
Rizal berlari kecil menuju halaman parkir PMI daerah, di mana sebuah mobil mewah sedang menunggu dirinya.
Setelah ia masuk, mobil bergerak berjalan keluar dari parkiran menuju jalan raya.
"Sorry bos menunggu agak lama" Katanya pada seorang pria yang duduk di bangku belakang sisi kanan yang desain kursinya nampak mewah dari pada di depan. Dia memperbaiki posisi duduknya.
Yang di ajak bicara ber dehem ringan menatap kedepan, di tangannya memegang sebuah tablet.
"Stok darah untuk rumah sakit AZ'FA Lumayan banyak karena banyaknya pendonor dari kalangan mahasiswa! kau tau bos? sala satu dari mereka adalah adik iparmu sendiri, Ara." kata Rizal bersemangat.
"Anak itu benar benar memiliki hati yang sangat mulia, dia mendonorkan 450 mil darahnya, dari darahnya itu dia dapat menyelamatkan nyawa 4 orang manusia lagi, wah wah aku sangat bangga padanya."
Lawan bicaranya tetap fokus menatap pada benda pintar dengan tanpa ekspresi.
"Hey Rafa, apa kau tidak dengar aku bicara? kau sedang melihat apa sih? jangan kerjaan terus yang di pikirkan! sebaiknya kau kembali ke rumahmu berkumpul kembali bersama keluargamu! rumahmu itu sudah ketambahan penghuninya, kau pasti belum bertemu dan melihat istrinya Raka kan ?"
"Aku sudah melihatnya, hanya dia saja yang belum tahu wajahku."kata Rafa mengelus ngelus dagunya.
Mobil yang di kemudikan Wisnu terus melaju ke pusat kota.
"Katakan apa yang ingin kau sampaikan mengenai Raka? ada apa dengan adikku ?"
Rizal mendesah pelan
"Adikmu itu sedang tidak sehat, beberapa kali dia datang kepadaku untuk memeriksa kesehatannya."
Rafa menolehkan pandangannya pada Rizal
"Maksudmu Raka sakit?"
Rizal mengangguk
"Bukan sakit parah, baru gejalanya saja dan aku sudah memberikan dia obat untuk di minum secara rutin! tiga hari yang lalu dia datang melakukan cek up di temani istrinya!
aku bahkan tidak tau Ara istrinya ! Raka Benar benar sangat beruntung menikahi gadis polos dan cantik itu."
Rizal tersenyum sumringah menghayal kan Ara
"Kau tau bos, Ara sangat cantik dan manis, wajahnya ayu rupawan, hatinya juga di penuh banyak kebaikan. Laki laki mana sih yang tidak tertarik dengan gadis seperti malaikat itu?"
Rafa memukul kepalanya tiba tiba.
"Hey, kenapa kau memukul ku?" Rizal terkejut. bayangan Ara langsung buyar di pikirannya.
Rafa menatapnya dengan tatapan mata dingin seakan ingin menerkamnya.
"Tak perlu kau memukul ku seperti itu, kalau aku geger otak gimana? aku kan sedang membicarakan istri Raka, bukan istrimu, kenapa kau jadi marah ?" Rizal memandang Rafa dengan kesal seraya menyapu nyapu kepalanya.
Mobil berjalan pelan, kadang juga berhenti lalu jalan lagi.
"Ada apa ?" tanya Rafa
Wisnu membunyikan klakson berulang kali, dia membuka kaca mobil sedikit mencari informasi dari pengguna jalan.
"Jalanan macet tuan! aliansi mahasiswa sedang melakukan penggalangan dana untuk korban banjir di kota A" jawab Wisnu.
Rizal ikut memperhatikan ke samping kirinya.
Nampak mahasiswa yang berdiri di tiap perempatan lampu merah sambil memegang kardus menyapa para pengendara motor dan mobil yang melintas meminta dana seikhlasnya. Mereka berdiri berjejer rapi di pinggir dan di tengah jalan.
__ADS_1
"Sepertinya hujan yang mengguyur terus di kota A menyebabkan banjir "ucap Rafa melihat ke samping kanannya.
