Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 266


__ADS_3

...Happy Reading....


Pagi ini Cindy membuat sarapan untuk Dion.


Karena selama lima hari tinggal di rumah Dinda dan Raymond, suami sekaligus kakaknya itu tidak bernafsu untuk makan. Dion tidak berselera dengan masakan yang di buat pelayan.


Cindy memasak kurang fokus, pikirannya mengkhayalkan tentang kejadian semalam, di mana dia dan Dion menghabiskan malam penuh bintang hingga hampir pagi. Kakaknya itu kembali mencumbuinya, melakukan hubungan percintaan untuk yang kedua kali setelah yang pertama di apartemen Dion kemarin pagi. Entahlah perasaan apa yang ada di hati mereka sehingga melakukan hubungan percintaan itu tanpa ada paksaan. Apakah karena cinta atau sekedar saling membutuhkan? Yang jelas keduanya bahagia.


Cindy mencoba memfokuskan diri pada masakannya, tapi pergumulan panas semalam kembali muncul di pikirannya membuatnya kembali gagal fokus. Cindy malu malu mengingat hal itu hingga membuatnya tersenyum senyum sendiri.


Tanpa sengaja tangannya menyentuh wajan yang panas hingga membuatnya kembali tersadar. Dia meringis sakit, untuk saja tangannya tidak sampai melepuh.


Dinda yang melihatnya ikut tersenyum. Dia mengerti saat ini Cindy lagi melamunkan sesuatu yang membuatnya senang dan bahagia sampai senyum senyum


seperti itu. Dia memberi isyarat pada pelayan untuk jangan menegur anak mantunya itu.


Dinda sangat senang melihat kebahagiaan kedua anaknya saat mereka datang ke rumah Ravendro menyusul mereka kemarin pagi.


"Semoga saja hubungan mereka sudah membaik. Dan kehidupan pernikahan mereka selanjutnya akan di penuhi banyak kebahagiaan tanpa ada masalah lagi," batin Dinda.


Para pelayan segera meninggalkan dapur setelah urusan mereka selesai. Mereka menyiapkan makanan di ruang makan, meninggalkan Cindy yang masih sibuk dengan apa yang di kerjakan dan khayalan khayalan indahnya.


Sebuah pelukan dari belakang mengangetkan Cindy. Di susul ciuman di pipi kanannya.


Cindy menoleh sedikit ke belakang.


"Kakak?" ucapnya gugup.


"Ehmmm?" Dion sembari meletakkan dagunya di bahu kanan Cindy. Kedua tangannya memeluk sekaligus mengusap perut Cindy lembut.


"Kak, lepas, nanti ada yang melihat. Aku malu."


"Kenapa malu, kamu kan istri kakak." kata Dion kembali sambil mencium leher jenjang Cindy yang hampir semua berwarna merah keunguan hasil karyanya kemarin pagi dan semalam.


"Mmm, wangii." ucapnya seraya menghirup aroma wangi tubuh Cindy yang membuatnya candu.


Tubuh Cindy menegang merasakan kecupan itu, dia tidak fokus mengaduk nasi goreng di wajan."Kak, jangan menggangguku, kerjaku nanti nggak kelar kelar. Dan nanti ada orang yang datang kesini melihat kita seperti ini." Cindy berusaha memfokuskan pada masakannya.


"Biarkan saja..!" Dion semakin erat memeluk dan gencar mengecup bahu dan lehernya.


"Katakan, apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Apa?" wajah Cindy mengernyit.


"Kakak perhatikan kamu sedang senyum senyum sendiri, hayoo,lagi membayangkan apa?" Dion mematikan kompor dan membalikkan tubuh Cindy menghadap padanya karena makanan itu sudah matang.


Cindy malu dan salah tingkah. Dia segera menunduk tak berani menatap wajah kakaknya. Dion tersenyum melihat wajahnya yang merah merona. Dion memegang wajahnya dan di hadapkan padanya. Dia mengeluarkan tisu di kedua lubang hidung Cindy.


