Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 67


__ADS_3

Ara memijit keningnya sambil tertunduk lesu di pinggir ranjang menunggui Rafa yang masih tertidur. Dia menyimpan ponselnya, lalu segera bangkit dari duduknya menuju kamar mandi untuk berwudhu.


7 menit kemudian dia keluar dan mengambil mukena dari dalam tasnya, terus di pakainya. Sesaat dia menoleh pada Rafa yang masih tertidur. Lalu segera ke sudut ruangan untuk melaksanakan shalat.


15 menit berlalu dia selesai melaksanakan shalat Dzuhur, zikir dan berdoa. Melepas mukena, melipat dan menyimpannya kembali di dalam tas.


Ara kembali duduk di pinggir ranjang menatapi wajah kakak iparnya yang masih terpejam. Ara meraih ponselnya, di lihatnya sudah jam dua siang.


Ara kaget saat merasakan sebuah sentuhan di pergelangan tangan kanannya. Dia segera membalikkan tubuh. Di lihatnya Rafa sedang menatap kearahnya dengan tatapan sayu.


"Kakak sudah bangun?" Ara tersenyum senang.


"Syukurlah, Alhamdulillah terima kasih ya Allah." ucapnya penuh rasa syukur.


"Kau sedang apa?" tanya Rafa dengan suara lemah.


"Aku menunggu kakak bangun!" jawab Ara.


Ara naik ke tempat tidur, mendekat. Mengambil handuk di kening dan ketiak Rafa. Lalu menempelkan telapak tangannya ke jidat Rafa__masih hangat.


"Panas kakak belum turun." ucapnya lemah. Sia sia kompres yang di lakukan.


"Kau ingin menghubungi siapa?" tanya Rafa kembali melihat ponsel di tangan Ara.


"Aku sudah katakan jangan menghubungi siapapun." sambungnya kembali.


Ara menatapnya."Aku hanya ingin menghubungi mang Saleh." jawabnya pelan.


"Siapa dia?" tanya Rafa dengan wajah mengernyit. Lupa siapa Saleh. Padahal Wisnu sudah mengatakan ojek langganan Ara itu.


"Ojek langganan ku! Beliau yang mengantar aku ke sini. Aku memintanya untuk menungguku sebentar, tapi ....." Ara menggantung kalimatnya.


Tapi aku malah kelamaan di sini hingga berjam jam karena kau dan melupakan dirinya. Sambung Ara tapi hanya dalam hati.


"Ambilkan ponselku." kata Rafa mendengar ucapan Ara terputus. Dia tahu apa yang ada di pikiran Ara.


Rafa terbangun karena mendengar bunyi dari benda itu. Dia juga melihat Ara shalat, tapi mata dan mulutnya sulit di buka.


Ara menarik laci nakas, mengambil ponsel Rafa dan menyerahkan kepadanya. Rafa menerimanya. Selanjutnya membuka panggilan dan pesan yang masuk dari Rizal. Setelah membaca isi pesan itu, dia segera menulis sesuatu dan mengirimkannya pada Wisnu. Lalu meletakkan benda itu di ke sebelah.


"Kakak ingin duduk?" tanya Ara melihatnya hendak bangun.


Tak ada jawaban. Rafa berusaha untuk duduk.


Ara segera mendekat membantu membangun kan tubuh bagian atas Rafa. Rafa duduk dan menggeser bokongnya ke belakang. Ara segera meletakkan bantal di belakang punggungnya sebagai penyangga.


"Apa kakak sudah nyaman begini?" bertanya tanpa menatap.


Rafa mengangguk lemah."Kenapa kamu bisa kesini?" Tanyanya.


"Pak Sam yang memberikan alamat ini kepadaku. Aku ingin mengantar makanan!" jawab Ara.


"Pak Sam menyuruhmu ke sini?" dahi Rafa mengerut.


"Tidak, Pak Sam tidak menyuruhku, aku yang memaksa," kata Ara segera sadar dengan jawabannya yang akan berdampak buruk pada Sam. Sama seperti Sita yang di pecat karena dirinya.


