Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 127


__ADS_3

Ara mengguyur tubuhnya di bawah guyuran shower, mengusap wajahnya, lalu berpindah ke rambut yang sudah di beri shampoo.


Tatapan menatap ke wajahnya yang terpantul dari cermin di depannya. Tapi pikirannya berada di tempat lain, memikirkan kejadian tadi.


Apa yang di lakukan ke dua gadis itu sampai membuat kakak iparnya menghukum kejam mereka? Baginya perlakuan yang di lakukan Wisnu dan anak buahnya itu sangat kejam.


Dia sungguh tidak menyangka kalau kakak iparnya bisa memerintahkan hal sekejam itu, apalagi pada perempuan.


Dia bisa menangkap maksud perkataan suaminya. "Sekretaris Wisnu hanya menjalankan perintah, berarti perintah itu berasal dari kakak iparnya.


Terdengar ketukan dari luar. Ara menoleh ke arah pintu.


"Sayang, kau belum selesai?" seru Raka dari luar.


"Sedikit lagi." jawab Ara


"Jangan kelamaan, nanti kena flu "


"Iya kak ..."


Raka mengerti kejadian tadi menjadi beban pikiran istrinya. Mungkin kelamaan di dalam kamar mandi karena kepikiran kejadian itu.


Sebenarnya dia juga tidak tega melihat kekerasan yang terjadi pada ke dua gadis itu, tapi setelah menemui kakaknya dan mendapat penjelasan dari Wisnu, membuat darahnya panas. Dia marah dan mengumpat ke dua gadis itu.


Wisnu memperlihatkan rekaman CCTV di ruangan ballroom tadi. Di mana kedua gadis itu menghina, dan merendahkan Ara sehingga membuat istrinya mengeluarkan air mata dan hanya diam mendengarkan setiap tuduhan dan hinaan buruk yang di lontarkan.


Raka sangat menyesal karena tidak menemani Ara saat mengambil makanan dan membiarkannya pergi sendiri.


Sebenarnya tadi dia pergi menyusul Ara. Dia melihat dari jauh sekolompok gadis sedang berbicara pada Ara sambil tertawa sinis, mengejek. Perasaannya tidak enak, dia langsung bangkit untuk menyusul.


Tapi baru beberapa langkah berjalan, dia merasakan sakit yang tiba tiba muncul, sakit yang luar biasa di rasakan. Penyakitnya kambuh lagi. Dia segera pergi menyendiri agar tidak menarik perhatian orang, terutama Ara dan kedua kakaknya. Setelah rasa sakitnya mereda, dia kembali dan dia melihat Ara sedang berada di meja makan dan meneguk air putih.


Untuk menghibur istrinya itu, sekaligus memperlihatkan rasa cinta pada Ara ke semua tamu undangan, dia menyanyikan lagu cinta. Mengungkap kan perasaan cinta lewat lagu.


Di kamar mandi, Ara segera menyelesaikan ritual mandinya. Lalu keluar dengan sudah memakai piyama tidurnya, berlengan pendek celana pendek selutut.


Rambutnya yang masih basah di keringkan dengan handuk kecil, terus hair dryer. Beberapa saat dia masuk kamar. Dia mendapati suaminya sedang duduk di ranjang berhadapan dengan beberapa berkas dan laptop.


Ara melirik jam, sudah mau menunjukkan pukul 12. Dia mengambil obat suaminya di nakas dan air minum, lalu naik ke ranjang.


"Kakak sudah minum obat ?"


"Belum." Raka menoleh sejenak.

__ADS_1


Ara mendekat.


"Buka mulut kakak."


Raka mengikuti kata kata istrinya, membaca bismillah lalu membuka mulutnya.


Ara segera memasukkan obat obat itu, lalu air minum.


"Sudah?"


Raka mengangguk.


Ara menyapu bibir suaminya, lalu meletakkan gelas.


"Terimakasih sayang." ucap Raka.


"Ini sudah larut, kakak istirahat ya,"


Raka mengangguk tak membantah. Ara mengambil laptop di tangan Raka, menutupnya, meletakkan di nakas. Mengatur berkas di letakkan di atas laptop.


Raka mencium kepala istrinya yang wangi, bau harum aroma sampo yang menebar.


"Besok pagi kakak akan mengajakmu jalan jalan ke pantai, kita pergi setelah subuh biar bisa melihat matahari terbit."


"Sekarang berbaringlah." katanya seraya membaringkan tubuh suaminya, memakaikan selimut.


Mengecup kening dan bibir suaminya lembut.


"Selamat tidur kak ucapnya dengan senyuman manis.


"Selamat tidur sayang, mimpiin aku yaa ?" balas Raka.


Ara tersenyum, lalu berbaring. Dia meletakkan kepalanya di lengan kanan suaminya dan memeluk.


Matanya belum terpejam. Pikirannya masih mengingat kedua gadis itu.


"Dimana mereka sekarang?"


"Apa mereka sudah di bebaskan? atau justru masih di sekap?"


"Atau telah di pindahkan ke tempat lain?"


Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.

__ADS_1


Ara mendesah pelan.


"Belum tidur?" tanya Raka yang merasakan kegelisahan istrinya.


Ara menengadah melihat wajah Raka. Ternyata suaminya belum tidur."Aku sulit tidur kak..." jawabnya pelan.


"Jangan di pikirkan lagi." Rafa membelai rambut istrinya.


"Aku sudah berusaha, tapi bayangan penyiksaan itu tidak bisa hilang. Kau kepikiran terus pada mereka."


Ara meraih HP nya di dekat bantal.


"Mau menghubungi siapa tengah malam begini?"


"Sekretaris Wisnu."


"Mungkin dia sudah tidur sayang, nanti kau mengganggu tidurnya."


"Sepertinya belum, lihat WhatsApp nya sedang online." kata Ara memperlihatkan ponselnya. Kontak Wisnu sedang Online.


"Kak, boleh aku menemui sekretaris Wisnu? Sebentar saja, gak lama. Aku ingin menanyakan gadis gadis itu."


"Mungkin saja mereka sudah di bebaskan dan telah di pulang ke rumah mereka."


"Kakak saja bilangnya Mungkin, berarti tidak pasti. Aku ingin memastikan secara langsung keadaan mereka. Boleh ya kak?" pinta Ara memaksa.


"Kakak akan telpon dia, sini berikan


ponselnya."


"Aku gak akan puas kalau hanya dengarnya di telpon. Sekretaris Wisnu bisa saja berbohong karena takut sama kak Rafa! Kakak sendiri yang bilang dia hanya melaksanakan perintah kak Rafa."


Raka membuang nafasnya pelan, jika tidak di turuti, maka sampai pagi istrinya tidak akan tidur dan gelisah sepanjang malam.


"Baiklah, ayo" katanya kemudian.


"Aku saja yang pergi, kakak tidur saja. Kakak baru minum obat dan harus istirahat."


"Gak, Aku nggak akan biarkan kamu pergi sendiri, kakak gak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu." Raka segera bangun, dan memakai piyama panjangnya.


Mau tidak mau Ara mengalah dan segera turun dari ranjang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2