
Ines pergi ke bandara. Dia menjemput tantenya, adik dari ayahnya yang baru datang dari bali bersama anak perempuannya, berumur 7 tahun. Sebelum pulang ke kost Ines, mereka masih singgah di sebuah cafe tidak jauh dari bandara, karena anak perempuan tantenya ingin makan eskrim.
Di meja lain yang bersebelahan dengan mereka, duduk juga seorang wanita setengah abad dan juga dua anak kecil laki laki berumur sekitar 12 tahun. Mereka sedang menikmati makanannya. Kedua anak lelaki itu yang ternyata kembali itu selalu melihat pada adik sepupu Ines. Ines mengira kedua anak itu kepengen makan eskrim seperti punya adiknya. Dia memesan kembali dua eskrim pada pelayan dengan toping sirup coklat dan buah ceri seperti punya adiknya.
Dari tempat duduknya dia menawarkan pada kedua anak anak itu.
"Mau dek?" tanyanya menawarkan sambil tersenyum.
Kedua anak itu melihat pada wanita yang merupakan nenek mereka untuk meminta persetujuan. Tapi wanita yang merupakan nenek mereka tampak gelisah dan tidak tenang di tempat duduknya. Matanya sesekali melihat ke arah pintu masuk seperti sedang menunggu seseorang.
"Nek, kakak itu kasih kita eskrim." kata salah seorang di antara mereka. Yang di panggil nenek menoleh pada Ines. Ines tampak tersenyum sambil memegang dua gelas eskrim.
"Nggak usah nak, terima kasih." kata si ibu tersenyum menolak ramah.
Ines mendekat ke arah mereka sambil membawa dua gelas eskrim.
"Maaf bu, saya tidak bermaksud buruk atau punya pikiran buruk. Tadi saya melihat adik adik ini melihat ke adik saya yang sedang memakan eskrim. Saya berpikir mungkin saja mereka ingin makan eskrim seperti punya adik saya. Jadi saya memesannya." kata Ines, lalu segera meletakkan kedua gelas itu di depan anak kembar itu.
"Ohh begitu ya?" kata si ibu. Lalu dia menoleh pada kedua cucunya.
"Azhar Azham, apa kalian ingin makan eskrim? Kenapa nggak bilang sama nenek kalau pengen makan eskrim nak?"
"Tidak nek, kami melihat ke adik itu bukan karena Eskrim, tapi melihat jepit rambutnya yang lucu." kata anak kecil yang bernama Azham seraya menunjuk jepit rambut di kepala adik sepupu Ines.
"Kak Azham benar nek, jepitan rambutnya lucu banget, aku suka." kata anak yang satunya bernama Azhar tertawa kecil melihat jepit rambut model kupu kupu di rambut sepupu Ines.
Ines terkekeh"Owh, kakak kira kalian ingin eskrim, maaf ya.?" kata Ines salah tingkah.
Ibu itu tersenyum pada Ines.
"Tidak apa-apa Nak,"
"Siapa namanya tadi? Azham dan Azhar ya? Kalian mau nggak makan eskrimnya? Kakak udah beli tapi nggak ada yang makan. Mubazir kan? Apa kalian mau?" tanya Ines menatap mereka.
Kedua anak itu melihat pada neneknya, meminta persetujuan wanita paruh baya yang berumur 53 tahun itu. Ibu itu agak ragu ragu untuk menerima tawaran Ines, karena mereka tidak saling kenal.
"Ibu jangan khawatir, saya orang baik kok. Nama saya Ines, saya seorang mahasiswi. Dan kedua wanita itu tante saya dan anaknya. Kebetulan mereka baru tiba dari bali dan saya menjemput mereka. Adik sepupu saya ingin makan eskrim, makanya kami singgah di sini." kata Ines menjelaskan melihat keraguan di mata sang Nenek. Dia juga mengerti akan keraguan dan sikap hati hati wanita itu terhadap orang asing yang bisa saja merupakan orang jahat yang bermodus pura pura baik.
Ines mengeluarkan kartu mahasiswanya dan di perlihatkan pada wanita itu untuk meyakinkan ucapannya.
"Nek, Azhar mau eskrim." kata Azhar.
"Azhar mau? Yayo di makan dek." kata Ines.