Rafa menatapnya yang tampak gugup. Dia dapat membaca jalan pikiran Ara.


"Kakak jangan menyalahkan pak Sam! Aku kesini karena kemauanku. Aku yang bersikeras meminta. Pak Sam kesulitan berjalan karena kakinya sakit. Beliau tidak sengaja terpeleset, kakinya terkilir. Aku tidak tega melihatnya berjalan pincang!" kata Ara menjelaskan agar Rafa tidak menyalahkan pak Sam.


"Aku tidak tahu kalau alamat yang di berikan pak Sam adalah apartemen kakak. Karena beliau tidak mengatakan." ujarnya kembali.


Rafa menghela nafas, lalu membuangnya kasar.


"Sungguh kak, ini kemauanku. Kakak jangan marah dan menyalahkan pak Sam, tolong jangan memecatnya." ucap Ara takut takut. Meremas kedua tangan melihat perubahan wajah Rafa. Dia menunduk menghindari tatapan itu.


"Aku juga minta maaf karena masuk sembarangan ke rumah ini. Aku sudah mengetuk dan mengucap salam berulang kali tapi tak ada sahutan. Aku tidak tahu kalau Apartemen ini milik kakak. Aku iseng saja memasukkan tanggal lahir ku dan membuat pintu rumah dan kamar kakak terbuka." kata Ara lagi masih terus menunduk.


"Sebaiknya kamu pulang sekarang." kata Rafa mengalihkan pembicaraan. Tak ingin Ara menanyakan kode akses rumahnya.


Ara mengangkat wajah memberanikan diri melihat wajah Rafa.


"Pulang?" kaget tanyanya.

__ADS_1


"Kau sudah dengar kan? Pulang lah....!"


"Bagaimana bisa aku pulang dan meninggalkan kakak sendiri dengan kondisi seperti ini." kata Ara menatap Rafa.


"Kau tidak usah khawatir, aku baik baik saja."


"Baik baik gimana? Kakak demam tinggi, panasnya belum turun. Kakak juga belum makan dan minum obat. Sekretaris Wisnu belum kembali! Aku nggak mau ninggalin kakak." Ara bersikeras sambil geleng-geleng kepala.


"Sebaiknya makan dulu, aku sudah buatkan bubur. Makanlah selagi hangat." Ara mengambil mangkuk bubur dan dua butir telur rebus yang sudah di kupas.


"Makanlah, setelah itu minum obat biar demamnya turun." menyodorkan mangkuk pada Rafa.


"Aku tidak mau." Rafa mendorong mangkuk itu.


Dahi Ara mengerut"Kenapa?"


Tak ada jawaban. Rafa menoleh kearah lain.


"Kalau tidak makan dan minum obat, demam kakak tidak akan turun. Lukanya juga akan semakin terinfeksi." kata Ara.


Rafa tetap diam tidak menanggapi. Karena dia tidak nafsu untuk makan. Tak berselera. Apalagi dia sangat tidak suka bubur.


Ara menelan ludahnya, menghela nafas.


"Kenapa gak mau? Sedikit saja, ayolah." pinta Ara kembali membawa bubur di depan Rafa.


Rafa tetap diam di tempatnya.


Ara tak putus asa, dia mengambil gelas teh


"Atau kakak ingin minum teh hangat? Ini juga bagus untuk menurunkan demam." menyodorkan pada Rafa.


Rafa melihat minuman itu."Aku tidak suka."


Ara mengeluh, membuang nafas kecewa.


"Kakak harus banyak minum, karena banyak mengeluarkan keringat."


"Diam lah, kau membuat kepalaku semakin pusing." sentak Rafa. Lalu memijat keningnya.


Tak ada jawaban, Rafa semakin kuat memijat keningnya dengan mata terpejam. Ara memperhatikan apa yang di lakukan. Ara memperbaiki ikatan rambutnya yang longgar, kemudian mengikatnya kembali. Dia mendekatkan tubuhnya lebih dekat pada Rafa, mengangkat kedua tangan dan pelan pelan meletakkan di pelipis Rafa. Niatnya mau membantu memijat.