"Kenapa senyum senyum begitu? lagi membayangkan apa sih? Sepertinya sesuatu yang membahagiakan," katanya menatap dalam-dalam wajah Cindy.


"Bukan apa apa!" Cindy menghindari tatapannya. Cindy merasa heran pada dirinya karena ini bukan pertama kalinya Dion menciumnya seperti ini tapi entah kenapa tetap saja dia merasa tegang, gugup dan malu.


"Mau jawab atau pilih aku cium?"


Mata Cindy membulat."Aku nggak mau keduanya, minggir ah, aku mau ngambil piring." katanya ketus.


"Tidak boleh ke mana-mana sebelum jawab pertanyaan ku, atau kamu lebih memilih aku cium?"


"Udah ku bilang aku nggak mau keduanya, jangan memaksa."


"Ya sudah." Dion memegang wajahnya kembali dengan satu tangannya. Dan satu tangannya memegang pinggang Cindy, lalu__


Cup... Dion mengecup bibirnya membuat Cindy kaget dengan mata bulat merasakan benda kenyal basah itu. Belum hilang rasa kagetnya, Dion kembali mengecup bibirnya. Kecupan yang makin lama menjadi ciuman hangat. Dion terus melu**t bibir Cindy, mengulum dan menghisap setiap bibir bawah dan atas.


Cindy melenguh tak tahan merasakan lidah Dion yang sudah masuk di dalam mulutnya, menggoda bibirnya agar mau membalas.


Dia mulai membalas ciuman Dion. Lidah mereka saling bertemu, tertaut dan membelit.


Sengatan listrik yang mereka rasakan dari ciuman itu membuat mereka tak sanggup berhenti.


Sebuah wajah merah padam karena amarah dan cemburu memperhatikan kemesraan mereka sejak tadi sampai berlanjut dengan ciuman panas menggelora. Bela...mengepal kuat kedua tangannya yang tampak bergetar.


Dia mendengus geram dengan tatapan tajam dan sinis. Tak tahan melihat pergulatan bibir pasangan suami istri itu, membuat darahnya panas, dia membanting pas bunga yang ada di pinggirnya dengan kuat, kemudian segera melangkah cepat menuju tangga dan naik ke atas sebelum ada yang melihat.


Bunyi sesuatu yang pecah membuat Dion dan Cindy kaget. Mereka segera menarik penyatuan bibir mereka. Nafas nampak tersengal sengal memburu cepat. Cindy malu malu dan segera beranjak dari hadapan Dion, mengambil piring untuk menaruh makanan.


Dion tersenyum kecil melihat tingkahnya yang menghindar darinya.


"Kamu kenapa malu sayang?" memeluk perut Cindy. Sambil menekan bagian selatannya yang aktif keras. Cindy terkejut.


"Cind__!"


"Gak, jangan macam-macam kak, pergi sana ke meja makan!" potong Cindy yang sudah dapat menebak otak kotor Dion.


"Aku gak tahan, kita ke kamar yuk __!" pinta Dion seraya meraba dalaman paha Cindy.


Cindy terkejut, reflek memukul tangan Dion yang kelayapan ke arah intinya.


"Kakak ih__nanti ada yang lihat! Pokonya gak boleh."


"Ayolah Cindy," Dion semakin manja.


"Semalam kan udah, malah sampai pagi. Gak bosan apa?"


"Aku gak akan pernah bosan melakukannya sama kamu Cin," tak henti mengecup bahu dan leher Cindy.


Cindy membuang nafas berat."Kakak lupa apa kata dokter? Kakak gak kasihan sama aku dan anak kita?" Cindy terpaksa memakai anak anaknya sebagai senjata untuk menghentikan otak mesum Dion. Bukan tak mau melayani, tapi dia juga masih merasakan nyeri pada intinya, tubuh pegal pegal.


Dion mengembuskan nafas berat, kecewa.


"Baiklah, tapi jangan menolak ku nanti malam."


"Ya ampun __!" Cindy memutar bola matanya. Tapi dia tersenyum karena bisa lepas dari mesumnya Dion.


