Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 183


__ADS_3

...Happy Reading....


Dengan menggunakan ojek mang saleh, Ara memasuki area kawasan gedung gedung perkantoran. Di mana terletak sala satu gedung perusahaan yang menjadi tempat ia magang, yaitu perusahaan RA Group. Perusahaan kakak iparnya sekaligus suaminya.


"Non, gimana nih, apa nggak kena marah? Ini hari pertama Nona magang tapi malah terlambat?" kata mang Saleh cemas setelah memarkir kendaraan roda duanya.


Ara tersenyum.


"Doakan saja semua baik baik saja Mang." kata Ara tersenyum lembut.


"Iya Non, Aamiin."


"Ya udah saya masuk dulu, Mang hati hati ya ngojek nya. Saya nitip anak anak kucingnya. Nanti setelah pulang kerja saya akan mengambilnya." kata Ara sambil melebihkan ongkos."Tolong belikan makanan buat mereka."


"Baik Non." Saleh segera pergi.


Ara menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan. Menatap gedung tinggi pencakar langit di depannya. Hari pertama magang semoga di mudahkan dalam segala urusan di dalam sana. Bertemu dan berteman dengan orang orang baik, harapnya dalam doa. Lalu melangkah masuk setelah menyapa para petugas keamanan.


Ara menggunakan style untuk mahasiswa yang lagi magang sesuai peraturan perusahaan yaitu, kemeja putih batas lengan, rok hitam selutut, sepatu kerja high heels hitam ukuran 5cm, dan tas kerja.


Setelah melapor pada bagian resepsionis dia segera menaiki lift khusus karyawan, melewati puluhan lantai.


Sebenarnya ada 55 lantai RA Group, tapi hanya 5 lantai ke atas yang di gunakan untuk perkantoran, sisanya di sewakan.


Sampailah Ara pada lantai yang di tuju. Terlihat semua orang nampak sibuk. Ara menyapa sala seorang karyawan yang merupakan staf sekretaris. Niatnya ingin melapor sesuai perkataan resepsionis di bawah tadi.


"Permisi Buk, saya mahasiswa Magang..." ucapannya terpotong.


"Kenapa kamu datang terlambat? Kamu tidak baca aturan perusahaan ini? Semua pegawai dan karyawan, termasuk magang harus datang 15 menit sebelum pimpinan datang, Tapi kamu malah terlambat 20 menit." kata staf sekretaris ketus. Namanya Meri di lihat dari name tag yang terpasang pada pakaiannya. Dia menatap Ara tak suka. Apalagi melihat penampilan Ara yang cupu.


"Maafkan saya bu." ucap Ara pelan sambil menunduk.


"Mer, sudah. Nanti aja kau urus dia, pimpinan sedang menuju kemari. Hey kau, cepat berbaris rapi. Ambil posisi di belakang sana. Sebentar lagi pimpinan akan datang. Ingat, tundukan kepalamu saat beliau datang! Jangan pernah mengangkat kepalamu sebelum dia lewat, faham kamu?" kata sala seorang karyawan yang satunya.


"Baik bu, saya mengerti." kata Ara sopan.


"Cepatlah berbaris!"


Ara segera mengikuti perintah, melangkah cepat ke tempat yang di tunjuk staf sekertaris tadi. Dia segera mengatur posisi bersama karyawan golongan rendah, berdiri rapi dengan kepala menunduk, kedua tangan terpaut di depan perut.


"Hay... " bisik tiba tiba seorang gadis di sampingnya. Ara menoleh, melihat wajah manis yang sedang tersenyum kearahnya.


"Hay...." jawab Ara ikut tersenyum.


"Kamu mahasiswa magang juga ya?"


"Iya, aku baru masuk hari ini." bisik Ara.


"Aku juga mahasiswa magang. Perkenalkan namaku Sonya, aku sudah satu bulan di sini."


"Hay Sonya namaku Ara. Senang berkenalan dengan mu. Aku berharap bisa jadi temanmu di tempat ini." bisik Ara kembali merasa senang karena baru masuk kerja sudah punya teman.


Sonya mengangguk tersenyum, lalu dia meletakkan jarinya ke bibirnya.


"Ssst, presdir datang." katanya berbisik dan segera menegakkan tubuhnya. Ara segera mengikuti gerakan Sonya, tapi dengan kepala menunduk sedikit.


Derap langkah tegap beberapa pasang sepatu memasuki ruangan. Semua diam di tempat, termasuk Ara. Semakin dekat semakin terdengar jelas menghentak ubin. Dan langkah itu tiba tiba berhenti tepat didepan Sonya dan Ara berdiri.


Ara terus diam tak bergeming tak menyadari Rafa sedang menatapnya. Menatap sambil menahan rasa rindu. Sementara Sonya tersenyum di tempatnya, hatinya melonjak senang, karena pimpinan mereka sedang menatap ke arah mereka berdua.


"Sangat tampan." batinnya sangat terpukau dengan wajah tampan menawan pimpinannya yang di tumbuhi brewok tebal.


Setelah beberapa lama menatap Ara, Rafa segera melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya di ikuti oleh Moly, Wisnu dan para direktur yang juga menuju ruang kerja masing masing.


Rafa menghentak meja keras.


"Kenapa kau menghentikan ku Moly? Aku ingin memeluknya, aku sangat merindukannya. Dia ada di hadapanku, tapi kau malah mencegahku untuk memeluknya." ucapnya lirih, sedih menatap Moly.