Rafa langsung membuka mata yang terpejam merasakan sentuhan itu. Dia kaget Ara sudah dekat di depannya. Aroma wangi tubuh gadis itu masuk ke dalam hidungnya. Kedekatan ini membuat hatinya bergetar. Jantung berdebar. Tapi sekuat tenaga di tekan.


"Maaf aku lancang. Kakak jangan banyak bergerak. Nanti lukanya berdarah lagi. Biar aku saja yang pijat." ucap Ara hampir tak terdengar. Lalu mulai memijat perlahan.


Rafa menelan ludahnya dan menatapi wajahnya tanpa bergeming. Tatapannya berhenti pada bercak bercak merah yang terdapat pada leher putih Ara. Dia mendengus kasar.


Ara tidak memperdulikan tatapan itu, dia tetap fokus dengan pijatannya, hanya saja kedua tangannya agak gemetaran karena takut. Makin lama pijatan berubah ubah tempat. Pelipis, dahi, kening, kepala, tengkuk. Sampai sampai dia harus berlutut semakin dekat di samping kakak iparnya. Rafa merasa enakan menikmati, meski pijatan itu di rasakan tidak kuat. Rafa memejamkan matanya menikmati. Kekesalan di hatinya mereda dan perlahan menghilang.


Hening, keduanya terdiam beberapa saat.


Dalam gerakan memijat, Ara mencuri pandang melihat wajah yang sedang terpejam. Wajah yang hampir mirip dengan wajah Raka, suaminya. Teringat kembali dalam benaknya kejadian semalam saat dia takut di kejar tikus dan malah salah meluk dan naik ke tubuh orang yang di kiranya adalah Raka. Mengingat itu, Ara jadi malu dan takut.


"Kenapa kau menatap ku?" tanya Rafa tiba-tiba.


Ara terkejut. Dia tidak menyangka Rafa mengetahui apa yang dia lakukan meski mata tertutup.


"I_itu___!" jawabnya gagap karena panik.


Rafa membuka mata dan melihat padanya.


"Ada apa?" tanyanya melihat wajah gugup Ara.


Ara menghentikan pijatannya.


"Tentang kejadian semalam, mengenai tikus tikus itu __ Aku minta maaf karena naik ke tubuh kakak. Aku tidak bermaksud lancang dan kurangajar. Aku mengira kakak adalah kak Raka yang baru pulang dari kantor. Aku juga tidak tahu kalau kakak sudah balik dari luar negeri." ujar Ara pelan dan takut takut.


Rafa tak berkedip menatapnya. Sebenarnya dia sudah melupakan kejadian semalam. Dia juga tahu Ara tidak sengaja naik ke tubuhnya. Karena takut dan geli pada bintang itu tanpa melihat terlebih dulu siapa yang di peluk dan di naikin.


Rafa menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan. Dia mengatur posisi tubuhnya kembali, lalu memejamkan mata.


Ara melanjutkan pijatannya melihat Rafa memejamkan mata. Dia berharap Rafa tidak marah padanya. Sebenarnya Ara juga ingin membicarakan tentang masalah Sita, tapi dia terlalu takut.

__ADS_1


10 menit berlalu __


"Sudah cukup." kata Rafa, merasakan pijatan Ara yang semakin lemah, pengaruh dia mulai lelah dan kehabisan tenaga. Telinga Rafa juga sempat menangkap bunyi dari perut Ara meski hanya kecil. Bunyi yang menandakan kalau adik iparnya ini lapar.


Ara menghentikan pijatannya, lalu mundur. Seraya menyapu keringat yang membasahi wajahnya.


"Sekarang kakak makan ya?" pinta Ara meraih mangkuk bubur.


"Sudah ku katakan aku tidak mau, aku tidak suka." kata Rafa menatapnya tajam karena Ara kembali memaksanya.


"Di paksa kak, sedikit saja, aku mohon." pinta Ara tak mau menyerah.


"Kau ini keras kepala. Sudah ku bilang aku tak suka, jauhkan!" suara Rafa meninggi.


"Terus kakak sukanya makan apa? Katakan saja, aku akan siapin. Asal kakak makan!"


"Aku ingin sekali memakan mu, dari tadi bicara terus dan memaksaku." sentak Rafa.


Ara langsung terdiam. Wajahnya berubah keruh. Menunduk memandangi mangkuk di tangannya.


Rafa tersenyum tipis melihatnya.


"Sudah katakan tidak ingin apa pun. Diam lah, jangan ngomong terus, kau membuatku


pusing dan sakit kepala."


Ara melihat sekilas dengan cemberut.


"Susah banget memintanya untuk makan, keras kepala, lebih bandel dari Cio Cia." batinnya mengeluh.


"Kau sedang mengatai aku?" Rafa memperhatikan dan dapat membaca isi kepalanya.


Ara terkejut."Ti_tidak, mana mungkin aku berani." Kelabakan dan panik. Dia tidak menyangka Rafa dapat membaca pikirannya.


"Kak, makan yah? Sedikit saja, aku mohon." pintanya kembali memelas tak mau menyerah, dia mendekatkan mangkuk bubur.


"Kakak tahu kenapa kakak sampai demam? Karena luka kakak sudah infeksi. Kalau tidak segera di obati dan di tangani dokter, akan semakin parah." menjelaskan dengan pelan.


Rafa menatapnya tajam"Tetap tidak mau menyerah rupanya," batinnya tersenyum di dalam hati.


"Kenapa kau suka sekali membantahku? Tidak menuruti ucapan ku." sentak nya.


Ara terkejut, memegang kuat mangkuk di tangannya."Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kakak. Aku ingin kakak sembuh!"


"Kau tidak perlu peduli padaku, singkirkan makanan ini, membuatku ingin muntah." kata Rafa dengan nada keras.


"Mana mungkin aku tidak perduli? Kakak bukan orang lain bagiku, kakak adalah kakak ipar aku. Kakaknya kak Raka, suamiku." kata Ara menatapnya.


"Kakak merasa ingin muntah? Itu karena pengaruh infeksi pada luka. Demam, mual, muntah, pusing, lemas semua itu adalah gejala luka yang sudah terinfeksi. Dan kakak harus melawannya dengan makan banyak dan minum obat." terus menjelaskan tidak perduli dengan kemarahan Rafa yang di kiranya marah kepada dirinya. Padahal Rafa sedang senyum senyum di dalam hati mendengar penjelasan dokter ini.


"Luka kakak tuh besar dan harus di jahit. Seharusnya dengan luka se gede ini harus ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dari dokter! Atau kita ke rumah sakit ya? Aku akan antar kakak ke sana!" terus meminta.


"Diamlah, jangan memaksaku, aku tidak mau semua itu." sentak Rafa kembali menolak.


Ara kaget."Biar pun sedang sakit dan tidak berdaya, masih saja suka membentak dan marah marah." batin Ara kesal.


"Kau mengatai ku lagi?" Rafa menatapnya tajam.


Ara lagi lagi di buat terkejut.


"Tidak kak, mana mungkin aku berani begitu." kelabakan. Dia tidak menyangka Rafa bisa membaca isi kepalanya. Seperti paranormal saja bisa membaca pikiran orang.


Ara semakin bingung bagaimana caranya meminta untuk makan. Tapi dia tidak mau menyerah. Dia sedikit mendekat.


"Kak, buburnya keburu dingin, makan ya, sedikit saja! Setelah itu kakak minum obat." Menyendok makanan dan di bawah di depan mulut Rafa.


"Atau aku suapi ya?" menawarkan diri.


"Kamu pikir aku anak kecil, hah?" sentak Rafa kembali.


Dengan cepat Ara memasukan sendok bubur kedalam mulut Rafa ketika mulut itu terbuka saat membentaknya.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa kasih Hadiah kopi, dan Rate bintang lima ya


Masukkan ke favorit kalau suka, terimakasih


__ADS_2