Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 52


__ADS_3

10 menit kemudian, Ara keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang plong karena perutnya terasa lebih ringan dan nyaman.


Dilihatnya kamar sudah sepi, si kembar sudah tak ada lagi. Mungkin anak anak sudah turun, pikirnya. Ara menuju balkon, menatap suasana luar yang mulai gelap. Karena matahari sudah tenggelam dan cahaya merah yang sudah hilang. Menandakan malam telah datang. Lima menit merasakan hembusan angin malam, Ara berbalik masuk kembali ke kamar.


Ketika ingin meraih mukena yang berada di tempat tidur, matanya menangkap sesuatu yang bergerak-gerak mendekat cepat ke arah kakinya. Ara kaget dan penasaran.


Setelah di perhatikan dengan jelas ternyata adalah tikus.


Binatang kecil yang berwarna hitam dan putih itu berlari cepat ke arah kakinya.


Sontak Ara menjerit keras. Berteriak, panik


"Tikus......!" Dia segera naik ke atas tempat tidur dengan gerakan cepat. Binatang kecil itu menaiki tempat tidur mengejarnya.


Ara tambah panik melihat tikus tikus itu berusaha naik ke tempat tidur.


"Hush__hush__." Ara mencoba mengusir dan berlari menghindar ke sudut lain tempat tidur. Tapi binatang kecil itu tetap berlari cepat mendekat ke arahnya. Tubuh Ara mulai gemetaran dan berkeringat. Dia yang sedari kecil phobia tikus, kecoak dan ular.


"Kak Rakaaa__Kak Rakaaa__Tolooong." teriaknya keras memanggil Raka sambil berlarian ke segala sudut ruangan, terus naik lagi ke tempat tidur, ke sofa, naik ke meja riasnya, terus ke tempat tidur dengan gerakan cepat.


Melompat ke sana kemari ke tempat yang lebih tinggi. Tapi tikus tikus itu semakin gencar mengejarnya dengan cepat.


Ara semakin panik dan ketakutan. Dia sendirian. Tidak ada yang masuk untuk menolong. Raka yang di panggil tidak muncul. Karena belum kembali.


Keringat dingin semakin banyak membasahi sekujur tubuhnya, wajahnya pucat dan ke dua kakinya gemetaran.


"Kak Raka, tolong aku takut! Hiks __hiks!" teriaknya kembali dengan keras, mulai menangis.


Ara meloncat turun dari tempat tidur dan berlari cepat ke arah pintu. Sesekali dia melihat ke arah tikus yang berlari cepat mengejar seakan tak akan melepas nya kabur. Begitu sampai di pintu, dengan cepat Ara membuka pintu. Saat hendak keluar, tubuhnya menabrak sosok di depan yang kebetulan hendak masuk.


Secepatnya Ara langsung naik ke sosok di depannya. Dan sosok di depannya cepat menahan tubuhnya dengan perasaan terkejut dengan apa yang di lakukan Ara.

__ADS_1


"Tikus, ada tikus..." ucap Ara sambil menunjuk ke lantai.


"Jauhkan mereka, Aku takut!" menengok ke bawah. Di lihatnya binatang binatang kecil itu meloncat loncat di sepatu sosok yang menggendongnya, seakan akan ingin naik ke atas untuk menggapai dirinya.


Ara semakin menaikan tubuhnya ke atas tak kala melihat tikus hitam naik memanjat ke kaki Rafa. Tak sadar memeluk kuat kepala Raka yang sudah terbenam di dadanya.


"Jangan hanya diam saja. Tolong jauhkan binatang binatang itu kak!" katanya kembali karena tak ada pergerakan apa pun dari Raka untuk mengusir binatang binatang itu.


Seseorang yang di sebelah lelaki yang menggendong Ara menangkap hewan kecil yang sudah berada di lutut Orang itu.


"Ini hanya tikus mainan." ucapnya kemudian. Lalu menekan tombol off hingga ke dua binatang itu langsung diam tak bergerak.


"Itu hanya tikus mainan." kata lelaki yang di peluk Ara, yang tak lain adalah Rafa, dan di sebelahnya Wisnu.


Di tengah rasa takut dan nafas yang memburu cepat, Ara mendengar kalimat itu. Suara yang di sertai hembusan nafas menerpa dadanya. Karena kepala Rafa saat ini di dekap kuat olehnya sehingga terbenam di kedua gunung kembarnya.


Suara itu terdengar asing di telinga Ara, baru pertama kali di dengarnya, dan bukan suara Raka suaminya, tapi suara orang lain.


Tatapan mereka bertemu. Sangat dekat, hingga hidung saling menyentuh, mata saling mengunci satu sama lain. Keduanya diam tanpa kata. Hanya deru nafas yang terdengar di sertai hembusan nafas yang kuat menerpa


ke wajah keduanya. Juga peluh di wajah Ara yang jatuh menetes ke wajah Rafa.


Beberapa saat saling menatap membuat Ara tercengang dengan mulut ternganga begitu melihat jelas wajah di depannya ini. Dan sadar bukan Raka, tapi orang lain yang mirip suaminya.


Ara kembali menekan kedua matanya untuk memastikan penglihatannya salah atau tidak melihat siapa orang yang menggendongnya dan di peluknya. Kedua matanya bergerak mengamati ke seluruh bagian wajah Rafa.


Ara kembali melongo, ternyata memang bukan Raka, tapi orang lain. Ara semakin terkejut.


"Bukan kak Raka?" nafasnya memburu cepat tak beraturan menerpa wajah Rafa yang nampak basah akibat terkena jatuhan keringatnya. Wajah yang menatap tajam dan dingin ke padanya.


"A anda siapa ?" ucap Ara terbata bata menatap lekat wajah Rafa.

__ADS_1


Rafa tak menjawab hanya terus menatap.


"Lepas...," ucap Ara seraya menggerakkan tubuhnya agar Rafa melepaskan pegangan di tubuhnya.


Rafa segera melepaskan pelukannya.


Tubuh Ara langsung melorot ke bawah, dia segera mundur.


Ara menatap tubuh Rafa dari atas sampai


ke bawah.


Laki laki ini memakai baju kantor, tanpa jas. Hanya celana hitam dan kemeja putih di gulung sampai lengan. Tubuhnya tinggi kekar berotot dengan perutnya yang rata dan berbentuk kotak-kotak terlihat dari balik kemeja yang pas di tubuhnya.


Wajahnya sangat tampan dan putih di tumbuhi bulu bulu halus.


Rahang kokoh, hidung mancung, bibir tebal warna merah muda alami.


Sorotan matanya yang tajam dan dingin menakutkan menatap kepadanya.


Sekilas wajah tampan ini mengingatkan Ara pada Raka, hampir mirip dengan wajah suaminya.


Ara semakin takut melihat tatapan tajam dingin pria ini. Ara menelan ludahnya sambil meremas ke dua tangannya.


Keringat dingin semakin banyak muncul di pori pori kulitnya membasahi tubuh dan pakaiannya, membuat lekukan tubuhnya dari dada hingga paha, bokongnya terpahat. Dan dia belum menyadari hal itu.


Sementara Rafa menatapnya tak bergeming sambil menelan salivanya berulangkali. Jantungnya berdegup kencang.


*****


Dukung author terus ya โ˜บ๏ธ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2