
...Happy Reading....
Rafa memukul dinding dengan keras. Ara tersentak, tubuhnya semakin gemetaran. Keringat dingin membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Dia terus menunduk ketakutan tidak berani menatap wajah di depan yang seperti akan menerkam dirinya.
"Sepertinya kau tidak takut padaku." Rafa berbisik pelan tapi masih di kuasai emosi.
"Angkat kepalamu dan tatap mataku." katanya kembali dengan keras.
Ara menggelengkan kepala dengan mata masih terpejam, terus menunduk. Dia semakin kuat mengigit bibirnya untuk menekan ketakutannya.
Dengan kasar Rafa mengangkat dagunya,
di pegang kuat hingga Wajah itu mengarah ke wajahnya. Wajah pucat, basah oleh air mata bercampur keringat, mata terpejam, bibir yang di gigit semakin kuat membuat benda kenyal itu semakin merah alami.
Rafa mendesah pelan melihatnya sambil menelan Saliva. Nafasnya menderu tak beraturan, menatap wajah yang sangat dekat
dengan hembusan nafas yang tak beraturan menerpa wajahnya.
"Aku bilang buka matamu, apa kau tidak dengar? Tunjukkan keberanian mu seperti tadi kau membalas kata kataku." kata Rafa keras menahan kemarahan.
Ara kembali menggeleng.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud kurang ajar pada kakak! A-aku takut menatap kakak." ucapnya terbata bata. Dia kembali menggigit bibirnya dan tidak berani membuka matanya.
Rafa mendengus kesal.
"Kau takut menatapku tapi kau berani membalas ucapan ku? Buka matamu dan jangan mengigit bibir mu terus, nanti terluka!" dia melepaskan pegangannya di dagu Ara kasar. Semakin menatap wajah gadis ini membuatnya frustasi. Dia kembali mendesah kasar dan menelan ludahnya.
__ADS_1
Ara terisak kecil. Lalu membuka matanya pelan pelan, membuat mereka saling menatap satu sama lain karena Rafa juga sedang menatapnya.
"A-aku tidak bermaksud membalas ucapan kakak. Aku hanya mengatakan kebenaran! Kebenaran kalau mbak Sita tidak bersalah. Selama ini dia mengerjakan tugasnya dengan baik, merawat Cio dan Cia dengan penuh kasih sayang! Aku sendiri yang menginginkan melayani dan mengurus si kembar, karena aku sayang sama mereka. Aku tidak masalah dan tidak merasa di bebani mengurus mereka, sungguh kak...!" ucapnya pelan pelan dengan suara rendah. Dia menatap kedua mata Rafa lekat.
"Kakak salah memecat mbak Sita, karena dia tidak bersalah! Aku yang salah karena telah mengambil alih tugasnya. Jadi kakak hukum saja aku. Apa pun akan ku terima, asal jangan pecat mbak Sita, dia tulang punggung keluarganya di kampung. Aku mohon kak..!" pintanya dengan memelas dengan air mata kembali mengalir.
Rafa menelan ludahnya, menatap dalam-dalam mata yang memerah karena kesedihan. Dia tidak menyangka segitu besarnya perjuangan Ara menyelamatkan Sita yang hanya seorang pelayan.
Matanya yang masih memperhatikan wajah Ara menangkap sesuatu di leher kiri gadis itu. Ada beberapa tanda merah terukir di leher putih itu. Terlihat jelas karena rambut Ara di cepol ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus terbuka. Ada bercak bercak merah yang terukir di sana.
Tanda merah keunguan yang di ukir Raka. Dia tahu Raka yang membuatnya. Saat itu dia sedang berdiri di balkon kamarnya menerima telepon dari seseorang, dan secara tidak sengaja melihat Raka mencumbui Ara dengan liar di balkon kamar mereka.
Darah Rafa seketika berdesir kuat mengingat cumbuan itu. Secara reflek tangannya memukul keras dinding di samping kanan atas Ara.
Ara tersentak dan kembali takut. Hingga botol air yang dalam genggamannya terlepas dan jatuh tepat di atas kaki Rafa. Ara terbelalak, mata dan mulutnya terbuka lebar, seketika dia menatap wajah Rafa yang menatap tajam ke arahnya dengan kemarahan.
"A- aku tidak sengaja menjatuhkannya kak !" katanya terbata bata seraya menggelengkan kepalanya. Ara menunduk ke bawah menatap botol kaki kakak iparnya, tanpa sadar dahinya menyentuh di hidung Rafa. Ara segera melorotkan tubuhnya kebawah untuk mengambil botol air, tapi tubuhnya tertahan karena Rafa cepat menangkap ke dua tangannya dan memegangnya kuat. Rafa menatap wajah Ara dengan tatapan dingin dan tajam.