"Jangan senang dulu. Aku tidak akan membiarkan mu itu tidur malam ini!"


"Aku akan tidur di kamar mama Dinda." Cindy meledak seraya menjulurkan lidah.


Dion cepat menyambar mulutnya dan menghisap benda tak bertulang itu dengan rakus. Lalu melepas setelah mendapat pukulan di dadanya.


Cindy menatap dengan masam. Giliran Dion yang senyum senyum.


"Kakak cek dulu apa yang pecah. Setelah itu kakak langsung ke ruang makan. Kakak tunggu makanannya, cepetan ya..."


Cindy tak menjawab.


Dion segera melangkah ke depan melihat apa yang pecah tadi. Sudah ada pelayan di sana yang membersihkan pecahan itu. Dion langsung menuju ruang makan, bergabung duduk dengan papa dan mamanya.


"Mana istrimu Nak? Kamu bukannya dari dapur?" tanya Dinda melihat Dion datang sendiri.


"Masih menyalin makanan ma, sebentar lagi ke sini." jawab Dion.


Bela berjalan mendekati mereka dengan memegang sebuah botol sangat kecil. Secara diam-diam dengan gerakan cepat dia menumpahkan isi air dalam botol kecil itu ke lantai. Kemudian segera menyimpan botol itu kedalam saku celananya.


"Selamat Pagi Om, tante Dinda, kak Dion." sapanya dengan senyuman manis. Lalu segera duduk.


"Pagi Bela." sapa Dinda tersenyum.


Dion dan Raymond hanya menatapnya dan memberi senyuman sekilas.


"Kapan Dwi kembali dari Bali?" tanya Dinda kembali.


"Katanya tiga hari lagi tante. Oh ya Tan, boleh aku tinggal di sini meski tak ada Dwi? Aku merasa nggak enak tinggal di sini."


"Tentu saja boleh, kamu nggak usah sungkan begitu. Kamu boleh tinggal di sini meski dwi tidak ada."


"Terimakasih Tante." jawab bela tersenyum senang.


"Sekarang makanlah."


"Baik Tan...," Bela segera membalikkan piring makannya, lalu mengambil makanan sesuai seleranya.


"Kak Dion nggak makan? Mau aku ambilkan?" katanya menawarkan.


"Tidak usah, aku sedang menunggu makananku yang di buat Cindy."

__ADS_1


Ohh, kecewa dan sedikit kesal di rasakan Bela.


Cindy datang dengan sepiring nasi goreng spesial di tangannya. Bela memperhatikan langka kaki nya. Tapi kemudian dia mendengus geram karena kaki Cindy meleset dari genangan air yang di tumpahkan tadi. Cindy berjalan di sebelah genangan itu.


Cindy segera meletakkan nasi goreng di depan Dion. Terus segelas susu dan air.


"Silahkan kak..."


"Terimakasih." Dion menatapnya tersenyum manis sedikit menggoda.


Cindy menunduk malu. Dia segera duduk di samping Dion, kemudian menikmati buah dan susu hamilnya.


"Cind, hari ini kamu ikut mama ke perusahaan," kata Dinda.


"Ke perusahaan papa Ray? Untuk apa Ma?" Cindy terkejut.


"Hari ini adalah rapat umum pemegang saham DRA Group. Dion sala satu calon direktur terpilih." Ray yang menjawab.


"Tapi pa, Apa aku harus datang?" tanya Cindy pelan.


Sementara Bela ternganga mendengar kata Calon direktur. Jabatan tertinggi di perusahaan. Dia semakin ingin memiliki Dion.


"Tentu saja, kamu kan istri kakak." timpal Dion seraya melap bekas susu di sekitar bibir istrinya ini.


Cindy jadi salah tingkah dan gugup.


"Tapi kak, ika aku hadir di sana, maka orang orang akan tahu....,"


"Mereka harus tahu kamu adalah menantu papa dan mama, menantu keluarga Alkas, istri Dionel Raymond Alkas." sela Ray.


