Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 184


__ADS_3

...Happy Reading....


Saat istrahat tiba.


"Ra...." panggil Sonya mendekati Ara saat waktu istirahat


"Ya Sonya." jawab Ara.


"Ke kantin yuk sama-sama." ajak Sonya.


"Oke......yuk" Ara mengiyakan meski sejujurnya dia tidak lapar dan gak nafsu setelah tahu keadaan si kembar tadi. Dia kepikiran terus pada ke dua bocah itu.


Keduanya segera menuju kantin perusahaan yang berada di lantai 43. Mereka memilih makanan dan minuman sesuai selera, lalu mencari tempat duduk dan meja dipojok dekat jendela.


"Kamu nggak ambil makanan?" tanya Sonya melihat Ara yang hanya memegang minuman.


"Aku nggak lapar." kata Ara memberi senyum sekilas.


"Nggak lapar atau nggak nafsu makan ?" Sonya menatapnya tersenyum.


"Maaf lo Ra, tadi aku sempat melihatmu ke ruang buk Moly seperti habis nangis gitu. Karyawan lain juga melihat mu." Sonya mendekatkan wajahnya di depan Ara."Mereka gosipin kamu. Katanya kamu habis dari ruangan kerja presdir dan kamu di marahin karena terlambat tadi pagi. Makanya kamu nangis," katanya berbisik.


Ara tersenyum mendengarnya. Dia kembali menyeruput minumannya lewat sedotan.


"Benar ya Ra kamu menangis karena di marahin presdir?" tanya Sonya kembali.


Ara tak menjawab dan hanya menatapnya sambil tersenyum.


Sonya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ra, gimana wajah Presdir di lihat dari dekat?"


Dahi Ara mengerut.


"Pasti sangat tampan bukan? Dari jauh aja udah keliatan banget gagahnya." kata Sonya kembali.


Ara kembali menanggapi dengan senyuman.


Hal itu membuat Sonya kesal."Jangan senyum senyum terus dong Ra, jawab dong....!" wajah manyun. Dari tadi pertanyaannya hanya di jawab dengan senyuman.


Senyum Ara merekah" Iya, sangat tampan!"


"Tuh kan benar. Kamu beruntung banget bisa melihat wajah Presdir secara langsung. Aku udah sebulan di sini belum pernah masuk ke ruang kerjanya dan melihatnya wajahnya dari dekat. Padahal aku ingin sekali melihat wajah tampannya yang seksi dan mempesona itu. Dia semakin tampan dan gagah dengan berewoknya itu. Pengen banget aku masuk ke ruangan nya. Apa aku harus buat pelanggaran dulu ya biar bisa ke sana dan melihatnya dari dekat?" celetuk Sonya sambil berimajinasi membayangkan wajah tampan Rafa.


"Besok aku akan datang terlambat, biar bisa masuk ke ruang kerja pimpinan dan melihat wajahnya secara langsung dari dekat." celetuknya lagi.


Ara kembali tersenyum mendengarnya. Tak ada rasa cemburu pun saat suaminya itu di kagumi dan menjadi khayangan para wanita. Melihat tingkah laku Sonya, dia teringat pada Ines dan Cindy. Rasa rindu muncul di hatinya mengingat kedua sahabat karibnya itu.


"Udah tampan, tajir lagi. Beruntung banget wanita yang bisa menjadi kekasihnya. Apalagi menjadi istrinya. Bisa nyentuh dan mandangin tubuhnya yang proposional itu setiap saat. Pengen banget gue nyentuh otot otot bisep setiap bagian tubuhnya, bikin aku halu terus Ra. Aku dengar dari para karyawan, presdir belum menikah. Masih singel loh Ra. Gua pengen mendaftar jadi kekasihnya." ujar Sonya kembali terus membayangkan tubuh kekar Rafa sambil senyum-senyum malu.


Ara hanya mendengar dengan senyum tak lepas dari wajah.


"Tapi Ra ...." ucap Sonya kecewa.


"Tapi kenapa?" tanya Ara melihat wajah datar Sonya.


"Aku dengar dia sudah punya kekasih. Wanita cantik, seksi bernama Levina, sala satu model tanah air terkenal Itu itu lho Ra. Kamu tahu nggak?"


Ara mengangguk."Jadi itu yang bikin kamu kecewa?"


Sonya mengangguk cemberut.


Tatapan matanya teralihkan pada cincin di jari manis Ara."Ra, cincin kamu bagus banget, ini dari emas putih berlian 24 karat loh Ra." Katanya seraya menyentuh kedua cincin itu di jari Ara. Begitu halus dan sangat lembut.


"Aku sangat tahu ini harganya mahal dari hanya menyentuhnya saja. Aku pernah membaca dan melihat di tabloid majalah khusus emas berlian seperti punyamu ini."


Ara tak menjawab, hanya wajahnya saja yang mengernyit mendengar. Karena dia tidak tahu menahu mengenai kedua merek dan harga dari kedua cincin pernikahannya ini.


"Apa ini pemberian kekasihmu?" tanya Sonya.


Ara mengangguk sambil memperbaiki kaca matanya. Dia membuka ponselnya, mencari kontak Ines dan Cindy, mengirim pesan pada kedua sahabatnya itu. Mengirim emoticon rindu dan ingin bertemu. Lalu menyimpan benda pipih itu. Dia segera menghabiskan sisa minuman nya.


"Sonya, aku duluan ya? Aku mau shalat dzuhur, takut waktunya keburu habis." katanya begitu Alarm shalat Dzuhur pada ponselnya bergetar.


"Oh iya Ra, pergilah. Kamu duluan saja." kata saja sambil melihat jam di tangannya.


"Benar gak apa-apa?"


"Gak apa kok, santai saja. Lagi pula waktu istirahat tinggal sedikit. Kamu harus segera, supaya nggak terlambat lagi untuk masuk kerja siang."


"Baik Son, terima kasih atas pengertiannya.


Aku pergi dulu." Ara segera bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dengan terburu-buru masuk ke dalam lift menuju lantai 54 di mana terletak ruang shalat yang di sediakan untuk tempat ibadah para karyawan.


Sonya menatap kepergiannya penuh tanya.


"Orangnya baik dan ramah. Bicaranya hanya yang penting penting saja. Sepertinya dia bukan dari kalangan biasa. Siapa dia? Dan siapa kekasihnya? Sepertinya tajir melintir dan bukan orang sembarangan. Aku bisa tahu itu dari kedua cincin yang ia kenakan. Emas berlian berwarna putih bening dengan transparansi paling tinggi, yang harganya hingga mencapai setinggi langit." gumamnya.


Sonya dapat mengetahui hal itu karena dia sudah dua kali di ajak oleh orang tuanya dalam acara bazar perhiasan dari semua jenis emas, termasuk emas putih berlian elegan dan mewah, yang hanya di hadiri oleh para pengusaha konglomerat. Tidak banyak orang yang bisa memiliki perhiasan merk mewah dan terkenal itu. Perhiasan termewah menduduki peringkat teratas sebagai merek cincin berlian termahal, karena barangnya termasuk langka. Jika ingin memiliki benda mewah dan cantik itu, harus memesannya terlebih dahulu dan harus sabar menunggu sampai 1 bahkan 2 tahun. Dan cincin indah dan mewah itu yang sekarang di pakai Ara. Yang harganya mencapai puluhan bahkan ratusan miliar.


*


*


Jam 5 sore para karyawan nampak mulai pulang satu persatu. Ara juga segera menaiki lift berbaur bersama karyawan lainnya. Setelah sampai di bawah dia langsung keluar terburu buru menuju ojek mang Saleh.

__ADS_1


"Udah pulang Non?"


"Iya mang." sambil menerima helm dari tangan Saleh, lalu di pakainya. Setelah itu dia naik. Perlahan Saleh melajukan motornya setelah mendapat isyarat dari Ara.


"Nona mau di antar kemana? Apa ke rumah almarhum suami Non ?"


"Nggak Mang, ditempat waktu mang jemput aku tadi pagi."


"Baik Non! Oh ya Non...apa kucingnya sudah sampai di panti?"


"Sudah mang, tadi ustadz Arif menghubungi aku."


"Oh syukurlah Non."


Ara tadi menghubungi Narto untuk mengantar kucing itu ke panti asuhan. Karena di sana ada satu bangunan yang di sediakan untuk menampung kucing kucing buangan.


Tak berapa lama, mereka berhenti di toko kue.


Ara segera turun, menyerahkan helm dan juga ongkos.


"Makasih ya Mang."


"Sama sama Non. Mang pergi dulu." Saleh segera beranjak pergi setelah mendapat anggukan kepala dari Ara.


Saat hendak berbalik, tanpa sengaja mata Ara menangkap sosok yang di kenalnya, Ucil.


Sopir pribadi si kembar, sedang menurunkan pelanggan di pinggir jalan.


"Mang Ucil kok naik ojek online?" gumamnya heran. Karena keinginannya untuk menanyakan si kembar, maka Ara melangkah mendekati Ucil.


"Mang Ucil." panggilnya agak keras melihat si ucil lepas standar. Ara berlari kecil.Tapi si Ucil tak mendengar karena kepalanya tertutup helm, dan mulai menjalankan motornya.


"Mang Ucil tunggu ...." Ara semakin cepat berlari. Tanpa di sadari ada sebuah mobil dari belakang melaju cepat ke arahnya.


"Ara.....awas." teriak seseorang dari belakangnya. Orang itu berlari cepat ke arahnya.


"Ara....Ara awaaaass...Aaraaaa...." teriaknya keras dan semakin cepat berlari.


Ara sempat mendengar teriakkan itu, dia menoleh kebelakang. Di lihatnya sebuah mobil melaju kencang kerahnya. Ara terkejut dan menjerit di tempatnya sambil mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri. Sebelum mobil itu menghantam tubuhnya, sebuah tangan kekar menarik kuat dirinya ke samping. Mereka jatuh terguling di tanah. Dahi Ara membentur batu. Matanya berkunang-kunang. Tapi dia masih dapat melihat wajah di depannya. Kemudian dia pingsan.


"Ara....Ara, bangun Ra." si penyelamat menepuk kedua pipinya setelah dia sendiri berusaha bangun. Orang orang berhamburan ke arah mereka. Laki laki itu segera mengangkat tubuh Ara dan membawa ke mobil secepatnya sebelum jadi pusat tontonan. Lalu secepatnya menancap gas meninggalkan tempat itu.


Sementara di tempat pelelangan.


"Tuan, Nona muda kecelakaan. Orang kita yang mengikuti Nona baru saja menelepon." bisik Wisnu.


"Apa?" Rafa tersentak kaget. Suaranya sampai menarik perhatian para pesaingnya. Saat itu itu dia sedang mengikuti acara lelang di suatu perusahaan. Dengan cepat dia bangkit dan berlari keluar menuju mobil.


"Terus bagaimana keadaannya?" sangat cemas jantung berdetak kencang.


"Siapa yang berani mencelakai istriku?


Dan siapa yang telah membawanya pergi ?"


"Kita akan mencari tahu tuan. Mungkin saja ada CCTV yang terpasang di tempat itu."


"Lebih cepat Wisnu. Apa kau sudah mendapatkan nomor telepon Ara yang baru?"


"Belum tuan."


Rafa mengeram keras. Semakin khawatir, gelisah tidak tenang di tempat duduknya.


Seharusnya dia mengantar Ara pulang dan tidak mengikuti acara lelang tender itu. Wisnu segera menghubungi Rizal untuk mengetahui keberadaan nona mudanya di rumah sakit, dia juga menelpon beberapa rumah sakit yang ada di kota itu. Siapa tahu Ara sudah di bawah ke rumah sakit. Tapi Rizal mengatakan tidak ada. Dia sendiri malah kaget dan panik.


Tidak lama keduanya tiba di lokasi kejadian. Untung saja ada kamera CCTV yang terpasang di depan toko kue dan di pohon besar.


"Tuan, Nona sedang mengejar Ucil, bekas sopirnya si kembar." Wisnu memperlihatkan rekaman video saat Ara mengejar Ucil.


"Dan sepertinya Nona bukan kecelakaan, tapi memang sengaja ingin di tabrak. Lihatlah ini Tuan." Wisnu kembali memperlihatkan sebuah mobil yang berusaha ingin menabrak Ara yang sudah menepi di pinggir jalan. Mobil itu sengaja ingin menyambar Ara.


Sementara di belakang Ara terlihat seorang laki laki memakai topi hitam berlari kencang mendekati Ara sambil berteriak-teriak memanggil memperingatkan Ara. Dan pada saat bagian depan mobil akan menabrak Ara, laki laki itu menarik cepat tubuh Ara ke samping. Mereka berdua jatuh terguling. Kepala Ara membentur batu, lalu laki laki itu segera mengangkat tubuh Ara saat orang mulai berdatangan.


Sementara mobil yang sengaja ingin mencelakai Ara kabur melarikan diri. Tidak terlihat wajah si pengendara karena semua kaca mobil tertutup dan memakai kaca mobil gelap yang tidak bisa di tembus mata dari luar.


"Bajingan, brengsek. Siapa yang berani mencelakai istriku?" Rafa meninju jok mobil dengan keras, rahang bergetar menahan amarah.


"Periksa dengan teliti wajah bajingan itu dari kaca depan. Cek juga plat nomornya. Hubungi orang orang kita yang ada di kepolisian untuk menyelidiki kasus ini secepatnya. Bawah segera bajingan yang berani mencelakai istriku ke hadapanku secara hidup hidup." menatap tajam penuh kemarahan pada Wisnu.


"Baik Tuan."


Tidak lama para petugas kepolisian datang. Mereka segera melakukan olah TKP setelah menyapa Rafa. Wisnu segera menyerahkan semua bukti dan petunjuk guna memperlancar proses penyelidikan kepada komandan polisi.


"Tuan Rafa ingin secepatnya pelakunya tertangkap dan di bawah dihadapannya hidup hidup, kau mengerti?" kata Wisnu pada komandan kepolisian.


"Baik tuan." kata kepala komandan itu patuh dan sigap.


Wisnu segera masuk ke dalam mobil menyusul tuannya, lalu menjalankan mobil ke jalan raya.


"Tuan, orang yang menyelamatkan dan membawa Nona muda pergi adalah ......" Wisnu menggantung ucapannya karena terpotong oleh perkataan Rafa.


"Brengsek, berani sekali kau membawa kabur istriku Dionel Raymond Alkas." mengepalkan kedua tinjunya kuat. Rahangnya yang mengeras menahan Amarah.


"Kau memang sudah menyelamatkan istriku. Tapi tidak seharusnya kau membawa kabur dirinya dan menyembunyikannya dariku." kembali mendengus geram. Dia ingat pewaris tunggal DRA group itu, yang mewakili Raymond Alkas sewaktu mengikuti pertemuan penting di London setahun lalu. Bahkan mereka saling menyapa ketika Raymond Alkas memperkenal kan putra tunggalnya dan sebagai pewaris tunggal DRA group kepada mereka semua yang hadir.


"Hubungi Raymond Alkas, jika anaknya tidak mengembalikan Ara kepadaku dalam waktu 30 menit, aku akan membuat perhitungan dengannya. Bukan hanya dengannya tapi juga usaha bisnisnya."

__ADS_1


"Baik Tuan."


Wisnu segera mengambil ponselnya dan mencari kontak pemilik DRA group itu.


Sebuah apartemen mewah.


Dion keluar dari kamar mandi, mengecek sejenak pada tempat tidur, melihat Ara. Lalu segera menuju Walk In Closet untuk berpakaian. Kemudian kembali lagi ke kamar, berdiri di depan tempat tidur, menatap tubuh ramping Ara yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjangnya. Dokter pribadi Dion sudah memeriksa kondisi keadaan Ara. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Ara baik baik saja, hanya dahinya yang memar sedikit karena membentur batu. Tidak terjadi cidera buruk pada kepalanya.


"Siapa yang ingin mencelakai mu? Untung saja aku datang tepat waktu." gumam Dion pelan.


Saat itu dia sedang mengadakan meeting di perusahaannya. Informasi yang di berikan Cindy mengatakan keberadaan Ara yang magang di RA' Group. Dia sangat senang,


karena sebulan ini dia mencari Ara. Dia segera pergi ke perusahaan RA group untuk menunggu Ara pulang. Dia menunggu Ara di seberang jalan depan perusahaan RA Group.


Saat Ara pergi dengan ojek saleh, dia mengikuti dari belakang. Dia bisa saja mengajak Ara pulang naik ke mobilnya, tapi di lihatnya terlalu banyak anak buah Rafa mengawasi dan mengikuti Ara sembunyi-sembunyi. Saat Ara turun di depan toko kue, dia juga segera turun lalu berjalan mendekati Ara karena tidak sabar untuk menemui gadis itu. Di lihatnya Ara sedang berlari mengejar seseorang. Dia terkejut melihat sebuah mobil melaju kencang dari belakang mendekati Ara dengan sengaja untuk mencelakainya. Untung saja dia lebih cepat meraih tubuh Ara sebelum mobil itu menghantam Ara.


Perlahan Dion naik ke tempat tidur, duduk di pinggir ranjang, mengamati wajah manis yang tertidur lelap dengan bulir bulir keringat di pipi putihnya yang mulus. Dion mendekatkan tubuhnya lebih dekat, perlahan jari telunjuknya menyentuh lembut pipi Ara. Dion tersenyum.


"Aku sangat ingin memiliki dirimu Nona muda Raka Artawijaya." bisiknya pelan. Perlahan melepas kaca mata Ara. Dia menopang sala satu tangannya di dagu, menatap tak bergeming pada mata yang sedang terpejam.


"Meski kutahu kau adalah seorang janda dari Raka Rahardian Artawijaya, kadar cintaku sama sekali tidak berkurang. Aku malah semakin mencintaimu dan ingin memiliki dirimu." mengusap lembut pipi Ara, terus berlanjut ke bibir Ara.


"Kak Raka." tiba tiba Ara mengigau menyebut nama Raka. Kepalanya bergerak, wajahnya terlihat gelisah dan berkeringat.


Wajah Dion mengernyit "Raka?"


"Sepertinya dia sedang mimpi suaminya."


"Kak Raka, kakak." ucap Ara dalam tidurnya. Dia memegang tangan Dion yang sedang menumpu, membuat Dion hilang keseimbangan. Tubuhnya jatuh, Wajahnya langsung mengenai wajah Ara. Karena posisi wajahnya yang sangat dekat saat mengamati wajah Ara tadi.


"Ara.." ucap bibirnya pelan, yang saat ini bersentuhan dengan bibir Ara. Jantung Dion berdetak kencang.


"Kak Raka jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Ara kembali mengigau sedih.


"Tidak Ara.....aku di sini." jawab Dion tanpa sadar.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan selamanya berada di sisimu." Dion mengecup dahi Ara pelan, terus kedua mata yang terpejam, dan perlahan mengecup bibir mungil gadis itu. Dia menatap benda kenyal berwarna pink alami itu. Tergoda untuk menyentuh. Dia menciumnya beberapa saat. Terdengar lenguhan dari mulut Ara. Reflek dalam tidurnya membalas ciuman Dion.


Dion kaget, dia melihat mata Ara yang terpejam.


Dia kembali mencium bibir itu atas bawah.


Keduanya berciuman dengan gerakan pelan dan lembut. "Kak Raka." ucap Ara melihat Raka dalam mimpi dan menciumnya. Lalu dia kembali diam dalam tidurnya.


"Maafkan aku." ucap Dion pelan setelah menciumi bibir itu beberapa saat, bibir yang tak henti menyebut nama Raka. Dia tersenyum seraya menyapu bibir Ara. Dia tidak menyangka bisa mencium wanita ini, bahkan mendapat balasan meski di alam ketidaksadaran Ara. Sungguh dia sangat bahagia membayangkan kembali ciuman yang mereka lakukan tadi. Dion senyum senyum sendiri seperti tidak waras.


"Raka pasti telah mengisi hidupmu dengan banyak cinta dan kebahagiaan, hingga membuatmu sangat sulit melupakannya meski sudah lama pergi meninggalkanmu." ucapnya dengan suara rendah.


Dia meraih jemari Ara, dan menyentuh dua cincin indah yang melingkar di jari manis gadis itu.


"Kau bahkan belum melepaskan cincin ikatan suci kalian berdua." sambungnya kembali menatap kedua cincin itu.


Dion memperhatikan sejenak kedua cincin indah yang berbeda bentuk itu. Ada tulisan sangat kecil terukir di kedua cincin itu, R❀️A.


Dion sangat tahu kedua cincin itu sangat mahal dan mewah. Karena dia punya usaha bisnis dan toko perhiasan emas berlian mewah dari berbagai merek terkenal. Orang awam mungkin tidak akan tahu kalau kedua benda kecil yang melingkar di jari manis Ara itu bernilai ratusan milyar. Tapi bagi orang yang mengerti tentang emas dan berlian seperti dirinya tentu sangat tahu.


( Tentu saja kedua cincin itu sangat mahal. Saat Raka masih hidup dan bekerja, dia mulai memesan cincin itu untuk di berikan pada Wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta, dan cinta itu di dapatnya dari Ara. Sedangkan Rafa memesan cincin itu setelah dia menemukan Ara malam itu di taman. Selama enam bulan keduanya menunggu benda itu selesai di buat).


"Cinta Raka begitu besar kepadamu. Dia tidak hanya memberikan cinta lewat hati dan tubuhnya, tapi juga dengan memberikan dirimu benda mewah tak ternilai harganya. Dan kau sangat pantas mendapatkan segala kemewahan dan keindahan ini Ara." katanya kembali.


Pintu kamar di ketuk. Dion segera turun dari ranjang dan bangkit berdiri melangkah menuju pintu dan membukanya sedikit.


"Tuan muda, ada telepon dari tuan besar." kata asisten pribadinya dengan suara rendah.


"Papa?" wajah Dion mengernyit.


"Iya Tuan, berulang kali tuan besar menelpon anda, tapi nomor anda tidak aktif."


"Aku akan menelpon Papa! Apa kau sudah menemukan siapa orang yang ingin mencelakai Ara?"


"Belum, kami sedang berusaha. Pihak kepolisian juga sedang mengusutnya atas perintah tuan Ravendro. Sepertinya mereka kesulitan mencari pelakunya, karena sangat sulit melihat dan menebak wajah si pelaku."


"Baiklah, kau boleh pergi, tunggu perintah dariku."


"Baik Tuan muda." asisten segera pergi.


Dion kembali masuk ke kamar mengambil ponselnya yang memang sengaja di matikan untuk menghindari panggilan dari ayahnya dan juga Wisnu. Dia sudah memprediksi kedua pria itu pasti akan menghubunginya.


Sesaat Dion menoleh pada Ara, lalu segera ke balkon untuk menghubungi Wisnu. Dia tidak ingin menyembunyikan jati dirinya lagi. Karena Wisnu dan pemilik RA Group itu sudah mengetahui penyamarannya. Dia juga tau kalau Wisnu sudah menghubungi ayahnya dan mengancam.


Sambungan telepon langsung tersambung begitu masuk panggilan pertama.


"Beraninya kau membawa kabur dan menyembunyikan Nona muda Artawijaya. Cepat bawa Nona Ara dalam waktu 30 menit ke jalan X. Kita bertemu di sana." suara Wisnu pelan tapi penuh tekanan, mengandung kemarahan dan nada ancaman. Telepon langsung di matikan.


Dion tersenyum sinis.


"Ara juga sangat berharga bagiku sekretaris Wisnu, katakan itu pada bos mu." mematikan ponselnya dengan geram, karena Wisnu cepat mematikan telepon saat dia belum bicara apapun.


"Brengsek kau Ravendro, brengsek kalian." kembali memaki sambil menendang asal.


Bersambung.


Terima kasih bagi yang sudah mampir πŸ™


jangan lupa jempol manisnya, komentar, hadiah dan vote yaa πŸ™

__ADS_1


__ADS_2