
...Happy Reading....
Setelah melaksanakan shalat isya, Ara langsung turun menuju kamar ibu mertuanya. Dia ingin meminta maaf atas kejadian tadi. Tapi Maya tidak mau membukakan pintu untuknya. Lama Ara mondar mandir di depan pintu kamar Maya.
Sebenarnya Ara sudah memberitahu akan pulang terlambat pada Pak Sam. Dan pak Sam juga sudah menyampaikan pada Maya. Tapi ibu mertuanya tetap marah dan tidak menerima alasan keterlambatannya. Maya beranggapan kegiatan kampus hanya alasan Ara untuk bersenang bebas di luar.
Ara tidak mau menyerah. Dia tetap berdiri di depan pintu, berharap ibu mertuanya membuka pintu untuknya. Ara tidak mau Maya semakin membencinya.
Wisnu yang baru datang, melewati Ara di depan pintu kamar Maya. Dia segera menuju lantai dua ke ruang kerja Rafa. Wisnu melaporkan keberadaan Ara di depan Maya.
"Kenapa dia pulang malam ke rumah?" tanya Rafa yang juga penasaran dengan keterlambatan kepulangan Ara. Karena dia belum mendapatkan informasi tentang hal itu.
"Nona Muda masih melakukan penggalangan dana di bundaran X bersama pihak kampus." kata Wisnu yang sudah mendapatkan informasi dari Sam.
"Penggalangan dana?" dahi Rafa mengerut mendengar jawaban Wisnu.
"Benar Tuan. Mereka mencari donasi untuk korban musibah gempa dan bencana banjir yang terjadi di daerah X dan Y. Sebenarnya Nona Ara sudah menghubungi pak Sam untuk memberitahukan keterlambatannya pulang. Dan pak Sam sudah memberitahukan hal itu pada Nyonya Besar." kata Wisnu kembali.
Rafa mempermainkan pulpen di tangannya. Dia mengerti kenapa mamanya bersikap keras pada Ara. Karena mamanya tidak menyukai Ara. Apa pun yang di lakukan Ara selalu salah.
"Kau sudah mengirimkan donasi pada dinas sosial dan Balai Kota?" tanyanya kemudian terkait dengan bencana banjir yang melanda di daerah X dan Y.
"Sudah Tuan." jawab Wisnu sopan.
Rafa kembali memeriksa berkas laporan bulanan dan menandatangani kontrak kerja dengan tiga perusahaan.
Wisnu ikut memeriksa berkas laporan tiap-tiap departemen yang berasal dari kantor cabang dan anak perusahaan.
Sementara di bawah, sudah sejam lebih Ara berdiri di depan pintu kamar Maya. Mengetuk dan memanggil, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Ara memilih menyerah. Mungkin ibu mertuanya sudah tidur. Besok pagi dia akan kembali menemui Maya dan meminta maaf. Dengan langkah lesu, kepala menunduk, Ara menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya.
Ara terkejut saat tubuhnya menabrak sosok di depannya. Ara langsung mengangkat wajahnya.
"Kakak ipar?" terkejut melihat sosok Rafa berdiri di depannya dengan ke dua tangan bersedekep di dada. Ara langsung mundur dua langkah.
"Kalau jalan lihat ke depan, jangan menunduk." kata Rafa menatap tajam. Dia memperhatikan rambut Ara yang sudah kembali keriting. Bau aroma wangi sampo tercium oleh hidungnya. Ternyata gadis ini sudah melakukan apa yang di perintahnya, yaitu kembali mengeriting rambut.
"Ma_maaf kak," ucap Ara gugup, lalu kembali menunduk.
Rafa melewati dirinya, melanjutkan langkah menuju kamar.
Ara teringat sesuatu yaitu mengenai keterlambatan kepulangannya tadi. Dia tidak ingin Rafa berpikir sama seperti Maya. Dia ingin menjelaskan alasan keterlambatannya pulang, agar Rafa tahu dan tidak berpikir buruk padanya, mengingat statusnya yang sekarang adalah seorang janda.
Ara segera berbalik mengejar Rafa dengan langkah cepat.
"Kakak ipar." panggilnya pelan dari belakang Rafa.
"Ada apa?" jawab Rafa menoleh setengah badan sambil terus berjalan.