"Papa akan mengenalkan mu pada dewan direksi dan semua relasi bisnis papa. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan." Kata Ray kembali.


Cindy mengangguk meski ada keraguan di hatinya.


Ray bangkit dari duduk."Papa sudah selesai. Dion, cepat habiskan makananmu, kita harus bergegas, masih ada yang harus perlu di siapkan." katanya, lalu segera beranjak pergi menuju ruang kerjanya.


Dinda ikut berdiri dan mengikutinya.


Dion segera menghabiskan makanannya.


"Kakak sudah selesai, kakak mau siap siap dulu." katanya seraya bangkit dari duduknya.


"Ayo kita ke atas, bantu kakak untuk bersiap siap." Dion menarik tangan Cindy pelan membantu berdiri.


Cindy mengikuti tarikan tangan Dion untuk berdiri.


"Bel, kamu teruskan makan mu ya, kami ke atas dulu. Kamu nggak apa apa kan kami tinggal sendiri?" katanya menoleh pada Bela.


Bela segera mengulas senyum.


"Nggak apa-apa kok." katanya menatap wajah tampan Dion tanpa berkedip.


Cindy mengikuti tarikan tangan Dion berjalan di sampingnya. Beberapa langkah berjalan, Dia terpeleset karena kakinya menginjak air.


Hilang keseimbangan tubuhnya untuk bertahan. Dia hampir saja jatuh terduduk dilantai jika saja Dion tidak cepat menahan tangan dan tubuhnya kuat. Dion dengan cepat menjulurkan kaki kanannya hingga bokong Cindy terduduk pada sepatunya.


Cindy kaget dan takut, jantungnya berdetak cepat. Dia memegang perutnya.


"Cindy, kamu nggak apa-apa?" Dion terkejut dan cemas terjadi sesuatu yang buruk pada Cindy dan janinnya.


"Brengsek, selamat lagi dia." dengus Bela geram melihat Cindy di selamatkan Dion. Rencananya untuk mencelakai Cindy gagal lagi. Dia ingin membuat Cindy terpeleset dan berharap keguguran.


Dion segera memegang kedua bahu Cindy dan mengangkatnya pelan pelan untuk berdiri.


"Cind, kamu nggak apa-apa?" memeriksa bokong Cindy dan juga perutnya.


"Kak Dion," Cindy gemetaran karena ketakutan. Dia langsung memeluk Dion.


Dion segera membalas pelukannya. Menenangkan dan memberi kekuatan pada tubuhnya yang lemah gemetar. Dia tahu Cindy ketakutan dari wajahnya yang terlihat pucat dan debaran jantungnya yang cepat.


"Apa yang sakit Cind? Apa yang kamu rasakan? Beri tahu kakak," kata Dion sangat cemas.


Bela segera bangkit berdiri, dia berjalan mendekat."Kamu kenapa Cindy? kenapa bisa sampai terpeleset ?" pura pura memberi perhatian. Dia kembali mendengus pelan melihat keduanya berpelukan.


"Ada apa?" seru Dinda yang baru saja dari ruang kerja bersama Raymond.


"Cindy terpeleset tante." jawab Bela.


Suami istri itu kaget dan panik. Keduanya langsung khawatir mengingat


Cindy sedang hamil. Mereka segera mendekati Dion dan Cindy.


"Terus bagaimana keadaan Cindy?" tanya Dinda cemas.


Cindy segera melepas pelukannya.


"Kamu baik baik saja? Kandungan mu bagaimana? Apa baik baik saja?" rentetan pertanyaan dari Ray karena cemas akan keselamatan Cindy dan juga calon cucunya.


"Aku baik baik saja pa, ma, hanya perutku yang sakit. Mungkin karena pergerakan ku yang terpeleset tiba tiba dan jatuh terduduk berdampak pada perutku." kata Cindy pelan karena masih takut dan gemetar.


Dion segera mengambil air di meja makan dan meminumkannya pada Cindy untuk membuatnya tenang dan menghilangkan rasa takutnya.