"Boleh ya Nek?" Azhar meminta izin neneknya.
Wanita paruh baya akhirnya menganggukkan kepala. Azhar segera menikmati eskrimnya, Azham juga segera mencicipi.
"Maaf Nak, ibu hanya ingin bersikap hati hati pada orang yang baru ibu kenal."
"Gak apa bu, saya mengerti. Memang kita harus waspada karena banyak kejahatan terjadi dengan menggunakan banyak modus." kata Ines tersenyum.
"Oh ya Nak, mereka berdua cucu ibu, yang ini Azham dan ini Azhar." kata ibu itu seraya menunjuk Azham dan Azhar.
"Mereka berdua kembar ya bu?"
"Iya nak, mereka kembar. Azham lebih tua sedikit dari Azhar. Umur mereka hanya terpaut beberapa menit."
Ines mangut mangut mendengarkan.
"Saya asli berasal dari daerah ini, apa ibu juga?" tanyanya.
"Iya, ibu juga berasal dari daerah ini. Oya nak, kita sudah berbincang bincang dari tadi, perkenalkan nama ibu Maharani, nak Ines panggil saja Rani."
"Iya buk Rani." kata Ines tersenyum.
"Kalau begitu saya kembali ke meja saya dulu." sambungnya dan segera pamit, karena tantenya memberi isyarat sudah selesai dan mau pulang.
"Oh ya nak Ines, apa ibu boleh minta tolong?" kata Rani membuat langkah Ines terhenti.
"Boleh bu selama saya bisa. Ibu ingin minta tolong apa?"
"Ibu sedang menunggu anak ibu, tapi ibu lupa memberi tahu nama cafenya. Sementara di sekitar sini ada beberapa cafe. Ibu Ingin menghubunginya untuk memberi tahu tempat kafe kami agar dia tidak kesulitan mencari keberadaan kami, tapi keburu ponsel ibu mati kehabisan daya. Apa boleh ibu meminjam ponsel Nak Ines? Hanya sebentar saja." pinta Rani.
"Tentu saja boleh buk...," Ines segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempangnya, lalu di berikan pada Rani.
Rani segera menerimanya.
"Terimakasih ya nak? ibu hanya ingin menelpon sebentar." kata Rani.
"Iya, silahkan."
"Apa ibu ingin menelpon ayah?" sela Azham melihat neneknya.
"Iya, cepat habiskan eskrim nya sebelum ayah kalian datang." kata Rani kembali. Dia menjauh sedikit lalu segera menelpon anaknya.
Azham kembali mencicipi eskrimnya yang begitu menyegarkan tenggorokan, sesekali dia melihat pada Ines. Ines menatapnya tersenyum.
"Enak ya eskrimnya?"
"Iya Kak, terimakasih ya?"
"Sama sama." Ines menyentuh puncak kepalanya.
"Azham sama Azhar sudah kelas berapa?"
"Kelas enam Kak."
"Ohhh... berarti udah mau masuk SMP. Terus sekolahnya di mana?"
Kedua anak kembar itu saling berpandangan ragu untuk mengatakan.
Ines tersenyum melihatnya. Mungkin saja nenek mereka melarang untuk memberi tahukan pada orang yang tidak kenal. Biasa para orang tua selalu menitip pesan seperti itu, termasuk ayah dan ibunya juga begitu, selalu menitip pesan padanya agar jauh jauh dari orang yang tidak di kenal.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, tidak usah di jawab, lanjutkan makan kalian." katanya kemudian.
Azham mendekat kan wajahnya padai Ines.
"Kakak cantik jangan bilang siapa-siapa ya? Ayah dan nenek melarang kami ngomong pada sembarang orang. Tapi karena kakak udah ngasih kami eskrim dan menolong nenek, aku akan kasih tahu ke kakak. Ini rahasia kita ya?" bisiknya pelan.
"Oke, kalian bisa percaya pada kakak." kata Ines ikut berbisik sambil mengangkat dua jarinya. Dia tertawa kecil melihat tingkah lucu anak anak ini dan menyebutnya kakak cantik.
"Kami sekolah di Amerika." kata Azham berbisik.
"Amerika?" Ines terkejut.
