
Suara alarm subuh mengagetkan Ines yang baru saja tertidur sejam yang lalu setelah pergumulan mereka di atas ranjang.
Ines dapat memejamkan mata setelah ia pingsan merasakan kesakitan yang teramat sangat karena pertempuran cinta mereka yang hebat di atas tempat tidur. Dia yang hanyut terbuai dengan sentuhan lembut dan manja dari sang duda beranak dua, terlena dan lupa dengan syarat pernikahan yang di buatnya sendiri.
Wisnu menggempurnya habis habisan selama dua jam. Menyerang setiap inci bagian tubuhnya atas bawah muka belakang dengan sangat liar dan ganas seperti singa kelaparan, membuatnya tak mampu meladeni keperkasaan duda yang telah berpuasa selama belasan tahun itu, hingga akhirnya dia pingsan karena tak kuat lagi.
Perlahan Ines menggeliat dan membuka mata.
Dia merasakan tubuhnya yang pegal dan sakit. Dia menggerakkan tubuhnya yang sulit di gerakan karena sesuatu yang menghimpitnya dan masih belum di sadari sepenuhnya apakah itu.
Aaaaaa....
Ines berteriak sekencang-kencangnya dengan mata terbuka lebar setelah melihat sepenuhnya benda yang berada di dadanya.
Dia sangat terkejut merasakan sebuah tangan kekar merangkum buahnya. Dan yang lebih membuatnya kaget dan ketakutan merasakan sesuatu yang menekan di bagian lipatan pahanya. Dia yang masih belum sadar sepenuhnya apa yang terjadi dan mereka lakukan sebelumnya.
Wisnu yang saat itu tertidur pulas dengan memeluk hangat tubuhnya dari belakang.
Memeluk Ines sambil menyesap aroma wangi punggung mulus wanita ini hanya menggeliat sesaat dan semakin mempererat pelukannya mendengar teriakannya. Dia menciumi tengkuk dan punggung Ines dengan lembut.
Ines kembali terkejut dengan apa yang dia lakukan. Ines menarik dirinya dan menjauhi tubuh Wisnu. Tapi Wisnu kembali menarik tubuhnya dan di peluk kuat.
"Lepaskan aku brengsek! menjauh dariku!" teriak Ines bergidik merasakan sesuatu menekan bokongnya. Sentuhan lembut tangan Wisnu di dada dan perutnya yang rata semakin liar.
Tak kuat menahan tenaga Wisnu, akhirnya dia kembali berteriak sekeras-kerasnya dan mengigit kuat tangan Wisnu yang nakal.
Wisnu yang merem melek menikmati setiap sentuhannya di tubuh Ines meringis sakit dan terkejut.
Dia segera bangun setengah badan.
"Ada apa sih teriak teriak? berisik amat!" tanyanya kesal menatap wajah Ines dari atas. Kedua tangannya menopang tubuhnya sekaligus mengurung tubuh Ines yang berada di bawahnya.
"Apa yang anda lakukan padaku?" teriak Ines.
Matanya membulat melihat Wisnu yang telanjang sama seperti dirinya. Tubuh mereka menyatu tanpa sehelai benang.
Dia kembali berteriak memalingkan wajah seraya meraih raih selimut di sampingnya tapi tak dapat.
"Menjauh dari ku... tutup mata anda jangan melihat ku!" sentaknya kembali seraya menutup dadanya dengan tangan.
"Tutup matamu, apa anda tidak dengar? cepat menyingkir dari tubuhku!" teriak Ines kembali melihat Wisnu hanya semakin memperhatikan tubuh polosnya dengan nakal. Dia mendorong dada Wisnu dengan satu tangannya.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" teriak Ines antara sedih dan marah.
Wajah Wisnu mengernyit.
"Aku? bukan aku..... tapi kita berdua melakukannya nona Ines Damayanti. Kita melakukannya suka sama suka!" kata Wisnu Wisnu menatapnya tajam
"Aku gak mungkin melakukannya. Kau pasti telah menyihir ku. Kau menghipnotis ku sekretaris bajingan! kau memaksaku!"
Ines memukul dadanya, dan mendorong kuat, tapi tubuh kekar itu tak bergerak sedikitpun.
