Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 304


__ADS_3

Apartemen.


Waktu menunjukkan pukul dua pagi.


Kondisi kejiwaan Ines sedikit terganggu setelah kejadian buruk yang menimpanya.


Dia depresi. Tak berhenti menangis dan terkadang menjerit jerit.


Merasa dirinya sangat kotor.


Dia mengurung diri di kamar mandi.


Wisnu membawanya ke apartemennya karena tidak ingin menimbulkan pertanyaan dan kesedihan anak anak nya. Dia hanya mengabari ibunya dan memberi tahu mengenai kejadian yang menimpa Ines.


Hingga saat ini Ines masih berada di dalam kamar mandi masih dengan tangisan ketakutan dan penyesalan.


Entah sudah berapa lama dia berada di dalam sana mengguyur tubuhnya di bawah shower, dan kadang merendam tubuhnya di dalam buth membersihkan tubuhnya yang di anggap kotor.


Usapan kuat berulang ulang di seluruh tubuh yang telah memerah untuk menghilangkan sentuhan sentuhan Jery.


"Pergi dari sini.... keluar! jangan mendekati ku!" teriaknya pada Wisnu yang sudah berulangkali masuk dan mengajaknya keluar.


Meski sudah di kuncinya, Wisnu bisa masuk dengan menggunakan kunci serep.


"Sudah hampir dua jam kau berendam, nanti kau sakit. Dan lihat tubuhmu, semakin memerah dan mengelupas!" kata Wisnu dengan suara meninggi melihat beberapa bagian tubuh Ines yang mengelupas. Dia segera menahan kedua tangan Ines.


"Tubuhku masih kotor!" jawab Ines terisak-isak menarik kuat tangannya dan kembali mengusap kuat tubuhnya.


Wisnu membuang nafas berat.


Kalau di biarkan terus maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada Ines.


Dia segera mengangkat tubuh Ines dengan paksa.


Ines kaget dan kelabakan. Dia segera menyilang kan kedua tangan pada dada dan bagian bawahnya yang polos meski itu tak cukup menutupi.


Wisnu menatap ke depan menghindari pandangannya dari tubuh Ines yang basah tampak sehelai benang, meski sekilas dia sempat melihatnya.


Dia membawa Ines ke kamar dan di letakkan di atas tempat tidur.


Ines segera miring karena merasa canggung dan malu menangkap mata Wisnu melihat tubuh polosnya sekilas saat membaringkannya.


Wisnu mengambil selimut dan menutupkan ke tubuhnya.


"Tenangkan dirimu. Tidak terjadi apa-apa kepadamu." kata Wisnu seraya menahan tubuhnya yang hendak turun ingin kembali ke kamar mandi.


Ines kembali terisak.


Melintas kembali perlakuan bejat yang di lakukan Jery kepadanya.


"Tubuhku kotor. Mereka memaksaku, mereka mau memperkosaku! mereka menyentuh ku!" menutupi selimut ke seluruh tubuhnya bersembunyi di dalam sana dengan ketakutan.


Wisnu membuang nafas berat.


Hatinya ikut sedih dan terenyuh melihatnya.


Bukan baru sekali, tapi berulangkali wanita ini mengalami kasus pelecehan seksual seperti ini.


"Hampir sekujur tubuhmu memerah dan terluka. Jangan terus menyiksa dirimu! Dan berhentilah menangis!" Wisnu terus menenangkannya.


"Wajahmu harus di kompres dan di beri salep biar tidak semakin bengkak." kata Wisnu kembali. Dia menyibak sedikit selimut melihat wajah Ines.


Ines kembali menarik selimut dan menutup wajahnya.


"Besok lusa kau akan wisuda. Ayah dan ibumu akan kemari. Apa kau ingin mereka melihat keadaan mu seperti ini? Azham dan Azhar juga ingin bertemu dengan mu. Ibu mengatakan mereka mempertanyakan dirimu yang belum kembali. Apa kau tidak berpikir bagaimana sedihnya mereka jika melihat dirimu seperti ini?"


Ines melongo di dalam selimut.


Dia baru sadar dan teringat anak anak itu.


Dia menurunkan selimut.


Segera bangun dan duduk.


"Azham... Azhar...!" ucapnya lirih mengingat anak anak itu. Dia menatap wajah Wisnu.


Wisnu mendekat, mengompres pipi dan bibirnya yang bengkak pelan pelan.


Sesekali menyapu air matanya yang mengalir.


Hingga beberapa saat kemudian.


"Maafkan aku....!" ucap Ines terisak.


"Seharusnya aku mendengar perkataanmu dan tidak ikut ke acara itu!" katanya kembali seraya menatap Wisnu.


Dia membangkang perintah Wisnu, dan saat susah begini justru Wisnu yang merawatnya.


Gerakan tangan Wisnu terhenti.


Sejujurnya dia marah saat Ines tidak mendengarkan perkataannya. Serta perdebatan yang terjadi dengan mereka di kantor tanpa mengerti posisi dirinya sebagai sekretaris pribadi tuannya. Pekerjaan dan tugas sudah menjadi tanggung jawabnya.


Tapi karena rasa bersalah dan penyesalan dari wanita ini yang di dengar lewat percakapan dengan ibunya membuat kemarahnnya mereda.


Curhatan Ines kepada ibunya serta izinnya Ines untuk menghadiri acara ultah Lisa yang di dengar secara langsung.

__ADS_1


Dia mengetahui karena ponsel Ines telah di sadap. Setiap pesan dan masuk ke dalam ponsel Ines di ketahuinya.


Dia melakukan hal itu semata semata untuk kebaikan Ines. Untuk mengawasi setiap pergerakan Ines karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk seperti ini pada Ibu sambung anak anaknya.


Wisnu menatap matanya yang berkaca-kaca di penuhi oleh gelembung air mata yang mau tumpah lagi. Penyesalan dan rasa bersalah terlihat di sana.


Seperti biasa, Wisnu diam tak menjawab.


Lalu kembali mengoles salep ke pipi dan bibir Ines pelan pelan.


Beberapa saat kemudian, dia bangkit menuju ruang ganti mengambil pakaian di lemari Ines.


Lalu kembali lagi menyerahkan pada Ines.


Daster selutut tanpa lengan, juga benda segitiga Ines.


"Pakailah, setelah itu tidurlah." katanya menatap wajah Ines sesaat.


Lalu segera bangkit berdiri membelakangi Ines. Memberi kesempatan pada Ines untuk memakai pakaian.


Dia berjalan menuju sofa, duduk di sana memeriksa ponselnya. Mengecek pemberitahuan dari anak buahnya. Juga beberapa email yang masuk.


Hingga beberapa waktu berlalu dia menoleh ke ranjang. Melihat Ines yang berbaring sudah memakai pakaian dan tubuh di tutupi selimut.


Dia memeriksa Ines sebentar memastikan istrinya ini sudah tertidur.


Terdengar dengkuran halus. Wisnu memperbaiki selimut di tubuhnya, menaikan sampai ke dada. Memperhatikan bantal kepala yang basah pengaruh rambut basah Ines.


Dia turun lagi mengambil alat pengering rambut.


Dua hati ingin mengeringkan rambut wanita ini karena tidak ingin tidurnya terganggu.


Dia mengambil handuk dan di letakkan di bawah kepala Ines dengan hati hati.


Batal mengerikan rambut Ines.


Lalu segera berbaring di samping wanita itu dan menatapnya sejenak. Kemudian menatap langit langit kamar dengan ******* berat karena merasakan tubuhnya yang kaku dan tegang.


Sekuat hati dia menenangkan diri dan menekan hasrat yang menyiksanya sejak tadi akibat sempat melihat tubuh polos Ines.


Rasa yang timbul saat melihat tubuh polos ini. Rasa yang berusaha di tekan dan di abaikan tapi tetap saja muncul kembali dan membuat bagian tubuhnya yang belasan tahun tertidur, bergerak terbangun karena melihat keindahan wanita ini.


Selama dua belas tahun mengikuti tuannya berkecimpung di dunia bisnis. Banyak bergaul, berhubungan, melihat dan bersentuhan dengan banyak wanita dengan segala bentuk keindahan mereka tapi tak satupun yang membuatnya bergairah.


Tapi pada wanita ini? mampu membangkitkan hasrat gairah yang telah lama mati sejak kepergian Ayirin.


Wisnu membuang nafas kasar.


Perlahan dia memiringkan tubuhnya menghadap kembali pada Ines.


Wajah yang tidak terlalu cantik tapi tidak pernah membosankan, selalu menarik dan menyenangkan untuk di pandang setiap saat meskipun tanpa menggunakan riasan wajah.


Perlahan tangannya bergerak ke atas.


Jari telunjuk kirinya menelusuri bagian bagian wajah manis ini dengan lembut.


Kening alami yang tidak terlalu tebal berbentuk teratur. Bulu mata yang lentik alam. Hidung yang standar bahkan bisa di bilang pesek. Tapi justru ciri khasnya ini yang membuat wajahnya semakin manis di matanya.


Gerakan jarinya berhenti pada bibir mungil tipis berwarna pink.


Wisnu mengusap lembut benda kenyal itu dengan ibu jarinya tanpa berkedip menatap.


Dia menelan salivanya, membuang nafas panjang menikmati segala keindahan di depannya.


Dia kembali menatap dalam-dalam wajah cantik alami yang selalu terlihat cemberut karena kekesalan pada dirinya.


"Maafkan aku. Semua juga salahku hingga kejadian buruk ini menimpamu. Aku yang selalu membuat mu kesal dan marah." kembali mengusap bibir Ines lembut.


"Aku terpaksa bersikap dingin dan cuek kepadamu, untuk menjaga jaga jarak dan batasan agar tidak timbul rasa di antara kita. Bukankah Itu yang kau inginkan sebagai syarat pernikahan kita? Tak boleh ada rasa serta sentuhan fisik hingga nanti kita berpisah. Dan aku menghargai dan menghormati keputusanmu meski itu sangat menyiksa!" terus menatap wajah yang tampak gelisah dan berkeringat.


Lama menatap dengan perasaannya yang membuncah hingga tiba-tiba tangannya di pegang Ines.


Wisnu kaget.


"Jangan sentuh aku.....jauhi aku.....jauhi aku!" ucap Ines dengan wajah sedih mata terpejam.


Dia memegang tangan Wisnu dengan kuat.


"Pergi...jangan sentuh aku!"


Wajah Wisnu mengernyit.


"Sepertinya kejadian buruk itu terbawa sampai ke alam tidurnya." gumannya.


Ines mulai menjerit jerit menangis seraya melayangkan pukulan ke wajahnya yang dekat.


"Pergi....jangan sentuh aku! jangan sentuh aku! bajingan kalian!" teriaknya.


Wisnu segera menahan tangannya.


"Ines.... Ines...bangun!" membangunkan Ines dengan menepuk nepuk wajahnya pelan.


Dia segera bangun dan duduk.


Karena belum sadar juga, Wisnu kembali menepuknya sedikit kuat dan juga menggoyang tubuhnya.

__ADS_1


Mata Ines perlahan terbuka. Dia terkejut melihat ada lelaki di depannya.


"Pergi.... pergi kau! jangan sentuh aku." mendorong tubuh Wisnu.


Wisnu kembali menahan tangannya.


"Aku Wisnu... Wisnu." katanya kembali sedikit keras menyadarkan Ines yang belum sadar sepenuhnya.


"Wisnu?" ulang Ines kembali.


Dia segera bangun, memperjelas penglihatannya.


Membuka mata lebar-lebar menatap Wisnu. Setelah yakin memang Wisnu, dia langsung memeluk Wisnu dan menyembunyikan wajahnya di dalam jubah piyama tidur Wisnu.


"Jauhkan mereka dariku, suruh mereka pergi. Jauhkan cepat. Mereka jahat, mereka mau memperkosaku!" kata Ines menangis


"Kau hanya bermimpi. Kau baik baik saja. Tak ada yang menyakitimu. Tak ada siapapun di sini selain kita." Wisnu memegang wajahnya meyakinkan dirinya yang hanya sedang bermimpi.


"Tadi mereka datang lagi dan menyentuh wajahku. Aku takut....aku takut mereka akan menyakitiku lagi. Mereka akan berusaha menyentuh ku lagi." kembali menangis, takut dan gemetar.


Wisnu segera menarik tubuhnya, dan di peluk.


"Tidak akan ada yang menyakitimu. Aku ada di sini menjagamu. Aku akan menjagamu. Kau jangan takut. Kau hanya bermimpi. Aku yang menyentuh wajahmu tadi, memeriksa bengkak dan lebam di pipimu!" katanya menenangkan.


"Tenanglah. Kau hanya bermimpi!" kata Wisnu kembali mengusap ngusap punggungnya menenangkan.


Ines semakin menekan wajahnya di dada Wisnu dan memeluk kuat mencari perlindungan.


Beberapa saat kemudian, tangisan Ines mereda. Emosinya mulai stabil, keadaannya sudah tenang. Wisnu bergerak meraih minuman di nakas dan meminumkan kepadanya.


Kemudian dia meraih kembali hairdryer, di hidupkan, lalu di arahkan ke kepala Ines yang masih basah.


Ines melongo dengan apa yang di lakukan.


Dia menatap Wisnu.


"Rambut mu masih basah. Aku tidak ingin kau masuk dingin dan sakit. Nanti Azham dan Azhar sedih jika kau kenapa napa." kata Wisnu yang mengerti arti tatapan matanya.


Mesin itu terus bergerak di selingi gerakan jemarinya yang merayap di setiap helaian rambut dan kulit kepala Ines.


Dia kaget, gerakannya terhenti karena tiba-tiba Ines memeluknya.


Ines memeluknya sambil menangis.


"Aku...aku bukan istri yang baik. Maafkan aku, Maafkan aku! Dan terima kasih.... Lagi lagi anda menyelamatkan diriku!" ucapnya terisak-isak.


Wisnu terpaku mendengar ucapannya. Mencermati kata katanya yang mengucap kata ISTRI.


Dia kembali menghidupkan mesin pengering.


"Nona Ines, mundurlah. Rambutmu belum kering." katanya menarik mundur tubuhnya karena bagian Ines yang sedari tadi bergesekan dengan dadanya.


Tapi Ines semakin mempererat pelukannya dan itu membuatnya semakin resah karena kedua gundukan kenyal itu yang semakin menempel kuat ditubuhnya.


"Katakan dulu kau memaafkan ku." ucap Ines seraya menekan nekan dada Wisnu dengan telunjuk karena hanya diam.


Wisnu mendesah kasar.


"Tak ada yang perlu di maafkan. Rasa bersalah dan penyesalanmu sudah menghapus semua kesalahanmu." katanya seraya kembali meneruskan pekerjaannya untuk mengalihkan rasa yang bergejolak dengan sentuhan ini.


"Kau selalu menyelamatkan aku dan merawat aku sakit. Terimakasih ayahnya Azham dan Azhar!" ucap Ines tersenyum senang mendengar jawaban Wisnu. Dia mengira Wisnu akan mendiaminya lagi.


Wisnu mematikan hair dryer.


"Azham dan Azhar sangat menyayangimu. Bahkan mereka lebih menyayangimu dari pada aku. Kau juga tahu hal itu. Aku tidak ingin mereka sedih dan menyalahkan diriku jika terjadi sesuatu yang buruk kepadamu!" katanya seraya menunduk melihat pada Ines yang masih memeluknya.


"Dan lebih penting dari itu, kau adalah istriku. Sudah tanggung jawab ku menjaga dan melindungimu ibunya Azham dan Azhar!" katanya kembali.


Ines terhenyak mendengar ucapannya.


Perlahan dia mengangkat wajah mendongak ke atas sehingga membuat tatapan mereka bertemu dengan hidung bersentuhan karena Wisnu masih menunduk melihatnya.


Jarak yang sangat dekat membuat mereka dapat melihat lebih leluasa wajah keduanya.


Mereka saling menatap dengan jantung berdetak lebih cepat.


Making lama saling menatap dengan perasaan masing-masing membuat organ yang sangat penting bagi tubuh manusia itu meletup letup seakan mau copot dari tempatnya. Di dukung dengan tubuh mereka yang dekat tanpa celah bersentuhan.


Kedua tangan Wisnu perlahan bergerak ke atas memegang wajahnya. Menatap manik matanya, terus beralih ke bibirnya yang merah alami.


Seakan tersihir dengan tatapan dan sentuhan Wisnu, Ines memejamkan mata saat jemari Wisnu menyentuh bibirnya. Dia menikmati sentuhan lembut itu dengan perasaannya sendiri.


Beberapa saat kemudian dia kaget dengan tubuh bergidik ketika merasakan benda kenyal basah menyentuh di bibirnya.


Ines bukan anak kecil yang tidak tahu benda apa itu. Jantungnya semakin berdetak cepat.


Dia membuka mata. Dan melihat mata Wisnu yang terpejam dengan bibir menempel pada bibirnya.


Dia hendak bicara tapi suaranya hilang karena Wisnu segera meraup bibir merah Cherry miliknya. Mata Ines membulat sempurna.


Beberapa saat berlalu terdengar lenguhan dan ******* dari mulut keduanya karena merasakan gelenyar panas yang mengaliri tubuh keduanya.


*****


Maaf, Kelamaan up.

__ADS_1


Dukung ya tinggalkan jejak 😍


__ADS_2