Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 189


__ADS_3

...Happy Reading...


Hanya dua malam Ara dan Maya menginap di rumah sakit. Mereka tidak mau berlama-lama tinggal di rumah sakit karena tidak betah. Rafa membawa Ara ke mansion pribadinya. Karena di sana banyak pelayan yang akan mengurus Ara ketimbang di apartemen. Dan Maya kembali ke rumah utama.


Keadaan mereka mulai membaik, rasa sakit mulai berkurang, meski memar di wajah dan tubuh belum sembuh dan hilang sepenuhnya.


Malam hari


Rafa menyuapi Ara pelan pelan.


"Kak, biar aku saja. Tanganku nggak sakit kok." kata Ara merasa canggung di suapi seperti anak kecil.


"Biar aku saja, kamu diam dan tunggu suapan dari aku! Buka mulutmu, Aaaaaa..." Rafa menyodorkan sendok di depan mulut Ara bersamaan dengan mulutnya juga terbuka. Dia memakai sendok kecil karena mulut Ara masih sakit tidak bisa di buka terlalu lebar.


Mau tak mau Ara membuka mulut dan menerima suapan demi suapan sampai makanan habis. Setelah itu Rafa memberinya obat dan vitamin. Di dalam kamar itu ada Sita dan kepala pelayan yang siap siaga menunggu perintah.


Setelah Ara selesai makan dan minum obat, Rafa memberi isyarat kepada kepala pelayan dan Sita untuk membereskan peralatan makan. Lalu dia pamit pada Ara untuk pergi ke ruang kerja.


"Makasih ya buk, mbak Sita." ucap Ara pada kepala pelayan dan Sita.


"Ini sudah tugas kami Nona. Semoga nona muda cepat sembuh." kata kepala pelayan sopan.


"Aamiin," sambung Sita ikut mendoakan.


Ara tersenyum kepada mereka."Aamiin, terimakasih!"


"Nona muda, kami permisi dulu. Jika Nona butuh sesuatu tinggal hubungi saya lewat tombol itu." kata pelayan kepala yang bernama Narsih sambil menunjuk pada tombol hijau di dekat tempat tidur.


"Baik buk Narsih, terima kasih." kata Ara tersenyum.


Narsih dan Sita segera keluar dan menutup pintu kembali.


Rafa kembali masuk sambil membawa laptop dan berkas berkas di tangannya.


"Kakak bekerja saja di ruang kerja, aku nggak apa-apa disini." melihat ke arah Rafa


"Aku gak mau tinggalin kamu sendirian. Aku mau menemani mu!" kata Rafa sambil mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Dia memegang tangan Ara dan mengecupnya.


"Kakak ipar ..." panggil Ara pelan dengan suara rendah.


Hmmm ? Rafa menatapnya."Kamu butuh sesuatu?"


Ara menggeleng."Bagaimana dengan kak Levina?" sambungnya kembali dengan ragu dan takut.


Wajah Rafa langsung berubah datar, dingin. Dia mendengus geram.


"Kamu jangan menyebut nama iblis itu lagi." bangkit menuju sofa dan duduk di sana mulai membuka dan memeriksa berkas.


Ara terdiam di tempatnya, menunggu jawaban Rafa. Dia hanya ingin tahu apa yang dilakukan Rafa pada Levina. Ara khawatir suaminya ini melakukan pembalasan kejam pada Levina. Ara menatap Rafa yang sibuk pada berkas di meja. Karena tak ada jawaban Ara segera berbaring dengan posisi membelakangi Rafa. Lalu menutupkan selimut ke tubuhnya dan memejamkan mata.


Rafa melihat kepadanya. Dia membuang nafas kasar. Dia tahu saat ini Ara sedih dengan kemarahannya tadi. Rafa bangkit melangkah menuju ranjang. Seharusnya dia tidak berkata kasar tadi.


Perlahan Rafa menaiki ranjang.


"Sayang__" panggilnya pelan sambil menyentuh pinggang Ara.


"Apa kamu sudah tidur?" katanya kembali.

__ADS_1


"Belum__ ini mau tidur." jawab Ara tetap pada posisinya."Kakak bekerja saja. Aku mau tidur duluan, selamat malam." sambungnya kembali, lalu menutupkan selimut ke kepalanya.


Rafa tersenyum melihat tingkah ngambek manja menggemaskan ini. Dia segera berbaring di belakang Ara, membuka selimut dan menutupkannya kembali ke tubuh mereka.


Ara terkejut dan hendak bangun, tapi Rafa cepat memeluk erat tubuhnya dari belakang.


Rafa mengecup dan mencium tengkuk, punggungnya bergantian.


