Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 187


__ADS_3

...Happy Reading....


Lampu merah membuat taksi mang Saleh berhenti. Ara menurunkan kaca melihat ada anak pengamen mendekat. Dia memberikan sedikit uang pada dua anak kecil itu.


"Terimakasih kak...." ucap anak pengamen tersenyum senang.


Ara mengangguk sambil menyapu kepala sala satu di antara mereka. Kedua anak itu segera pergi ke mobil sebelah.


Mobil di sebelah Ara menurunkan kaca jendela."Ara...!" panggil seseorang dari mobil itu. Ara menoleh ke arah suara.


"Kak Dion?" Ara terkejut melihat Dion di mobil itu.


Dion cepat turun dari mobilnya, lalu membuka pintu mobil Ara.


"Turunlah."


"Tapi kak...." Ara kaget.


"Ayolah, aku mohon. Sedikit lagi lampu hijau." Dion memegang tangan Ara dan sedikit menarik. Berharap Ara turun.


"Tuan, apa yang kau lakukan? Lepaskan Nona Ara." kata mang Saleh sedikit keras melihat gelagat yang tidak baik dari Dion.


"Mang Saleh, ini teman kampus saya." kata Ara cepat menenangkan mang Saleh sebelum suaranya yang keras mengundang perhatian pengguna jalan.


"Ara ayolah, ikutlah dengan ku. Aku janji tidak akan lama." Dion tetap memelas, memaksa.


Hati Ara melemah. Dia juga ingat belum berterima kasih pada Dion karena sudah menyelamatkannya waktu itu. Dan yang kedua dia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Mang, aku turun di sini saja. Mang jangan khawatir, kak Dion teman kampus aku, dia orang baik kok." kata Ara kemudian pada Saleh.


"Baik Non, hati hati ya...." kata Saleh sambil melihat pada Dion. Karena dia mendapat pesan dari Wisnu untuk menjaga Ara.


"Pak, Ara akan aman bersama sama saya. Bapak jangan khawatir." kata Dion tersenyum ikut menyakinkan.


Ara segera turun karena lampu sudah berubah warna. Bunyi klakson di belakang terdengar bersahutan. Mereka segera naik ke mobil. Asisten Dion segera menjalankan mobil dengan buru buru.


Dion tersenyum menatapnya senang dari sebelah.


"Baru pulang kerja?" tanyanya.


"Iya," jawab Ara tersenyum.


"Maaf ya memaksamu untuk pindah ke mobilku. Aku terlalu senang melihatmu tadi. Kita sudah beberapa minggu tidak bertemu. Kamu sangat sulit untuk di hubungi." ujar Dion masih terus menatap Ara. Dia sangat rindu dengan wajah manis ini.


"Maaf kak, mungkin karena sibuk jadi sangat sulit bagi kita untuk saling berhubungan dan ketemu. Aku juga sudah lama tidak bertemu Cindy dan Ines. Aku rindu sama mereka." kata Ara tersenyum menatap wajahnya.


Hati Dion bergetar melihat senyuman itu, di tambah dengan tatapan mata teduh yang indah. Dion meraih tangan Ara.


Ara terkejut. Menarik tangannya tapi kembali di pegang Dion.


"Ra maaf, aku hanya ingin memegang tangan mu. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" memperhatikan wajah dan tubuh Ara.


"Aku baik. Oh ya...aku belum berterima kasih pada kakak karena telah menyelamatkan ku waktu itu. Terimakasih banyak ya atas pertolongan nya. Aku gak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kakak." ucap Ara tulus.


"Makan malam dengan ku, boleh?" kata Dion refleks.


"Makan malam?" ulang Ara dengan wajah mengernyit.


Dion mengangguk tersenyum penuh harap.


"Hanya makan malam? Aku pikir kakak akan meminta bayaran yang tinggi atas nyawaku." kata Ara di susul tawa kecil. Gigi putihnya yang teratur terlihat.


Dion semakin terpesona melihatnya. Tawa kecil yang membuat wajah ayu semakin manis dan cantik. Rasanya Dion ingin berlama-lama menatapi wajah manis itu.


"Bayaran tinggi? Justru aku tidak akan bisa memaafkan diriku bila tidak dapat menyelamatkanmu saat itu. Aku sangat cemas dan ketakutan melihatmu saat itu Ara." batin Dion.


"Bagaimana, apa kau bersedia makan malam denganku nona Azahra Radya Almira? Aku harap kau tidak akan menolak." Dion kembali meminta dengan senyuman.


"Aku mau kak, sangat mau. Tapi kalau malam ini nggak bisa." kata Ara mengingat ada janji dengan Maya saat ini.


"Kak, besok malam bisa nggak? Soalnya aku ada janji ketemu sama orang saat ini. Beliau mungkin sudah menungguku sekarang ini. Aku sudah janji ketemu sama beliau selepas pulang kerja." Ara menjelaskan melihat kekecewaan di wajah Dion.


Dion tersenyum.


"Santai aja Ra, aku kan nggak bilang malam ini. Nanti kapan-kapan saja kalau kau sudah punya waktu." kata Dion.


