
...Happy Reading....
Acara peluncuran koleksi perhiasan emas
dan berlian Gold Azahra R'A melaunching rangkaian koleksi terbaru yang di beri nama
"Azahra Collection" perhiasan emas dan berlian terbaik di kelasnya.
Rahmia memperkenalkan terlebih dahulu sosok pemilik dari koleksi perhiasan emas dan berlian tersebut.
Tentu saja mereka yang baru pertama kali bertemu dengan Ara terkejut sekaligus kagum pada wanita muda yang berusia 19 tahun, cerdas anggun dan cantik. Di usia yang masih terbilang sangat muda. Mereka memuji kecantikan dan kecerdasannya yang sangat piawai menjelaskan makna dari makna dan simbol Collection Azahra, yang di sesuaikan dengan karakter dirinya sendiri.
"Masyarakat tak perlu ragu karena kami menjamin kualitas Azahra terbaik di kelasnya." kata Ara.
Kata Ara, tema Azahra terinsipirasi dari makna yang indah, yaitu bunga, luar biasa dan cerdas, yang artinya perempuan yang lembut hati dan bercahaya atau yang di kenal dengan Azahra.
"Rangkaian koleksi Azahra dengan perhiasan emas dan berlian pada set kalung, liontin, anting, gelang, dan cincin tampak berkilauan dan bercahaya seperti menjadi ciri khas karya dan koleksi Gold Azahra R'A, lebih elegan dan mewah." tambah Ara.
Sebagai model adalah dirinya sendiri Dia memperlihatkan koleksi tersebut yang terpasang pada telinga, leher, tangan dan jarinya yang putih. Di tangannya memegang satu set perhiasan emas dan berlian dalam satu kemasan tempat.
"Dengan di luncurkan koleksi Azahra ini, Gold Azahra R'A siapapun pemakainya akan terlihat cantik bersinar memancarkan Kilauan Azahra simbol keindahan dan kelembutan kecerdasan yang luar biasa untuk menambah kepercayaan diri bagi setiap pemakainya." tambah Ara.
Rafa yang baru saja hadir dan mendampinginya membuatnya terkejut. Ara tidak menyangka Rafa akan hadir dalam launching koleksi Azahra.
Rafa ikut menjelaskan di bawah naungan perusahaannya, konsistensi kualitas kadar dari perhiasan ragam Collection Azahra sangat terjaga dan bersertifikat SNI kadar pas yang lebih tinggi dari produk lain di pasaran.
Seluruh perhiasan Gold Azahra R'A mempunyai kadar yang lebih tinggi dari produk lain dengan kadar 7*,* persen pas.
"Kami akan selalu menawarkan perhiasan emas dengan desain tertinggi sehingga masyarakat tidak akan kecewa membeli perhiasan dari Gold Azahra R'A. Kami akan selalu menunjukkan produk produk atau desain terbaru dengan berlian dengan bersertifikat internasional." kata Rafa kembali.
Selama peluncuran produk tersebut tangan kanan Rafa sesekali bertengger di pinggang ramping Ara.
Selanjutnya Gold Azahra R'A memberikan program diskon dan promosi baik skala nasional maupun internasional namanya program promosi "Gold Azahra R'A End of season sale."
Di akhir acara, Ara dan Rafa bagi bagi emas dan berlian sebagai souvernir.
Selain launching perhiasan emas dan berlian, Ara juga melaunching brand make-upnya yang di beri nama Azahra beauty.
Hadir dengan tagline "Azahra beauty is breaking down unrealistic standar of perfection", Azahra beauty menambah deretan makeup yang memiliki pesan yang cukup spesial.
"Azahra beauty hadir dengan misi untuk meningkatkan kepercayaan diri perempuan untuk menjadi dirinya sendiri." kata Ara
"Saya ingin setiap orang merasa berharga dan indah karena setiap orang pasti istimewa, berhenti untuk membandingkan diri kita dengan orang lain." tambah Ara.