"Apa kau ingin menggodaku lagi?" ucap Wisnu seraya melirik buah ranum yang berbentuk sempurna di penuhi tanda tanda merah dan keunguan hasil karyanya.
Ines kembali menjerit kesal dan segera menutup dadanya.
Wisnu tersenyum nakal di dalam hati.
"Percuma di tutupi. Aku sudah melihat setiap inci dari bagian tubuhmu, bahkan telah menikmatinya! Begitu pula dengan mu nona Ines. Kau telah menyentuh dan menikmati setiap bagian tubuhku dengan gairahmu."
Ines mendengus geram, tapi juga malu mendengar ucapannya.
"Aaaaa...!" teriak Ines kembali.
"Kau keterlaluan. Kau gunakan kesempatan dalam kesempitan. Kau licik. Seharusnya kau pegang kata katamu....janjimu untuk tidak menyentuh ku dan menjaga batasan dengan ku!" kata Ines keras semakin kesal.
"Aku sudah berusaha menjaga syarat itu nona Ines. Tapi kau sendiri yang membuatku lemah dengan sentuhan dan pelukan tubuh polos mu yang indah ini. Kau tak perlu marah dan berpura-pura, karena kau juga menikmatinya." kata Wisnu menatapnya tajam menyeringai, tapi dalam hatinya tersenyum.
Ines terbelalak. Emosinya semakin memuncak.
"Apa?"
Wisnu tersenyum miring.
"Tentu saja, kau sangat menikmatinya. Kau sepertinya lupa apa yang telah kita lakukan semalam?"
"Bagaimana dirimu begitu terlena dan menikmati setiap sentuhan ku. Kau bahkan membalas diriku! Kau lihat ini?" Wisnu menunjuk beberapa tanda merah di leher dan dadanya bekas kecupan dan gigitan Ines. Bahkan punggungnya pun terluka karena cakaran kuku wanita ini.
Ines terbelalak melihatnya.
Dia memalingkan wajah merahnya ke samping menghindari tatapan Wisnu yang tersenyum sinis menggodanya.
"Gak mungkin....aku gak mungkin melakukannya!" kata Ines malu malu dengan wajah manyun.
Wisnu memegang dagunya dan di arahkan kepadanya.
"Tentu kau yang melakukannya ibunya A'A. Aku pikir kau wanita polos yang tak tau apa apa, ternyata aku salah....kau sangat lihai dan ganas dalam bercinta.....!"
"Aaaaa...Gak mungkin.....pembohong.... duda sialan." Ines berteriak memotong ucapannya seraya mencakar wajahnya.
Wisnu tersenyum licik dan segera menahan tangannya.
"Atau mau ku bantu untuk mengingatkan kembali supaya kau mau mengakuinya?" menatap menyeringai.
__ADS_1
Mata Ines mendelik melihat senyuman sinis yang mengandung arti ini, serta mata yang di penuhi kabut hasrat dan birahi. Belum sempat dia bicara, Wisnu segera melahap dadanya.
Ines berusaha mendorong wajahnya tapi tangannya segera di tahan Wisnu dan kembali melahap bibirnya.
Wisnu kembali melakukan apa yang di dilakukannya semalam.....bukan hanya kemauannya sendiri, tapi kemauan keduanya yang melakukan suka sama suka karena terbuai oleh sentuhan masing-masing hingga lupa diri.
Meski sebelumnya Ines melawan dan menghindari dirinya, tapi akhirnya luluh juga dan takluk pada sentuhannya.
Lenguhan lembut keluar dari mulut Ines merasakan benda tebal lembab kemerahan itu menjalar ke bagian jenjangnya, terus turun ke dada, perut dan semakin merambah kebawah merangsang dirinya memberi sensasi nikmat dan membuatnya kembali di buat melayang terbang ke langit ketujuh oleh duda keren ini.
Sentuhan tangan Wisnu dan juga permainan bibirnya yang lembut dan kadang kasar membuatnya kembali lemah, terbuai dan lupa diri.
Dan perlahan mulai membalas sentuhan Wisnu setelah Wisnu melepas kedua tangannya yang melemah tak melakukan perlawanan lagi.
Wisnu tersenyum tipis.
Lenguhan Ines yang terdengar merdu di telinganya semakin membuat hasratnya menggebu-gebu. Wisnu kembali menggempurnya membabi-buta, melahapnya habisan habisan tanpa ampun tak perduli dengan keluhan kesakitan Ines.