"Ah terima kasih atas pengertian kakak. Nanti aku akan hubungi kakak. Nomor kakak masih yang lama kan?"


"Iya, masih tetap itu kok."


"Tapi kenapa saat ku hubungi nggak tersambung ya? Esoknya setelah kejadian itu aku menghubungi kakak dan mengirim pesan untuk mengucapkan terimakasih."


"Oh ya?" Dion terkejut merasa ada yang janggal.


Ara mengangguk.


"Mana ponsel kamu, aku periksa dulu


nomorku di kontak mu." pinta Dion.


Ara menyerahkan ponselnya. Dion menyamakan nomor teleponnya dengan nomor yang tersimpan di dalam kontak Ara.


Beberapa saat kemudian Dion mengeram dalam hati. Sepertinya ini kerjaan Rafa yang telah memalsukan nomor teleponnya di kontak Ara dan memblokir nomor aslinya. Pantas saja pesan dan telepon Ara tidak masuk. Dan dia juga tidak bisa menghubungi Ara. Dion segera menggantinya kembali, lalu menyerahkan ponsel Ara.


"Sudah selesai kak?"


"Iya, oh ya...kamu mau turun di mana? Katanya ada janji bertemu dengan seseorang. Nanti aku antar."


"Di jalan X kak." kata Ara. Dia memperhatikan Dion yang memakai jas lengkap. Terlihat keren dan semakin tampan.


"Kakak baru pulang kerja ya? Pakaian kakak formal banget."


"Aku tampan gak pakai pakaian ini ?" Dion balik bertanya dengan senyum menggoda.


Ara tertawa kecil.


"Oke....." kata Ara di sertai gerakan jari, mata menyipit menilai nilai.


"Oke? Maksudnya apa tuh?"


"Kakak keren pakai ini." Ara mengangkat kedua jempolnya.


Dion tersenyum senang dengan pujian itu. Mobil Perlahan menepi di depan sebuah butik.


"Di sini Ra?" Dion menatap ke luar melihat ke arah bangunan yang megah.


"Iya kak, aku janjinya ketemu di sini." Ara melepas sabuk pengamannya. Dion segera turun dan membukakan pintu untuknya.


"Kakak nggak usah repot-repot deh, aku bisa sendiri kok."


"Nggak apa-apa, aku senang melakukannya untukmu. Ayo masuklah, aku akan pergi setelah kau masuk. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi padamu, ayo pergilah. Aku akan lihat dari sini sampai kau masuk ke dalam."


Ara mengangguk tersenyum.


"Terimakasih ya sudah mengantarku."


Dion ikut tersenyum melambaikan tangan.


Dia segera masuk mobil setelah melihat Ara masuk ke dalam butik.


Dari jarak 10 meter sebuah mobil mengikuti mereka sejak tadi.


"Sis, itu bukannya si kutu buku itu? Mahasiswi berprestasi itu? Si cupu itu lho," kata Sherly begitu melihat Ara turun dari mobil Dion.


Siska memukul setir mobilnya kuat, melihat Dion mengantar seorang wanita.


"Siapa namanya ya Sis? Azahra Radya Almira kan? Yang selalu jalan sama Dion dan Cindy di kampus, juga sama temannya yang satu tuh, ines Damayanti." kata Sherly kembali.


Siska mengeram kuat. Ternyata Ara gadis yang selama ini di sukai Dion? Si rambut keriting itu yang membuat Dion tergila gila hingga membuatnya berpura-pura kuliah di kampus itu?


Dan ternyata Ara juga adalah wanita yang di bawah Dion ke apartemennya malam itu?


Brengsek kau Dion, kau lebih memilih si culun itu dari pada aku? maki Siska geram. Dia kembali memukul mukul setirnya kuat.


Sudah beberapa kali Siska mengungkapkan perasaannya pada Dion. Dia tidak tahan lagi memendam perasaannya pada pria tampan itu. Tapi Dion malah menolaknya, tidak menanggapi perasaannya. Beberapa kali Siska menyambanginya di apartemennya, tapi Dion menolak kedatangannya. Beberapa kali juga Siska mengajaknya dinner dan lunch bersama. Tapi Dion menolak dengan alasan sibuk kerja.


"Sis, kamu baik baik saja kan?" Sherly menjentikkan jarinya di depan Siska yang melamun menatap ke depan dengan wajah memerah menahan amarah.


"Kamu jangan khawatir, Dion pasti akan meninggalkan si cupu itu setelah tahu status si cupu yang sebenarnya." kata Sherly tersenyum.


"Apa maksudmu?" Siska menatapnya lekat


penuh tanya.


"Aku tahu siapa Ara, dan aku punya rahasia besar tentang dirinya yang selama ini di sembunyikan dari kita semua." Sherly tersenyum menyeringai.


"Kalau begitu, ayo katakan saja cepat, jangan membuat ku penasaran." sentak Siska kesal.


"Heh, apa an kau teriak teriak." Sherly ikut membentaknya.


"Oke baiklah Sherly sayang, cepat katakan padaku, apa rahasia kelemahan si cupu itu agar aku bisa menjauhkan Dion darinya?" Siska melembutkan suara dan tersenyum manis. Padahal hatinya sangat kesal.