"Azahra beauty merilis 5 jenis produk liquid touch weightless foundation, liquid touch brightening consealer, perfect strokes matte
liquid liner blot and glow touch up kit, lip souffle matt. Brand ini hadir bukan hanya sekedar produk kecantikan, melainkan tetapi sekaligus campaign untuk kesehatan mental, body positif serta inklusivitas." tambah Ara.
Selain kosmetik dan perhiasan, terakhir Ara merilis parfum miliknya sesuai instruksi dari Rahmia yang sudah mempersiapkan kan ketiga produknya ini dari dua tahun yang lalu.
Produk parfumnya yang di beri nama "Azhara in soft fragrant." Terbuat dari bahan bahan unik di lengkapi dengan aroma wewangian bunga lili putih, lotus, cyclamen, must patchouli, vanilladan carnation di kemas dalam kemasan minimalis dan elegan dalam botol berwarna broken white menyempurnakan wangi yang lembut di dalamnya. Sangat cocok untuk sehari hari atau pun acara yang terkesan formal
agar penampilan bisa terlihat lebih feminim.
Selama 4 jam meluncurkan tiga produk brandnya mewahnya tersebut dengan bantuan R'A tim yang baru di kenalnya beberapa jam, semuanya berjalan dengan lancar dan sukses.
Sebanyak 4 kali juga Ara mengganti dress.
Terakhir Ara menyambangi gerai fashion barang barang branded miliknya yang tidak di ketahui olehnya dan selama ini di tangani Rahmia. Dan sekarang Rahmia menyerahkan semua usaha bisnisnya kepadanya.
"Mulai sekarang kamu yang akan menanganinya. Semua usaha ini di persiapkan Rafa untukmu sejak dua tahun lalu. Kamu jangan khawatir, ada Manager terpercaya yang akan membantumu menangani semua usaha bisnismu ini. Kau tinggal mengawasi dan menerima laporan penjualannya." kata Rahmia kepadanya.
Ada beberapa fashion brand mahal terpajang, yang setahu Ara paling banyak digunakan oleh artis-artis Indonesia bahkan artis Hollywood untuk tampil mempesona di setiap penampilan.
Ada produk produk dari Hermes seperti tas sepatu, jam tangan, parfum, busana dll yang harganya berkisar dari ratusan hingga miliaran rupiah.
Wah...bikin Ara geleng geleng kepala. Bukan hanya produk dari Hermes, tetapi ada juga produk produk dari channel, Gucci dior, Louis Vuittonn, Yves saint Laurent, Balenciaga, fendi, Celine. Harganya yang fantastis membuat Ara semakin melongo. Dan tentunya harga fantastis tersebut hanya dapat dijangkau oleh masyarakat kalangan atas.
"Cerdasnya__!" Ucap Rafa kagum memandangi istrinya dari jauh yang sedang menyalami para tamu dengan membagikan souvernir, di dampingi Mia, Maya dan Nesa yang turut hadir.
"Tentu saja istrimu sangat cerdas." timpal Moly."Padahal aku hanya menjelaskan secara detailnya saja dalam perjalanan ke sini. Ternyata dia cepat menangkap dan memahami." sambung Moly kembali, yang berdiri bersama Rafa memandangi Ara.
"Halo Tuan Ravendro, Halo Moly." sapa seseorang yang muncul di depan mereka. Wanita tinggi semampai dengan bodinya seperti gitar spanyol, pakaian seksi dan super ketat. Wajahnya yang cantik di lapisi makeup tebal.
"Tania, kau juga hadir di sini?" kata Moly sambil melirik pada Rafa.
"Tentu saja, aku ikut sama tanteku. Tuh lagi ngobrol sama mama mu." menunjuk seorang wanita yang sedang asik berbincang dengan Rahmia dan Maya bersama para tamu dan pengunjung.
Terlihat juga Ara sedang ngobrol bersama beberapa artis tanah air yang memiliki usaha bisnis yang sama dengannya, mereka saling berkenalan dan berbagi pengetahuan ilmu bisnis.