"Kenapa bisa terpeleset seperti itu?" tanya Ray.


"Ada air di lantai pa, aku terpeleset karena itu." jawab Cindy.


"Air??" Ray dan Dinda terkejut.


Ray segera memeriksa lantai, begitu juga Dion, mereka kaget melihat genangan air di lantai.


"Apa pelayan sudah menyapu dan mengepel lantai?" tanya Dion dengan suara meninggi. Dia tampak emosi.


"Bi Ira, bi Ira...," teriaknya agak keras pada asisten rumah tangga. Yang di panggil segera datang bersama empat orang pelayan.


"Ya Tuan Muda,"


"Siapa pelayan yang bertugas menyapu dan mengepel lantai? Apa dia sudah membersihkan lantai di ruang ini?" menatap tajam ke arah mereka.


"Sudah tuan muda, kami sudah membersihkannya." jawab dua pelayan yang bertugas bersih bersih rumah. Keduanya tegang dan takut.


"Lalu kenapa bisa ada air di lantai? ha?" sentak Dion kembali.


Keduanya terkejut."Kami tidak tau tuan. Kami sudah menyapu dan mengepel tadi, tidak ada air apa pun di lantai."


"Kalian bekerja tidak becus, Cindy terpeleset dan jatuh. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kandungan nya hah?" kata Ray menatap tajam.


Kedua pelayan itu kembali terkejut, mereka semakin takut. Tanpa di perintah dan di komando, mereka langsung berlutut.


"Maafkan kami tuan besar, kami benar-benar tidak tahu kenapa bisa ada air di lantai...,"


"Kalian masih berani berbicara dan meminta maaf?" sentak Ray keras menahan amarah.


Tanpa sengaja Cindy melihat sekilas wajah Bela yang tersenyum menyeringai.


"Sudah pa, biar mama yang urus. Papa pergilah ke kantor." ucap Dinda melihat situasi yang semakin memburuk, karena kemarahan suaminya dan Dion.


"Hubungi dokter kandungan yang bekerja dirumah sakit kita, suruh dia segera datang ke sini secepatnya untuk memeriksa Cindy." kata Ray kembali.


"Pa, papa pergilah terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul." kata Dion.


"Aku gak apa-apa, kakak ikut saja bersama papa. Urusan kalian sangat penting untuk rapat hari ini." kata Cindy menatap Dion.


Dion mengabaikan kata katanya, Dion malah memeluk Cindy, dan mengusap perutnya. Dia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Cindy dan kedua calon anaknya.


"Baiklah, kamu urus Cindy dulu, tapi jangan sampai telat datang ke kantor." kata Ray. Dia mendekati Cindy dan mengelus perut keponakan sekaligus menantunya. Lalu segera melangkah menuju ke depan.


"Mama, ngantar papa dulu di depan." kata Dinda. Dion dan Cindy mengangguk.


"Kalian bersihkan lantai itu." perintah Dion pada pelayan." Awas kalau hal seperti ini masih terjadi lagi, aku akan memecat kalian dan melaporkan kalian ke kantor polisi karena ingin mencelakai istriku." sentaknya menatap tajam.


Lalu dia segera mengangkat tubuh Cindy ala bridal style melangkah menuju tangga.


"Kak, aku jalan saja, aku masih bisa kok." kata Cindy. Dion hanya menatapnya.


Pelayan segera melaksanakan perintah majikannya, mereka heran kenapa bisa ada air di lantai. Mereka juga heran dengan kejadian vas bunga bisa pecah, karena sebelumnya kejadian ini tidak pernah terjadi di rumah ini. Bik Ira menatap Bela yang tersenyum menyeringai pada Cindy dan Dion yang sedang menaiki tangga. Dia merasa aneh dengan orang yang menumpang ini.

__ADS_1


Sesampai di kamar, Dion langsung membaringkan tubuh Cindy setengah berbaring karena keinginan wanita itu, punggung Cindy bersandar pada dashboard.