"Nah gitu dong nanya nya. Sini mendekat lah." Sheryl memainkan telunjuknya ke depan.


Siska segera mendekatkan tubuhnya sambil menggerutu.


"Si cupu itu seorang Jan-da. Dia seorang Janda, J-a-n -d- a." kata Sherly menjeda setiap kata sembari tersenyum tipis.


Siska terbelalak, mulut dan matanya terbuka lebar."What__Janda?????"


Sementara Ara telah sampai di dalam butik.


"Mama... " panggil Ara melihat Maya duduk di kursi mewah dalam ruangan kerjanya.


Maya segera bangkit berdiri melihat kedatangannya.


"Ara...." memeluk tubuh Ara. Keduanya saling berpelukan hangat.


"Bagaimana kabar mama? Mama sehat kan? Penyakitnya nggak kambuh kambuh lagi?" Ara memberondong dengan berbagai pertanyaan.


Maya tersenyum.


"Nanya nya satu satu dong." Maya melepaskan pelukannya.


"Mama sehat nak, mama baik baik saja seperti yang kau lihat." memegang tangan Ara.


"Syukurlah, semoga mama selalu di berikan kesehatan terus oleh Allah, di berikan umur yang panjang." Ara kembali memeluk tubuh Maya. Dia sangat senang memeluk tubuh Maya, serasa memeluk ibunya sendiri.


"Aamiin, mama juga doakan yang terbaik buat kamu dan Rafa."


Ara terharu dan semakin kuat memeluk. "Terimakasih ya ma, sudah mau menerimaku dan menyayangiku." katanya dengan mata berkaca-kaca.


Maya membelai rambut dan punggung nya lembut."Mana Rafa? Mana suamimu? dia tidak datang bersamamu?"


Ara melepaskan pelukannya.


"Kakak sedang sibuk, banyak kerjaan. Aku tidak ingin mengganggunya." kata Ara. Lalu memperhatikan sekeliling ruangan butik.


"Banyak pengunjung ya ma?" melihat banyak pengunjung.


"Iya Alhamdulillah..." ucap Maya.

__ADS_1


"Anteeee....," teriak si kembar yang berlarian ke arahnya.


"Cio Cia juga di sini?" Ara kaget, segera menyambut kedatangan mereka dengan pelukan.


"Iya, kami ikut Nenek. Karena kata Nenek mau ketemu ante." jawab Cio.


"Ohhh gitu... sayang." Ara kembali memeluk mereka, mencium pipi gembul mereka dengan gemas.


"Cio Cia main lagi sana ya, nenek mau bicara sama ante Ara dulu." kata Maya


"Iya nek..," si kembar kembali ke ruangan wahana permainan. Sala satu fasilitas yang di sediakan Maya di butiknya untuk pengunjung yang membawa anak anak.


"Hay jeng Maya, siapa nih? Aku perhatikan kalian sangat akrab." tanya sala seorang pelanggan yang sudah biasa belanja di tempat ini.


"Oh...kenalin ini Ara, menantuku." kata Maya memperkenalkan Ara.


Ara tersenyum ramah, dia jadi kikuk dan salah tingkah di perhatikan dari atas hingga bawah.


"Ara, kamu lihat lihat dulu butik mama ya, siapa tahu kamu minat sesuatu, pilih saja apa yang kamu suka, ayo....nanti mama suru pelayan menemanimu." Maya segera mengalihkan pembicaraan melihat pelanggan menatap Ara menyelidik. Mereka pasti akan memberondong Ara dengan pertanyaan.


"Ayo pergilah...." Maya memberi isyarat kepadanya untuk segera pergi meninggalkan mereka sebelum pelanggan ini bertanya lebih banyak lagi.


"Permisi buk..," ucap Ara sopan pada ibu pelanggan itu, lalu segera berlalu dari hadapan mereka.


Setelah hampir dua jam bersama, berbincang dan melihat lihat butik ibu mertuanya, serta magrib dan isya bersama di tempat itu, Ara pamit pulang.


"Mama sama si kembar juga akan pulang, ayo mama antar kamu sekalian." kata Maya bangkit dari duduknya.


"Terus bagaimana dengan butiknya ?"


"Ada asisten mama yang akan mengurusnya. Ini juga ini sudah malam, mama mau istirahat."


"Iya ma, mama jangan terlalu capek bekerja, sebaiknya mama pulang dan istirahat." Ara menggandeng lengan Maya berjalan keluar menuju mobil. Si kembar di pegang oleh ke dua pelayan.


Ucil segera membukakan pintu mobil untuk mereka, lalu segera tancap.


Saat perjalanan pulang, mobil mereka di hadang sebuah mobil van besar warna hitam.


Keluarlah 6 orang berpakaian hitam dengan kepala dan wajah tertutup kain. Tangan mereka memegang pistol, benda tajam dan tongkat besi.


