
London malam hari.
Kediaman Dionel Raymond Alkas
"Pokoknya papa ingin kamu menikah dengan Sophia. Papa tidak mau di bantah, titik." kata Raymond Alkas tegas menatap Dion tajam.
"Papa dan Tuan Abimanyu sudah menentukan tanggal pertunangan sekaligus pernikahan kalian. Kamu harus segera kembali ke Indonesia." kembali menegaskan dengan suara keras. Lalu segera keluar meninggalkan rumah pribadi putranya itu.
Untuk kesekian kalinya papanya memaksa dirinya untuk menikahi wanita pilihan papanya yang merupakan putri dari rekan bisnisnya. Pemaksaan pernikahan ini terjadi setelah insiden terjadi malam itu di Paris.
Dion mendengus kasar sambil
memukul dinding.
"Lupakan Ara nak, dia wanita yang sudah bersuami. Tuan Ravendro sangat mencintainya, kamu harus memulai hidupmu yang baru dengan membuka hatimu pada wanita lain." kata Dinda menatap matanya lekat.
"Sophia gadis yang baik, dia menyukaimu dan sudah setuju untuk menikah denganmu."
"Tapi aku tidak mencintainya MA." keluh Dion menatap tajam mamanya."Aku tidak mungkin menikah dengan wanita yang tidak ku cintai. Biarkan aku mencari kebahagiaan ku sendiri."
"Papa dan mama tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang memalukan lagi Dion. Seiring berjalannya waktu kamu pasti akan menyukai dan mencintai Sophia."
Dion kembali mendengus geram, lalu segera beranjak pergi meninggalkan mamanya. Dinda menatap kepergiannya dengan kecewa.
Dion menghentikan mobil ditepi sungai Thames. Dia segera keluar dengan hati yang kacau. Dia memandangi keindahan air sungai Thames yang berwarna warni. Udara malam yang dingin tidak di hiraukan menembus kulitnya.
Dion bersandar di pintu mobil dengan kedua tangan di saku celananya. Pandangan menatap lurus ke depan. Bayangan wajah Ara melintas di pikirannya dan akhirnya menari nari di depan matanya.
"Kenapa aku harus terlambat menemukan dirimu?" katanya pelan dengan suara lirih.
"Seharusnya aku lebih cepat mengungkapkan perasaanku padamu setelah kepergian Raka, suamimu." menatap ke bawah, sesak terasa di dada.
"Kau tahu? Sangat sulit untuk melupakan dirimu, melupakan hangat tubuhmu, bibir manis mu__!" menyentuh bibirnya mengingat kecupan dan ciuman yang di lakukan pada bibir Ara.
"Aku tidak akan bisa melupakan semua Itu Ara. Aku tidak mampu melupakan dirimu, melupakan segala kebersamaan dan kenangan indah yang kita lalui bersama." ucapnya sendu. Tubuhnya melorot ke bawah, terduduk lesu.
"Meski kau telah menyakiti hatiku, membuat aku sangat kecewa, aku tetap tidak bisa melupakanmu! Sangat sulit Ra, sangat sulit melupakanmu." menatap wajah Ara yang sedang tersenyum manis di depannya, wajah yang sedang tertawa kecil dengan giginya yang putih teratur, wajah teduh menenangkan dengan senyuman tulus.
Dion tersenyum menatapnya, menatap wajah di depan seolah olah ada Ara di depannya.
Dia berkhayal wanita itu ada di depannya sekarang sedang menatap dirinya. Seolah bukan ilusi.
Ucapan papanya kembali terngiang di telinganya. Perdebatan yang terjadi antara mereka.
"Jauhi Ara." kata Raymond kepadanya dengan keras dan tatapan penuh amarah.
Dia terkejut dan tidak terima.
"Tidak pa, aku mencintai Ara. Aku sangat mencintainya, aku harus memiliki dirinya dan menjadikan dia istriku." kata Dion tegas dan berani.
"Kau tidak bisa memilikinya, dia wanita milik Tuan Ravendro Artawijaya, wanita itu adalah istrinya. Ruan Ravendro sangat mencintainya. Apa pun yang menjadi milik berharganya tidak akan ada yang bisa mengambil darinya." kata Raymond tegas.
Terbelalak Dion mendengarnya perkataan papanya.