Ines yang polos cepat sekali belajar dan berusaha mengimbangi permainannya.
Dan itu membuatnya senang dan bersemangat.
"Pelan pelan. Kau menyakitiku!" keluh Ines malu malu merasakan sakit permainan yang kasar. Dia melihat Wisnu seperti orang gila.
Wisnu menatapnya dengan tatapan lembut.
"Aku akan bermain lembut, aku tidak ingin kau pingsan dan permainan ini berakhir!" melembutkan permainannya dengan senyuman manis menggoda.
Ines mendengus kesal.
"Dasar gila! gila gilaaaa!" teriakannya keras seraya menggigit dada Wisnu.
Wisnu tersenyum lebar
"Salahkan dirimu yang membuatku gila ibunya A'A....kau membuat ku gila!" kata Wisnu sembari ******* kembali bibirnya yang bengkak dengan rakus.
Sangat menggemaskan di matanya melihat wajah merah merona Ines menahan malu.
Mulut Ines menolak tapi tubuhnya menerima sentuhannya.
"Kau harus kuat, jangan pingsan lagi." katanya kembali di antara hentakan gairahnya. Mengingat Ines semalam pingsan hanya dalam beberapa ronde permainan karena tak kuat menahan rasa sakit.
Ines kembali mencakar kuat punggungnya yang sudah terluka mendengar ucapannya.
"Tapi tunggu dulu.....apa yang di ucapkan barusan? ibunya A'A?...dia memanggilku begitu?" batin Ines mendengar sebutan yang di tujukan Wisnu padanya.
Dia tersenyum terharu dan merasa senang di panggil begitu. Ibunya A'A...Azham dan Azhar.
Dia teringat kembali kedua anak anak sambungnya itu. Terbesit rindu pada anak anak yang begitu menyayangi dirinya layaknya ibu kandung.
Terdengar keluhan kesakitan di padukan dengan lenguhan sesuatu yang indah dari mulut Ines. Ines tak menyangka begitu ganasnya cumbuan cinta duda ini.
Dia kewalahan dan hanya bisa pasrah menerima segala bentuk sentuhan lembut dan kasar dari ayah anak anak sambungnya ini.
Selanjutnya terdengar bunyi ranjang berderit keras seperti di landa gempa.
Ranjang semakin berantakan seperti kapal pecah. Semua isinya tumpah kebawah menyisakan dua sosok manusia yang sedang bergumul hebat saling serang dan membalas.
Dua jam berlalu, ranjang berhenti berderit ketika keduanya keduanya mencapai puncak gelora yang kesekian kali.
Wisnu tersenyum puas mengecup kening Ines.
Sungguh wanita ini membuatnya benar-benar gila. Senyuman bahagia terpatri di wajahnya karena mendapatkan seutuhnya tubuh wanita ini. Tubuh yang masih polos dan suci setelah melihat darah perawan milik Ines.
Ines yang masih belum bisa menghilangkan rasa malunya menyembunyikan wajahnya sambil mengatur nafas menahan segala rasa yang tidak mengenakkan pada tubuhnya.
Wisnu tersenyum melihat hal itu.
Dia menormalkan pernafasannya.
Keduanya tersengal-sengal dengan nafas yang tak beraturan. Tubuh yang masih menyatu bermandikan keringat.
Wisnu segera menariknya dalam pelukannya.
"Seharusnya anda jangan lakukan itu!" keluh Ines sendu.
"Kenapa? apa kau menyesal melakukannya?" Wisnu mengusap keringat di dahi mulus Ines.
"Aku membencimu!"
"Kenapa?"
"Masih tanya lagi? Kau pria yang menyebalkan!" gerutu Ines.
"Tapi kau suka kan?" Wisnu menggodanya.
"Iihhhhh.....!" Ines mendesis kesal dan menjambak rambutnya.
Wisnu tersenyum kecil seraya melepaskan tangan Ines di kepalanya.
Lalu kembali mengecup kening wanita manis ini.
"Katakan....apa kau menyesal melakukannya nona Ines? apa kau menyesal menyerahkan diri mu kepada ku?" memegang rahang Ines dan di hadapkan kepadanya. Di tatapnya wajah merah menahan kesedihan dan juga rasa malu ini.
