Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode. 103


__ADS_3

...Happy Reading...


Rafa sedang menerima telepon dari seorang jurnalis yang akan memuat acara peluncuran produk barunya. Fokusnya terpecah ketika telinganya mendengar ketukan berulang-ulang di pintu kamar. Dia mengabaikan ketukan dan kembali fokus dengan teleponnya. Beberapa detik, terdengar lagi ketukan. Agak kesal Rafa membuka pintu. Dia bergeming setelah tahu siapa yang berada di depan pintu kamarnya. Melihat Ara yang berdiri dengan tangan kanan terangkat ke atas hendak mengetuk kembali.


Rafa menatap beberapa saat dengan ponsel masih di telinga. Sementara Ara menurunkan tangannya berlahan.


"Lalu bagaimana Tuan Rafa?" terdengar suara dari seberang.


"Oh ya..." Rafa menjawab asal seraya memberi isyarat pada Ara untuk masuk dan duduk di sofa. Lalu dia masuk lagi meneruskan pembicaraan di telepon.


Ara menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Melihat Rafa yang sedang sibuk menerima telepon merasa dirinya datang di waktu yang tidak tepat. Ingin mundur tapi tidak berani, batang hidungnya sudah di lihat oleh kakak iparnya. Dia masuk tapi hanya berdiri sampai batas pintu, tidak berani melangkahkan kaki ke dalam kamar.


Ara memeriksa pesan yang masuk pada group sembari menunggu kakak iparnya yang terlibat pembicaraan penting mengenai peluncuran produk baru yang di dengar oleh telinganya. Dua menit berlalu, sebuah tarikan di tangan kanannya mengejutkannya tanpa di sadari membawa tubuhnya masuk ke dalam.


Pintu di tutup kembali.


Ara terkejut. Dia melihat wajah Rafa.


"Aku menyuruhmu masuk tapi kenapa kau hanya berdiri di pintu?" kata Rafa menatapnya tajam.


Ara merinding melihat tatapan tajam dan dingin itu. Dia mundur, punggungnya menabrak pintu."Mulai marah marah lagi." batinnya.


"Kau pikir aku akan memakan mu?" kata Rafa masih dengan tatapan tajam.


Ara tidak menjawab, dia menunduk tak berani menatap. Kedua tangan meremas bawah kausnya.


"Aku sedang berbicara dengan mu Ara, angkat kepalamu." kata Rafa agak membentak.

__ADS_1


Ara menelan ludah, lalu perlahan mengangkat kepala. Di lihatnya Rafa sedang menatapnya dengan ke dua tangan di dalam saku celana.


"A_aku tidak berpikir begitu kak! Aku hanya gak enak berada di kamar kakak." kata Ara gugup.


"Kenapa?" Rafa memotong ucapannya.


"Kamu merasa gak enak berada di dalam kamarku, tapi kamu tidak berpikir bagaimana penilaian orang melihatmu berdiri di pintu kamarku." sambungnya kembali.


Ara kaget. Benar juga, gumamnya dalam hati. Bagaimana jika Maya dan Levina melihat dirinya berdiri di depan pintu kakak iparnya.


Meskipun tidak ada apa apa, tapi penilaian orang terkadang buruk dan salah mengartikan.


Ara baru sadar maksud kakak iparnya yang menyuruhnya masuk dan duduk di sofa.


Seketika Ara menatap wajah Rafa yang masih menatapnya.


Ara menelan ludahnya.


"Maaf kak." kembali menundukkan dan meremas ujung kausnya. Tapi tetap saja dia tidak nyaman berada di dalam kamar Rafa, berdua dengan pria ini.


Rafa memperhatikan itu, dengan jarak mereka yang hanya satu meter. Dia mengamati Ara dari ujung rambut hingga kaki. Rambut keriting panjang terurai, poni tebal, alis hitam yang di garis tebal, kacamata hitam tebal dan besar. Memang sama seperti penampilan seorang Betty la fea, pemeran film telenovela. Tapi meskipun di tutupi sedemikian buruk, wajah cantiknya tetap masih terlihat jelas.


Rafa sendiri tidak mengerti kenapa kedua ponakannya meminta hal itu. Tapi ada baiknya juga, dengan berpenampilan cupu seperti ini, akan menutupi pandangan mata nakal laki laki terhadap Ara.


"Ada apa?" tanya Rafa ingin tahu tujuan Ara datang ke kamarnya untuk menemuinya.


Ara gugup dan segera menyadari maksud kedatangannya."Aku ke mari ingin mengembalikan__." Ara merogoh kartu kredit dan kertas permintaan di kantong celananya.

__ADS_1


"Ini__." menyodorkan ke dua benda itu pada Rafa.


Rafa melihat kedua benda itu"Kartu kredit?" dan satunya lagi sebuah kertas yang terlipat.


"Iya, waktu itu saat aku dan si kembar berada di sebuah pusat perbelanjaan, sopir memberikannya untuk keperluan belanja si kembar. Maaf aku selalu lupa mengembalikannya." kata Ara.


"Dan yang satunya kertas permintaanku." katanya kembali.


Rafa mengambil kertas yang terlipat rapi itu dan memperhatikannya.


"Kau juga punya permintaan?" lalu menatap Ara.


"Iya, aku hanya mengikuti aturan yang di buat dalam rumah ini meski sebenarnya aku tidak ingin meminta apapun." kata Ara.


Rafa manggut-manggut dengan bibir mengerucut."Karena kau juga berulang tahun, maka aku ingin membuat permintaan sama seperti dirimu. Apa kau akan mengabulkannya?" Rafa menatapnya dalam dalam.


Dahi Ara mengerut mendengar permintaan itu. Dia memikirkan apa yang akan di minta oleh kakak iparnya ini.


"Apa yang kakak inginkan dariku?" menatap kembali wajah Rafa dari kacamata tebalnya.


"Ta_tapi bolehkah bukan sesuatu yang mewah dan mahal? Aku tidak punya uang yang banyak untuk membelinya." jawabnya pelan dan terbata bata, lalu menunduk tak berani menatap terus wajah di depannya.


Rafa tersenyum mendengarnya.


...Bersambung....


Kira kira apa yg ingin di minta Rafa ya?

__ADS_1


Yuk lanjut ke episode berikutnya. Jangan lupa dukungannya....


__ADS_2