"Iya Kakak cantik. Kebetulan kami baru tiba dari Amerika satu jam yang lalu. Kami sedang menunggu ayah untuk menjemput kami." Azhar ikut bicara.
"Jadi Azham, Azhar dan nenek tinggalnya di Amerika?"
"Iya," Jawab anak itu hampir bersamaan.
"Kami datang ke Jakarta untuk mengunjungi ibu. Sedangkan nenek ingin mengunjungi kakek dan juga kampung halamannya. Sekalian kami juga ingin liburan kesini. Azham menambahkan.
"Oh__" ucap Ines dengan mulut berbentuk O.
Dia ingin bertanya lagi, tapi Rani keburu datang. Wanita itu segera memberikan ponsel Ines."Terimakasih Nak Ines."
"Ibu sudah selesai bicara dengan anak ibu?"
"Sudah Nak, dia sedang menuju ke sini."
"Kalau begitu saya pamit dulu, kebetulan Tante sama adik saya sudah selesai."
"Iya nak silahkan. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya." kata Rani.
Ines mengangguk tersenyum.
"Azham, Azhar, senang bertemu dan berkenalan dengan kalian. Kakak berharap kita bisa bertemu lagi di lain waktu." katanya seraya menyapu rambut kedua anak itu.
"Kakak pergi dulu. See you again__bye," katanya kembali sambil tersenyum, lalu segera mendekati Tantenya yang sudah berdiri.
Azham dan Azhar melambaikan tangan kepadanya.
Sementara dari depan, seorang laki laki berumur 32 tahun dengan tubuhnya yang tegap, kekar, wajah tampan, memakai pakaian Casual dan juga kaca mata hitam masuk dengan terburu-buru. Wisnu, mencari tempat duduk ibu dan kedua anak kembarnya.
Pandangannya di arahkan ke segala penjuru ruangan karena besarnya tempat ini.
Tanpa sengaja matanya melihat wajah tampan seseorang yang di kenalnya pada layar ponsel seorang wanita pengunjung kafe. Wanita tersebut tanpa bergeming melihat wajah tampan itu dengan tatapan yang nakal menggoda.
"Aku pasti akan mendapatkan mu Dionel Alkas." kata wanita itu tersenyum menyeringai melihat wajah tampan Dion di layar ponselnya, lalu mengecup wajah tampan Dion berulang.
"Yakin lo Bel bisa dapatin si tampan itu?" kata wanita yang berada di depan memperhatikan dirinya.
"Tentu saja. Akan ku pastikan dia akan menjadi milikku." kata wanita itu kembali yang tak lain adalah Bela. Dia menatap tak bergeming gambar foto wajah Dion. Sementara duduk di depannya adalah kedua temannya Kyla dan Alin.
Dahi Wisnu mengerut mendengar obrolan mereka. Tapi kemudian dia kembali melihat ke sana kemari mencari tempat duduk ibunya.
Bela baru tiba dari Bali bersama kedua temannya itu. Sedangkan Dwi masih memilih tinggal di bali karena sedang menyelesaikan tugas penelitian karya ilmiahnya di pulau Dewata itu.
Bela berbalik melihat ke belakang. Terlihat Wisnu sedang melihat ke arah mereka, lalu melihat lagi ke arah lain.
"Wow, tampan banget Bel, macho lagi." bisik Alin terpukau. Bela tersenyum genit melihat pada Wisnu. Wisnu mengabaikan tatapan nakal mereka dan melangkah ke sebelah.
Senyuman Bela berganti sinis saat melihat Seseorang yang di bencinya, Ines.
Ines tampak melangkah mendekat ke arah mereka. Kebetulan tempat duduk mereka agak dekat dengan pintu. Ines dan tantenya sedang melangkah menuju pintu untuk keluar.
"Tak di sangka bisa bertemu dengan sahabat si dungu itu lagi." ucapnya ketus.
"Siapa Bel?" tanya Alin.
"Tuh__." Bela memajukan mulut dan dagunya pada Ines yang semakin mendekat.
"Sahabatnya si dungu." katanya kembali. Dia menyebut Cindy dungu, bodoh.
Terlintas sebuah pikiran kotor di kepalanya.
"Lin, kita tukaran tempat duduk, cepatan." katanya pada Alin seraya bangkit.