Rizal menunjuk ke depan kirinya.
"Hey lihat, itu bukannya itu Ara ?" tunjuk nya pada seorang mahasiswi yang berdiri di tengah jalan bersama beberapa kawan nya memakai sweater warna peach di padu dengan celana Jogger hitam, sepatu kets vans , dan juga memakai topi hitam untuk melindungi wajahnya dari sengatan terik matahari.
Tangannya memegang sebuah kardus bertuliskan " Duka mereka juga Duka kita Semua, sekecil apapun bantuan anda sangat berarti buat mereka, Ayo berbagi walau hanya sedikit "
Rafa dan Wisnu ikut memperhatikannya.
Memperhatikan seorang gadis yang menebarkan senyum manisnya kepada para pengguna jalan, pengendara motor dan mobil untuk meminta belas kasih mereka sambil menyodorkan kardus di tangannya.
"Ayo bantu saudara saudara kita pak buk." ucapnya berulangkali, lalu " terimakasih🙏" ucapnya ketika ada yang melemparkan uang ke dalam kardusnya atau memberikan ke dalam genggaman tangannya.
Muka Rafa merah padam, menahan Amarah, tangannya terkepal di atas pahanya ketika melihat seorang laki laki memberikan selembar kertas uang ke tangan Ara, lalu sengaja menggenggam tangan gadis itu dan mengelus dengan nakal, dan Ara membalasnya dengan senyuman dan ucapan terimakasih.
"Lihat dia kepanasan di bawah terik matahari" ucap Rizal menatap kasihan pada Ara.
"Bos apa tidak sebaiknya kita menghampiri dan menyapanya sebentar?"
"Itu tidak mungkin dokter ! bagaimana jika ada yg mengenal tuan Rafa? apa anda ingin semua orang menyerbu kita di sini?" Wisnu menyela.
"Setidaknya kita beri saja dia minum, lihat dia pasti kehausan ! hey Rafa lihatlah adik ipar mu itu, kakinya pasti lelah, sakit dan kesemutan berdiri berjam jam"
Rafa melihat Ara yang nampak mengulum bibirnya yang kering, sesekali dia menyapu keringat yang membasahi wajah putihnya.
Rafa mendesah kasar, lalu mengambil sebuah kertas dari tas kerjanya, dan menuliskan sejumlah angka, menyodorkan pada Rizal.
Cek ?" Rizal menatap kertas itu.
"Berikan padanya, katakan darimu. Dan suru dia istirahat tak perlu berdiri lagi di jalanan! kau bilang dia baru mendonorkan darahnya
"Yang lebih penting aku tidak suka melihat tangannya di sentuh oleh para lelaki bajingan itu, dan aku juga tidak suka melihat dia tersenyum manis pada semua orang." sayangnya kata kata itu hanya sampai di tenggorokannya.
"Kau benar juga, nanti dia bisa jatuh pingsan kalau seharian berdiri di situ! ayo Wisnu dekatkan mobil mu ke arahnya"
"Dan ini juga berikan padanya" Rafa menyodorkan sebotol minuman air mineral miliknya.
"Jangan sampai dia melihatku, buka sedikit saja kaca mobilnya"
"Siap bos" Kata Rizal menerima botol air.
Wisnu menjalankan mobilnya ketika mobil di depan mulai bergerak, tepat di depan Ara mobil di hentikan.
Ara yang tahu kalau ada kenderaan berhenti pasti ingin memberi sumbangan, dia segera mendekat dan mengetuk kaca jendela.
"Pak..bu, seikhlasnya saja untuk saudara saudara kita yang tertimpa musibah" katanya.
Kaca depan kiri di turunkan sedikit oleh Rizal
yang sudah merubah posisinya duduk di depan dekat Wisnu, dan Rafa duduk mengambil posisi di belakangnya.
"Halo nona cantik, adik ipar ku yang manis" sapa Rizal tersenyum.
Rafa mendengus kesal di belakang mendegar ucapannya.
"Dokter?" seru Ara terkejut begitu melihat Rizal, dia tersenyum sumringah.