"Mengenai keterlambatan ku pulang ke rumah___ aku minta maaf." ucap Ara pelan.
Rafa membuka pintu kamarnya dan masuk. Dia mengambil sesuatu kertas kecil di laci nakas. Di fotonya lalu di kirimkan entah pada siapa.
Sedangkan Ara berhenti di depan pintu, tidak berani masuk."Kak____aku menjelaskan alasan keterlambatan ku pulang ke rumah."
"Bicara saja___" kata Rafa yang sibuk menulis pesan.
"Setelah dari kampus aku di ajak sama teman temanku makan siang di restoran. Lalu kami pergi ke salon untuk mengeriting rambut sesuai keinginan kakak. Setelah itu kami masih melakukan penggalangan dana bersama pihak kampus. Aku sudah memberitahukan pada pak Sam." ujar Ara menjelaskan alasan keterlambatannya.
Rafa meletakkan ponsel di nakas setelah mengirim pesan, lalu mendekati Ara.
"Kenapa kau tidak meminta izin padaku?" tanyanya setelah berada di depan Ara. Dia menatap wajah Ara lekat.
Ara gugup."A- aku tidak sempat berpikir untuk memberitahu kakak. Aku hanya berpikir cukup memberitahu pak Sam saja."
"Mulai sekarang apa pun yang kau lakukan, kemanapun kau pergi, dan bersama siapa harus beritahukan pada Wisnu serta izin dariku." titah Rafa.
"I-iya, Maaf! Lain kali aku akan memberi sekertaris Wisnu dan meminta Izin pada kakak." kata Ara masih gugup."Kalau begitu, aku permisi ke kamar dulu." pamitnya kemudian. Dia lega karena Rafa tidak marah.
Ara membalikkan tubuh dan hendak melangkah. Tapi langkahnya terhenti dengan pertanyaan Rafa.
"Kenapa kau tidak menegurku tadi di restoran?" tanya Rafa.
Ara segera berbalik. Dahinya mengerut sedang mengingat kejadian tadi di restoran. Saat dia berusaha menghindari Rafa, tapi akhirnya ketahuan juga.
"Aku melihat kakak sedang bersama dengan seorang wanita. Aku tidak enak hati untuk menyapa. Mungkin saja itu relasi bisnis kakak atau mungkin____." ucapannya terhenti karena ragu.
"Atau mungkin apa?" Rafa penasaran dengan kalimat yang tak tersambung.
"I_itu___!" Ara masih ragu tidak berani.
"Siapa yang kau maksud?" kata Rafa dengan suara agak meninggi.
"Salah satu wanita kakak." kata Ara pelan dan hampir tak terdengar karena takut salah bicara.
Wajah Rafa mengernyit."Salah satu wanita ku?" mengulang perkataan Ara. Dia tersenyum tipis dengan bibir setengah terangkat.
"Maaf bila aku salah bicara." kata Ara mulai takut. Takut salah menebak tentang wanita itu.
Rafa kembali tersenyum setengah.
"Apa karena aku bersama dengan wanita kau menyimpulkan kalau dia adalah kekasih ku?" menatap wajah Ara.
Ara menelan ludah. Diam tak menjawab.
"Katakan Ara, apa yang kau pikirkan melihat aku bersama dengan seorang wanita?" kata Rafa Kembali dengan agak keras cukup membuat Ara kaget.
"Apa jika kau melihat aku bersama dengan wanita yang, maka kau menganggap wanita itu adalah kekasih ku?"
"A_aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya melihat dari kedekatan kalian saja. Kalian sangat dekat dan terlihat mesra. Jadi ku kira wanita itu sala satu kekasih kakak selain kak Levina." ujar Ara terbata bata karena takut. Dia tidak berani menatap wajah Rafa.
Rafa tertawa kecil."Dekat dan mesra bagaimana? Hah? Kemesraan seperti apa yang kau lihat di antara kami?"
Ara kembali menelan ludahnya yang mulai terasa pahit. Seharusnya dia tidak beranggapan seperti itu.
__ADS_1
"Jawab Ara, aku menunggu jawabanmu!" sentak Rafa agak keras.
Ara tersentak.Tubuhnya tegang."Kakak sudah tau maksud ku, aku tidak perlu mengatakannya lagi." ujarnya segera.
