
Ara segera keluar dari kamar secepatnya.
Bertepatan dengan masuknya Moly dengan membawa sebuah paper bag di tangan.
Dia gugup melihat Moly.
"Nona Ara, aku membawa pesanan tuan Ravendro." kata Moly menatap lekat wajah Ara yang terlihat ketakutan. Dahi Moly langsung mengerut penuh tanya.
"Kakak ipar ada di ruang pribadi." kata Ara sambil meremas kuat ke-dua tangannya yang gemetar.
Moly melihat pergerakannya itu."Sepertinya ini di pesan untuk anda Nona." katanya kemudian.
"Buat saya?" Ara menunjuk dirinya sendiri.
"Iya." jawab Moly sambil mengangguk.
"Satu stell mini dress! Tidak mungkin kan tuan Ravendro yang memakainya?" Moly tersenyum.
"Aku rasa ini di pesan untuk anda, karena ukurannya sesuai bentuk tubuh anda." lanjut Moly kembali.
Wajah Ara mengernyit."Tapi saya tidak meminta apapun pada kak Rafa."
"Mungkin itu keinginan bos, karena siang ini anda berdua akan lunch di luar."
"Lunch?" tanya Ara dengan mimik wajah kaget.
"Iya, bos menyuruh sekretaris Wisnu
melakukan reservasi tempat privat di sebuah restoran." kata Moly.
Rafa tiba tiba muncul."Moly, pasangkan dasi ku." katanya pada Moly sambil melirik pada Ara yang langsung menunduk begitu melihat kedatangannya.
Moly memalingkan pandangannya pada Rafa.
"Wow bos, kau sangat keren dengan setelan jas itu." puji Moly melihat Rafa dengan tampilan style yang elegan dan mewah.
"Kau juga semakin tampan dan mempesona! Benarkan Nona Ara?" sambungnya kembali sambil menoleh pada Ara. Meminta persetujuan Ara.
Ara perlahan mengangkat wajahnya dan menatap pada mereka. Melihat wajah tampan Rafa, membuat dia teringat pada suaminya. Sangat mirip, bedanya hanya pada postur tubuh dan hidung Rafa lebih tinggi dari suaminya. Kesedihan menyeruak di hati Ara teringat almarhum suaminya, Raka.
"Benar kan Nona?" Moly kembali bertanya.
Ara tersenyum kecil, lalu bangkit dari duduknya. Tak merespon pertanyaan Moly.
"Kakak ipar, aku akan kembali ke kampus. Teman teman ku sudah lama menunggu ku di Lobby." katanya dengan suara pelan.
"Mereka sudah pulang sejak tadi, Wisnu menyuruh mereka kembali terlebih dahulu. Aku sudah bilang kau tidak perlu balik lagi ke kampus. Kita akan makan siang di luar." jawab Rafa yang sedang fokus menatap Moly yang berada tepat di hadapannya, karena wanita itu sedang memakaikan dasi untuknya.
Jadi kak Dion, Cindy dan Ines telah kembali? Syukurlah, mereka tidak perlu menunggu diriku. Karena aku sudah terlalu lama di sini, batin Ara.
"Sempurna, dasi ini semakin menambah ketampanan mu bos. Aku sangat menyukainya." kata Moly mengedipkan sebelah matanya begitu dasi itu terpasang.
"Aku juga menyukai mu Moly. Kau selalu ada di setiap ku butuhkan." kata Rafa sambil menyentuh hidungnya.
Moly tertawa kecil."Makanya kau harus segera menikah biar ada yang memasangkan dasi untuk mu, mengurus semua keperluan mu." kata Moly.
"Hey, apa kau sudah bosan mengurusku?" sentak Rafa dengan mata mendelik."Kau sudah tidak ingin bekerja lagi pada ku?"
__ADS_1
"Bukan begitu bos, tidak selamanya aku bisa ada di sisimu, membantu keperluan mu."
"Kalau begitu aku akan menikahi mu. Biar kau terus bersama ku." kata Rafa dengan enteng.