Maya dan Ara ketakutan melihat kedatangan mereka. Cio dan Cia menangis dalam pelukan mereka. Ucil bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi Wisnu, tapi belum sempat dia berbicara, sala seorang dari laki laki itu memukul keras kaca depan mobil dengan besi.


Ponsel di tangan Ucil terlepas karena tangannya yang gemetaran takut.


Maya dan Ara menjerit jerit ketakutan, mereka semakin kuat memeluk si kembar.


"Siapa meraka ma?"


"Mama juga gak tahu."


"Buka pintu, cepat." teriak sala seorang dari mereka mengayunkan besi ke kaca mobil samping berulang-kali hingga kaca itu retak.


Ara dan Maya kembali menjerit ketakutan.


"Buka pintunya atau ku tembak, cepat." sala seorang menodongkan pistol ke arah mereka.


Dua orang laki laki yang di tugaskan mengikuti Ara, tiba-tiba datang menyerang. Terjadi perkelahian di antara mereka, tapi karena jumlah mereka yang tidak seimbang, membuat mereka kalah dan jatuh terkapar.


Sala seorang dari mereka segera mengambil alih kemudi setelah menghancurkan kaca mobil dan membuka pintu. Dua orang lainnya menghajar Ucil sampai pingsan..Ucil di biarkan terkapar di pinggir jalan..Lalu mereka segera melarikan mobil dengan kecepatan tinggi setelah membius Maya, Ara dan si kembar.


******


Rafa mengeram keras mendengar Ara dan Maya di culik. Saat Ucil menelepon, Wisnu mengangkat teleponnya dan mendengar jeritan jeritan di dalam mobil.


"Bunuh mereka semua Wisnu, bunuh mereka yang telah berani menculik keluarga ku. Cepat temukan mereka." kemarahan yang sudah mencapai ubun ubun.


Setelah Ucil sadar, Wisnu menggali informasi padanya tentang ciri-ciri para penculik. Ucil menceritakan dari awal penculikan itu dan juga memberitahukan secara rinci diri para pelaku.


Wisnu tersenyum menyeringai setelah mendengar keterangan dari Ucil. Dia segera menghubungi semua anggota kelompok topeng hitam, juga geng geng mafia yang pro dengan mereka..Mereka di perintahkan menyebar dan mencari tahu tempat yang biasa di jadikan sebagai sarang kejahatan untuk mencari keberadaan maya, Ara dan si kembar.


*****


Di sebuah gedung tua dan angker jauh dari keramaian kota. Suasana malam sangat mencekam. Tepatnya di sebuah ruangan yang pengap dan sedikit terang, dua orang wanita tergeletak lemas tak sadarkan diri di lantai kotor. Rambut dan pakaian mereka berantakan.


Tidak jauh dari mereka tergeletak juga dua tubuh anak kecil yang tidak sadarkan diri.


"Bangunkan mereka." suara keras perempuan memecah keheningan. Seorang mendekat dan menyiramkan air dingin se ember ke tubuh Maya dan Ara. Tubuh mereka basah, keduanya bergerak gerak..Tumpahan air menggenangi lantai.


Ara berusaha bangun sambil mengucek matanya. Dia terkejut melihat Maya berada di sampingnya.


"Ma...mama." Ara membangunkan Maya yang mulai membuka mata tapi masih lemah.


Ara mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Cio Cia..," kembali tersentak melihat si kembar tergeletak tak sadarkan diri agak jauh dari tempat mereka.


"Di mana ini ?" gumamnya kembali melihat sekelilingnya..Dia terkejut setelah sadar dan mengingat kembali apa yang terjadi pada mereka. Sadar kalau mereka di culik.


"Ma, bangun ma..," menggoyang tubuh Maya.


Plok plok plok.


Terdengar suara tepukan tangan dari belakang mereka.


"Kau sudah sadar nyonya Rafa Ravendro Artawijaya?"


Ara memutar tubuh mencari arah suara.


"Kak levina?" desisnya setelah melihat pemilik suara itu. Levina duduk di kursi sambil tersenyum sinis ke arahnya, di samping dan belakangnya berdiri beberapa orang laki-laki berpakaian hitam, sala seorang sedang memegang kamera yang di arahkan kepada mereka yang merupakan anak buahnya.


"Apa kakak yang melakukan ini pada kami?" tanyanya menatap Levina.


Levina tertawa menyeringai


"Kenapa kakak melakukan ini? Apa kesalahan kami?" Ara menatapnya tajam.


Hahahaha


Levina tertawa keras.


"Tentu saja karena dendam dan sakit hati wanita bodoh, kamu pikir apa lagi?" Levina bangkit dari duduknya melangkah mendekat.


Dia menjambak rambut Ara keras hingga tubuh Ara terangkat. Ara menjerit kesakitan sambil memegang tangan Levina.


"Sakit kak..," desisnya menahan sakit.


"Sakit ya ?" ujar Levina mengulang perkataan Ara sinis, lalu dengan kasar melempar kembali tubuh Ara ke lantai.


Ara kembali menjerit keras merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya.


"Sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan apa yang telah kalian berikan padaku." sentak Levina keras, kembali mendekati Ara dan menampar kedua pipinya, lalu menjambak rambutnya dan melemparkannya kembali dengan keras.