Senyum Rafa mengembang."Aku tidak tahu kemesraan seperti apa yang kau maksudkan, karena kedekatan ku dengan wanita wanita yang kau lihat tidak seperti apa yang kau pikirkan."
Ara semakin menunduk karena salah mengira.
"Angkat kepalamu." kata Rafa.
Ara tetap menunduk.
Rafa kesal. Dia memegang dagu Ara dan mengangkat ke atas. Hingga gadis itu menatap kepadanya.
"Kau ini sangat bandel. Sudah ku katakan berulang kali kalau berbicara harus menatap lawan bicaramu. Kau sungguh tidak sopan. Kenapa kau selalu menghindari tatapanku?" sentaknya kembali. Dia melepas kacamata Ara dan melemparkannya ke atas sofa. Dia melihat ketakutan di mata teduh adik iparnya ini.
Ara kaget. Dia melihat kacamatanya yang berada di atas sofa. Lalu melihat wajah Rafa.
"Kenapa kau selalu menghindari tatapan ku?" tanya Rafa kembali.
"Aku tidak bermaksud menghindari tatapan kakak. Aku__" Ara menggantung ucapnya, ragu ragu.
"Aku apa?" Rafa semakin mendekatkan wajah mereka. Dia dapat merasakan hembusan nafas Ara menerpa di wajahnya. Rara menatap setiap bagian dari wajah ini.
Ara menelan ludah pahitnya.
"A_aku takut." ucapnya terbata.
"Takut? Apa yang kau takutkan? Kau pikir aku akan menerkam mu?"
Ara kembali menunduk. Sambil menggigit bibir bawahnya kuat. Rafa melihat itu.
"Jangan di gigit, nanti terluka." katanya melihat bibir Ara yang semakin merah karena kena gigitan.
Ara diam tetap menggigit bibirnya. Hal itu membuat Rafa gusar. Dia segera menarik tangan Ara hingga tubuh wanita muda itu masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar dan menguncinya. Kemudian menekan tubuh Ara ke daun pintu.
Ara tersentak, mata membulat dengan apa yang di lakukan Rafa.
"Kak__." ucapnya terbata bata. Kenapa Rafa mengurung dirinya? Bagaimana jika ada yang melihat? Ara tidak tenang. Nafas memburu cepat dua kali lebih cepat dari biasanya. Perasaan takut menghinggapi dirinya. Dia menatap wajah Rafa yang juga sedang menatap padanya dengan tatapan matanya yang tajam dan dingin.
Rafa mendekatkan wajah mereka sangat dekat. Bukan hanya hidung yang bersentuhan tapi juga bibir mereka. Rafa dapat mendengar detak jantung Ara berdegup kencang, dan juga deru nafasnya yang tak beraturan.
"Ka_kakak mau apa?" Ara panik dan semakin takut dengan gestur tubuh mereka yang begitu dekat. Mau apa kakak iparnya ini?
"Kenapa Ara? kau takut dengan kedekatan kita sekarang ini? Apa kau sudah lupa dengan apa yang kau lakukan di kamar pribadi ku waktu itu? Kau tak berani menatapku, takut dekat seperti ini, tapi kau berani mengecup bibir dan juga bagian tubuh ku yang lain hingga meninggalkan bekas?" bisik Rafa, menatap dalam penuh hangat kedua netra teduh Ara. Matanya terhenti pada bibir merah alami yang terbuka sedikit.
Rafa menelan saliva berulangkali. Gairah mengaliri aliran sel dalam tubuhnya. Jantungnya berdebar dua kali lipat.
"Ka_kakak ipar, aku minta maaf! A_aku tidak sadar melakukannya. Tolong jangan seperti ini." ucap Ara terbata bata dia sangat takut dengan kedekatan ini. Ara menarik mundur wajahnya, tapi Rafa semakin kuat menahan tengkuknya dan menekan tubuhnya ke pintu.
"Lepas, jangan seperti ini__" pinta Ara semakin tidak tenang. Tanpa sadar kedua tangannya mencengkram kaus di bagian dada Rafa karena takut.
Bukannya melepas dan mundur, perlahan tangan Rafa menyentuh lembut bibir Ara dengan ibu jari kanannya. Di sentuhnya dengan lembut.