"Tuan Ravendro. Sepertinya anda mempunyai model baru brand ambassador untuk mempromosikan produk perusahaan mu. Padahal aku sudah lama menunggu kesempatan itu lho. Aku sudah beberapa kali mengajukan diriku." ujar Tania menatap lekat dan tersenyum manis pada Rafa.
Rafa sibuk memandangi istrinya, tidak memperdulikan ucapan Tania. Tania mendekat sangat dekat kepada Rafa. Bertepatan dengan Ara melihat ke arah mereka.
"Tuan Ravendro." bisik Tania di depan wajahnya.
Rafa terkejut melihat Tania sudah sangat dekat dengannya.
"Tania, apa yang kau lakukan?" sentak Rafa membuat Tania kaget dan segera mundur.
Secepatnya Rafa mengalihkan pandangannya pada Ara, tapi dia tidak melihat Ara di tempatnya yang tadi.
"Apa dia melihatnya?" batin Rafa khawatir.
Rafa bergegas melangkah mencari istrinya. Tapi langkahnya terhenti dengan kemunculan tiga rekan bisnisnya yang menegur.
"Ma, tante Mia, acara nya sudah selesai. Aku mau pamit pulang. Sore ini aku ada janji sama Ines dan Cindy. Mereka sekarang sedang menunggu ku di lobby." kata Ara pada Maya dan Rahmia.
Kebetulan tadi sewaktu kesini dia menelepon mang Saleh lewat ponsel Moly untuk menunggunya di lobby Mall jam lima tepat.
"Kamu gak pulang sama Rafa saja? Biar dia yang mengantar mu!" Maya celingukan mencari Rafa. Dia melihat Rafa sedang bersama Moly, Tania dan juga tiga orang lelaki memakai jas formal.
"Mana Rafa Nak?" Mia ikut mencari Rafa.
"Kakak ipar sedang bersama kak Moly dan temannya. Kakak lagi sibuk, aku tidak mau menggangu. Lagi pula habis ini kakak pasti akan kembali ke kantor." jawab Ara.
Lalu perlahan dia memegang tangan Maya.
"Ma__boleh nggak malam ini aku tidur di rumah utama?" pintanya.
"Cio dan Cia memintaku untuk tidur di rumah utama malam ini. Tadi mereka menghubungi aku lewat ponsel kak Moly. Tapi aku belum janji sama mereka karena harus minta izin mama dulu." sambungnya kembali.
Maya menghela nafas. Kalau di izinkan, Ara pasti akan ke kamar Raka. Dan sudah pasti dia akan teringat Raka lagi. Sementara dia berusaha menjauhkan Ara dari segala kenangannya bersama Raka, agar Ara bisa segera menerima Rafa dalam hidupnya.
Mia dan Nesa hanya saling berpandangan. Mereka tahu maksud Maya melarang Ara untuk kembali ke rumah utama.
"Aku akan memberi pengertian pada Cio dan Cia, kamu tak usah pikirkan permintaan mereka. Besok aku akan membawa mereka ke rumah pribadi." Nesa menyela.
Ara mendesah pelan dengan raut wajah sedih."A_aku juga ingin ziarah ke makam kak Raka. Sudah lama aku gak berkunjung ke makamnya." ucapnya sendu dengan mata berkaca-kaca.
Maya membuang napas panjang, dan segera membalikkan tubuh membelakangi Ara. Karena matanya sudah berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak teringat Almarhum Raka. Begitu juga Rahmia dan Nesa, ada kesedihan menyeruak di hati mereka.
"Gak apa-apa kalau mama gak izinkan. Aku nggak akan maksa." kata Ara karena tak ada jawaban dari Maya.
__ADS_1
"Aku permisi dulu. Nanti tolong sampaikan sama buk Moly aku telah kembali duluan." katanya kembali. Ara segera menyalami tangan Maya dan Mia, juga pamit pada Nesa. Lalu segera beranjak melangkah menahan kesedihan.
Ketiganya menatap kepergiannya dengan tatapan sedih.
"Ya tuhan, sampai kapan dia bisa melupakan Raka. Dia sangat sedih sekali." kata Rahmia lirih. "Mbak, izinkan Ara kembali ke rumah utama, biarkan dia mengunjungi makam almarhum suaminya. Aku tidak tega melihat kesedihan di wajahnya." kata Mia kembali menatap Maya dengan iba.