Alin kebingungan tapi segera mengikuti ucapan Bela. Dia segera bangkit dan duduk di tempat Bela. Sebaliknya Bela duduk di tempat duduknya.
"Lo mau apa?" tanya Kyla bingung.
"Lihat aja." Kata bela tersenyum menyeringai.
Dia mengarahkan ponselnya sedikit kesamping, melihat kedatangan Ines di belakangnya lewat layar ponselnya. Ines terlihat semakin mendekat ke arahnya.
Begitu Ines lewat di sampingnya, dengan cepat Bela melebarkan kaki kanannya ke samping, sehingga Ines tersandung pada kakinya dan jatuh terjerembab ke lantai.
Ines kaget bukan, dia menjerit. Tapi sebelum tubuhnya menyentuh dan menghantam lantai, Wisnu langsung bergerak cepat menahan tubuhnya dari depan.
Jantung Ines berdetak cepat karena takut.
Dia merasakan tubuhnya tidak sakit dan tidak berada di lantai, artinya dia tidak jatuh.
Setelah sadar sepenuhnya, dia merasakan tubuhnya berada dalam pelukan seseorang.
Seseorang yang telah menyelamatkan dirinya sehingga tidak terjatuh ke lantai. Ines segera melihat wajah penolongnya.
"Sekretaris Wisnu?" Ucapnya kaget.
Wisnu sedang memeluknya dengan satu tangannya menyentuh sebagian punggungnya dan satu tangannya memegang pundaknya.
"Anda tidak apa-apa Nona Ines?" tanya Wisnu dengan suara rendah. Melihat wajah Ines yang pucat. Keduanya saling menatap beberapa sesaat. Kemudian Wisnu segera memposisikan tubuh Ines berdiri lurus.
"Aku baik baik saja berkat anda.Terimakasih telah menolongku." kata Ines dengan masih takut dan jantung berdetak cepat.
__ADS_1
"Ines, kamu nggak apa-apa nak?" tanya Tantenya dengan cemas. Dia segera memeriksa tubuh Ines.
"Aku baik baik saja Tante." kata Ines tersenyum sekilas.
Sedangkan Bela mendengus geram karena rencananya untuk membuat Ines celaka dan malu di depan banyak orang gagal total. Dia segera berdiri dan menyentak marah.
"Heh bodoh, kalau jalan pakai mata, jangan pakai dengkul? Kakiku sakit karena kena tendangan kakimu." menatap tajam Ines dengan emosi.
Ines terkejut mendengar perkataannya. Dia yang korban kenapa malah dia yang di marahi?
"Hey, kenapa jadi kau yang marah? Kamu yang naruh kaki sembarangan hingga membuat orang lain hampir celaka. Bukannya meminta maaf, malah marah marah dan menyalahkan keponakan ku?" Tante Ines balik menyentak.
Ines kembali terkejut setelah melihat jelas wajah Bela."Kau?" kata Ines mengingat wanita ini."Kau Bela kan? Tamu di rumahnya Tante Dinda? Kamu bukannya temannya Dwi sepupu kak Dion?" kata Ines kembali
Bela tidak perduli dengan ucapannya dan kembali menatap sinis.
"Aku tidak mengenalmu, nggak usah sok sok kenal deh. Kalau kaki ku patah kau mau tanggung jawab? Hah?" sentaknya lebih keras. Hingga menarik perhatian pengunjung.
Tante Ines ingin kembali membalas ucapannya, tapi mulutnya segera ditutupi Ines dengan tangan.
"Udah Tan, nggak usah di ladeni. Malu dilihatin sama orang orang di sini. Gak baik juga buat keributan di sini, nanti akan mengganggu pengunjung kafe. Sebaiknya kita pergi saja. Ayo," Ines segera memegang tangan Tantenya dan juga adik sepupunya.
Ingin sekali dia membalas ucapan Bela, tapi dia tidak mau membuat keributan dan menjadi tontonan sama semua pengunjung di sini.
"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini." kata Wisnu.
"Sekali lagi terimakasih atas bantuan anda tadi, permisi." ucap Ines pada Wisnu, lalu segera menarik tangan tante dan adik sepupunya berjalan melangkah keluar.