"Apa perutmu masih sakit?" Dion menyingkap dress hamil Cindy ke atas untuk melihat perut istrinya.


Cindy jadi risih karena dia tidak memakai celana short dalaman. Paha dan miliknya yang hanya tertutup segi tiga berenda terbuka dan terekspos.


"Kak, tolong ambilkan selimut." katanya pada Dion yang sedang merangkum perutnya yang menonjol, memeriksa, lalu di kecup kecup.


"Bagaimana keadaan anak anak kita Cin?" alih-alih mengambil selimut Dion malah bertanya karena terlalu cemas dengan kandungan Cindy.


"Insyaallah mereka baik baik saja kak," membelai kepala Dion yang terbenam di perutnya.


"Kak, ambilkan selimut dulu. Nanti mama dan dokter akan masuk kesini. Aku nggak pakai celana pendek." pinta Cindy kembali.


Dion melihat ke bawah. Matanya berhenti pada area terlarang Cindy.


"Ih.. jangan di lihat," Cindy segera menutup mata Dion. Dion terkekeh, dia segera menurunkan tubuhnya ke bawah menarik selimut yang berada dibawah kaki Cindy. Sesaat matanya terpaku melihat beberapa tanda keunguan pada paha Cindy hasil keganasannya semalam.


Cindy yang menyadari hal itu segera menarik selimut ke atas hingga perut. Dia merasa malu melihat tatapan Dion pada paha dan miliknya.


"Kenapa di tutupi sih? Kakak masih pengen lihat." kata Dion menatapnya.


"Jangan ah, aku malu."


"Malu? kita bahkan beberapa kali mendes*h bersama dan mandi keringat bersama."


Cindy menabok kepalanya"Udah ah jangan menggodaku terus. Mendekat lah, aku pengen ngomong sesuatu pada kakak." kata Cindy meminta Dion untuk duduk di sampingnya.


Dion menurut, melihat wajah serius Cindy.


Dia duduk sangat dekat dengan tangan kiri di sebelah badan Cindy menopang kepalanya, tangan kanan mengelus perut Cindy. Keduanya saling bertatapan.


"Mau ngomong apa?" tanya Dion menatap bibir merah alami Istrinya yang tampak tebal dan bengkak.


"Kak, apa aku harus memperkenalkan diriku sebagai istri kakak dan juga menantu Alkas?"


"Tentu saja, kamu istri kakak. kamu harus dampingi kakak di sana. Kenapa kamu bertanya begitu?" dahi Dion mengerut. Dia menyentuh bibir Cindy. Entah kenapa dia sudah sangat kecanduan dengan benda kenyal basah ini. Tak pernah bosan untuk terus menikmatinya. Tidak menaruh rasa kasihan meski benda itu sudah semakin bengkak.


"Tapi aku tidak ingin teman-teman bisnis kakak dan juga papa Ray tahu aku istri kakak. kakak kan tahu dasar pernikahan kita karena apa? Kita menikah hanya karena untuk menutupi kehamilanku...." ucapannya terpotong karena Dion.


"Jangan bicarakan ini lagi." kata Dion agak keras mengetahui maksud ucapannya.


"Tapi kak__!"


Ucapannya kembali terpotong dengan kecupan bibir Dion pada bibirnya.


Cindy terdiam.


"Kamu istriku, satu dan selamanya. Hanya kamu, tidak akan ada wanita lain. Kakak akan memberitahukan pada publik bahwa kamu adalah istriku yang sah dan satu satunya." kata Dion menatap wajahnya dalam dalam.


Cindy menelan ludahnya, matanya berkaca-kaca. ******* sedih keluar dari mulutnya.