Maya tak menjawab, pandangannya terus pada Ara. Dia juga tidak tega melihat kesedihan di wajah menantunya itu.
Ara menuju toilet untuk mengganti pakaiannya. Mengganti dress-nya dengan kemeja simple sebatas perut, dan jelana jeans biru tidak terlalu ketat, pas di tubuhnya, sepatu sneaker biru. Dan tak lupa memakai kaca mata tebalnya, memasang rambut palsu keriting yang di ambil Moly tadi dari salon. Dia juga menghapus makeup yang menempel di wajahnya, lalu menggaris keningnya dengan tebal asal dan hitam.
Setelah itu dia duduk di atas toilet duduk, terisak menahan tangis. Sejak tadi dia menahan kesedihan karena tidak mendapat izin berkunjung ke makam almarhum suaminya.
"Kenapa mama gak mengizinkan aku untuk datang ke rumah utama. Aku ingin mengunjungimu makam mu kak, aku sangat merindukanmu." menyentuh cincin pernikahannya dengan Raka. Isak tangisnya semakin jelas terdengar. Dia membekap mulutnya dengan tangan. Beberapa menit telah berlalu, Ara masih terisak menumpahkan kesedihan.
Sebuah ketukan membuat dia terkejut dan segera menghentikan tangis. Ara segera mengambil tissue dan melap air mata.
Pintu terus di ketuk.
"Sebentar..." jawab Ara mendengar ketukan yang berulang. Dia segera membuka pintu.
"Kakak ipar?" kaget melihat orang yang berdiri di depan pintu. Ternyata adalah Rafa.
"Apa kamu menangis?" Rafa memperhatikan wajahnya yang sembab.
"Ah__nggak kak." Ara mengelak berusaha tersenyum.
"Aku mendengarnya dari luar. Isak tangismu terdengar sampai ke luar." Rafa sangat tahu kebiasaan istri nya suka sekali menangis di dalam toilet dan kamar mandi.
Ara kembali menggelengkan kepala.
"Tidak kak, aku hanya...."
Rafa segera menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya.
Ara terdiam, tapi kemudian terdengar isak tangis dari mulutnya. Dia menekan wajahnya di dada Rafa.
Rafa mendesah sedih dan membuang nafas berat mendengar tangisan itu. Tangisan itu memang sudah di dengarnya sejak tadi. Dia berpikir apa istrinya sedih karena melihat dia dekat dengan Tania tadi. Tapi kemudian telinganya mendengar ucapan Ara yang ingin mengunjungi makam Raka tapi di larang oleh mamanya untuk datang ke rumah utama.
"Kenapa mama melarangnya ke rumah utama?" batinnya.
Rafa mengelus rambut dan punggung nya lembut.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
"Nggak ada apa-apa kak__,"
"Apa kamu sedih melihat aku sama Tania ?"
Ara menggelengkan kepalanya
"Tidak__"
"Benar?"
Ara mengangguk.
"Lalu kenapa kamu menangis?"
"A aku__" menggantung ucapannya. Dia takut Rafa akan tersinggung bila dia katakan rindu pada Raka. Lebih lagi jika dia mengatakan di larang Maya untuk datang ke rumah utama, pasti Rafa akan memarahi mamanya.
Rafa melepaskan pelukannya.
"Aku kenapa? Kenapa ucapan mu terputus? Katakan apa yang membuat mu sedih."
"Tapi sepertinya itu bohong, jujurlah! Jangan menyembunyikan apapun padaku. Aku suamimu, tempatmu berkeluh kesah."
Rafa menangkup Wajahnya, dan mengecup bibirnya lembut.
Ara segera menarik mundur wajahnya yang merah merona.
"Kakak mulai lagi, aku mau pergi. Aku ada janji sama Ines dan Cindy."
Rafa terkekeh.
"Memang kenapa? Gak boleh ya cium istri sendiri?"