Ara semakin kesakitan dan menangis.


"Hentikan Levina." sentak Maya yang sudah sadar, dia bangun dan berjalan ke arah Ara.


Levina menoleh ke arahnya.


"Kau sudah sadar ya nenek tua? Kau juga akan mendapatkan balasan dengan apa yang kau berikan padaku, kau sombong dan angkuh. Berulangkali aku menghubungimu, tapi kau mengabaikan ku." ujar Levina keras, menatap tajam dengan mata melotot penuh kemarahan.


Dia ingin menjambak rambut Maya, tapi dengan cepat Ara menangkap kedua tangannya.


"Jangan sakiti mama kak, kalau kakak sakit hati dan marah padaku, pukul aku saja." Ara memegang kuat tangannya.


"Lepaskan tanganku wanita sialan." Levina menghentak tangannya kuat, hingga tangan Ara terlepas, lalu dengan cepat dia menampar wajah Ara hingga tubuh Ara jatuh tersungkur ke bawah.


"Araaa...." jerit Maya


Darah segar mengalir di bibir Ara yang pecah.


"Keterlaluan kau Levina, bajingan kau." Maya mendekat dan menamparnya keras.


"Rafa benar, kau memang wanita murahan, kau wanita ******, kau wanita tidak tahu diri, kau wanita jahat, kau siluman. Aku sangat menyesal karena dulu mengenal dirimu." teriak maya keras. Mendorong tubuh levina kuat hingga levina jatuh.


"Brengsek kau nenek tua, kau mengataiku buruk? Kau juga ibu yang tidak baik, kau seorang ibu yang buruk." Levina bangkit penuh amarah.


"Pegang nenek tua itu." perintahnya keras pada anak buahnya.


Dua orang laki laki bergerak cepat mendekat dan memegang kedua tangan Maya.


"Beraninya kau menamparku ?" Levina melayangkan tangannya di wajah Maya?


Ara menjerit-jerit keras. Dia merangkak mendekat dan memeluk kaki Levina.


"Hentikan kak, jangan pukul mama, mama sudah tua dan tidak berdaya. Aku mohon hentikan." menangis memohon.


"Lepaskan mama, kasihanilah mama kak,


pukul aku, siksa aku, tapi jangan sakiti mama."


Ara semakin kuat memeluk kaki Levina memohon.


Levina tidak mengindahkan ucapannya, dia menedang tubuh Ara hingga jatuh ke lantai. Lalu mendekati Maya dan kembali melayangkan tangannya ke wajah Maya tanpa ampun. Dia sangat benci pada Maya, karena Maya selalu menghindar saat di telepon dan di temui. Maya malah memaki maki dirinya sebagai wanita iblis.


"Kau memang monster Levina, kau monster berwujud manusia." umpat Maya di antara kesakitan.


Levina semakin emosi mendengar umpatan itu dan semakin keras menjambak dan melayangkan tangannya kuat.


"Hentikan, jangan memukul mama.


Aku mohon." pinta Ara menangis menghiba.


Maya terkulai lemas dengan wajah membiru dan luka. Kedua anak buah Levina melepaskan pegangan di tangannya hingga tubuhnya jatuh melorot kebawah.


"Mamaaa...." Ara menjerit memburu tubuh Maya yang tergeletak. Tapi belum sempat tangannya menggapai Maya, rambutnya di jambak dan di tarik kuat oleh Levina.


Levina tertawa seperti orang yang tidak waras.


dia menghadapkan wajah Ara ke kamera.


"Kau lihat ini Ravendro? lihatlah baik baik wanita yang sangat kau cintai ini. Sebentar lagi wanita mu ini akan mati di tanganku. Sama seperti kesakitan yang kau berikan padaku, aku akan membalas dengan seribu kesakitan." kata Levina tertawa menyeringai dengan memperkuat tarikan ke rambut Ara, di barengi


memukul wajah Ara kembali. Maya tak tega melihat Ara, tapi dia juga tak berdaya. Dia hanya berdoa agar ada yang akan segera menyelamatkan mereka.


"Kau lihat Rafa? Aku akan menyiksa istrimu pelan-pelan, sehingga dia akan mati perlahan-lahan merasakan kesakitan menuju kematiannya, hahahaha....." tertawa keras ke arah kamera, merasa senang dengan apa yang dia lakukan.


"Antee..." Cio yang sudah sadar memanggil Ara. Sementara Cia masih berbaring tak sadarkan diri. Ara terkejut mendengar namanya di panggil.


"Cio..,"


"Lepaskan ante Ara, kau jahat, kau jahat, lepaskan ante Ara." Cio mendekat dan memukul mukul pinggang Levina.


Levina mengeram marah.


"Dasar bocah tengil, beraninya kau memukulku." Levina mendorong keras tubuh Cio hingga bocah itu jatuh ke bawah.


Cio menangis merasakan sakit di punggungnya


"Ciooo " Ara menjerit keras. Dia melepaskan kuat tangan Levina dari rambutnya, meski kepalanya sangat sakit di rasakan, cepat memeluk tubuh Cio.


"Sayang, kamu tidak apa apa?"

__ADS_1


"Sakit ante, sakit .. " Cio meringis menangis memeluk Ara.


Ara ikut menangis melihat air matanya.


"Pegang mereka berdua, cepat." perintah Levina.


"Aku mohon kak, jangan sakit Cio, dia masih anak anak, jangan sakiti dia." Ara memohon menangis memeluk tubuh Cio kuat.


Levina malah tertawa keras.


"Lalu apa perduli ku? hah? semua ini karena kamu Ara, gara gara kamu. Kamu telah menghancurkan hidup dan karierku, kau membuat hidupku menderita dan tidak berharga lagi. Kau merebut Rafa dariku, dasar wanita murahan, janda murahan." sentak Levina geram menatap tajam.


"Kalau memang penyebabnya adalah aku, limpahkan sakit hati, kemarahan dan dendam kakak padaku. Jangan libatkan mama dan si kembar, lepaskan mereka kak aku mohon." Ara berlutut memohon mohon menangis dengan tangan di depan dada.


"Aku akan melakukan apapun yang kakak inginkan, kakak ingin apa akan kuberikan, tapi jangan sakiti mama dan si kembar, aku mohon lepaskan mereka." menangis menghiba.


Levina kembali tertawa menyeringai


dia menarik rambut Ara keras.


"Bukan hanya mereka, tapi kau juga akan mati." ucap Levina tajam dan tegas.


"Tidak kak, mereka masih anak anak, lakukan apapun yang kakak inginkan padaku, aku akan menerimanya, kakak ingin nyawaku kan? kakak ingin aku mati ? Ayo lakukan. Aku siap, tapi jangan sentuh mama dan anak anak anak. Aku akan menghubungi kak Rafa, aku akan meminta dia untuk menikah dengan kakak dan meninggalkanku. Kakak akan hidup tenang dan bahagia bersamanya. Aku akan memastikan hal itu, percayalah. Berikan aku ponsel, aku akan menghubunginya." Ara terus memohon menangis sambil memegang kaki Levina.


"Sayangnya aku tidak tertarik dengan tawaran mu itu, karena Rafa dan Nesa juga akan mengalami hal yang sama seperti kalian, aku juga akan membunuh suami dan kakak ipar mu itu." teriak Levina tertawa sinis memegangi dagu Ara kuat.


"Lepaskan kakiku, singkirkan tangan kotor mu itu dari kakiku." Levina menendang keras dada kanan Ara, hingga dia jatuh terjungkal.


"Kau jahat, kau jahat." Cio menggigit kuat tangan Levina, membuat Levina menjerit kesakitan menyentuh bagian yang berbekas kena gigitan.


"Bocah sialan." Levina mendengus geram. Dia menarik tangan Cio kasar lalu membanting tubuh anak itu kasar. Ara cepat menangkap tubuh Cio sebelum tubuh kecil itu menghantam lantai.


"Ambil besi panas, aku akan menyiksa mereka, rekam terus, aku akan mengirimnya pada Rafa, biar dia tahu bagaimana sakit dan menderitanya melihat orang orang yang sangat di cintai mati kesakitan dalam penyiksaan." perintah Levina pada seorang anak buahnya.


dia harus segera menyelesaikan penyiksaan ini sebelum Rafa atau polisi datang ke tempat ini.


Seorang laki-laki datang membawa sebuah tempat pembakaran kecil, di dalamnya ada bara api yang menyala. Di dalam bara api terdapat besi panjang dengan ujungnya berbentuk bulat yang sengaja di panaskan.


Ara tersentak melihat tempat itu tubuhnya merinding ketakutan. Dia semakin memeluk erat tubuh Cio. Menutup wajah anak itu untuk tidak melihat ke depan.


"Ya Allah selamatkan kami, kami memohon perlindunganmu dari segala bentuk kejahatan." batin Ara berdoa.


"Aku akan memulai darimu nona muda Artawijaya." menatap sinis Ara sambil tersenyum menyeringai


"Aku akan membuat beberapa lukisan dan tanda indah di tubuhmu, biar Rafa akan semakin terpesona dan tergila-gila dengan keindahan tubuhmu." mendekati Ara yang memeluk Cio.


Ara menarik kuat ujung bawah roknya keras hingga robek, lalu di ikatkan pada kepala Cio menutupi mata dan telinga bocah itu.


"Cio sayang, dengarkan ante baik baik.Tetaplah menghadap ke dinding seperti ini, jangan menoleh meski Cio mendengar suara apapun, jangan lepaskan kain ini, tekan kuat telinga Cio bila mendengar suara, mengerti ?" bisiknya di telinga bocah kecil ini.


"Cio dengar apa kata ante ...?" ulangnya kembali.


Dia tidak ingin Cio melihat dan mendengar bentuk penyiksaan yang akan di lakukan Levina kepadanya nanti.


Cio mengangguk sambil menangis memeluk Ara. Ara ikut menangis memeluknya erat. Saat ini hatinya hanya memohon perlindungan dari tuhan.


Levina menarik tubuhnya kasar.