"Dan setelah kau memeluk Nona Ara, dia akan pergi lagi meninggalkanmu. Apa itu yang kau inginkan Tuan Rafa?" jawab Moly menatapnya lekat.


Rafa membuang nafas kasar, nafasnya memburu tak beraturan. Dia sangat frustrasi melihat Ara ada di depannya tapi tidak bisa di peluk. Hanya bisa di lihat sambil menahan kerinduannya.


"Aku tidak tahan Moly, aku tidak tahan. Sebulan lebih dia menghilang dari hidupku. Sekarang dia ada di hadapanku, tapi aku hanya diam memendam segala kerinduanku padanya. Aku ingin memeluknya, aku sangat merindukannya Moly." ucapnya sendu.


Moly memegang wajah Rafa. Lalu menyapu air mata yang membasahi pipi pimpinannya ini. Ya, di kantor ini hanya Moly yang bisa menyentuh Rafa.


"Aku sangat mengerti dengan apa yang kamu rasakan Rafa, Aku tahu kau sangat menderita. Bersabarlah, kendalikan dirimu. Yang penting sekarang, Nona Ara sudah ada di depanmu. Kau sudah bisa melihat dia ada di depanmu setiap saat." Moly menenangkannya dengan lembut.


Moly juga sebenarnya sangat kasihan melihat kesedihan kakak sepupunya ini.


"Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat istrimu pergi lagi. Bersabarlah, tenangkan dirimu. Aku akan mendekatkan dia padamu." menepuk lembut tangan Rafa.


Rafa mengangguk mengerti.


"Aku keluar dulu, aku akan menemuinya. Tidak ada orang yang di kenalnya di sini selain aku. Aku akan memasang kamera CCTV di meja kerjanya biar kau bisa melihatnya setiap saat." sambung Moly kembali, menyapu air mata di pipi Rafa. Lalu dia segera keluar.


Sebenarnya saat mereka datang dan berhenti di depan Ara tadi, Rafa bergerak akan memeluknya, tapi dia cepat menghentikan niat Rafa dengan menarik jas Rafa.


Moly segera keluar. Tidak berapa lama Wisnu masuk."Apa yang di katakan oleh tukang ojek itu?" tanya Rafa menatapnya.


"Dia tidak mengetahui tempat tinggal Nona Muda. Ojek itu menjemput Nona Muda di depan toko kue, karena Nona menyuruhnya untuk datang ke tempat itu. Saya akan kembali menyelidikinya Tuan." jawab Wisnu.


Rafa mengingat kejadian saat mereka menuju kantor, mereka mengalami kemacetan di jalan raya. Yang ternyata di sebabkan oleh seorang perempuan yang menyelamatkan tiga ekor anak kucing yang terjebak di jalanan. Anak kucing yang sepertinya sengaja di buang orang sembarangan.


Rafa terkejut sekaligus senang saat melihat wajah wanita itu. Wajah wanita yang sangat di rindukan. Ara meminta maaf pada pengguna jalan karena membuat kemacetan. Rafa segera menyuruh Wisnu untuk menepi, tapi keadaan jalan yang ramai membuat mereka harus antri.


Setelah Wisnu berhasil menepikan mobil, Rafa segera turun berlari, tapi Ara dan mang Saleh sudah tidak ada di tempatnya. Dengan cepat Wisnu melarikan kendaraan untuk segera tiba di depan kantor terlebih dahulu menunggu kedatangan Ara.


Dari jauh mereka melihat Ara memasuki kawasan perkantoran dan berhenti di depan gedung RA Group. Mereka sengaja belum masuk karena menunggu kedatangan Ara untuk masuk ke dalam, mengingat Ara sudah terlambat. Setelah Ara naik ke atas barulah mereka masuk.


Ruang kerja pegawai


"Apa kau tidak membaca peraturan perusahaan ini? Seenaknya datang terlambat di hari pertama." Meri menatap tajam pada Ara. Dia kembali memarahi Ara setelah selesai penyambutan Presdir tadi.


"Maaf bu, saya sebenarnya sudah datang tepat waktu. Tapi ada saja halangan yang terjadi." Ara membela diri dengan sopan.


"Ah diam kamu, jangan membuat banyak alasan untuk menutupi kesalahanmu. Ingat, kamu tuh hanya magang di sini." sambil menunjukkan jari di depan wajah Ara. Memandang rendah pada Ara yang menggunakan kacamata tebal, rambut keriting poni tebal.


Ara hanya diam tanpa bicara lagi, karena dia memang salah.


"Wisnu pecat wanita itu, beraninya dia mengangkat tangannya di depan istriku! Sekalian patahkan jarinya." kata Rafa menahan amarah melihat adegan itu dari kamera CCTV yang terpasang di ruang kerja para pegawainya.


"Ingat, jangan sampai Ara mengetahuinya."


"Baik Tuan."


Moly datang membubarkan kerumunan staf sekretaris.


"Kenapa kalian ngumpul ngumpul seperti ini? Kembali ke tempat kerja kalian! Atau kalian sudah tidak ingin kerja lagi? Mau di pecat?" ujar Moly menatap tajam satu persatu. Mereka segera bubar menuju meja kerja masing masing. Mendengar kata pecat membuat mereka tegang. Karena sudah sebulan ini, banyak karyawan yang di pecat akibat dari suasana hati Presdir mereka yang tidak baik.


"Ini Buk, saya sedang mendisiplinkan magang karena datang terlambat. Padahal ini hari pertama dia masuk tapi sudah berulah." kata Meri melirik sinis pada Ara.