"Bukan begitu, kita lagi di tempat umum, kakak suka nyium sembarangan."
Rafa Kembali tertawa kecil kembali mengecup bibirnya. Dia senang dengan kedekatan mereka ini setelah insiden kemarin, semalam, tadi pagi dan tadi di ruang kerjanya. Dia sangat berharap Ara tidak marah lagi.
Ara teringat kejadian kemarin di toilet yang membuat Rafa marah.
"Kak __!" panggilnya pelan.
"Hmm__?" Rafa menatapnya dalam dalam.
"Aku minta maaf mengenai kejadian kemarin. Maaf telah menyakiti hati kakak. Sungguh aku tidak bermaksud menyakiti kakak! Aku __!" perkataan Ara terputus oleh kecupan Rafa.
Cup... Rafa mendaratkan kecupan lembut di bibir Ara. Rafa menatapnya lembut.
"Aku juga meminta maaf karena tidak mengerti dan memahami dirimu, membuat mu menangis dan khawatir seharian. Maafkan aku sayang!" kata Rafa, lalu memeluknya."Lupakan kejadian itu. Jangan kau ingat lagi."
Ara mengangguk dalam pelukannya. Rafa lega permasalahan di antara mereka telah selesai.
Rafa melepas pelukannya, menatap istrinya sambil tersenyum.
"Saat launching tadi, kamu hebat sayang. Kamu memang istriku, cerdas dan pintar." memeluk pinggang Ara, membuat tubuh mereka menempel tanpa celah.
"Buk Moly sudah memberikan penjelasan sewaktu ke sini. Dia juga memperlihatkan semua jenis produknya. Untung saja dia masih mengajariku."
"Kamu juga cantik sekali sayang, setiap hari kamu makin cantik dan menggairahkan." Bisik Rafa mesra dan kembali mengecup bibirnya. Ara jadi salah tingkah dan malu. Dia menunduk menyembunyikan wajah tomatnya.
Rafa tersenyum. Dia mengangkat wajah Ara dan kembali mengecup bibir wanita itu.
Bertepatan dengan masuknya seseorang dan melihat adegan mesra keduanya. Tania orang itu
"Tuan Ravendro?" Tania terkejut melihat Rafa mengecup bibir seorang wanita dengan tubuh menempel kuat tanpa cela. Dia sengaja menyusul Rafa ke toilet karena lelaki itu salah masuk toilet wanita.
Mata Ara membulat.
"Kak__!" kaget mendengar suara perempuan memanggil Rafa. Ara langsung menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Siapa itu? Aku tidak ingin wajahku di lihat olehnya." bisiknya pelan dengan nada khawatir.
Rafa mengenal suara itu, tapi dia mengabaikannya, pura pura tak mendengar dan tidak mengetahui keberadaan Tania.
Rafa tersenyum manis, lalu mengangkat wajah Ara dan di hadapkan padanya.
"Kenapa sayang? Kamu istriku." katanya lembut menatap penuh cinta.
"Pokoknya aku gak mau dia melihat wajahku." kata Ara tegas dengan berbisik.
"Baiklah, tapi aku harus membuatnya jera supaya berhenti mengejar ku." bisik Rafa.
__ADS_1
Dahi Ara mengerut mendengar ucapan itu. Rafa tersenyum mengedipkan mata.
Untung saja posisi Ara yang membelakangi Tania, di tambah lagi dengan rambut keritingnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya sehingga sangat sulit membuat Tania mengenali wajah Ara.
Rafa memegang leher Ara, kemudian berlanjut memegang wajah istrinya. Telapak tangannya menutupi sebagian wajah Ara agar tidak terlihat oleh Tania. Lalu perlahan dia mencium bibir istrinya lembut, bergantian bibir atas dan bawah.
Tania terbelalak. Darah terasa mendidih melihat adegan di depannya. Siapa wanita ini? batinnya.
"Tuan Ravendro, apa yang anda lakukan?" tegurnya kembali, geram.
Rafa tetap acuh dan tidak perduli, dia terus menciumi bibir istrinya, mengulum, m*****t atas dan bawah bergantian dengan lembut dan sengaja di perlihatkan pada Tania.