"Dasar rese, dungu." umpat Bela melihat kepergian mereka.
"Lo yang rese, gila." teriak tante Ines dari pintu tidak mau kalah.
"Udah tan, biarkan saja." kata Ines semakin cepat melangkah keluar dari tempat ini dan menuju jalan raya.
Wisnu mendekat pada Bela, mencondongkan wajahnya lebih dekat. Dia menatap tajam kedua mata Bela.
Bela terkejut, di kiranya Wisnu mau apa?
"Mulai sekarang, hilangkan sifat kotor anda itu nona. Jangan lagi melakukan hal buruk pada orang lain." katanya tegas dengan nada suara di tekan, tatapan menyorot tajam. Dia melihat Bela yang sengaja ingin mencelakai Ines. Setelah berkata begitu, dia segera melangkah masuk ke dalam.
"Ganteng ganteng kok sadis amat. Kalian lihat mata elangnya tuh tajam banget seakan hendak hendak menerkam kita." kata Kyla merinding melihat tatapan Wisnu tadi.
Sedangkan Bela hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Wisnu. Mereka kembali duduk dan menikmati makanan tidak perduli dengan tatapan orang orang.
"Itu ayah datang." Seru Azhar melihat Wisnu mendekat pada mereka. Dia segera berdiri. Azham juga ikut berdiri. Mereka melonjak senang. Wisnu segera memeluk mereka, mencirahi kecupan di wajah anak kembarnya, lalu dia memeluk ibunya.
"Bagaimana perjalanan kalian?"
"Capek ayah, tapi menyenangkan." kata Azham.
"Setelah mengunjungi ibu dan kakek, kalian istrahat sebentar. Setelah itu ayah akan mengajak kalian ke beberapa play ground yang ada di daerah ini."
"Benar ayah?" si kembar antusias.
"Tentu saja, sekarang habiskan eskrimnya setelah itu kita pergi."
Kedua anak itu menurut.
"Ayah tau, kami sudah punya teman baru lho." kata Azham.
"Oh ya?" wajah Wisnu mengernyit.
"Benar ayah." timpal Azhar
"Hebat jagoan jagoan ayah, baru nyampe udah dapat teman baru. Terus mana orangnya?"
"Udah pergi ayah, baru aja!"
"Kakak cantik orangnya baik ayah, dia memberi kami eskrim ini. Aku menyukainya," kata Azham kembali seraya memperlihatkan gelas eskrim.
"Azhar juga suka sama kakak cantik." Azhar ikut ikutan menyatakan perasaan sukanya pada Ines.
"Kakak cantik?" dahi Wisnu mengerut.
"Iyah ayah."
"Jadi teman kalian tuh perempuan? Ayah pikir laki laki seusia kalian."
"Tidak ayah, kakak cantik udah gede', sebesar ini__!" Azhar mengangkat tangannya ke atas mengisyaratkan tinggi tubuh Ines dengan gerakan tangannya.
Wisnu tertawa kecil melihatnya. Anak anaknya begitu menggemaskan.
"Kakak cantik juga meminjam kan ponselnya pada nenek saat menghubungi ayah tadi."
"Oh jadi itu nomornya. Kok manggilnya kakak cantik? Apa dia tidak punya nama?" tanya Wisnu.
"Punya ayah, tapi Azhar lupa, siapa ya nama kakak cantik itu kak Azham?" menoleh pada Azham, kakaknya.
Azham juga lupa, wajahnya mengerut berusaha mengingat nama Ines.
Wisnu segera menoleh pada ibunya.
"Siapa buk? Dia bukan orang yang berpura pura baik kan?"
"Pertama ibu juga beranggapan begitu. Tapi semakin lama ibu perhatikan dia memang anak baik. Dia seorang mahasiswi. Namanya Ines."
"Ines?" Wisnu kaget.
"Iya, katanya namanya Ines. Hp ibu kehabisan daya. Jadi ibu meminjam ponselnya menghubungi kamu tadi. Untung saja dia bersedia meminjamkan ponselnya."
Wisnu teringat bertemu dengan Ines tadi.
Sepertinya memang Ines sahabat Nona mudanya yang di maksud anak-anak dan ibunya.
__ADS_1
Bersambung.
Terimakasih sudah mampir π