Moly terkejut."Ogah, aku tidak menyukai mu. Kau sangat pemarah. Enak saja bicara sembarangan." cibir Moly kesal.
"Tapi aku menyukai mu. Kau tidak boleh menolak keinginan ku....." Rafa menatap tajam, lalu kembali meraih tubuh Moly yang mundur.
Ara tersenyum melihat keakraban mereka.
Sesaat dia teringat pada ucapan Rafa tadi di kamar mandi, yang mengatakan kalau Rafa menyukai dirinya. Dan sekarang kata itu di ucapkan oleh kakak iparnya juga pada Moly.
Mungkin kakak ipar memang biasa mengatakan hal itu pada orang yang dekat dengannya, batinnya dalam hati.
Dia merasa sedikit tenang dan lega, berharap perkataan kakak iparnya itu hanya candaan.
"Bersiaplah, kita akan segera turun. Ganti pakaianmu. Baju yang kau pakai basah oleh rambutmu. Aku menyuruh Moly membawakan pakaian ganti untuk mu. Pergilah ke ruang pribadi. Aku tunggu 20 menit." kata Rafa melihat Ara yang sedang melamun."Moly, bantu dia." sambungnya kembali menoleh pada Moly.
"Mari nona Ara, kita tidak punya waktu yang banyak." Moly menarik tangan Ara menuju kembali ke ruang kamar rahasia Rafa.
Telpon Rafa berdering.
"Ada apa?"
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi tentang laki laki yang bersama dengan Nona muda kemarin." jawab Wisnu dari seberang,
kemudian melanjutkan ucapannya.
Rafa mengerutkan dahinya, tanpa sedang berpikir. Beberapa saat kemudian otot otot wajahnya berubah tegang karena Amarah.
"Putra Raymond Alkas?"
"Ini sangat indah Nona. Kau pasti akan semakin cantik memakainya." ujar Moly memperhatikan dress yang ia letakkan di tempat tidur."Buk, bolehkah aku tidak memakainya?" tolak Ara memelas.
"Aku tidak akan memaksamu. Tapi kau tau sendiri kan tuan Ravendro tidak bisa di bantah."
Ara mengeluh pelan dengan wajah mendung. Dia mengerti ucapan Moly. Dia meraih gaun itu dan segera menuju kamar mandi tanpa banyak cakap lagi.
Moly menatapnya kasihan. Sama seperti dirinya yang tidak bisa menentang perintah Rafa, begitu juga dengan Ara, meski Rafa adalah kakak iparnya.
Ara segera membuka pakaiannya. Dia baru menyadari kalau saat ini tidak memakai panties. Dan dia juga baru ingat dengan barang pribadinya itu yang jatuh di kamar ini. Ara celingukan mencari benda itu di setiap sudut kamar mandi, tapi tidak ada. Kemana benda itu? Dia khawatir Rafa menemukannya.
Ara jadi tidak tenang dan merasa malu jika Rafa melihat barang pribadinya itu.
"Nona, apa kau sudah selesai?" tanya Moly dari luar setelah beberapa saat berlalu. Dia mengetuk pintu beberapa kali.
Ara segera berganti pakaian. Bukan hanya dress mini yang di sediakan Moly. Tapi juga Bra dan pasangannya. Kedua benda itu sangat pas dengan ukurannya.
Terdengar lagi ketukan dari luar. Ara segera membuka pintu.
Moly sangat terpukau dengan tampilannya.
"Nona, kau sangat cantik." pujinya melihat
Ara dari bawah hingga atas tanpa berkedip. Dress brokat selutut dengan atasan sedikit terbuka model sabrina. Memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus seperti ubi kupas. Rambutnya yang di cepol asal membuat lehernya yang putih terekspos.
"Buk Moly, aku tidak bisa memakai ini." kata Ara lemah tanpa semangat.
__ADS_1
"Tapi ini sangat indah Nona, semua mata pasti akan terpesona melihatmu."