"Nggak mungkin pa, nggak mungkin Ara Istrinya. Ravendro pasti telah membohongi kalian." katanya sambil geleng-geleng kepala menatap tidak percaya pada papanya.
"Papa mu berkata benar Dion. Keduanya sudah menikah 4 bulan yang lalu. Mama dan papa sudah melihat foto foto pernikahan dan juga buku nikah mereka. Pernikahan mereka hanya di langsungkan secara sederhana dan sengaja di tutupi dari publik, karena permintaan Ara." Dinda ikut menjelaskan.
"Kau sendiri sudah melihat kan bagaimana romantisnya mereka di lantai dansa? Keduanya berani tampil mesra, romantis di depan publik tanpa canggung dan malu karena mereka adalah pasangan suami istri. Status hubungan mereka juga sudah di publikasikan sewaktu penyambutan mereka berdua masuk ballroom. Semua tamu yang ada di ballroom melihatnya. Kita tidak mengetahui hal itu karena terlambat datang. Ini bukan omong kosong nak, ini benar dan nyata. Ara adalah istri sah tuan Ravendro." kata Dinda lagi lagi membenarkan ucapan suaminya.
Seakan langit runtuh dan jatuh di atas kepalanya mendengar perkataan orang tuanya mengenai status hubungan Ara dan Rafa. Dia tidak ingin mempercayai perkataan papa mamanya, tapi dia tersentak begitu melihat rekaman video penyambutan Rafa dan Ara di ballroom. Betapa hancur jiwa raganya, hatinya sakit dan kecewa.
Dia baru menyadari perkataan Ara ketika Ara mengatakan jangan memeluk dan mencium dirinya, karena Ara adalah istri orang. Ternyata bukan sebagai istri Raka seperti perkiraannya, tapi karena Ara adalah istri Ravendro. Dan Ara juga sudah mengatakan kalau dia hanya menganggap dirinya sebagai kakak, sama seperti Cindy dan Ines.
"Ara, apakah kamu bahagia menikah dan hidup bersama dengan kakak ipar mu? Apakah kamu mencintainya? Dia tidak memaksa dan mengancam mu kan?" batin Dion kembali. Dia khawatir pernikahan mereka karena terpaksa di bawah ancaman Ravendro. Karena setahunya, Ara masih sangat mencintai almarhum suaminya, dan tidak bisa mencintai laki laki lain.
Dan jika Ara tidak bahagia hidup bersama dengan Ravendro, maka dia akan merebut Ara dari Ravendro. Karena sejujurnya, perasaannya pada Ara belum berubah sama sekali.
Tapi jika Ara benar bahagia dengan pernikahannya bersama kakak iparnya itu, maka dia akan mundur dan berusaha untuk melupakan wanita itu meski sakit.
"Ara, bagaimana caraku untuk melupakan dirimu, bagaimana caraku untuk menghilangkan wajahmu, senyuman mu, tatapan mu dari mata dan hatiku." ucapnya lirih dan sendu. Kedua ujung matanya basah,
__ADS_1
hatinya terasa sesak, sakit, dada bergemuruh kuat mengingat terus Ara.
Lamunan dan khayalannya buyar seketika setelah terdengar bunyi suara telepon. Ilusi wajah Ara di depannya juga telah hilang berganti kembali dengan keindahan sungai Thames.
Dion segera bangkit berdiri lalu mengambil ponsel di saku celananya. Terlibat pembicaraan sejenak, wajah Dion terlihat serius mendengarkan setiap ucapan dari seberang.
"Baiklah, terimakasih atas informasi mu." katanya kemudian lalu mematikan telepon.
Dia segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
Rumah utama Artawijaya.
Rafa mendapati ranjang tidur yang kosong.
Tidak ada sosok istrinya terbaring di sana.
Hari ini dia pulang terlambat karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Pekerjaan yang terbengkalai karena di tinggalkan pergi berbulan madu selama tiga hari di pulau pribadinya. Beberapa hari lalu Ara merengek rengek mau jalan-jalan keluar karena tidak tahan di rumah digerayangi oleh terus olehnya. Jadi dia mengajak istirnya ke pulau pribadi mereka.
"Kemana dia? Apa dia tidur di apartemen? atau rumah pribadi?" gumamnya sambil memeriksa kamar mandi, kosong. Ara tidak ada di sana. Rafa segera keluar menuju ruang kerja, istirnya juga tidak ada di ruang itu.