"Jaga sikapmu meski dia hanya seorang mahasiswa magang! Kau pun dulu seperti ini sebelum menduduki jabatan mu yang sekarang! Dia memang menyalahi aturan perusahaan dengan datang terlambat dan sudah pasti karena ada alasannya." Moly malah berkata ketus pada Meri.


Meri bungkam tak menjawab perkataan Moly.


"Kembalilah ke tempatmu. Aku yang akan mengurusnya." kata Moly.


"Baik bu." Meri segera berlalu.


Moly segera menoleh pada Ara dengan senyuman yang sudah mengembang di wajah."Nona Azahra Radya Almira, ikuti saya." bisiknya dengan kedipan mata. Ara mengangguk, mereka segera menuju ke ruang kerja Moly. Kepergian mereka di ikuti tatapan staf sekertaris yang merasa aneh dengan mereka yang seperti sudah dekat. Terlebih sikap Moli yang terlihat sopan pada Ara.


"Silahkan duduk, ini ruang kerja saya." kata Moly mempersilahkan Ara duduk di depannya.


Ara segera duduk."Terima kasih buk." sambil memperhatikan ruang kerja Moly.


Moly tersenyum melihatnya.


"Kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu Nona Ara?" sambil memeriksa CV Ara.


"Alhamdulillah." jawab Ara.


"Mau ku beritahukan kepada seluruh karyawan di perusahaan ini tentang dirimu?"


"Maksud ibu?" wajah Ara mengernyit tidak mengerti ucapan Moly.


"Status hubunganmu dengan pimpinan, biar mereka sopan dan menghormati anda."


"Ohh tidak bu. Memang saya yang salah. Datang terlambat di hari pertama. Lagi pula saya juga sudah tidak ada hubungan apapun dengan kakak ipar. Karena suami saya sudah meninggal." kata Ara sedikit kaget dan khawatir jika Moly mengatakan kalau status dirinya yang pernah menjadi adik ipar Rafa.


Dahi Moly mengerut.


"Bukan hubungan seperti itu yang aku maksud Nona, tapi hubungan pribadi mu dengan Tuan Ravendro.Tuan Rafa adalah suamimu, anda adalah istri Presdir, pemilik perusahaan ini." kata Moly tapi hanya sampai di tenggorokan.


"Nona jangan berkata begitu, meskipun suamimu sudah meninggal tetap saja kamu masih keluarganya. Apalagi kau masih tinggal bersama dengan Tuan Rafa bukan? Jadi anda masih tanggung jawabnya." memancing Ara untuk mengatakan tempat tinggalnya sekarang.


Ara hanya tersenyum. Tak berkomentar.


"Besok besok datanglah bersama tuan Ravendro, biar tidak terlambat." kata Moly kembali terus memancing.


Ara hanya menanggapi dengan tersenyum.


"Jadi saya tempatnya di mana?" mengalihkan pembicaraan.


Moly kecewa karena tidak mendapat informasi apapun. Rafa juga kecewa di ruang kerjanya.


"Meja kerja anda berada di luar bersama para pegawai lainnya. Tapi untuk sementara, anda duduk di ruangan saya dulu, karena saya perlu bantuan anda. Nah... duduklah di meja itu." Moly menunjukkan meja dan kursi kerja yang ada di pojok ruangan. Sengaja memang di siapkan untuk Ara.


"Baik buk." Ara segera bangkit menuju tempat itu.


"Ternyata kamu mahasiswa yang pintar dan berprestasi. Kamu juga mahasiswi yang bertalenta, aktif dalam kegiatan organisasi." masih fokus dengan cv Ara.


"Waow, hebat sekali dia. Ternyata dia mahasiswi yang sangat cerdas dan nilai akademik sangat tinggi." batin Moly melihat nilai pencapaian yang di raih Ara, nilai IPK serta prestasi dan pengalaman berorganisasi Ara yang tinggi.


Moly tiba tiba bangkit dari duduknya sambil memegang perutnya. Ara seketika melihat ke padanya.


"Nona Ara, aku ke toilet dulu sebentar. Tolong kamu baca dan periksa berkas ini apa sudah benar sesuai urutannya. Nanti kalau ada telepon masuk menanyaiku tolong di angkat. Katakan aku di toilet."


"Baik buk." kata Ara menatap bingung.


Moly segera pergi setelah meletakkan berkas di meja Ara. Ara membaca berkas itu sepeninggal Moly. Dia membaca dengan teliti sekaligus memahami bagian bagian penting. 10 menit kemudian telpon berdering.


"Selamat pagi, Ruang manager HRD RA Group di sini."


"Siapa ini?" suara dari seberang.

__ADS_1


"Maaf, saya mahasiswi magang yang baru masuk tadi pagi. Buk Moly sedang ada masalah dengan perutnya. Beliau sedang ke toilet. Ada yang bisa saya bantu pak?"


"Katakan kepadanya untuk datang ke ruangan ku, katakan dari frans Setiawan."


"Baik pak, nanti akan saya sampaikan." Telepon di tutup. Ara kembali melanjutkan bacaan sekaligus pemeriksaan pada berkas. 6 menit berlalu, telepon kembali berbunyi.


"Selamat pa..." sapaannya terputus oleh suara di seberang.


"Moly, bersiaplah, kita akan segera keluar. Sebentar lagi tender lelangnya akan di mulai. Apa kau sudah menyiapkan berkas berkasnya?" suara Rafa dari seberang.


Ara diam, mendengar suara itu. Suara pimpinan perusahaan ini. Suara suaminya yang sudah sebulan lebih tidak di dengar. Hati Ara terasa sesak. Entah perasaan apa ini.