"Kau tidak perlu menutupi mata dan telinganya karena bocah-bocah itu akan merasakannya juga, mereka akan mendapatkan bagiannya masing-masing." tertawa kasar.


Ara menatapnya tajam.


"Kakak sudah sangat keterlaluan, apa kesalahan anak anak itu? Mereka masih kecil dan tidak tahu permasalahan orang dewasa. Lepaskan mereka, jangan sakiti mereka, aku mohon." kata Ara keras, menangis.


Levina menamparnya keras.


"Kesalahan mereka ada pada kalian sendiri. Sudahlah jangan banyak bicara, siapkan tubuhmu."


Levina menarik pakaian Ara keras, hingga kancing bajunya lepas


"Waow, tubuhmu memang sangat indah. Pantas saja Raka dan Rafa tergila gila padamu. Aku baru menyadari di balik penampilan mu yang culun ini tersembunyi wajah cantik dan tubuh yang indah." kata Levina terpukau begitu melihat kedua buah Ara yang menyembul dari balik bra nya, padat, kencang dan bulat. Sangat segar dalam penglihatannya.


Ara segera menutup dadanya.


"Jangan lakukan ini padaku kak, aku mohon."


Beberapa pasang mata anak buah Levina mengarah kepadanya. Ara cepat menutupkan kembali kemeja putihnya. Levina kembali menarik kemejanya keras dengan kasar. Wanita ini benar benar gila dan tidak berperasaan, tidak memiliki hati.


Ara menjerit-jerit tertahan menekan suaranya agar tidak di dengar Cio.


Dia berusaha melakukan perlawanan, berontak. Tapi tenaga levina lebih kuat darinya.


Levina berulangkali menampar wajahnya dan menarik rambutnya keras. Darah semakin banyak mengalir di bibir dan hidungnya. Wajahnya semakin lebam dan membiru akibat tamparan dan pukulan yang di layangkan Levina sejak tadi.


Akhirnya dia jatuh terkulai karena tak kuat merasakan dan menahan kesakitan pada tubuhnya.


Pakainya robek sana sini ...


Roknya tersingkap ke atas sehingga pahanya kelihatan. Levina semakin geram melihat keindahan tubuhnya yang semakin terekspos.


Dia semakin ingin merusak tubuh Ara yang tergeletak tak sadarkan diri.


Dia mengambil besi panas dari bara api dan meletakkan di dada Ara.


Tapi sebelum besi itu menyentuh dada Ara, sebuah panah menancap kuat di pergelangan tangannya.


Levina menjerit sambil memegang tangannya, besi terlepas dari tangannya dan mengenai kakinya, dia semakin menjerit kesakitan.


"Markas kita di serang kelompok topeng hitam." teriak keras seseorang dari bawah.


Mereka tersentak, panik dan segera bersiap diri dengan senjata di tangan masing-masing.


Levina mendengus geram.


"Apa yang terjadi?" sambil memegang tangannya.


"Geng topeng hitam menyerang." kata pemimpin mereka yang baru saja keluar dari ruangannya begitu mendengar teriakkan dari bawah, wajah pemimpin itu terlihat takut.


"Siapa itu?"


"Sala satu geng mafia yang sangat berbahaya dan kejam, anggota mereka sangat banyak tersebar di beberapa wilayah tanah air hingga luar negeri."


"Lalu kenapa mereka menyerang kesini ?"


"Aku justru bertanya padamu Levina, siapa orang yang kau culik sampai kelompok topeng hitam menyerang markas ku ?" pemimpin itu berkata keras menatap tajam penuh kemarahan pada Levina.


"Selama ini aku tidak pernah mencari masalah dengan kelompok mereka. Anggota mereka sangat banyak, kuat dan tangguh. Tidak ada yang dapat menandingi kekuatan mereka, banyak kelompok mafia yang takut dan takluk pada mereka." sambungnya kembali.


Lalu dia menoleh pada Ara yang tergeletak tak berdaya.


"Siapa wanita ini? Siapa yang kau bawa ke markas ku ini?"


"Dia istriku...." terdengar suara keras dari depan mereka. Keduanya segera menoleh pada asal suara. Di depan mereka berdiri dua orang berpakaian serba hitam dengan topeng menutupi wajah. Sala seorang di antara mereka mempunyai tanda merah di dahi yang menunjukkan bahwa dia adalah pimpinan dari kelompok itu.


Hah? laki laki yang bersama Levina tersentak.


"Ketua kelompok topeng hitam." bibirnya bergetar, wajahnya langsung pias. Dia jatuh berlutut, begitu juga dengan anak buahnya. Langsung menjatuhkan diri tidak melakukan perlawanan.


Levina lebih terkejut lagi mendengar suara itu


"Rafa? itu suara Rafa?"


Belum hilang rasa terkejutnya, Rafa sudah melesat tiba tiba di depannya. Wisnu meletakkan pedangnya di lehernya.


Levina terbelalak, ketakutan. Tiga orang anggota topeng hitam mendekat mengangkat tubuh Maya Cio dan Cia, setelah mendapat isyarat dari Wisnu.