"Kita akan hidup bahagia bersama anak anak kita nanti dan selamanya. Kakak akan pastikan itu. Jangan berpikir tentang wanita yang aku cintai lagi, karena aku tidak butuh itu lagi. Sudah ada kamu dalam hati kakak, juga ada anak anak kita sebagai pelengkap sempurnanya hidup kakak. Kakak janji akan membahagiakan kalian." kata Dion kembali. Dia menyapu air mata Cindy yang sudah jatuh di pipinya. Cindy segera memeluk Dion. Dia menangis terisak. Dion memeluknya. Dia tahu kekhawatiran yang di rasakan Cindy. Pernikahan mereka yang tidak di dasari cinta hanya untuk menutupi kehamilannya. Dan suatu saat dia akan meninggalkan Cindy setelah menemukan wanita yang dapat mengganti posisi Ara sebagai wanita yang dia cintai. Tapi tidak terlintas lagi di pikirannya untuk mencari wanita pengganti Ara, sejak dia mengetahui Cindy hamil. Bahkan dia mulai berusaha menghilangkan Ara dari hatinya dan belajar mencintai Cindy sebagai istrinya.


"Cindy, kakak mau tanya sama kamu, apa kamu mencintai lelaki lain?" dia teringat pada Andry, lelaki yang di kagumi Cindy.


Isakan Cindy langsung terhenti mendengar pertanyaannya. Kaget. Dia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dion. Kemudian dia menggelengkan kepala.


"Benar?" Tanya Dion kembali memastikan.


Cindy kembali mengangguk.


"Baguslah, karena kakak tidak suka kamu dekat dengan lelaki lain. Sekarang katakan apa yang kamu rasakan pada kakak? Maksud kakak yang di rasakan oleh hatimu, kakak ingin kamu jujur,"


Cindy mengeluh sedih, dia menunduk. Air matanya kembali jatuh.


Dion segera mengangkat dagunya, membuat mereka kembali bertatapan.


"Katakanlah, aku ingin kita terbuka satu sama lain tanpa ada yang di tutupi termasuk perasaan kita. Jangan ada yang di sembunyikan karena itu tidak baik dan berdampak buruk pada pernikahan kita." katanya kemudian.


Cindy kembali menelan ludahnya.


"A-aku tidak tahu kenapa, hatiku sakit dan kecewa saat melihat kakak dekat dan bersentuhan dengan wanita lain. Aku tidak suka. Aku sangat sedih, a-aku....," Cindy berhenti, tidak mampu melanjutkan katanya karena malu. Dia kembali menunduk.


"Aku apa?" ucap Dion. Dia memegang wajah Cindy dan di hadapkan padanya, menunggu kalimat Cindy selanjutnya.


Cindy mengalihkan tatapannya matanya


dari mata Dion.


"Kamu cemburu?" tanya Dion pelan.


Cindy terdiam, lalu menatap mata Dion dengan mata yang telah berkaca. Kemudian mengangguk, lalu memeluk Dion


"Hatiku sakit dan cemburu." Katanya pelan lalu menangis.


Dion tersenyum, akhirnya dia mengetahui isi hati dan perasaan Cindy padanya. Dia membalas pelukan Cindy.


"Sejak kapan rasa itu ada?" tanya Dion.


"Aku tidak tahu pasti, tapi saat aku Tahu


aku hamil, tiba-tiba saja aku merasakan rindu pada kakak, ingin dekat dan menghirup aroma tubuh kakak. Tapi aku tahu itu karena bawaan kehamilan aku. Aku mulai merasakan kehilangan saat mendengar kalau kakak akan menikah dengan Sophia, aku kecewa, dadaku sesak seakan tidak menerima pernikahan kakak dengannya. Tapi lagi lagi aku meyakinkan diriku bahwa apa yang ku rasakan hanya karena bawaan kehamilan ku. Hingga akhirnya kita menikah, aku terus menekankan pada diriku sendiri untuk tidak boleh menaruh perasaan apapun pada kakak meski itu karena bawaan kehamilan. Karena aku sadar pernikahan kita terpaksa untuk menutupi kehamilan ku. Tapi entah kenapa hadirnya Bela di rumah ini, berusaha mendekati kakak membuat hatiku sakit dan tidak menerima suamiku dekat dekat dengan wanita lain __!" jelas Cindy.