"Halo, Moly apa kau masih di sana? Kenapa kau diam saja? Jangan bilang kalau belum menyelesaikannya." suara agak keras.


"Apa kau bisu Moly?" terdengar kesal.


Ara menelan ludah.


"Ma-maaf pak. I-ibu Moly tidak berada di tempatnya. Beliau sedang ke toilet. Perutnya bermasalah." jawabnya terbata bata.


"Akhirnya aku bisa mendengar suara mu lagi sayang, aku sangat merindukan suara lembut mu ini." batin Rafa senang memperhatikan wajah cantik istrinya dari kemera CCTV.


"Aku tunggu laporan laporan berkasnya dalam waktu lima menit ke ruangan ku. Jika tidak sampai dalam waktu yang ku tentukan, maka siapkan surat resign mu. Kau dengar itu Moly?" nada mengancam.


Telepon di tutup keras.


Ara tercengang mendengar perintah dan ancaman itu.


"Di pecat?" Dia tidak menyangka sekeras dan tegas itu Rafa di kantor.


Ara segera bangkit dari duduknya, melangkah cepat menuju toilet. Karena waktu lima menit tidak banyak.


Saat hendak mengetuk, pintu toilet di buka.


"Maaf buk..." ucap Ara kelabakan karena hampir bertubrukan dengan Moly.


Moly nampak terlihat meringis sambil memegang perutnya.


"Apa ibu baik baik saja?"


"Nona Ara, perut ku mules dan sakit. Pagi ini sudah tiga kali aku bab. Ada apa? Apa ada telpon untukku?"


"Iya, telepon pertama dari bapak Frans Setiawan. Dia meminta anda untuk segera ke ruangannya! Telepon ke dua dari pimpinan. Dia menunggu anda untuk membawakan laporan pelaksanaan lelang rumah sakit sekarang juga. Jika anda tak datang dalam waktu lima menit, maka anda harus segera menyiapkan......." perkataan Ara terhenti.


"Harus menyiapkan apa katanya?" menatap Ara penuh tanya.


"Menyiapkan surat pengunduran diri." lanjut Ara perlahan.


"Cih, keterlaluan..." umpat Moly.


"Dia memang seperti itu, salah sedikit pecat, terlambat sedikit pecat." katanya kesal.


Moly mengambil berkas yang di inginkan Rafa dan Frans tadi. Satu tangannya menekan perut yang masih mules.


"Apa ibu baik baik saja? Sepertinya ibu diare." melihat wajah Moly yang berkeringat.


"Aku gak apa apa. Aku pergi dulu. Tolong tunggu telepon yang masuk ya? Katakan aku sedang sibuk."


"Baik bu.."


Moly segera melangkah, tapi belum sempat membuka pintu, dia kembali meringis sambil memegang perutnya. Moly cepat berbalik dan meletakkan berkas ke meja.


"Nona Ara, perutku mules lagi. Aku tidak tahan, aku harus ke toilet lagi. Bolehkah aku minta tolong padamu? Antar ke dua berkas ini pada pimpinan dan juga pada pak Frans. Frans adalah direktur keuangan di sini, bolehkah kah?" meringis menekan perutnya.


"Iya iya buk, baiklah." agak ragu, tapi dia juga tak tega melihat Moly yang nampak meringis kesakitan menahan mules perutnya.


"Nanti kalau mereka menanyakan sesuatu tentang isi laporan itu, anda jelaskan saja seperti tadi anda memeriksanya. Saya yakin anda pasti bisa, karena anda orang yang cerdas. Setelah selesai dengan urusan perut, saya akan segera menyusul ke ruang pimpinan." kata Moly buru buru.


"Buk, apa tidak sebaiknya anda minum obat dulu? Saya khawatir dengan keadaan anda."


"Saya sudah memesan obatnya di apotik kantor, sebentar lagi kurir akan datang membawanya, cepatlah anda ke pimpinan dulu, setelah dari beliau anda ke direktur keuangan." Moly langsung berlari kembali ke toilet.


Ara tak membuang waktu lagi, dia segera keluar dan berjalan setengah berlari menuju ke ruang pimpinan. Pergerakannya tak luput dari tatapan karyawan. Untung saja dia sudah mengetahui ruang kerja kakak iparnya yang berada di lantai atas. Akhirnya dia tiba di depan pintu ruang kerja suaminya dengan nafas memburu cepat tak beraturan.


Pintu terbuka.


"Nona muda." ucap Wisnu kaget melihat Ara di depan pintu, dia langsung menundukkan kepala sesaat.


"Sekretaris Wisnu." mengatur nafasnya.


"Anda baik baik saja Nona?" melihat Ara yang ngos-ngosan.


Ara mengangguk.


"Saya sangat senang bisa bertemu dengan anda, saya sangat senang Nona Muda baik baik saja selama ini." kata Wisnu sambil menundukkan kepalanya kembali. Dia lega melihat keadaan Ara sangat sehat tak kurang suatu apapun.


"Aku baik baik saja, terima kasih sudah menghawatirkan diriku." kata Ara tersenyum.


Ara langsung teringat maksud kedatangannya dan juga waktu yang di berikan.


"Apa kakak ipar ...." ucapannya terputus. Kebiasaan menyebut Rafa kakak ipar hingga terbawa ke kantor. Dia sejenak menatap wajah Wisnu.


"Maksudku, apa pimpinan ada di dalam?"