Rafa segera menutup tubuh Ara yang tergeletak tak sadarkan diri dengan kain.


"Beraninya kau menyakiti isriku, levinaaaaa " berteriak keras penuh amarah. Dia meraih besi panas dan meletakkan di telapak tangan Levina, menekannya kuat.


Levina menjerit jerit histeris merasakan kesakitan yang luar biasa hingga mencapai ubun ubunnya.


"Aaaaaaaaa ....sakiiit, sakiit..,"


Rafa tak mengindahkan jeritannya, dia kembali memanaskan besi dan meletakkan di telapak tangan Levina yang satu. Berpindah di kedua paha Levina, di dada Levina. Terakhir di kedua pipi dan kening Levina. Matanya menatap penuh kemarahan dan kebencian.


"Aku akan membalas mu dengan seribu kali kesakitan yang kau berikan kepada istriku."


Dia memegang tangan kanan Levina kasar.


"Tangan ini yang kau pakai menyakiti mama, si kembar dan istriku bukan?" Rafa memelintir dan mematahkan tangan itu kuat, dari jari jarinya hingga tulang persendiannya.


Levina kembali menjerit histeris, berteriak teriak kesakitan. Tubuhnya remuk retak jatuh lemah tak berdaya. Tak kuat menahan kesakitan.


"Ampun Rafa, ampun..." memohon menghiba.


Tapi tak ada ampunan. Rafa kembali meletakkan besi panas ke beberapa bagian tubuhnya.


Wisnu mendekat dan membungkuk di depannya.


"Seharusnya kau duduk diam saja di rumah dan merenungi dosa dosa mu. Seharusnya tangan ini kau pergunakan untuk merawat anakmu. Tuanku sudah memberi satu kesempatan dengan membiarkan kejahatan yang kau lakukan pada Nona muda kemarin. Kau pikir kami tidak mengetahui siapa dalang dari kecelakaan yang menimpa nona muda?" bisik Wisnu menatap tajam seakan ingin menerkam.


"Nona Ara sudah memohon mohon meminta pengampunan darimu. Tapi kau memang wanita tidak punya hati, kau wanita biadab, kau memang iblis. Beraninya kau menyakiti nona muda kami yang sangat berharga." katanya kembali dengan tatapan sinis dan menyeringai, lalu dengan satu gerakan cepat, dia mematahkan tangan kiri Levina kuat. Mematahkan setiap jari jari Levina sambil mendengus geram.


Levina kembali menjerit jerit merasakan kesakitan yang tiada tara. Dia tidak menyangka pembalasan yang dia dapatkan lebih sadis dan kejam.


Pemimpin dari elang hitam berlutut di depan Rafa saat Wisnu meletakkan pedang di lehernya.


"Tuan maafkan aku, jangan bunuh aku. Kami tidak tahu kalau wanita ini adalah istri anda." mencium sepatu Rafa.


"Selama ini kelompokku sangat menghargai dan menghormati kelompok topeng hitam.


Kami takut dan tidak berani mengusik kelompok anda tuan. Kami benar-benar tidak tahu kalau mereka adalah keluarga anda."


Para Anggota elang hitam lainnya juga duduk berlutut memohon mohon pengampunan. Mereka berlutut mengelilingi Rafa.


"Ampuni kami, kami berjanji akan mengabdi pada anda, aku juga berjanji akan mengurus wanita ini. Wanita setan ini telah menipuku. Sungguh aku tertipu dengan kebohongannya." melirik pada Levina yang terkulai tak berdaya.


"Baiklah, kali ini aku akan mengampuni kalian. Beri hukuman berat pada anak buah mu yang telah berani menyentuh dan menyakiti keluargaku. Colok mata mereka yang berani melihat tubuh Istriku. Dan urus wanita ini dengan baik, kau faham?" sentak Rafa keras.


"Aku mengerti tuan." ketua elang hitam mengangguk cepat.


Rafa segera mengangkat tubuh istrinya. Matanya berkaca-kaca, memerah menahan kesedihan melihat wajah istirnya yang penuh lebam dan darah.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku telah membuatmu menderita dan merasakan kesakitan ini," ucapnya sendu mengecup kening Istrinya.


Lalu dia menatap menyeringai pada Levina.


"Habisi wanita iblis ini."


"Sesuai perintah anda tuan." kata ketua elang hitam sigap.


Rafa segera melesat pergi di ikuti Wisnu dan anak buahnya di iringi tundukkan kepala dari kelompok elang hitam.


Di antara ketidak sadarannya, Levina semakin ketakutan mendengar perintah itu. Artinya tidak lama lagi dia akan mati, bahkan sekarang pun dia merasakan tubuhnya sudah mati, karena tidak bisa di gerakan lagi.


Setelah kepergian kelompok topeng hitam. Terdengar lolongan menyayat hati dan jeritan jeritan kesakitan dari gedung angker itu. Mata mereka di congkel oleh pimpinannya karena telah melihat tubuh Ara saat di lepas pakaian oleh Levina.


******


Terimakasih sudah mampir πŸ™

__ADS_1


jangan lupa like komen dan votenya yaa πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2