"Sampai kapan pun aku tidak akan merubah keputusan ku. Dan tidak ada yang bisa menentangnya." menghempaskan tangan Ara kasar.
Ara terperangah mendengar perkataannya.
"Maafkan aku kak, aku tidak sengaja menjatuhkan botolnya. Tolong jangan kaitkan dengan masalah mba Sita. Mba Sita tidak bersalah. Jangan memecatnya." katanya segera melihat Rafa menarik handle pintu. Rafa tidak mengindahkan ucapannya. Dia segera membuka daun pintu, membuat tubuh Ara yang tersandar di pintu tergerak maju dan hampir terjerembab jatuh. Pintu di tutup agak keras dari luar.
Ara tersentak, kedua kakinya lemah gemetaran seakan tulang kakinya tak tersambung lagi
Tubuhnya langsung jatuh kebawah, dadanya terasa sesak, nafasnya memburu tak beraturan.
__ADS_1
Baru beberapa jam bertemu dengan Rafa, tapi ia sudah membuat beberapa kesalahan yang mengundang kemarahan kakak iparnya. Belum sempat dia mendapatkan maaf soal kejadian tikus tadi, kini dia membuat masalah baru lagi.
Ara semakin sedih, tak ada lagi yang bisa di perbuat untuk menolong Sita. Ara membuang nafas berat, dia mengusap wajahnya kasar.
Dia sudah sangat yakin kakak iparnya itu pasti sangat marah dan membencinya.
"Bagaimana aku harus menghadapi kemarahan kakak ipar untuk hari hari esok ke depan? Aku sangat takut melihat wajahnya. Tapi tidak mungkin aku menghindarinya karena tinggal satu atap dengannya." gumamnya semakin bersalah.
Ara tertunduk lesu, lama. Memikirkan nasib Sita dan kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja. Tiba-tiba di teringat suaminya. Ara segera mengumpul kan kekuatan untuk berdiri, .melihat sesaat pada si kembar yang tertidur lelap. Untung saja anak anak itu tidak terbangun dengan sentakan keras daddy merdeka tadi.
Ara meraih botol airnya, lalu membuka pintu kamar. Keluar dari ruangan itu melangkah dengan lemas. Berusaha menaiki tangga satu persatu, memegang kuat pegangan tangga untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Dengan susah payah dia sampai ke atas.
Meneruskan langkah menuju kamarnya.
Di lantai bawah, pak Sam segera masuk ke kamar si kembar setelah melihat Ara masuk ke dalam kamarnya. Dia mendapat telepon dari Wisnu untuk menemani si kembar setelah melihat Ara keluar dari kamar anak anak. Wisnu sendiri tentu atas perintah dari tuannya. Dia sudah kembali setengah jam yang lalu.
Setelah Ara masuk ke kamarnya, Rafa keluar dari kamar di ikuti Wisnu. Mereka menuruni tangga dengan langkah cepat. Mereka akan keluar malam ini untuk mengerjakan sesuatu sebelum subuh datang. Di luar pintu gerbang utama, keduanya di sambut hormat oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam dan juga memakai topeng hitam.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Tidak lama lagi subuh akan datang. Gerombolan kelompok topeng hitam segera meninggalkan tempat itu menuju pelabuhan. Mereka menyerang sebuah kapal yang di gunakan sebagai transaksi narkoba oleh dua geng kelompok mafia. Di dalam kapal itu juga di sekap beberapa anak kecil yang akan di kirim ke negara asing untuk di manfaatkan menjajakan barang barang haram tersebut.
Rafa menyerang dengan membabi buta. Dia meluapkan segala emosi yang membakar hati dan jiwa nya kepada para mafia itu tanpa ampun dan belas kasihan. Bahkan dia sendiri tidak perduli lagi dengan keselamatan dirinya.
Wisnu yang melihat itu merasa sangat khawatir. Tuan.....tolong kendalikan diri anda, batinnya. Wisnu sangat tahu penyebab tuannya seperti itu. Dia memerintahkan beberapa anggotanya yang handal berada dekat dengan Rafa untuk melindungi tuannya.
Pertarungan terus berlangsung, hingga ke dua geng mafia itu mundur dan lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Transaksi gagal total . Beberapa kilogram sabu dan ganja berhasil di rebut sebagai barang bukti, anak anak juga berhasil di selamatkan. Mereka membakar kapal tersebut.
Polisi segera datang ketika di hubungi oleh seseorang.
__ADS_1
*****