"Tuan Rafa ada didalam. Nona masuk saja, silahkan. Saya permisi dulu." Wisnu menunduk, hendak pergi tapi berhenti dengan panggilan Ara.


"Sekretaris Wisnu...." panggil Ara.


"Ya Nona__." kata Wisnu setelah berbalik. Dia kembali mendekat.


"Bolehkah aku minta tolong? Tolong berikan berkas ini pada pimpinan, ini dari buk Moly." katanya pelan.


Wisnu tersenyum kecil. Dia yang sangat tahu sifat dan kepribadian Ara.


"Saya bukannya tidak mau membantu. Tapi saya juga ada pekerjaan penting dari Tuan Rafa yang tidak bisa di tunda! Nona jangan takut, masuklah. Tidak akan terjadi apa apa, percayalah pada saya, saya permisi dulu." dia menundukkan kepalanya lalu melangkah pergi.


Ara membuang nafas berat. Wisnu tidak membantunya. Jujur dia takut masuk ke dalam berhadapan sendiri dengan Rafa. Apalagi setelah turunnya dia dari rumah tanpa memberi tahu Rafa dan tidak memberi kabar sama sekali selama sebulan lebih. Dia sudah yakin Rafa pasti akan sangat marah. Kalua bukan karena pemberitahuan dari universitas tentang magang, dia tidak akan menampakkan diri di hadapan Rafa.


Ara masih berdiri di depan pintu dengan pikiran ragu, tapi dia tidak ingin berlama lama lagi mengingat waktu yang di berikan Rafa yang akan berdampak pada pekerjaan Moly.


Segera Ara mengetuk pintu tiga kali, lalu segera masuk perlahan, dan menutupnya kembali.


"Selamat pagi pak." sapa Ara. Dia melihat Rafa sedang berbicara di telepon dengan posisi membelakangi. Ara melangkah cepat ke meja kerja begitu melihat isyarat tangan Rafa yang menyuruhnya masuk. Dia berhenti dua meter tepat di depan meja kerja Rafa.


Rafa masih berbicara di telepon dengan serius. Semenit kemudian telepon di matikan


"Kamu terlambat 10 menit Moly." ucap Rafa agak keras seraya memutar kursinya.


Dan terkejut lah Rafa begitu melihat sosok di depannya. Sosok yang sangat di rindukan tampak berdiri diam dengan kepala tertunduk.


Seketika mata Rafa berkaca-kaca, sedih dan rindu melebur jadi satu. Genangan bening kristal menumpuk di kelopak matanya. Senang dan bahagia yang di rasakan melihat wanita yang sangat di rindukan kini berdiri tepat di depannya, berdiri diam tanpa menyapa dirinya.


"Kemana saja kau sebulan ini? Tak memberi kabar walau hanya sekali. Aku sangat menghawatirkan mu, aku sangat merindukanmu sayang. Aku sangat menderita dan tersiksa. Apa kau tidak dapat melihat hal itu? Aku berharap saat kita bertemu seperti ini kau akan menghampiriku, dan memelukku. Kita berdua saling berpelukan dan melepas rindu. Tapi nyatanya .....hatimu tetap masih sama dan beku." batin Rafa menatapnya tak bergeming. Dia tidak berani mengatakan secara langsung karena khawatir akan membuat Ara takut dan meninggalkannya lagi.


Sendu pilu sangat terasa di hatinya. Melihat reaksi Ara tampak biasa. Tidak seperti dirinya yang begitu Rindu, sangat khawatir, mencari keberadaannya seperti orang gila. Bongkahan kristal itu jatuh merembes di pipinya. Dengan cepat dia menyapunya, melihat Ara melangkah mendekat meletakkan berkas laporan di meja.


Tapi Rafa lega, melihat cincin pernikahan mereka terpasang di jari manis Ara, bersama dengan cincin pernikahannya dengan Raka.


"Maaf Tuan Ravendro. Buk Moly tidak bisa datang. Beliau sedang ada masalah dengan perutnya. Sudah 4 kali beliau bolak balik toilet, tolong maafkan dia. Saya di minta untuk mengantarkan berkas ini. Dan saya minta maaf atas keterlambatan saya." ujar Ara masih dengan tatapan menunduk tak melihat pada wajah Rafa.


Rafa terhenyak mendengar kata terakhirnya


"Tuan Ravendro? Hah? Dia bahkan seformal itu memanggil namaku yang notabenenya adalah suaminya?" batin Rafa kembali.


"Kau memanggilku apa? Tuan Ravendro?" tanya Rafa.


Ara menelan ludah.


"Aku suamimu Ara. Bersikaplah biasa padaku!"


Ara diam tak menjawab. Terus diam dengan pandangan ke bawah menghindari tatapan Rafa. Hanya kedua tangan yang sudah saling meremas di bawah sana.


Rafa menggerutu dalam hati, kesal. Dia tidak bertanya lagi karena tidak ingin membuat Ara takut dengan melihat pergerakan tangan Ara. Dia tahu saat ini Ara sedang dalam mode takut.


"Kalau Moly tidak bisa datang, lalu bagaimana dengan penjelasan mengenai isi laporan ini?"


Rafa bangkit sambil meraih kedua berkas itu.


Dia berjalan mendekati Ara. Ara mundur melihat pergerakan Rafa yang mendekatinya.


Dia hanya ingin waspada menjaga diri dari amukan kemarahan Rafa.


"Tadi saya sempat membaca dan memeriksa berkasnya. Buk Moly juga sudah menjelaskan beberapa bagian pentingnya. Saya akan menjelaskan pada bapak, kalau bapak tidak keberatan." kata Ara sopan dan ramah masih terus menunduk.


Rafa kembali kaget dengan ucapan itu. Bapak? Dia tersenyum tipis.


"Tadi kau memanggilku Tuan dan sekarang Bapak!"


"Maaf, itu sebagai penghormatan saya sebagai karyawan magang terhadap pimpinan! Bukankah harus seperti itu? saya hanya ingin bersikap profesional!" kata Ara menjelaskan. Meski dia adalah istri dari Rafa tapi dia tetap ingin bersikap profesional karena ini di kantor bukan di rumah.


Rafa kembali tersenyum. Dia melangkah mendekati Ara. Ara bergerak mundur, deg degan. Dia kaget saat punggungnya menabrak pintu.


"Tuan ___!" ucapnya terbata.


Rafa berhenti tepat setengah meter di depannya."Masih tetap tidak mau menatap ku juga rupanya!" batin Rafa tersenyum. Dia tahu sikap Ara yang terlalu takut melihat wajahnya.


"Nona Azahra Radya Almira. Mahasiswi cerdas, terbaik dengan segudang prestasi. Mahasiswi kebanggaan universitas, memiliki dan sangat di idolakan oleh seantero kampus ternyata tapi tidak memiliki etika dan sopan santun." ucap Rafa menekan setiap kata demi kata.


Sontak saja Ara mengangkat wajah dan mendapati wajah datar Rafa yang sedang menatapnya.


Sedangkan Rafa tersenyum dalam hati di balik tatapan datarnya itu." Akhirnya dia melihat lawan bicaranya." batinnya.


Sementara Ara yang begitu melihat wajah Rafa tak berkedip sama sekali melihat wajah pimpinan sekaligus suaminya ini. Wajah tirus di tumbuhi brewok tebal, juga rambutnya yang gondrong. Bukan hanya itu, tubuh ini tampak kurus. Perubahan luar biasa dapat di lihat saat dia meninggalkan Rafa dan Rafa yang sekarang. Apa penyebab perubahan itu karena dirinya? batinnya. Entahlah, saat ini Ara merasa sedih dan bersalah sebagai seorang istri dengan melihat perubahan bentuk tubuh Rafa.


"Maaf ___!" tiba-tiba saja terlontar kata itu. Entah jawaban untuk dirinya yang tidak sopan atau karena dulu pergi meninggalkan Rafa tanpa pamit.


"Ya, aku tahu jawaban mu pasti MAAF!" kata Rafa.


Ara segera memutus kontak tatapan mata mereka dengan melihat ke sebelah.


"Jelaskan padaku sekarang juga, karena waktunya tidak banyak lagi bila masih menunggu Moly." kata Rafa melihat remasan tangan yang semakin kuat. Dua tangan itu memerah.


Dia lebih suka Ara yang menjelaskan dari pada Moly.


"Aku juga masih ingin menatap wajahmu lebih lama lagi sayang. Aku sangat merindukan wajah manis mu, mata teduh mu, tatapan lembutmu, suara lembut mu." kata Rafa kembali tapi hanya putus di tenggorokannya.

__ADS_1


Dia berjalan menuju sofa dan meletakkan berkas ke meja. Lalu duduk.


"Sekarang jelaskan dengan rinci dan cepat." kata Rafa menatapnya.


Ara mendekat, dan segera membuka berkas laporan pertama. Dia mulai menjelaskan tanpa duduk. Posisi berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Apa kau tidak capek berdiri terus? Duduklah. Mataku juga pusing melihat pergerakan tubuhnya ke atas ke bawah." kata Rafa beberapa saat. Bukan karena dia pusing, tapi karena dia tidak ingin Ara capek berdiri terus.


Rafa membuang nafas panjang, lalu menyandarkan punggungnya sambil menutup matanya dengan kedua tangan.


Ara menelan ludah, memperhatikan wajah yang tertutup kedua tangan kekar. Lalu segera duduk di samping Rafa, meletakkan laporan ke pangkuannya.


"Apa bisa kita mulai tuan?" tanya Ara pelan melihat pada Rafa.


Rafa menurunkan kedua tangannya dan meluruskan punggung.


Ara kembali tak berkedip melihat wajah itu. Wajah ini terlihat berantakan dan juga sedikit pucat. Mengingatkan Ara pada wajah almarhum suaminya yang sering pucat karena sakit.


Merasa di perhatikan, Rafa pun menoleh ke samping, melihat pada ada Ara. Membuat mereka saling menatap. Kesempatan itu di pergunakan Rafa menatap dalam-dalam mata teduh yang sangat di rindukan ini. Hatinya tenang melihat mata teduh menenangkan ini.


"Tuan A-apa anda ......" Ara tak berani meneruskan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku kenapa?" tanya Rafa tanpa mengalihkan tatapannya. Dia terus menatap wajah Ara. Menatap rambut, mata, kedua pipi, hidung, bibir dan dagu yang sangat di rindukan. Sungguh dia sangat ingin menyentuh semua bagian wajah istirnya ini, mengecup dan menciumnya. Ingin sekali dia memeluknya, merengkuh tubuh Ara, melepas segala kerinduannya.


Perlahan dia menyentuh tangan Ara.


"Sayang __!"


Ara kaget dan segera menarik tangannya. Dia menggeser tubuhnya sedikit ke belakang.


Rafa kecewa. "Kenapa kau menggantung ucapan mu? Apa yang ingin kau katakan?" tanyanya kembali menghadapkan tubuhnya pada Ara.


Ara menoleh, melihatnya.


"A-apa anda baik baik saja? Wajah anda terlihat pucat Tuan." kata Ara perlahan.


"Apa kau mencemaskan ku?" Rafa balik bertanya, menerka hati Ara apa masih perduli pada dirinya.


Ara menelan ludahnya, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan.


"Sayang....!" ucap Rafa, secepatnya mendekat dan memeluk Ara."Aku sangat merindukanmu!" katanya sendu. Menyesap aroma wangi tubuh yang sangat dirindukan.


Ara melepaskan kedua tangan kekar itu dari tubuhnya. Lalu meringsut mundur.


"Sayang....!" Rafa kecewa dan sedih dengan penolakan itu.


Tapi dia tidak bisa memaksakan diri untuk menyentuh. Karena di lihatnya Ara mulai takut lagi.


Suasana hening seketika. Ara diam sambil memegang kedua tangannya. Rafa masih terus menatapnya tak bergeming, menatap dengan kerinduan.


Pintu di ketuk, masuklah Wisnu.


"Maaf Tuan, Nona Muda." menundukkan kepalanya. Lalu menyerahkan ponsel pada tuannya.


"Siapa?" tanya Rafa.


"Si kembar menelpon ingin bicara dengan


anda." Lalu dia segera pamit keluar.


Ara tertegun mendengar ucapan Wisnu.


"Cio Cia" batinnya lirih teringat pada kedua bocah yang sangat di rindukan itu.


"Penjelasannya sudah cukup. Kau boleh keluar. Suruh Moly kemari jika perutnya sudah baikan." kata Rafa padanya. Dia tidak ingin membuat Ara ketakutan berada dekat dengan dirinya.


"Aku terima telepon dulu." katanya lagi. Lalu beranjak berdiri menjauh dari Ara.


"Halo kesayangan Daddy." memulai pembicaraan dengan Cio, karena suara bocah itu yang terdengar di telinganya. Tidak menyadari Ara mengikuti dari belakang.


"Daddy.... Daddy." panggilan Cio dari seberang.


Hati Ara terenyuh sedih mendengar suara polos itu. Meski tak terpasang speaker, Ara masih bisa mendengar suara Cio walau hanya kecil. Sungguh dia sangat rindu dengan kedua bocah itu, wajah wajah polos mereka, canda tawa dan jahilnya mereka. Rindu bermain, belajar, tidur bersama, shalat bersama, mengaji bersama dan juga hal lainnya yang sering dia lakukan bersama.


Mata Ara basah.


"Kalian sudah makan?" tanya Rafa tanpa menyadari keberadaan Ara di belakangnya.


"Sudah Daddy, tapi Cia gak mau makan." kata Cio.


"Kok gak makan? Kenapa lagi? Apa makanannya gak enak?"


"Bukan Daddy, Tapi Cia gak bisa nelan. Cia nanya ante Ara terus. Cia gak mau makan kalau gak di suapin sama ante Ara. Tadi Cio juga nggak bisa nelan, tapi Cio paksai. Kata pak Sam ante Ara gak akan pulang jika kami gak makan." kata Cio sedih dengan suara serak.


"Nanti sakit lagi sayang, makan ya? Daddy janji akan beliin mainan yang banyak untuk kalian. Kita akan jalan jalan keluar kemana pun kalian suka. Sekarang makan ya?" Rafa menelan ludah pahitnya. Ikutan sedih.


"Cia gak mau mainan. Cia mau ante Ara, kapan ante Ara kembali? Udah lama ante gak pulang, Cia sangat rindu sama ante. Apa ante nggak rindu sama kita? Apa ante sudah lupa pada kita? Apa ante juga akan pergi lama dan meninggalkan kita sama seperti paman Raka ?" Kata Cia dari seberang sambil menangis.


"Ante Ara... Ante Ara.....Hiks, hiks.... Cia rindu Ante." Cia menangis.


"Ante juga sangat rindu pada kalian sayang, Ante sangat merindukan kalian." kata Ara tanpa sadar sambil terisak isak menangis setelah mendengar ucapan Cia. Apalagi mendengar kalimat Rafa yang mengatakan anak itu sakit, hatinya sangat sedih, sakit dan merasa bersalah.


Rafa segera berbalik mendengar perkataan itu. Dia terkejut melihat Ara di belakangnya dengan wajah bersimbah air mata sambil menutup mulutnya.


"Ara?" katanya setelah menjauhkan ponsel dari mulutnya agar tidak di dengar si kembar. Dia mengira Ara sudah keluar, karena tadi sudah di perintahkan untuk keluar. Ternyata Ara malah berdiri di belakangnya. Dia mengira Ara sudah tidak menyayangi dan tidak perduli pada Cio dan Cia. Karena sejak pergi dari rumah, Ara tidak pernah menghubungi si kembar, juga tidak memberi kabar pada mereka. Sementara si kembar sangat merindukan dirinya, bahkan keduanya sampai jatuh sakit karena tidak mau makan dan merindukan dirinya. Cia lebih parah sakitnya. Mereka juga jarang ke sekolah. Yang di mulut mereka hanya menanyakan kapan Ara pulang....di mana Ara berada.


Nesa dan Rafa memberi alasan kalau Ara sedang studi banding di luar negeri. Pergi tiba tiba dengan teman teman kampus, dan


pulang dalam jangka waktu yang tidak bisa di tentukan.


Tapi alasan yang mereka berikan tidak membuat si kembar puas karena setiap mereka meminta untuk menelpon Ara. Tapi keduanya tidak bisa memenuhi keinginan si kembar.