Mata Ara membulat
"kak...." Nafas turun naik tak beraturan.
"Diam lah__biarkan seperti ini." bisik Rafa, melirik sesaat pada Tania yang bergeming menatap mereka dengan wajah memerah menahan amarah dan cemburu. Rafa kembali mencium bibir Ara, tangannya satunya menahan tengkuk Ara, dan satunya kelayapan membelai punggung pinggang dan meremas b*kong Ara.
Ara terkejut dengan mata membulat sempurna.
"Aku suka bibirmu sayang, bibir mu sangat manis, indah menggairahkan. Rasanya aku ingin terus menikmatinya." kata Rafa agak keras, dengan suara menggoda supaya dapat di dengar oleh tania.
Mata Ara Kembali membulat mendengarnya. Rafa mengedipkan matanya. Lalu kembali menyerang bibir Ara. Kali ini sedikit liar dan intens karena mulai terbawa oleh nafsu.
Bahkan dia melabuhkan wajahnya di leher istrinya, dan dengan sengaja mengigit kecil membuat Ara mengerang. Tak hanya sampai di situ, Rafa juga menggigit kecil telinga istirnya membuat Ara menjerit. Rafa langsung membungkam mulut Ara dan di perlihatkan pada Tania.
"Sayang, bibirmu benar benar membuatku mabuk kepayang dan kecanduan terus. Rasanya aku ingin terus menikmatinya, aku suka skali sayang." ujar Rafa Kembali dengan menggoda. Lalu kembali menyerang bibir Ara dengan buas.
Darah Tania semakin mendidih tidak tahan melihat adegan panas yang sengaja di pertontonkan kepadanya.
"Sayang, aku tidak tahan lagi." ucap Rafa dengan tatapan yang tidak bisa di tebak. Dia segera mengangkat tubuh Ara membawanya masuk ke toilet. Ara terkejut, reflek melingkarkan kedua kaki di belakang pinggang Rafa.
"Kak___!" takut dengan apa yang di lakukan Rafa.
"Diamlah." bisik Rafa kembali. Dia segera membuka pintu toilet tanpa melepaskan ciumannya di bibir Ara. Kemudian menutup pintu dan mengunci.
Tania tercengang mendengar perkataan Rafa. "Toilet? Mau apa mereka di dalam sana?" batinnya semakin tidak tenang. Tubuhnya sampai gemetar dan terasa lemah. Dia bukan orang bodoh yang tidak tahu apa yang hendak di lakukan Rafa di dalam toilet dengan wanita itu. Rafa yang di lihatnya telah di kuasai nafsu gairah. Dia bahkan melihat bagian selatan Rafa mengembang dari celana. Tania mendekati pintu toilet. Dia memasang telinga mendengar apa yang terjadi dalam. Terdengar suara suara merdu indah dari mulut Rafa dan jeritan manja keluar dari mulut Ara, yang merupakan rekayasa keduanya. Tania tidak tahan lagi, telinganya terasa panas dan sakit seolah di tusuk ribuan jarum mendengar suara suara laknat itu. Dia segera meninggalkan toilet dengan kemarahan dan kecemburuan mendalam. Darahnya terasa panas mendidih.
Rafa sebenarnya sudah tahu Tania sudah pergi dari toilet, tapi dia tidak memberi tahu pada Ara dan tetap menggerayangi tubuh istrinya itu sampai dia puas. Tapi sialnya dia sangat tersiksa dengan bagian tubuhnya yang aktif di bawah sana. Tapi tidak mungkin dia meminta Ara untuk menenangkan di tempat ini, karena ini adalah toilet umum. Bisa saja dia meminta Wisnu untuk mengamankan tempat ini selama satu jam, tapi Ara pasti tidak mau dan menolak melakukan hal mesum di tempat umum. Dengan terpaksa Rafa Sabar dan menahan diri. Dia segera
segera menghentikan ciumannya melihat Ara yang sudah kesulitan untuk bernafas.