"Jangan menganggu ku. Aku mau tidur." ucap Ara merasa geli, terganggu dengan sentuhan ini. Dia menyentuh tengkuknya.


Rafa kembali tersenyum. Kembali mengecup tengkuk dan punggung Ara.


"Apa kau marah padaku?" bisiknya di telinga Ara.


Ara menggeleng.


"Apa kau kecewa padaku?" tanya Rafa lagi.


"Tidak, untuk apa?" kata Ara.


Perlahan Rafa membalikkan tubuh Ara menghadap kepadanya.


Ara cepat menurunkan kepalanya sejajar


dada Rafa, menyembunyikan wajah sedihnya.


"Apa kau sedih?" tanya Rafa kembali.


Ara menggeleng.


Ara cepat menekan wajahnya ke dada Rafa.


Rafa kembali tersenyum."Wajahnya jangan di tekan begitu. Memar dan bengkaknya belum sembuh. Nanti kau akan kesakitan." katanya lembut seraya mengelus rambut dan punggung Ara.


Tak ada jawaban dan balasan.


"Sayang, maafkan aku! Sekarang katakan, apa yang kau tanyakan tentang Levina." tanya Rafa meski dia sangat jijik menyebut nama Levina.


Karena Ara tetap diam, Rafa membalikkan tubuh Ara ke atas, lalu naik ke atas tubuh istrinya itu. Kedua tangan menopang samping kiri kanan pinggang Ara.


"Kakak mau apa?" Ara kaget.


Cup... Rafa mengecup bibirnya, lalu berlanjut mengecup keningnya lembut.


"Wanita itu sangat jahat dan kejam. Dia menyakiti, menyiksa dirimu, mama, Cio, Cia dengan kejam tanpa belas kasihan. Aku tidak akan memaafkan dan mengampuni orang yang menyakiti keluargaku. Aku sudah pernah memberinya kesempatan, tapi dia malah lebih sadis dan kejam. Jika aku masih memberinya kesempatan, entah apa lagi yang akan di perbuat kepadamu dan yang lainnya. Manusia iblis itu tidak pantas untuk di mamfaafkan." ujar Rafa pelan menjelaskan. Jari telunjuknya mengelus lembut pipi Ara yang memar.


"Tubuhmu jadi bengkak penuh lebam dan luka karena kekejamannya. Begitu pula dengan mama. Cio dan Cia juga mengalami trauma akibat melihat dan merasakan kekerasan yang dilakukannya. Wanita iblis itu tidak pantas di maafkan sayang, kita tidak akan bisa menjamin apa lagi yang akan dilakukannya nanti." Rafa memberi pengertian.


"Tapi kakak sudah memberi balasan atas perbuatannya. Untuk selanjutnya serahkan dia kepada pihak kepolisian. Biar hukum pengadilan yang akan menentukan hukuman apa yang pantas untuknya. Kakak jangan memberi hukuman kepadanya dengan cara kakak sendiri. Jangan mengotori tangan kakak dengan dosa membunuh atau menghilangkan nyawanya." Kata Ara menatap Rafa. Bola matanya bergerak liar menatap wajah tampan__malah sangat tampan, yang berjarak hanya sejengkal dari wajahnya ini. Aroma wangi dan harum dari nafas dan tubuh pria ini sangat terasa di hidungnya.


"Membunuh dan menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja merupakan perbuatan yang akan mengundang murka dan laknat Allah! Dan kakak tahu apa ancaman adzab dari membunuh?" kata Ara sekaligus bertanya.


Rafa menggeleng meski ia tahu jawabannya. Dia gemas melihat bibir mungil merah alami sedang berusaha mengucap pelan pelan. Seandainya bibir itu tidak sakit, pasti sudah di serangnya.


"Ancaman azabnya adalah menghuni neraka jahanam secara hina dan kekal. Kakak akan kekal dan abadi selamanya di neraka jahanam. Jadi biarkan Allah yang membalas dan memberi ganjaran atas perbuatan kak Levina. Aku tidak ingin kakak menjadi seorang pembunuh." ujar Ara kembali.


Rafa tersenyum mendengar penjelasan ini. Mengandung kepedulian."Ternyata dia peduli padaku," batin Rafa merasa senang.

__ADS_1


Rafa tak tahan lagi oleh godaan bibir seksi di depannya ini, dia mengecup bibir kenyal itu dengan gemas.


Ara meringis sakit, sambil menyentuh bibirnya.


"Maaf sayang." Rafa tidak sadar melakukannya.


"Jangan memikirkan Levina. Dan kamu tidak perlu khawatir padaku, Aku tidak akan mengotori tangan ku deng dosa hanya demi manusia iblis itu." kata Rafa.