"Kau senang melihat ku?" Rizal menggoda.
__ADS_1
"Tentu saja, anda orang baik dan juga dokternya suami saya, tentu saja saya senang dapat bertemu dengan anda kembali ! maaf atas kemacetan ini ya dok? Oh ya anda mau kemana dan sama siapa ?" Ara mengamati dalam mobil dari luar, tapi sulit melihat orang yang di dalam karena Rizal hanya menurunkan kaca jendela sedikit.
Wisnu yang berada di dekat Rizal mengalihkan pandangannya ke kanan sejak tadi. Rafa menunduk memakai topi, sehingga Ara tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas.
"Aku sama teman teman ku, kami baru saja dari kantor PMI daerah mengecek stok darah untuk rumah sakit ! terima kasih ya nona manis .. kau sudah berbagi kehidupan lagi untuk orang lain ! dan aku sangat senang skali bisa melihat wajah adik iparku yang cantik ini di sini" kata Rizal berseloroh menggoda.
Ara tertawa kecil
"Dokter mulai lagi deh !" salah tingkah dengan wajah merona.
"Aku nyumbang seribu nggak?" kata Rizal kembali berkelakar.
Ara tersenyum lebar.
"Boleh sekali dokter, yang penting ikhlas!"
"Adik iparku, kau semakin cantik tersenyum seperti itu, kau benar-benar sangat manis!"
Ara tertawa kecil.
Rafa batuk batuk di belakang dan berdehem kesal, Rizal berdesis kesal mengerti arti batukkan itu.
"Ini dariku sebagai rasa kepedulianku padamu dan saudara saudara kita yang terkena bencana " Rizal menyodorkan cek sedikit tersenyum.
"Wah dokter banyak sekali " Ara melongo menatap jumlah yang tertera di kertas itu.
"Apa benar ini banyak?"
"Benar dokter, ini malah sangat banyak ! terima kasih ya dokter ! semoga Allah membalas kebaikan dokter dengan melipatgandakan rezeki dokter lebih banyak lagi ! terima kasih ya Allah" Ara mencium kertas itu berulang ulang .
Rafa memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Kalau jumlahnya banyak dan sudah lebih dari cukup, maka beristirahat lah dan jangan lagi berdiri di jalanan, aku tidak tega melihatmu kepanasan, kakimu pasti sakit dan keram kan ? apalagi kau juga baru mendonorkan darahmu tubuhmu pasti lemah."
"Iya dokter, kami akan segera beristirahat, sebentar lagi mau dzuhur, terima kasih ya dokter"
"Dan ini minumlah, kau pasti haus bukan?" Rizal menyodorkan minum soda.
"Dokter, anda terlalu baik, terimakasih lagi ya? ternyata kak Raka benar, dokter memang orang baik" Ara menatapnya terharu seraya menggenggam tangan Rizal .
Rizal ikut memegang tangannya, Membuat Rafa kembali batuk batuk kesal, menepuk kuat bahunya.
"Kami pergi dulu ya, nanti kenderaan di belakang mengamuk ! ingat, istrahatlah yang cukup, pulang lah ke rumah. Kamu harus makan yang banyak dan bergizi ! oke cantik, sampai jumpa!" Rizal menyentuh tangannya sesaat.
Ara mengangguk-angguk kan kepalanya tersenyum.
"Terimakasih dokter" melambaikan tangannya begitu mobil mewah itu berjalan.
"Rafa, tega sekali kau tidak menyapa adik ipar mu itu! kamu Kenapa sih?"
Rafa melepas topinya seraya membuang nafas berat
"Aku gak mau nanti dia memberi tahu mama soal keberadaan ku di Indonesia"
"Sebaiknya kau pulang saja ke rumah, kau tahu Raka selalu meminta aku untuk membujuk dirimu supaya pulang ke rumah utama"
Rafa hanya diam tidak menjawab, dia hanyut dalam pikirannya. Sebenarnya Raka juga selalu merengek padanya memintanya untuk pulang dan tinggal bersama lagi seperti dulu.
*****
__ADS_1