Ara, begitu lepas dari ciuman kebuasan Rafa, langsung menghirup udara sebanyak banyaknya untuk mengisi paru-parunya.
Rafa tersenyum melihatnya. Ara menatap kesal, lalu menyembunyikan wajahnya karena malu. Tapi kemudian dia teringat Tania.
"Kak, apa orangnya sudah pergi?"
Rafa memeriksa pesan dari Wisnu. Mengatakan Tania telah keluar.
"Sudah sayang." jawabnya pada Ara. Lalu dia menarik tangan Ara keluar dari toilet. Ara masih memeluk Rafa, menyembunyikan wajahnya. Khawatir Tania belum keluar. Atau jangan-jangan ada pengunjung toilet lain. Dia lega tak ada siapa pun di luar, karena Wisnu sudah mengamankan tempat itu meski tidak mendapat perintah dari Tuannya.
"Siapa dia?" Ara menarik wajahnya.
"Sala satu penggemarku." kata Rafa sambil tersenyum.
Wajah Ara mengernyit, menatap bingung.
Rafa tertawa kecil.
"Sala satu pengagum wajah tampan suamimu ini sayang."
Wajah Ara berubah masam.
"Tapi aku hanya mencintai mu sayang, hanya kamu seorang!" Rafa mengecup keningnya
"Apa lehermu sakit?" memeriksa leher Ara yang tadi di gigit nya. Banyak tanda merah di sana. Dia tersenyum puas melihat hasil karya bibirnya itu.
Ara mendesis kesal. Dia kembali menekan wajahnya di dada Rafa mendengar langkah orang masuk.
"Wisnu yang datang sayang." ucap Rafa.
"Apa dia sudah pergi?" menoleh pada Wisnu.
"Sudah tuan, wanita itu menuju toilet sebelah. Ada orang kita yang mengawasinya di sana."
kata Wisnu.
Wisnu menyerahkan satu stel jas panjang wanita untuk di pakai Ara.
Rafa segera memakaikan ke tubuh istrinya.
"Sayang, kita akan keluar! Kamu jangan khawatir. Kamu mau bertemu teman-teman mu kan?"
Ara mengangguk. Dia teringat Cindy dan Ines di lobby.
"Aku juga masih ada pekerjaan penting. Kamu hati-hati di luar ya, jangan pulang telat." kata Rafa kembali menatap lembut istrinya.
Ara mengangguk.
Rafa mengecup kening dan bibir Ara sesaat.
"Wisnu antar istriku ke Lobby." menoleh pada Wisnu.
"Mari Nona muda."
"Oh ya sekretaris Wisnu, tolong berikan dress itu pada ibu Moly." kata Ara teringat dress yang dil lepas tadi.
"Baik Nona muda!"
Ara mencium tangan Rafa, lalu segera mengikuti langkah Wisnu menuju lift. Di depan lift sudah ada dua perempuan menunggu mereka. Keduanya menundukkan kepala begitu melihat Ara dan Wisnu.
"Antar Nona muda sampai ke lobby dengan aman." perintah Wisnu pada keduanya.
"Siapa mereka sekretaris Wisnu?" tanya Ara.
"Nona jangan khawatir, mereka orang kepercayaan saya."
"Mari Nona muda, silahkan masuk." ucap sala seorang di antara wanita itu dengan sopan.
Keduanya memakai jas yang sama seperti Ara tapi beda warna. Kepala mereka juga memakai wig palsu keriting panjang sama seperti miliknya. Ara menatap mereka heran penuh tanya karena merasa aneh.
Begitu sampai di Lobby, Ara langsung di sambut dengan pelukan oleh kedua temannya, Ines dan Cindy.
Kedua wanita yang mengantar Ara segera pamit.
"Ara__kami sangat merindukanmu." ucap Ines. Cindy ikut mengangguk dengan wajah di buat sedih. Dua minggu mereka tidak bertemu.
"Aku juga merindukan kalian." ucap Ara.
Ketiganya kembali berpelukan. Setelah melepas kerinduan beberapa saat, mereka segera menuju parkiran, di mana taksi Saleh menunggu sejak tadi.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan π