Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 177


__ADS_3

Setelah membeli hadiah untuk pernikahan Rafa dan Levina, Ara segera menuju kampung halamannya, rumah orangtuanya dengan menggunakan mobil online Narto.


"Tuan, nona muda menggunakan kartu kreditnya, ada pemberitahuan masuk !"


"Untuk pertama kalinya dia menggunakan uang ku," Rafa tersenyum senang.


"Sekarang nona muda sedang dalam perjalanan menuju panti Asuhan,"


"Telepon ustadz Arif, untuk menyiapkan pernikahan secepatnya. Dan katakan untuk merahasiakan ini dari Ara. Kirimkan segera berkas berkas aku dengan Ara, daftarkan ke KUA setempat agar mereka segera menyiapkan buku nikah. Katakan ijab kabulnya selepas ashar di Mesjid Yayasan Panti Asuhan."


"Baik tuan."


Telepon Wisnu berdering, Rizal menelepon.


"Ada apa dokter?"


"Katakan kepada tuan mu untuk segera pulang ke rumah utama sekarang," suara Rizal terdengar panik dari seberang. Lalu telepon di matikan.


"Ada apa?" tanya Rafa.


"Sepertinya terjadi sesuatu di rumah utama, dokter Rizal meminta anda untuk kembali sekarang juga."


Dahi Rafa mengerut. Bertanya tanya apa yang terjadi. Dia kesal karena Rizal tak memberitahu apa yang terjadi. Wisnu segera berbalik arah.


Tidak berapa lama mobil berhenti di depan pintu masuk rumah utama.


Mereka segera keluar dan langsung masuk. Terdengar suara ribut-ribut dari lantai atas.


Dengan cepat mereka menaiki tangga.


Keributan terjadi di depan pintu kamar Ara.


Terlihat Sam sedang duduk berlutut sambil bermohon dengan tangan di depan dada.


Di depannya tergeletak banyak pakaian dan barang-barang Ara.


"Keluarkan semua pakaian wanita rendah itu dari rumah ini. Bakar semua pakaiannya," terdengar suara Maya keras dari dalam kamar Ara sambil melempar barang barang Ara keluar.


"Jangan nyonya, jangan lakukan ini pada barang barang nona muda." pinta Sam sedih melihat barang barang Ara yang berhamburan di lantai.


"Nona muda katamu ? Cih, dia sama sekali tidak pantas mendapat gelar itu di rumah ini. Karena aku tidak pernah menganggap menantu di rumah ini. Gadis miskin, kampungan, rendah, murahan," sentak Maya kasar.


Sam mengumpul pakaian nona mudanya sambil menangis.


"Tante, tenanglah. Jangan seperti ini, Ara itu adalah istri Raka, anak tante." Rizal yang berada di dalam kamar berusaha menenangkan.


Tapi kemarahan Maya malah tidak bisa di bendung lagi, dia kembali membuang mukena yang di pakai Ara ke pintu dan tepat mengenai wajah Rafa yang hendak masuk.


Rafa memegang kuat mukena itu. Pakaian muslim yang biasa di pakai Ara untuk shalat.


"Hentikan mama," sentaknya keras dengan sorotan mata tajam.


"Apa yang mama lakukan dengan pakaian dan barang barang Ara? Kenapa mama mengacak-acak kamarnya?" Dia segera masuk dan mengambil dengan paksa sajadah Ara yang hendak di lempar Maya ke luar.


"Usir wanita murahan itu keluar dari rumah. Jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini. Wanita tidak tau malu, wanita rendah. Setelah menggoda Raka dan berhasil menjadi istri Raka, sekarang dia menggoda dirimu." kata Maya dengan amarah.


"Mama menyebut Ara apa ?" Rafa terkejut. Darahnya mendidih mendengar perkataan itu.


"Apa kau tidak mengerti juga? Setelah Raka meninggal, sekarang dia mulai menggoda dirimu." kata Maya keras.


"Apa maksud mama?"


"Mama menemukan pakaiannya di kamar mandi ruang kerjamu. Di sana juga tergeletak pakaianmu. Wanita munafik itu pasti datang ke kamarmu semalam, menggoda dirimu dengan tubuhnya. Apa yang kalian lakukan Rafa?Apa yang kalian lakukan semalam?" berteriak sambil memperlihatkan daster Ara di depan mata Rafa.


"Jaga ucapan mama. Tidak terjadi apa-apa antara aku dengan Ara. Kami tidak melakukan hal rendah seperti apa yang ada dalam pikiran mama."

__ADS_1


"Kamu pikir mama bodoh? mama sudah katakan dia bukan perempuan baik baik. Setelah Raka meninggal, sekarang dia mulai menggoda mu, cih...dasar perempuan rendah. Aku sudah menampungnya di rumah ini, makan dan tinggal gratis. Tapi dia malah berulah licik, sungguh tidak tahu diri, wanita munafik, sok polos."


"Cukup ma, cukup," teriak Rafa keras sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Maya.


"Jangan lagi merendahkan Ara, cukup. Ara bukan wanita seperti itu. Jangan lagi merendahkannya."


"Lalu kenapa pakaiannya ada bersama dengan pakaian mu? Kalian pasti mandi bersama. Apa yang kalian lakukan semalam? hah? Apa semalam kalian tidur bersama? benar kan Rafa? Untuk itu kau pulang terburu buru dari Bandung? Cih, memalukan. Dia tahu kau adalah kekasih Levina tetapi dia menggoda dirimu? Dia berusaha menjerat dirimu dengan tubuhnya. Cih...benar benar rendah, wanita murahan tidak bermoral, tidak tahu malu," kata Maya berapi api.


Kedua tangan Rafa mengepal kuat. Rahangnya mengeras menahan kemarahan teramat sangat. "Ara tidak pernah menggodaku ma, Ara tidak pernah menjeratku dengan tubuhnya. Aku yang menginginkannya, aku yang memaksanya, tidur di ranjangku, karena aku mencintainya, mama dengar? Aku sangat mencintainya." teriaknya keras.


Plak... tamparan keras mendarat di pipinya. Di layangkan Maya.


Wisnu, Rizal dan Sam terkejut.


"Setelah Raka, sekarang kamu lagi yang terjerat dengan rayuan manisnya, kepolosannya, kepura-puraan nya menjadi wanita baik, wanita sholeh, wanita lembut untuk menipu kita semua! Dengar kan mama Rafa, jangan lagi wanita itu menginjakan kaki di rumah ini, buang semua barang barangnya dari rumah ini dan bakar. Jangan ada satupun tersisa di rumah ini, karena itu hanya akan membawa kesialan di rumah ini."


"Buka matamu, buka pikiranmu, dia hanya menggodamu, menjerat mu, ingin memisahkan mu dari Levina. Wanita murahan itu tidak pantas tinggal di rumah ini lagi. Raka sudah tiada tapi dia masih tinggal di rumah ini tanpa rasa malu. Perintahkan penjaga pintu gerbang untuk melarangnya masuk ke rumah ini lagi. Perlu usir dan seret dia ke jalanan."


Rafa menatap menyeringai."Ara tidak akan kemana mana. Dia akan tinggal di sini selamanya. Tidak ada satu orangpun yang boleh mengusirnya dari rumah ini, termasuk mama," menatap tajam wajah Maya.


"Pak Sam, kumpulkan semua barang nona muda mu. Atur dan simpan kembali kedalam lemarinya."


"Baik tuan." Sam segera bangkit memungut pakaian Ara. Tapi Maya menginjak pakaian Ara.


"Sampai kapanpun mama tidak sudi menerima dan melihat wanita itu di rumah ini," membalas tatapan tajam Rafa.


Rafa kembali tersenyum menyeringai.


"Ara akan tinggal di sini selamanya bersamaku. Mama suka atau tidak aku tidak perduli." katanya tegas.


"Dengar kan baik baik ma. Mulai sekarang bersikaplah baik pada Ara, perlakukan dia dengan baik, dan jangan pernah lagi merendahkan dirinya,"


Maya kembali emosi."Apa kamu sudah tidak waras Rafa? mencintai janda dari adikmu? Apa kamu tidak malu pada Raka dengan mencintai istrinya? Hebat sekali wanita itu menggoda mu! Jangan jangan dia menggunakan pelet untuk memikat mu, sama seperti yang dia lakukan pada Raka dulu."


Maya terkejut mendengar perkataan itu.


Rizal juga terbelalak, sekarang dia mengerti penyebab perubahan drastis hidup Rafa dulu. Yang membuatnya kehilangan semangat hidup. Tak bergairah untuk hidup dan bekerja. Hidup seperti orang yang hilang akal. Ternyata semuanya karena Ara. Dia mencintai Ara yang ternyata adalah istri dari adiknya sendiri? Ternyata dugaan dia selama ini benar, wanita yang telah membuat Rafa jatuh cinta untuk setengah mati adalah Ara, wanita yang membuat hidupnya menderita adalah Ara.


"Jadi ini yang kau dan Wisnu sembunyikan dariku?" batinnya. Dia menoleh pada wisnu yang berdiri tegang.


