
Ara melangkah mendekat.
"Kak, tolong jangan mengacuhkan pertanyaan ku. Di mana mereka?"
Rafa membalikkan tubuhnya, menatapnya.
"Tadi aku dan kak Raka tidak sengaja melihat sekretaris Wisnu dan anak buahnya menyekap dan melakukan kekerasan pada dua orang gadis di sebuah ruangan." Ara melangkah semakin mendekat seraya menatap wajah kakak iparnya dengan serius.
"Apa kakak yang menyuruh...." Ucapan Ara terhenti, karena matanya menangkap pemandangan di belakang Rafa.
Dia segera melangkah dan berdiri di dekat Rafa.
"Waahh, indahnya." desisnya kagum tanpa sadar, menyaksikan pemandangan indah di bawah sana. Pesona keindahan pantai kuta malam hari. Dia benar benar takjub dengan keindahan ini.
Matanya di arahkan ke segala penjuru panti kuta di bawah sana tanpa berhenti berdecak kagum. Di kamar yang ia tempati bersama suaminya, bisa melihat pemandangan indah juga, tapi tidak secara keseluruhan dan seindah seperti tempat ini. Tentu saja ada perbedaan antara kamar Rafa sang pemilik hotel, dengan kamar yang lainnya.
Kamar ini di rancang khusus untuk bisa melihat secara keseluruhan arah pantai, sehingga bisa melihat pesona keindahan pemandangan bawah saat siang maupun malam.
"Ini sangat indah," ucapnya dengan tersenyum menoleh sekilas pada Rafa.
"Indah sekali ....." decaknya kembali terus menatap ke depan.
Ara merentangkan kedua tangannya ke atas. Memejamkan ke dua mata, menghirup udara, lalu mengeluarkannya perlahan, berulangkali hal itu di lakukan sembari memuji kebesaran sang ilahi Rabbi telah menciptakan keindahan ini.
Semilir angin yang berhembus mempermainkan rambut keritingnya. Bau aroma wangi shampoo dari rambutnya menebar terhirup oleh hidung Rafa.
__ADS_1
Rafa menatapnya dengan senyuman kecil, memperhatikan apa yang dia lakukan. Sesaat mereka melupakan masalah yang terjadi.
Tempat ini merupakan balkon yang berkesinambungan dengan balkon dalam kamar Rafa, yang di hubungkan dengan sebuah pintu belakang untuk masuk ke kamar, selain pintu masuk kamar di depan tadi.
"Kau suka?" tanyanya menatap pada Ara dari samping.
"Tentu saja, suka banget. Ini benar benar indah skali." jawab Ara tanpa menoleh, masih tetap dengan posisinya.
"Kau bisa datang ke sini bersama Raka kapan saja untuk melihat keindahan ini." kata Rafa tanpa berpaling menatapnya dari samping dengan tubuh bersandar pada railing balkon.
Ara membuka mata seraya menurunkan kedua tangannya. Dia menoleh pada kakak iparnya.
"Bolehkah?" tanyanya dengan raut wajah senang.
"Tentu saja." Rafa mengangguk.
"Kenapa kakak menyuruh sekretaris Wisnu melakukan kekerasan pada gadis gadis itu?" tanyanya menatap datar pada Rafa.
Rafa membuang nafas kasar. Dia sengaja memancing Ara melihat pesona keindahan ini, agar dapat melupakan gadis gadis itu dan tidak mengungkitnya lagi.
"Mereka pantas mendapatkannya." jawabnya singkat dan tegas menatap tajam wajah Ara. Lalu hendak melangkah, tapi Ara cepat menahan tangannya yang masih memegang railing besi.
"Kakak bilang apa? Mereka pantas mendapatkan kekerasan itu? Begitu kah?" Ara mengulang perkataan Rafa.
"Mereka itu perempuan! Aku gak nyangka kakak bisa setega itu sama perempuan," Ara menatap tajam.
__ADS_1
"Aku tidak melakukannya." jawab Rafa dengan suara mulai meninggi.
"Iya, kakak memang tidak terlibat langsung dengan kekerasan itu, tapi semua atas perintah kakak. Sama saja bukan?"
"Sudahlah, jangan membahas ini lagi. Kembalilah ke kamarmu." Rafa membalikkan tubuh menatap ke depan membelakangi Ara.
"Wisnu, antar Nona Muda mu kembali ke kamarnya." perintahnya agak keras pada Wisnu.
Wisnu muncul dan mendekat.
Ara menoleh kepadanya, dia kaget melihat Wisnu ada bersama mereka. Karena setahunya sekertaris itu sedang mengantar Kazumi ke bawah. Dia juga tidak melihat Wisnu masuk.
"Mari Nona Muda." kata Wisnu pelan.
Ara kembali menoleh di depan, menatap punggung Rafa."Apa pun yang mereka lakukan, seharusnya kakak tidak memakai cara kekerasan. Masih banyak cara untuk menghukum dan juga menyelesaikan masalah." katanya.
Rafa diam tak menjawab.
"Kakak jahat, kakak keterlaluan." kata Ara kembali dengan suara serak karena kecewa dengan sikap Rafa yang di nilainya berlebihan bahkan terbilang kejam.
Rafa terhenyak mendengar kata-kata itu. Dia segera membalikkan tubuhnya menatap wajah yang terlihat mendung ini.
"Aku nggak nyangka kakak bisa melakukan kekerasan pada perempuan, menyakiti mereka tanpa belas kasihan. Mereka sudah memohon dan meminta maaf tapi anak buah kakak terus melakukan kekerasan tanpa ampun! Aku saja tidak sanggup melihat wajah mereka yang babak belur, lebam, bibir pecah mengeluarkan darah. Aku tidak tega melihatnya. Bahkan membayangkannya saja aku takut." Ara ngeri mengingat wajah Mona dan Lisa.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa dukung ya