Ara melepaskan ke dua tangannya yang menutupi lehernya. Dia memperlihatkan lehernya pada Moly dengan ragu dan malu. Menunjukkan beberapa tanda merah yang terlihat jelas pada kulit lehernya yang putih.
"Aku tidak mau memakai ini, aku tidak bisa. tolong sampaikan pada kakak ipar." pintanya memelas dengan wajah sedih.
"Aku akan memakai pakaianku saja, kalau kak Rafa merasa tidak nyaman dengan pakaianku, aku tidak ikut saja dengan-nya."
"Baik Nona, nanti saya akan sampaikan pada tuan Ravendro." ujar Moly mengerti dengan keadaannya yang merasa risih dengan tanda bekas ciuman bosnya itu. Dia merutuk Rafa karena telah melakukan hal yang melampaui batas.
"Tapi Nona, izinkan saya mengambil beberapa gambar foto anda memakai gaun ini. Biar tuan Rafa tau, setidaknya anda sudah
mencobanya." ucapnya kembali.
Ara mengangguk lemah, mengerti dengan maksud Moly.
Moly langsung mengambil foto.
"Bolehkah anda berdiri?"
Ara segera berdiri tapi membelakangi Moly tak ingin menatap kamera. Moly kembali mengambil fotonya. Lalu segera mengirimkan kedua gambar itu pada Rafa. Dia juga mengirimkan sebuah pesan.
Ara segera melepaskan gaun itu dan memakai pakaiannya kembali.
Di ruang kerja.
Wisnu memberikan ponsel pada tuannya yang sedang menandatangani berkas.
"Pesan dari buk Moly!"
Rafa segera meraih benda tipis itu dan membuka pesan yang masuk.
"Bos, nona Ara tidak bisa memakai gaun yang kau inginkan karena adanya beberapa tanda merah akibat perbuatan mu yang kelewatan batas. Aku tidak tega memaksanya karena dia menangis menutupi hasil karyamu itu! Ini cukup memalukan jika di lihat orang! Tapi aku kirimkan kepadamu foto ini biar kau melihat dia telah mencoba dress yang kau pesan. Kau tau bos? Nona Ara sangat cantik dengan gaun ini, tubuhnya benar-benar indah. Aku saja sampai pangling melihatnya!" pesan Moly.
Rafa tak bergeming menatap foto itu. Berulang kali dia menelan saliva sambil tersenyum menatap keindahan ini. Ara sangat cantik dan terlihat seksi. Rafa berpikir lebih bagus juga jika Ara tidak memakai dress itu. Dia tidak ingin tubuh indah Ara menjadi santapan mata para lelaki di luar sana.
Beberapa saat kemudian, Moly dan Ara keluar dari kamar.
Rafa bangkit dan menatap Ara sesaat. Lalu mendekat.
Ara mundur tidak tenang.
"Diam lah di tempatmu!" kata Rafa agak menyentak. Membuat Ara terdiam di tempatnya.
"Ka-kakak mau apa?" Ara langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Takut dan khawatir Rafa akan menciumnya lagi.
"Tenanglah, aku tidak akan macam macam padamu!" kata Rafa Kembali menatap tajam.
Jarak mereka sangat dekat, Rafa melepaskan jepitan di rambut keritingnya. Lalu mengurai ke depan rambut Ara, menutupi tanda tanda merah yang di buatnya, setelah itu dia segera mundur.
Ara menarik nafas lega.
Beberapa saat kemudian, Rafa mengajaknya ke sebuah restoran miliknya yang sedikit jauh dari kantornya. Restoran mewah bintang 5, tempat Ara dan Raka dinner dulu. Dia memesan makanan yang enak dan lezat untuk Ara.
Sementara dari jauh, Sepasang mata memperhatikan mereka dengan sembunyi-sembunyi. Pemilik mata itu telah mengikuti mereka sejak turun dari mobil tadi.
__ADS_1
...Bersambung....
Maaf baru bisa up, ada kerjaan yang nggak bisa di tinggalkan π