"Meskipun sakit dan menderitanya aku saat itu, Betapa terpuruknya aku, ku ikhlaskan dia bersama Raka. Aku bisa saja mengambilnya dari Raka, tapi aku melihat mereka saling mencintai. Aku tidak tega memisahkan cinta berdua. Aku ikhlas meski sangat sakit. Tapi kali ini, aku tidak akan melepaskan Ara lagi. Aku tidak akan membiarkan dia pergi meninggalkanku. Tidak akan ada yang bisa memisahkan aku lagi darinya, termasuk mama. Aku tidak butuh apapun di dunia ini selain dia." menatap sedih pada Maya.


"Apa kamu sudah gila?"


"Aku memang telah gila ma, tergila gila pada Ara. Dia membuat ku gila." Rafa tertawa mengejek.


"Kamu milik Levina Rafa, Levina mencintaimu. Dan bukankah kamu juga mencintai Levina? Hanya dia yang pantas untuk mu, derajat mu sama dengannya, dia cantik dan seorang model yang sukses. Kalian juga akan menikah hari. Apa kau sudah lupa memintanya menikah tadi pagi ?"


"Aku bukan milik levina. Aku tidak mencintainya. Aku bahkan sangat menyesal telah menempatkan dia dia hatiku dulu. Aku sangat jijik padanya. Aku sudah membuang dia dari hidupku sejak dua tahun lalu! Mama jangan pernah membandingkan Ara dengan Levina, karena Ara adalah wanita baik. Justru wanita pilihan mama itu yang rendah dan murahan,"


"Kamu mengatakan tidak mencintai Levina dan menjelekkan dirinya karena perempuan rendah itu telah berhasil merayu dan menggoda mu kan?"


"Bukan ma, justru Levina lah yang membuat aku kehilangan cintaku padanya! Dia telah berkhianat. Wanita yang mama banggakan itu berselingkuh dan bermain gila di belakangku dengan banyak lelaki,"


Maya terkejut.


"Tidak...tidak mungkin Levina melakukan hal itu. Dia gadis baik dan bermartabat. Ini pasti hanya akalan mu saja agar bisa bersama dengan wanita murahan itu,"


"Cukup mama, jangan merendahkan Ara terus. Justru wanita yang pilihan mama itu adalah perempuan seorang ****** rendah," sentak Rafa keras. Tak tahan lagi mendengar Ara di rendahkan terus.


"Wisnu, perlihatkan pada mama permainan gila Levina bersama para pria selingkuhannya."


Wisnu segera melaksanakan perintah tuannya.


Dia memutar video rekaman mesum Levina bersama William bersama Alex di hotel. Wisnu juga memperlihatkan beberapa foto .

__ADS_1


Maya berteriak teriak sambil menutupi wajahnya


"Jauhkan itu dariku, sialan kau Wisnu." umpat Maya menutup wajahnya. Dia ingin muntah melihat video kotor menjijikkan yang di lakukan Levina.


"Mama masih ingat saat Levina menghilang di perayaan ulang tahunku lalu di bali? Mama panik mencari kan? Dia sedang berzina dengan lelaki di video itu! Mama harus melihatnya , supaya mama tahu seperti apa rupa wanita yang ingin mama jadikan menantu di rumah ini," Rafa melempar foto foto perzinahan Levina di depan mamanya. Maya kembali kaget dan berteriak teriak. Dia menjauhi foto foto itu.


"Lalu untuk apa kau mengajaknya menikah?"


"Aku tidak pernah mengajaknya menikah! Aku tidak menyebut namanya atau meminta nya menikah dengan ku. Kalian terlalu senang sehingga tidak mencermati ucapan ku. Aku hanya bertanya padanya, apakah dia mau menikah? Mama tahu kenapa aku menanyakan hal itu padanya? Karena aku akan menikahkan dia dengan ayah dari anaknya."


"Apa maksudmu?" Maya terbelalak.


Rafa tertawa sinis.


"Levina sudah mempunyai anak dari kedua laki laki dalam video mesum itu! Mama menginginkan cucu yang imut darinya bukan? Ada ma, Levina sudah mempunyai seorang bayi perempuan. Bayi yang di buangnya untuk menutupi aib dan perselingkuhannya dari publik, terutama dari kita! Hahahaha, betapa bodohnya mama di bohongi oleh Levina selama ini." tertawa menyeringai.


"Rafaa" Teriak Maya mengeram menahan amarah. Dia tidak menyangka selama ini Levina telah menipunya.


"Itu benar Ma, pergilah gendong cucu yang mama inginkan dari wanita rendah itu. Bayi itu sekarang berada di panti Asuhan. Dia membuang bayinya di jalanan tanpa rasa berdosa sedikit pun. Bahkan binatang pun tidak akan tega melakukan hal keji itu pada anaknya."


Kata Rafa sinis.


"Wisnu, hubungi Levina. Katakan padanya ijab kabulnya akan di laksanakan setelah magrib


di Mesjid Yayasan Panti Asuhan Azahra. Kirim lokasinya padanya, dan pastikan dia datang tepat waktu!"


"Baik tuan."


Tubuh Maya gemetaran dan langsung melorot kebawah. Dia terduduk lemas sambil memaki maki Levina, karena wanita itu telah menipu dirinya selama ini dengan sikap manisnya. Rizal segera mendekatinya, memegang kedua bahunya.


"Sekarang mama dengarkan aku baik baik. Seperti yang ku katakan tadi pagi, hari ini aku akan menikah, menikah dengan wanita yang aku cintai. Aku akan menikahi Ara."


Maya kembali terkejut.


"Tidak...mama tidak setuju kau menikah dengannya. Carilah perempuan lain untuk mengganti Levina, wanita yang terhormat yang sederajat denganmu. Banyak perempuan cantik, kaya raya, masih perawan menginginkan dirimu Rafa. Jangan menikah dengan janda itu! Apalagi janda adikmu sendiri,"


"Sayangnya mata dan hatiku sudah tertutup untuk melihat wanita lain sejak bertemu dengan Ara dua tahun lalu. Aku tidak punya hati lagi untuk mencintai wanita lain selain Ara. Dia adalah cintaku selamanya, Aku hanya menginginkan dia dalam hidupku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan orang lain memisahkan dia dariku, termasuk mama! Mulai sekarang mama harus belajar menerimanya. Karena dia akan tinggal di rumah ini selamanya, menjadi istriku, menjadi menantu mama, menjadi nona muda yang sah di rumah ini ! Bersikaplah baik padanya, jangan lagi menghina dan merendahkan dia. Sudah cukup mama berlaku buruk padanya selama ini, sejak dia menjadi istri Raka, bahkan sampai Raka tak ada lagi di dunia ini mama tetap tidak menyukainya. Mama tidak pernah menganggap dia sebagai istri raka dan menantu di rumah ini."


"Mama tahu kenapa aku ku balik dari Amerika dan pulang ke rumah ini? Semua karena Ara. Aku ingin membuat dia nyaman dan bahagia tinggal di rumah Ini bersama Raka."


Maya kembali terkejut.


"Apa mama tidak punya hati sedikit pun untuk menghargai Ara sebagai istri Raka? Mama tidak berpikir betapa sedih dan tersiksanya Raka di alam kuburnya melihat istri yang sangat di cintainya di perlakukan buruk oleh mamanya sendiri? Sebelum Raka pergi selamanya, dia hanya meminta satu keinginan pada kita. Dia meminta kita untuk menjaga istrinya dengan baik, tapi apa yang mama lakukan?" kata Rafa menatap sedih wajah Maya.


"Mama juga tahu selama hidupnya Raka tidak pernah jatuh cinta pada wanita manapun selain Ara. Hanya Ara yang bisa membuatnya jatuh cinta pada seorang wanita. Ara adalah cinta pertama dan terakhirnya sampai dia mati. Bahkan sebelum menjelang kematiannya pun dia masih terus menitip pesan kepada aku dan kak Nesa untuk menjaga istrinya." kata Rafa terisak. Wisnu juga sedih mendengarnya. Karena dia ikut di titipkan amanah itu oleh Raka untuk menjaga Ara.


"Hatiku sakit melihat mama memperlakukan Ara dengan buruk. Aku sangat muak dengan kelakuan mama yang sudah melebihi batas. Selama ini aku diam saja karena Ara. Ara tidak ingin melihat ada pertengkaran di antara kita. Ara tidak ingin ada keributan di rumah ini. Tapi aku tidak akan membiarkan siapapun lagi merendahkan dan menyakiti dirinya, termasuk mama! Selama ini mama terlalu egois dan tidak memikirkan kebahagiaan anak anak mama!"


"Tapi untuk kebahagiaan hidupku, aku akan menentukan sendiri. Aku akan menikah Ara meski tanpa restu mama." menatap sedih Maya.


Lalu menoleh pada Sam


"Pak Sam, pindahkan semua pakaian dan barang-barang nona muda mu ke kamarku! Panggil pelayan lainnya untuk membantu."


"Baik tuan." Sam tersenyum senang dan segera bergegas.


"Wisnu, antar aku ke rumah orang tua Ara sekarang." katanya sambil menatap tajam Maya yang sedang duduk menangis di tenangkan oleh Rizal.


"Baik tuan." kata Wisnu sigap.


*****


Terimakasih bagi yang sudah mampir πŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya kalau suka cerita author.

__ADS_1


__ADS_2