Ke kamar Raka, pintu kamar adiknya tergembok.
Rafa mulai panik dan cemas. Dia segera turun
ke bawah. Dia henda menekan tombol pemanggilan para pelayan dan se isi rumah,
tapi suara Nesa menghentikannya.
"Ara ada di kamar mama. Kakak melihatnya masuk ksana tadi." kata Nesa yang baru dari dapur mengambil air minum.
Rafa cepat berbalik ke arah kakaknya.
"Kamar mama?" heran dengan dahi mengerut.
Nesa mengangguk.
"Sepertinya dia tidur bersama mama!" kata Nesa Kembali, lalu segera melangkah menuju kamar si kembar.
"Kenapa Ara tidur di kamar mama? Apa terjadi sesuatu pada mama? Apa mama sakit?"
Dengan rasa khawatir Rafa segera melangkah menuju kamar mamanya. Dia membuka pintu, dan masuk perlahan lahan. Matanya langsung tertuju ke arah tempat tidur. Benar kata kakaknya, istrinya sedang tertidur nyenyak di atas tempat tidur mamanya sambil memeluk perut mamanya.
Dahi Rafa mengerut, pertama kalinya Ara tidur dengan mamanya? Ada apa? Apa dia merindukan ibu kandungnya? batin Rafa. Seingatnya baru dua Minggu lalu mereka berkunjung ke panti sekaligus berziarah ke makam orangtuanya.
Rafa tersenyum. Dia berjalan mendekati tempat tidur, memperhatikan kedua wajah wanita yang di disayanginya ini bergantian.
Pelan pelan dia mengecup punggung tangan mamanya, lalu menyentuh lembut pipi istri nya.
Maya bergerak perlahan, dia terbangun merasakan pergerakan di sampingnya.
"Kamu sudah pulang nak?" tanyanya begitu melihat Rafa.
"Iya ma, aku baru sampai." jawab Rafa.
"Ssst, rendahkan suaramu. Nanti Ara terbangun! Kasihan dia__dia sangat capek dan mengantuk." kata Maya menekan jari telunjuk di bibirnya sendiri.
Maya mengangkat tangan Ara yang memeluk perutnya dan di letakkan ke samping, lalu bangun perlahan lahan dan turun dari ranjang.
Rafa segera segera di bibir ranjang, menatap istrinya.
"Kenapa dia tidur bersama mama? Apa mama sakit?"
"Tidak, dia memaksa untuk tidur bersama mama." jawab Maya
"Kenapa?" Rafa bingung menatap penuh tanya bergantian pada Ara dan mamanya.
Maya menghela nafas lalu membuangnya pelan.
"Katanya dia ingin tidur nyaman, hanya itu alasannya."
Mata Rafa memicing.
__ADS_1
Maya tersenyum tipis dan menyentuh salah satu bahu Rafa.
"Istrimu mengeluh. Katanya seluruh tubuhnya remuk dan sakit!" katanya menatap Rafa dengan senyuman yang menyiratkan sesuatu.
Rafa memalingkan wajahnya kepada Ara. Dia mengerti ucapan mamanya. Dia tersenyum.
"Biarkan Ara tidur dengan nyenyak malam ini! Dia belum lama tertidur karena mengeluh kesakitan sambil memijat tubuhnya. Dia bahkan kesulitan berjalan, kedua pahanya sakit. Mama menyarankan untuk memakai kursi roda!"
Rafa mengulas senyum.
"Mama jadi kasihan melihatnya. Nanti besok bawalah dia ke tempat pijat spa!" sambung maya kembali.
Rafa mengangguk mengerti."Iya ma..."
"Apa kamu ingin tidur di sini? Mama akan ke kamar si kembar!"
"Aku akan membawanya ke kamar kami. Mama tidurlah di sini!" memegang tangan mamanya.
"Baiklah, tapi ingat perkataan mama tadi! Jangan dulu mengganggunya!"
"Iya mam_." kata Rafa tersenyum malu-malu.
Rafa segera mengangkat tubuh istrinya pelan pelan. Lalu melangkah keluar menuju kamar mereka di atas. Perlahan dia meletakkan tubuh istrinya ke ranjang. Dia ikut membaringkan tubuhnya di samping Ara. Membelai lembut bibir istrinya sambil menatap tak bergeming wajah cantik istrinya.