"Bahkan bibir ini, berani sekali mengecup menyentuh tubuhku tanpa izin." bisik Rafa lagi. Menatap tak berkedip benda kenyal merah itu yang menggodanya.
"Selama ini tidak ada yang berani menyentuh tubuhku, apalagi menciumnya, kecuali bibir ini." lanjutnya kembali.
Dia beralih menatap mata Ara."Bibir ini sangat lancang dan perlu di hukum.......!"
Ara terkejut mendengar kata hukum. Dia semakin takut dan tidak tenang mendengar perkataan itu. Dia geleng geleng kepala."Aku tidak sengaja kak, maafkan A__." ucapan Ara terputus. Karena Rafa langsung membungkam mulutnya dengan bibirnya.
Ara terbelalak, matanya terbuka lebar. Dia menarik kuat wajahnya, Tapi Rafa memegang kuat tengkuknya dan semakin menekan tubuhnya ke pintu. Rafa kembali mengulum dan mengisap bibir bawah dan bibir atasnya bergantian dengan lembut. Bibir yang sejak tadi menggoda dirinya dan ingin sekali di lahapnya. Dia menyesap kuat benda kenyal itu.
Mata Ara semakin terbuka lebar. Tangannya semakin kuat mencengkram kaus Rafa. Antara percaya dan tidak apa yang dilakukan kakak iparnya pada dirinya. Dia sungguh tidak menyangka Rafa akan menciumnya.
"Jangan, lepaskan aku." katanya di sela ciuman Rafa. Dia tidak bisa bergerak lagi karena tak ada ruang untuk mundur. Tubuh nya telah mentok di pintu dan di tekan kuat.
Darah Ara berdesir hebat, tubuhnya tegang kaki, tak kala lidah Rafa bergerak liar di dalam mulutnya. Bagaimana pun dia adalah wanita normal. Dan selalu melakukan ciuman dengan almarhum suaminya dulu. Kepalanya pening."Hentikan, jangan lakukan ini."
Rafa tak mengindahkan permintaannya. Dia terus melahap bibir Ara dengan rakus. Bibir yang 8 bulan lalu membuatnya merasakan kenikmatan sesaat. Bibir yang membuatnya melepaskan semburan adrenalin nya untuk pertama kali. Bibir yang membuat jantungnya berdebar kencang, membuat hatinya bergetar untuk pertama kali. Bibir yang membuatnya mabuk kepayang, membuatnya kehilangan nafsu makan, sulit untuk tidur dan tidak konsentrasi bekerja. Bibir yang menyelamatkan hidupnya 8 bulan lalu di taman kota pada malam itu. Saat dirinya sedang di kejar sekolompok mafia. Saat itu dia sedang melahirkan diri dari kejaran dari para mafia dan melewati taman. Tanpa sengaja dia melihat seorang gadis berjalan mondar mandir sedang menunggu seseorang dengan gelisah. Di tangannya memegang sebuah jaket. Maksud hatinya hanya ingin mengambil jaket tersebut untuk menutupi pakaiannya. Tapi dia terpesona setelah wajah manis Ara. Terutama mata teduhnya. Meski suasana taman agak remang-remang tapi dia dapat melihat mata indah itu.
Bibir yang terus berbicara tanpa henti meminta untuk di lepaskan, tapi membuatnya malah ingin menyentuh dan menikmati. Bibir yang mengucap ciuman pertama saat dia merenggutnya. Ciuman yang niatnya hanya untuk sekedar mengelabui para mafia malah membuatnya ketagihan dan mabuk kepayang, sehingga ia tak mau melepaskan dan ingin terus menikmati.
Bibir yang juga di nikmati saat pesta ulang tahun di bali waktu itu. Di ciumnya di ruang gelap dan bersembunyi di balik topeng. Dialah yang telah mencium Ara, bukan Raka. Dia sudah berusaha menolak tapi Ara tetap memaksa dan menyentuhnya hingga dia tak sanggup menolak sentuhan bibir Ara yang telah membangkitkan gairahnya.
Iya, dialah yang telah merenggut ciuman pertama Ara 8 bulan lalu. Dialah yang membuat Ara merasakan ciuman pertama dari seorang lelaki di taman kota malam itu.
Dan dia berkata akan mempertanggung jawabkan ciumannya sebelum dia pergi dari hadapan Ara.
