali memeluk tubuh kecil itu.
"Khanza akan tunggu kakak pulang." kata Khanza mengecup pipi Cio.
"Benar ya Khanza akan menunggu kakak pulang?" kata Cio.
Khanza mengangguk.
"Meskipun agak lama sedikit, apa Khanza akan tetap menunggu?"
Khanza kembali mengangguk"Iya...!"
"Janji....?" tanya Cio.
"Janji....!" jawab Khanza dengan polosnya tapi serius. Kedua matanya basah.
Cio tersenyum senang. Dia memeluk kembali tubuh Khanza, mencium kedua pipinya yang kemudian di balas Khanza. Dia mengambil ponselnya, membuka kamera lalu di arahkan pada mereka berdua, mengambil gambar mereka berdua. Bertepatan Khanza kembali mengecup pipi kanannya. Kebiasaan Khanza suka sekali mengecupnya.
Cio tertawa gemas dan kembali mengecup pipi gembul adik sepupunya ini.
Sungguh dia sangat menyayangi bocah perempuan ini. Yang merupakan adik sepupunya.
"Khanza....sudah nak, biarkan kakakmu pergi!" kata Ara.
Dia, Rafa, Maya mendekati Cio dan Khanza.
"Ayo Cio, kita pergi. Nanti terlambat." kata Nesa dari dalam mobil Nesa. Dia juga sedih melihat kedua anak itu akan berpisah. Karena dia tahu kasih sayang dan kebersamaan kedua anak itu.
Khanza ngambek tak mau melepas pelukannya pada Cio. Dia menangis. Cio jadi berat hati untuk pergi. Tak tahan melihat air mata adiknya.
"Khanza, kakak janji akan segera kembali. Nanti kita main lagi! Jangan nangis sayang!"bujuk Cio melap air matanya. Sejujurnya Cio juga berat meninggalkan Khanza dan berpisah darinya.
Rafa segera meraih putrinya dalam gendongan Cio."Nanti kita akan mengunjungi kakakmu di Eropa! Putri kecil papa Jangan nangis gitu dong! nanti cantiknya hilang lho!" kata Rafa mengecup wajah cantik putri kecilnya yang mirip seperti istrinya, memiliki mata teduh yang sama.
"Cio pamit dulu Ante, Daddy, Nenek!" pamitnya pada Ara, Maya dan Rafa seraya memeluk mereka satu persatu.
"Jaga diri di sana ya, tetap jadi anak yang baik pada semua orang. Belajar yang rajin, jangan tinggalkan shalat!" pesan Ara setelah melepaskan pelukannya.
Cio mengangguk tersenyum. Tak bosan bosannya Antenya ini selalu memberi nasehat baik pada dirinya dan juga Cia.
"Dek, kakak pergi dulu!" Dia berseru pada ke tiga bocah laki-laki yang asik bermain. Bocah bocah itu melambaikan tangan kepadanya.
Cio menatap Khanza kembali, mencium tangan bocah itu, lalu cepat melangkah menuju mobil dan segera masuk duduk di dekat ibunya. Dia tidak tahan melihat kesedihan di wajah Khanza.
"Cepat kita pergi paman!" katanya pada Wisnu. Mobil bergerak. Mereka saling melambaikan tangan begitu kendaraan perlahan bergerak berjalan.
Tatapan Cio tak beralih dari Khanza yang terus menangis memanggil dirinya."Kakak.... jangan pelgi. Khanza ikut!"
"Kakak menyayangi mu dek! Kakak janji akan segera menyelesaikan sekolah kakak secepatnya kembali pulang menemuimu dan kita akan bersama lagi tidak akan berpisah lagi! Kakak Janji!" batin Cio sedih, bertekad dalam hati. Nesa mengelus kepalanya, mengerti apa yang kesedihan putranya ini.
"Belajar yang baik. Selesaikan pendidikan mu dengan segera, biar cepat kembali pulang menemui Khanza. Adikmu itu pasti juga sangat sedih berpisah dengan mu." kata Nesa.
Cio mengangguk dan segera memeluk mamanya, menekan tangisnya.
Tangisan Khanza mereda setelah semua orang membujuknya dengan berbagai cara. Dia mulai bermain bersama ketiga kakaknya di taman.
Ketiga kakak lelakinya yang berbeda usia 12 jam dengannya. Ketiganya kakaknya yang begitu sangat menyayanginya.
Maya, Sam dan beberapa pelayan bergabung main bersama mereka.
Rafa dan Ara tersenyum senang melihat pada mereka tampak asyik asiknya bermain.
Ponsel Ara berdering. Panggilan dari Yayasan Panti Asuhan. Ara hendak mengangkat telepon. Tapi belum sempat jarinya menekan tombol hijau, Rafa merebut benda itu dan langsung mengangkat tubuhnya berjalan cepat menuju lift.
"Apa yang kakak lakukan?" Ara terkejut.