"Sepertinya kamu sengaja menghindar tidur dengan aku ya?" bisiknya tersenyum. Jemarinya menelusuri setiap bagian wajah Ara.
Kenangan indah bulan madu mereka di pulau pribadi tiga hari yang lalu melintas di matanya.
Ajakannya untuk jalan-jalan ke pantai di sambut antusias oleh Ara. Karena Ara sangat suka skali dengan pantai. Dia melonjak senang dan gembira. Ara tidak tahu dan menyadari kalau ajakan itu adalah jebakan untuk pergi berbulan madu.
Selama tiga hari dia menyekap Ara di pulau tak berpenghuni itu. Hanya para pengawalnya yang berada di sana untuk melakukan penjagaan dari jarak jauh.
Dia menyerang istrinya tanpa henti, tidak pedulikan jeritan kesakitan Ara
Hingga akhirnya membuat istirnya tidak bisa berjalan, tubuh remuk dan sakit. Ara menangis terus selama perjalanan pulang.
Refreshing yang tadinya di rencanakan selama seminggu hanya berjalan tiga hari.
Karena lebih banyak bercintanya dari pada melihat dan menikmati keindahan pantai.
"Sakit kak, aku tidak mampu lagi!" keluh Ara menjerit-jerit menangis setiap kali dia menyerang Ara.
"Itu hanya di awalnya sayang, perlahan lahan akan nikmat. Dosa loh menolak suami dan membuatnya tersiksa. Gak takut sama azab Allah ya?" jawabnya dengan jahil dengan membawa nama nama tuhan. Ara tidak berkutik dan tidak kuasa menolak, meski emosi dan menangis, dia melayani suaminya di selingi tangisan. Rafa semakin gemas dan bergairah melihat sikap polos dan pasrah istrinya itu.
Rafa memberikan segala kenikmatan dan menyirami rahim istrinya dengan benih cinta selama berada di pulau. Sungguh semua keindahan bagian tubuh istirnya itu merupakan candu baginya. Yang ingin terus menerus di nikmati tanpa bosan. Apalagi melihat tubuh istrinya yang hanya berbalut bikini, membuat hasrat seksual dan birahinya semakin menggebu-gebu dan tidak tahan untuk melahap terus.
Pagi siang malam dia terus menggerayangi Ara. Entah itu di resort, di kapal pesiar, di atas pasir putih beralaskan sehelai kain, di atas ranjang yang di letakan di tepi pantai, dan saat mandi di laut pun. Rafa terus menyerang menerkam istrinya tanpa melihat tempat dan keadaan.
Pulau itu aman dari kunjungan orang orang selama mereka berbulan madu karena Wisnu sudah mengamankannya. Jadi dia bebas melakukan apapun dan kapan saja.
Meski dia sudah berjanji untuk bermain lembut tapi Ujungnya tetap kasar. Dia memadukan keduanya, karena bermain terus dalam kelembutan membuat nya bosan. Dia butuh invosi dan kreativitas. Tapi masih di batas kewajaran tanpa melukai Istrinya.
Baginya **** kasar menyenangkan dan dapat memberikan kepuasan mental.
Hingga akhirnya membuat Ara tidak bisa berjalan dan merengek-rengek menangis minta pulang seperti anak kecil. Kalau Rafa menolak dia akan menenggelamkan dirinya di laut.
Rafa tersenyum mengingat ancaman itu.
Perlahan dia mengecup kening dan bibirnya Istrinya.
"Salahmu sendiri siapa suruh memiliki tubuh seindah ini! Hanya membayangkan dan melihatmu saja membuat milikku tegang." bisiknya sambil menelusuri bagian bagian istirnya dengan ujung jari telunjuknya.
"Baiklah sayang. Aku akan tidak akan melahap mu malam Ini dan beberapa hari ke depan, aku juga tidak ingin kamu sakit!" menciumi bibir istrinya sesaat.
Dia meletakkan kepala istrinya di atas lengannya. Ara bergerak dalam tidur dan memeluknya.
Rafa tersenyum tipis, dia segera memeluk tubuh istrinya mendaratkan kecupan kasih sayang dan cinta di kening.
"Sayangku, aku sangat mencintaimu. Aku sangat bahagia dan bersyukur memiliki dirimu. Aku tidak ingin apa apa lagi di dunia ini, cukup dirimu saja!" bisiknya penuh cinta.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa dukung ya