Dan setelah kejadian di taman malam itu, dia mulai mencari keberadaan Ara, juga segala aktivitasnya. Dia sangat senang dan bahagia mengetahui Ara masih seorang gadis, belum menikah, dan kuliah di universitasnya. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan Ara dan akan menjadikan wanitanya selamanya dan hanya miliknya. Dia berniat akan menikahi Ara. Menjadikan Ara pendamping hidupnya.
Selama tiga minggu lamanya dia merasakan kebahagiaan tiada tara yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kali baginya merasakan cinta yang sesungguhnya. Sungguh dia sangat bahagia.
Saking cintanya pada Ara, baru 3 minggu mengenali gadis itu dan bahkan belum berkenalan apalagi mengutarakan perasaan cintanya pada Ara, dia merubah sebagian aset harta kekayaannya di atas nama Ara dan di limpahkan pada wanita itu. Dan sebagian lagi di gabung atas nama Ara dan namanya, AZ'FA. Ya __ begitu bucinnya dia pada Ara.
Dia mulai mengurus kepindahannya ke Indonesia, dan akan fokus mengurus semua perusahaannya yang berada di tanah air. Karena selama dua tahun ini dia tinggal di luar negeri. Dia ingin pulang dan akan menetap selamanya di Indonesia karena berniat akan menikahi Ara membina rumah tangga dengan wanita itu.
Tapi kebahagiaan yang ia rasakan tidak berlangsung lama. Hatinya hancur berkeping keping. Setelah mengetahui ternyata Ara adalah kekasih Raka, adiknya. Saat dia hendak menghadiri pesta pernikahan Raka dan ternyata wanita yang akan di nikahi adiknya adalah wanita yang sangat dicintainya.
Seakan raga tak bernyawa, tubuhnya terasa mati ketika melihat gadis yang dia cintai, gadis yang membuat hidupnya di penuhi warna kebahagiaan, gadis yang telah memporak-porandakan hati dan hidupnya, gadis yang membuatnya tergila-gila, gadis yang membuatnya sulit tidur dan tidak berselera untuk makan, gadis yang membuatnya tidak fokus bekerja, gadis yang setiap saat muncul di benak dan pikirannya membuatnya tersenyum sendiri seperti orang yang tidak waras sedang duduk bersanding dengan Raka dan merupakan istri dari adiknya sendiri.
Sungguh sakit yang dia terima rasakan. Hatinya benar benar hancur dan terluka. Saking hancurnya hingga dia tidak mampu untuk melihat keduanya menikah. Itulah sebabnya dia batal menghadiri pesta pernikahan Raka dan memilih kembali ke luar negeri dengan membawa segala luka dan kehancuran. Seandainya bukan Raka laki laki yang menikahi Ara, dia bertekad akan menggagalkan pernikahan itu. Dia akan merebut Ara. Tapi kenyataannya laki laki itu adalah adiknya sendiri. Dan dia melihat kebahagiaan di mata keduanya, melihat cinta di mata Raka dan begitu juga dengan Ara yang mencintai Raka. Keduanya sangat bahagia saat proses pernikahan berlangsung.
Dan sekarang dia kembali menikmati bibir mungil itu, di dalam kamarnya sendiri.
Menciumnya, me****tnya dengan lembut dengan rakus tanpa jeda, meski Ara sudah sulit bernafas memukul mukul dadanya. Dia terus memainkan lidahnya menyapu rongga mulut Ara, membel*t dan mengg*g*t kecil, membuat Ara menjerit dan mendesah tertahan.
Ara menundukkan kepalanya untuk bisa bebas dari ciuman Rafa. Tapi Rafa kembali memegang tengkuknya, menahan ke dua tangannya dengan kuat di belakang.
"Jangan__ hentikan! Apa yang kakak lakukan?" Ara menjerit di antara ciuman Rafa, tapi kakak iparnya tak mau melepasnya. Malah semakin liar dan rakus.
Ara berusaha menghindar dan menutup bibirnya, tapi malah leher dan tengkuknya yang menjadi sasaran. Rafa mengecup, memainkan l*dahnya menj*l*ti leher jenjangnya bahkan menyesap kuat hingga meninggalkan tanda.
__ADS_1
Ara kembali mendesah tertahan, tubuhnya semakin tegang dan kaku. Nafasnya semakin memburu cepat, cekalan tangannya juga semakin kuat di kaus Rafa.