"Aku merindukanmu sayang!" kata Rafa lalu mencium bibir istrinya didalam lift yang sedang membawa tubuh mereka ke atas.
"Gak lihat kita lagi di mana?" kata Ara tersengal-sengal.
"Aku gak perduli!" tak berhenti menciumi bibir istrinya. Begitu sampai kamar dia langsung menerkam, melahap setiap inci bagian tubuh indah istrinya tanpa terlewati. Meski sudah memiliki empat anak, tubuh istrinya tetap indah. Malah semakin indah, kencang dan membuatnya bergairah dan kecanduan terus. Sejam berlalu.
"Kak...udah dong, cukup! Nanti anak anak nyari aku!" keluh Ara merasa cemas mengingat anak anak mereka.
"Kamu jangan cemas sayang, ada mama dan para pelayan yang jaga mereka. Aku tadi mengirim pesan pada mama untuk menjaga anak anak. Selama dua jam ke depan kita akan habiskan waktu bersama di sini! Kau akan di sini terus menemani dan melayani ku ! Aku sangat rindu dirimu sayang!" kata Rafa jahil dan kembali mencumbunya.
Ara terkejut mendengar ucapannya.
"Apa? lepas...aku gak mau....aku mau anak anakku!" Ara berontak.
Rafa tertawa kecil menahan kuat tubuhnya.
Dia terus menggempur tanpa ampun, tanpa peduli keluhan kesakitan dan rengekan Ara yang meminta berhenti.
Sungguh dia sangat rindu dengan istrinya dan juga tubuh ini, setelah di tinggalkan selama seminggu di Amerika. Keindahan yang menganggu pekerjaannya karena terus menari nari di peluk matanya. Segera dia menyelesaikan pekerjaannya dan buru buru kembali ke tanah air.
Apalagi sejak lahirnya buah hati mereka, kebebasan berdua seperti ini tak ada lagi. Semuanya di lakukan dengan terburu-buru. Waktu dan perhatian Ara berkurang kepadanya. Waktu berduaan seperti ini hampir jarang mereka lakukan karena Ara lebih banyak menghabiskan waktu bersama si kembar. Meski banyak pelayan yang menjaga si kembar, Ara lebih suka mengurus si kembar dengan tangannya sendiri. Waktu dan perhatian Ara tercurah seluruhnya kepada anak-anak. Sangat sulit untuk leluasa berduaan bersama istirnya. Dan itu membuatnya sangat tersiksa.
Meski ada sedikit celah waktu bagi mereka untuk berduaan, Ara tidak mau bersamanya dan lebih mementingkan anak anak dari pada memberi perhatian pada dirinya. Ara pura pura tidak tahu akan dirinya yang tersiksa membutuhkan Ara. Butuh perhatian Ara, sentuhan Ara dan juga butuh yang lainnya. Ara malu berduaan seperti itu.
Dan saat ini ke empat buah hati mereka itu lagi senang senangnya bermain. Ini adalah kesempatan baginya untuk melepas rindu pada istrinya. Wanita yang sangat di cintai melebihi dirinya sendiri. Wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Dan dia berjanji akan mencintai dan menjaga wanita ini selamanya hingga akhir hayatnya nanti.
"Sayang, terimakasih untuk semua kebahagiaan yang kau berikan kepadaku! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" bisiknya lembut menatap wajah cantik alami yang tampak tertidur lelap dalam pelukannya setelah percintaan terakhir mereka.
...TAMAT....
Terimakasih untuk dukungan semuanya. Khususnya para reader yang sangat setia menungggu kelanjutan kisah Rafa dan Ara meski author lama up nya. Terimakasih atas dukungan kalian dengan memberikan vote, hadiah, rate, like, komentar (terkadang ada yang pedas 😁). Terimakasih juga saya ucapkan atas dukungan dari sesama author.
Author sangat senang akhirnya bisa menamatkan karya Rafa dan Ara dengan segala kekurangan dan keterbatasan kemampuan berpikir author.
Untuk sementara author istirahat sejenak untuk memulihkan kondisi fisik. Jujur author sedang tidak sehat dan dalam masa pemulihan setelah sebulan kemarin ini bolak balik masuk rumah sakit sehingga mengakibatkan author jarang dan lama baru bisa up.
Terimakasih sekali lagi author ucapkan untuk dukungan kalian semua. Insyaallah kita akan berjumpa lagi di karya author berikutnya😘😘 Khanza & Gracio. Mampir ya dan beri dukungan. Ini adalah kelanjutan dari cerita Rafa dan Ara.
Semoga kita semua selalu di limpahi kesehatan, keselamatan dan di beri umur panjang....Aamiin 🤲
__ADS_1
(Allahuma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Aali Sayyidina Muhammad, Aamin 🤲)
Selamat memperingati hari kelahiran Baginda nabi besar Muhammad Saw untuk umat muslimin.