"Maafkan ante sayang, maafkan ante." Air mata Ara semakin banyak mengalir di kedua pipinya. Bahunya sampai terguncang.


"Cio Cia, nanti Daddy telepon lagi ya? Daddy mau telepon Ante dulu." kata Rafa pada si kembar.


"Benar Daddy? Apa Ante Ara sudah bisa di hubungi?" si kembar melonjak senang.


"Iya, sekarang Cia makan ya?"


"Baik Daddy, Cia akan makan yang banyak. Cepat hubungi ante Ara ya? Minta Ante pulang. Dan katakan kami rindu. Da-da Daddy." katae keduanya.


Rafa segera mematikan telepon dan menaruhnya di saku.


"Ara ....tenangkan dirimu." menurunkan tubuhnya. Karena saat ini tubuh Ara sudah berlutut di lantai.


"Tuan, Apa Cio dan Cia sakit?" tanya Ara menatap Rafa. Rafa diam tak menjawab, dia ikut menatap Ara dengan tatapan sedih.


Ara semakin terisak Isak.


"Maafkan Ante sayang, maafkan Ante." Ara semakin bersalah dan menyesal.


Rafa memberanikan diri menyapu air matanya"Tenangkan dirimu!"


"Aku yang membuat mereka sakit. Aku yang salah." kata Ara semakin terisak. Dia bangkit berdiri. Rafa membantunya.


"Ara, berhentilah menangis, Cio dan Cia baik baik saja. Mereka hanya merindukan dirimu." katanya menenangkan. Dia kembali menyapu air mata istrinya yang semakin banyak membasahi kedua pipinya. Tapi basah lagi karena air mata Ara yang tidak berhenti mengalir.


Pintu terbuka, lalu masuklah Moly. Moly terkejut melihat Ara yang menangis.


"Nona Ara, kau kenapa?"


Ara terus tak menjawab.


Moly menoleh pada Rafa.


"Nona Ara." ucap Moly memegang tangannya.


"Saya mau keruangan Anda. Maaf, saya belum ke ruangan pak Frans." kata Ara sesenggukan.


"Tidak masalah, aku yang akan menemuinya. Sekarang tenangkan dirimu. Kalau kau keluar dengan keadaan seperti ini akan menarik perhatian semua karyawan." kata Moly.


Ara berusaha berhenti menangis, tapi air matanya tidak mau berhenti keluar.


"Sayang, lebih baik kau di sini saja tidak perlu keluar. Kalau kau tidak nyaman dengan keberadaan ku, aku akan keluar!" kata Rafa. Rafa tidak ingin Ara menjadi gosip seantero perusahaan.


"Aku mau ke ruangan bu Moly." jawab Ara tersendat sendat.


"Ya sudah kalau itu maumu. Moly temani Ara ke ruangan mu! Aku tidak mau dia menjadi pusat perhatian orang jika berjalan sendiri dengan keadaannya seperti ini." kata Rafa. Keduanya segera keluar. Ara sekuat hati menahan air matanya untuk tidak jatuh.


"Aku tinggalkan nona di sini. Kalau ada yang ketuk jangan di buka, Kalau ada yang telpon jangan di angkat." kata Moly begitu mereka tiba di ruangannya.


Ara hanya mengangguk dan segera duduk di sofa, lalu menenggelamkan wajah di kedua lututnya, dia kembali menangis tersedu-sedu memikirkan Cio dan Cia.


Moly membuang nafas panjang, lalu segera keluar setelah mengunci pintu, menuju ruang kerja Rafa.


"Ada apa bos? Kenapa dia menangis? Apa kau menyakitinya lagi?"


Rafa membuang nafas berat.


"Dia merindukan si kembar. Tadi Cio dan Cia menelpon ku. Tanpa ku tahu dia mendengarkan pembicaraan kami. Aku sudah menyuruhnya keluar, tapi ternyata dia berdiri di belakang ku dan mendengar suara si kembar yang menangis merindu kan dirinya." jelas Rafa.


"Kalau Ara masih perduli, sayang dan merindukan si kembar, kenapa dia tidak pulang dan menemui anak anak itu?" ujar Rafa kembali bingung. Dia Tidak mengerti kenapa Ara tidak kembali ke rumah dan malah tinggal entah di mana.


"Apa kalian sudah tau tempat tinggalnya?"


tanya Moly.


Rafa menggeleng."Wisnu sedang mencari tahu."


Moly tanpa canggung mengambil ponsel Rafa di saku celana pria itu. Dia melihat video yang sedang berlangsung di ruang kerjanya. Lalu di perlihatkan pada Rafa.


"Lihatlah istrimu." katanya pada Rafa.


Rafa segera melihat layar ponselnya. Terlihat Ara sedang menangis tersedu-sedu menyebut nama Cio dan Cia. Tangannya memegang ponsel, melihat foto si kembar pada galeri.


"Maafkan Ante sayang, maafkan Ante." meraba raba wajah anak anak itu lalu mengecupnya."Ante juga sangat merindukan kalian. Setiap hari, setiap saat, setiap shalat ante selalu mengingat kalian, mendoakan kalian. Sungguh Ante merindukan kalian." kembali menangis tanpa henti mengecup wajah bocah-bocah itu.


"Maafkan ante, maafkan ante nak membuat kalian sakit."


Rafa terenyuh melihatnya."Pulanglah kalau kau merindukan mereka, aku mohon pulanglah Ara." katanya sendu.


Bersambung


Terima kasih bagi yang sudah mampir dan memberi dukungan πŸ™πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2