Rafa semakin liar bermain dan kembali meninggalkan tanda Kissmark dengan kecupan kuat.
Ara mengerang keras, Rafa cepat membungkam mulutnya, dan kembali bermain di mulut mungil gadis itu.
Ara menangis dan terisak. Dia memukul dada Rafa. Hingga beberapa saat Rafa merasakan rasa asin air mata Ara yang masuk ke dalam mulutnya. Dia berhenti. Ara segera menarik wajahnya hingga bibir penyatuan bibir mereka lepas.
Dengan cepat memeluk tubuh Rafa dan membenamkan wajahnya di dada kekar lelaki ini agar tak lagi menyerang bibirnya. Isak tangisnya semakin terdengar."Apa yang kakak lakukan? Jangan lakukan ini padaku." terisak meminta. Nafas tersengal sengal.
Rafa terhenyak mendengar tangisan dan perkataannya. Sama seperti Ara, nafasnya juga memburu cepat tak beraturan. Dia ingat
kata kata yang sama, yang di ucapkan Ara dulu di taman kota, saat memohon untuk tidak menciumnya dan berhenti menciumnya.
Perlahan Rafa memeluk tubuh Ara. Mengusap punggungnya lembut. Dia mencium puncak kepala Ara.
"Ara___" panggilnya lembut. Dia mengangkat kepala Ara, tapi Ara menahan kuat dan semakin membenamkan wajahnya.
"Jangan lakukan lagi." kata Ara menangis sambil geleng-geleng kepala.
"Jangan cium aku. Aku janji tidak akan melakukan hal tidak senonoh pada kakak. Beri aku hukuman lain. Tampar aku karena lancang menyentuh tubuh kakak, tapi jangan mencium ku." pintanya kembali di sela isak tangisnya.
Rafa tersenyum mendengarnya. Bagaimana mungkin dia menampar atau melakukan kekerasan pada Ara.
"Angkat kepalamu. Kalau tidak aku akan menghukum mu kembali." bisik Rafa di telinganya.
"Janji dulu tidak akan mencium ku." kata Ara masih terisak.
Rafa kembali tersenyum, dia menyingkap rambut yang menutupi tengkuk Ara. Lalu mendaratkan tiga kecupan lembut.
Ara terkejut, merinding. Kenapa harus tengkuknya yang kini menjadi sasaran? Terlalu banyak bagian tubuhnya yang harus di jaga tapi dia tidak bisa melindunginya.
"Angkat kepalamu Ara, jangan membantah, atau aku akan.....," ucapan Rafa terpotong.
Ara segera mengangkat kepalanya mendengar ancaman itu. Dia menatap wajah Rafa dengan kesal dan masih terisak.
Rafa tersenyum tipis. Dia menyingkap rambut Ara yang menutupi wajahnya, lalu menyapu air mata dan juga keringat di wajah Ara.
Dia kembali tersenyum di dalam hati melihat bibir mungil yang ter katup kuat, berjaga jaga takut di serangnya lagi.
"Kau bilang tidak akan lagi menyentuh tubuhku, tapi lihatlah kau terus memelukku." ucapnya menggoda merasakan pelukan kuat Ara.
Ara tercengang, langsung melepaskan pelukannya dan menggeser tubuhnya ke samping.
Rafa kembali tersenyum.
"Bahkan kau telah merusak pakaianku. Lihat, kaus ku robek besar seperti ini. Kau menariknya kuat seperti orang yang ingin memerkosa." bisik nya jahil sambil menatap lekat mata Ara.
Ara terbelalak. Dia tidak menyadari apa yang telah ia lakukan. Dia melihat pakaian Rafa yang memang robek besar di bagian dada dan perut sehingga kedua bagian tubuh kekar putih berotot itu terekspos terpampang jelas di matanya.
Ara segera berbalik membelakangi Rafa. Rasanya terlalu malu melihat wajah Rafa. "Maaf, aku tidak sadar merusaknya! Aku janji akan mengganti kaus kakak. Sekarang tolong buka pintunya, aku mau ke kamar ku. Aku capek dan mengantuk. Aku mau tidur." ucapnya dengan bibir gemetar.
"Ingin tidur atau menghindar dariku?" Rafa kembali menggodanya.