Dion kembali tersenyum. Dia melepas pelukannya dan beralih menatap wajah Cindy yang tampak sembab, memerah.


"Itu artinya kamu cemburu." katanya tersenyum.


"Perasaan kita sama Cin, Kakak juga sakit hati dan cemburu melihat mu dekat dengan laki laki lain."


"Laki laki lain? Siapa?"


"Kakak merasakan itu saat kau dekat dengan Andrey. Kau ingat saat kalian bertemu di apotik, dia mendekati mu, melap eskrim di bibirmu?"


Cindy mengangguk. Pantas Dion emosi dan mengajaknya pulang dengan buru buru, jadi karena Andrey penyebabnya, dan dia tidak peka hingga mengakibatkan pertengkaran di antara mereka setelah sebelumnya saling mendiami.


"Dia juga mengirim beberapa chat untuk mu. Tapi kakak yang menerima chat itu saat kau tidur. Lalu kakak memblokir nomornya. Kakak tidak ingin ada yang menggaggu istri kakak." katanya Dion kembali.


Dion memegang wajah Cindy."Cind, entah perasaan apa yang kita miliki, kita akan mulai belajar untuk saling mencintai satu sama lain."


Cindy tersedak. Dia batuk kecil. Wajahnya memerah.


Dion tertawa kecil."Tapi sepertinya kita sudah saling mencintai deh Cin, karena rasa cemburu kita itu. Kau tahu kan? Kalau cemburu itu tandanya cinta?" kata Dion menggodanya.


Wajah Cindy semakin memerah. Dion kembali tertawa. Dia mendekatkan wajahnya, menatap dalam dalam wajah Cindy, lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Cindy, mencium hangat dan lembut."Sepertinya aku akan mendapatkan keinginan ku yang tertunda sekarang." bisik Dion.


Cindy terbelalak."Kak __!" tapi suaranya hilang dalam bekapan mulut Dion. Dion melu**t bibirnya, melahap dengan penuh birahi. Cukup lama keduanya bertukar saliva, hingga sebuah suara menghentikan aksi mereka.


"Sudah sudah, nanti saja di lanjutkan. Biarkan dokter meriksa kandungan Cindy dulu." kata Dinda yang tiba-tiba masuk bersama seorang dokter wanita.


Dion dan Cindy terkejut dan segera menarik bibir masing masing. Cindy langsung mengalihkan pandangannya ke sebelah dengan wajah memerah dan sangat malu. Sedangkan Dion tampak kesal karena kesenangannya di ganggu.


"Mama mengganggu aja. Ketuk dulu dong baru masuk, main nyelonong aja," gerutu Dion.


"Kok nyalahin mama? Kalian tuh yang salah, Pintu di biarkan terbuka, gak tertutup." kata Dinda membela diri.


"Masa sih? Perasaan aku menutupnya saat masuk tadi." kekeh Dion karena dia memang menutup pintu tadi.


"Maksudmu mama berbohong dan mengarang cerita? Gitu? Nih dokter saksinya melihat pintu kamar kalian terbuka. Udah ah, mama gak mau berdebat terus. Dokter mau memeriksa Cindy, dan kamu pergi ke kantor sekarang juga, papa udah nungguin kamu tuh." Dinda menatapnya judes.


"Kak, pergilah ke kantor, udah ada mama kok di sini. Kakak nggak perlu khawatir. Setelah dokter memeriksa, aku akan segera menghubungi kakak." kata Cindy.


"Baiklah, cepat hubungi kakak ya?" Dion mengalah wajah malas.


Cindy mengangguk. Dion merapikan pakaiannya yang berantakan, lalu mendekati Cindy dan mengecup keningnya.


"Kakak pergi dulu."


"Iya, hati hati di jalan."


Dion meraih tasnya


"Ma, titip istriku ya,"


"Iya, kamu jangan khawatir." Dinda geleng geleng kepala.

__ADS_1


Dion segera keluar. Dokter segera melaksanakan pekerjaannya, memeriksa kandungan Cindy.


Bersambung.


__ADS_2