Dia segera turun dari tubuh Ara. Kemudian mengangkat tubuh istrinya sekalian dengan selimut.


"Apa yang kakak lakukan?" Ara terkejut.


Rafa tak menjawab, dia mengangkat tubuh Ara membawa menuju balkon. Duduk setengah berbaring di sofa bed. Tubuh Ara di baringkan di sampingnya, kepala berbantal di lengannya. Lalu menutupkan selimut ke tubuh mereka.


Mereka menghadap keatas menatap langit lepas."Lihatlah sayang__" menunjuk langit yang indah di atas sana.


Ara mengikuti arah tangan suaminya.


"Wah... indahnya." ucap Ara takjub terpesona melihat cahaya bintang dan bulan bersinar di langit.


"Masya Alloh, malam memang indah di tambah cahaya bintang dan rembulan yang bersinar terang. Keindahan alam yang kita lihat ini seharusnya membuat rasa syukur terhadap ciptaannya bertambah. Bukan hanya sekedar takjub, tetapi juga bersyukur, Alhamdulillah!" ucap Ara penuh rasa syukur.


Rafa tersenyum mendengar kata-kata mutiara indah ini.


"Kamu benar sayang, aku juga sangat bersyukur karena bisa menatap keindahan alam ini bersama dirimu. Sama seperti bulan dan bintang yang memiliki langit untuk tempatnya, aku juga sangat bersyukur memiliki dirimu untuk tempat aku berbagi cinta." ucapnya sambil mengecup puncak kepala istirnya.


Ara tersenyum haru. Dia teringat laptop dan berkas kerja Rafa.


"Kakak nggak kerja? Pekerjaan kakak tuh menunggu di dalam." kata Ara.


"Nanti saja ku selesaikan. Aku masih ingin bersamamu, menikmati keindahan alam ciptaan Allah." Rafa memasukan jari jarinya di jari jemari Ara, lalu menggenggam tangan mungil itu lembut, dikecupnya kemudian di letakkan di dadanya.


Ara lagi lagi terharu. Tiba tiba dia teringat sesuatu."Kak ..."


Hmmm, suara Rafa.


"Apa kakak yang memperbaiki rumah pak kusnadi dan juga beberapa rumah tidak layak huni yang berada di kompleks itu?" tanya Ara. "Ines yang memberitahu tadi pagi. Kebetulan dia melewati tempat itu dan melihat proses pembangunan rumah rumah tersebut." ujar Ara kembali mendongak melihat wajah Rafa.


Rafa diam tak menjawab, hanya mengusap lengan Ara yang memeluk perutnya. Lalu mendapatkan kecupan lembut di kening wanita yang sangat di cintainya ini.


Meski tak ada jawaban, Ara sudah tahu suaminya yang telah melakukan pembangunan itu.


"Terimakasih kak, Semoga Allah membalas kebaikan hati kakak dan melipatgandakan rezekinya!" ucap Ara tersenyum haru.


Rafa hanya tersenyum mendengar ucapan doa itu. Padahal dia melakukan kebaikan itu bukan karena ingin mendapatkan balasan dari Allah. Tapi semata mata karena ingin melihat senyuman dan kebahagiaan istrinya. Wanita yang sangat peduli dengan sesamanya. Wanita yang ikut merasa menderita dan sedih melihat penderitaan dan kesusahan hidup orang lain.


Ara teringat Cio dan Cia. Dia ingin tahu keadaan kedua bocah itu."Kak, si kembar...!" dia bergerak hendak bangun, tapi Rafa cepat menahan tubuhnya.


"Jangan banyak bergerak sayang. Dia sudah aktif sejak tadi." bisiknya pelan.


Wajah Ara mengernyit mendengar perkataan itu."Aktif? Apa?" bingung. Tapi kemudian dia terkejut merasakan sesuatu mengeras di pahanya, yang sengaja di gesekan Rafa. Dia hendak bangun mau turun. Tapi Rafa memeluk menahannya.


"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Kau sedang sakit. Sekarang tidurlah." ujar Rafa dengan nafas memburu cepat. Sungguh dia sangat tersiksa dengan keadaan ini.


Ara kembali merebahkan kepalanya di dada Rafa. Hatinya juga tidak tenang, jantungnya berdegup kencang. Dia memeluk perut Rafa yang rata. Wangi Aroma tubuh atletis semakin membuat jantungnya berdebar. Perlahan dia memejamkan mata, berusaha menenangkan debaran hati dan jantungnya. Berharap segera tertidur. Rasa merasa bersalah dan berdosa kembali menyeruak di hati."Maafkan aku kak!" batinnya sedih karena belum dapat melaksanakan kewajibannya pada Rafa.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2