Ara menelan ludahnya dengan nafas masih memburu cepat. Dia benar kesal dengan godaan ini.
"Benar kak, aku ingin istirahat. Aku lelah dan butuh istri setelah aktivitas kampus seharian ini. Beritahu berapa kode kunci pintunya." Ara memegang handle pintu yang terkunci. Tapi tidak bisa di buka. Karena Rafa telah menguncinya.
Rafa tak ingin menggoda lagi. Karena dia tahu Ara memang butuh istirahat setelah seharian melakukan penggalangan dana dan juga melakukan kegiatan kampus. Rafa mendekat dan menekan tubuhnya pada tubuh Ara.
Ara terbelalak, tubuh bergidik merasakan sesuatu yang keras di bawah sana menyentuh bokongnya. Dengan cepat dia berbalik untuk menghindari benda itu. Nafasnya kembali memburu cepat.
Keduanya kembali saling berhadapan menatap satu sama lain dengan perasan masing masing. Dia melihat tatapan memerah yang tampak sayu dan sulit di tebak. Rafa menatapnya seakan hendak melahapnya. Ara kembali merinding takut.
Sementara Rafa, menatap wanita ini dengan penuh gairah yang di tekan sekuatnya. Dia tahu kenapa Ara membalikkan badannya dengan ketakutan.
"Cepat buka pintunya, aku mohon." pinta Ara memelas tak ingin berlama lama di ruang ini.
Rafa membuang nafas kasar. Sungguh dia sangat tersiksa dengan keadaan yang di rasakan oleh tubuh bawahnya saat ini. Tapi dia tidak akan berani menyentuh sampai di luar batas. Dia tidak akan tega melakukannya. Perlahan dia memegang tangan Ara dan meraih jari telunjuk kanan Ara. Kemudian di tekan pada angka tombol kunci pintu.
"Tanggal, bulan, dan tahun lahir mu." bisik nya sambil menatap mata Ara.
Pintu terbuka.
Ara termangu mendengar kode tanggal kelahirannya di sebut. Dia teringat kode akses masuk pada pintu masuk dan pintu kamar apartemen Rafa. Dia menatap mata Rafa yang juga masih menatapnya. Keduanya menatap beberapa saat, lalu kemudian Ara mendorong tubuh Rafa. Dan cepat keluar berlari menuju kamarnya. Hampir saja dia menabrak Wisnu yang keluar dari ruang kerja. Sapaan Wisnu bahkan tidak di hiraukan. Ara terus berlari menuju kamarnya tanpa menoleh ke belakang.
Rafa memperhatikannya dari pintu.
"Tuan, orang kita sudah memberikan informasi, dan kata mereka aman." kata Wisnu begitu tiba di hadapan tuannya. Dahinya mengerut melihat kaus tuannya yang robek besar. Tapi dia tidak berani bertanya.
"Kita akan turun 4 jam lagi, beritahu mereka untuk bersiap, dan kau pergilah
beristirahat." ujar Rafa.
"Baik tuan, saya permisi dulu." Wisnu menundukkan kepalanya lalu segera berbalik melangkah pergi.
Rafa memandangi arah kamar Ara sambil tersenyum menyentuh bibirnya, lalu masuk dan menutup pintu. Dia segera masuk ke kamar mandi dan berendam dalam buth. Menenangkan tubuhnya yang sangat tegang.
Sementara Ara setelah masuk kamar, langsung menutup pintu dan menguncinya. Tubuhnya jatuh melorot ke bawah karena merasakan kedua kakinya gemetaran dan lemas. Jantung berdetak kencang, nafas memburu cepat. Ara menatap tak berkedip ke depan, membayangkan apa yang terjadi barusan.
Membayangkan apa yang di lakukan Rafa padanya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kakak iparnya akan mencium dirinya. Ciuman berlebihan terasa lain. Menciumnya dengan liar dan penuh gairah.
Ara meremas kuat kedua tangannya. Kedua matanya kembali basah. Rasa takut menghinggapi dirinya, terus membayangkan ciuman panas yang di lakukan kakak dari almarhum suaminya itu.
...Bersambung....
Terimakasih bagi yang sudah mampir.
Mampir ya dalam karya kedua saya,
Arley & Ana ππ
Jangan lupa like vote dan komentarnya ππ
__ADS_1