__ADS_1
Dia ingin tahu perasaan Ines kepadanya setelah apa yang terjadi dengan mereka.
Ines menggelengkan kepalanya.
"Tidak." Katanya pelan.
Mengingat dirinya sudah dua kali hampir mengalami pemerkosaan jika Wisnu tidak datang menyelamatkannya. Lebih baik dia menyerahkan kehormatannya pada Wisnu yang notabennya adalah suaminya sendiri dari pada orang lain yang merenggutnya.
Karena dia tidak akan tahu kejadian apa lagi yang akan menimpanya dan belum tentu akan ada yang menyelamatkannya lagi, termasuk Wisnu. Tidak selamanya Wisnu ada sebagai penolongnya.
Dia juga membayangkan wajah sedih dan kecewa bapak ibunya jika tahu pernikahan mereka hanya kepura-puraan di atas syarat dan janji yang di buatnya.
Sebuah colekan di hidung mungilnya mengangetkan lamunannya.
Wisnu menyolek hidungnya.
"Serius? bukannya kau ingin tak ada sentuhan fisik di antara kita?" tanya Wisnu kembali dengan binar bahagia memenuhi wajahnya.
"Mungkinkah wanita ini sudah menerima pernikahan kami tanpa syarat? Serta menerima dan mengakui diriku sepenuhnya sebagai suaminya?" batinnya
Ines kembali mengangguk.
"Alasannya?" Wisnu kembali bertanya.
"Yaa.... karena anda suamiku!" kata Ines sedikit ragu karena malu.
Wisnu tersenyum senang mendengar pengakuan ini.
"Bukan karena alasan lain? karena yang ku tahu kau sangat membenciku dan menikah denganku hanya karena anak anak!"
"Aku memang membencimu, benci dengan sikapmu itu sekretaris menyebalkan. Dan aku ternyata benar, Kau menghargai aku bicara saat kau ada maunya seperti ini, saat aku tak berpakaian seperti ini, saat aurat ku terbuka seperti ini! Sama seperti kau menghargai wanita bertubuh seksi.....!"
Wisnu segera membekap mulutnya dengan kecupan, membuat Ines kaget dan segera menutup mulutnya. Menatapnya cemberut.
"Aku tak perlu menjelaskan alasannya lagi, karena aku tahu kau wanita yang cerdas. Dan aku tidak suka kau berpikir buruk seperti itu kepadaku!" katanya menatap tajam merasa tak suka dengan penilaian Ines padanya.
Dahi Ines mengerut.
"Yaaa.....aku mengerti....itu adalah tugasmu sebagai sekretaris pribadi tuan Rafa. Tapi bukan berarti kau mengabaikan ku. Mempertontonkan kedekatan mu dengan wanita itu tanpa rasa malu! Cihhh, menjijikan, punya istri masih saja dekat dekat dengan wanita lain! Senang banget melihat keindahan wanita lain!" dengus Ines menatap tajam balik dirinya.
"Minggir dari tubuhku, jangan menyentuh ku. Aku masih kesal padamu! Aku benci dirimu." sungut Ines kembali menatapnya kesal.
Wisnu tertawa dalam hati melihat tingkahnya.
"Tapi aku rasa tidak. Kau tidak marah dan membenciku nona Ines. Yang sebenarnya kau hanya cemburu kepadaku!" katanya seraya menahan ke dua tangan Ines yang mendorongnya.
"Apa?" Ines terbelalak mendengar ucapannya.
"Iya tentu saja. Kau bukan marah, tapi cemburu. Buktinya kau berada di dalam dekapanku sekarang, baru selesai melayaniku, bercinta denganku.......!"
"Aaaaa..... sekretaris sialan! kau benar-benar manusia menyebalkan!" teriak Ines keras dan mencakar wajah Wisnu dengan beringas.
Wisnu tertawa.....
Bugh....Bugh
Ines melayangkan tangan memberi pukulan.
Wisnu meringis sakit merasakan bogem mentah di wajahnya. Dia tidak sempat menghindar atau menangkis serangan Ines yang mendadak.
Terjadi pergulatan di antara mereka.
"Aku benar kok.....kau hanya cemburu!" Wisnu terus menggodanya di sela pergulatan mereka.
Ines semakin kesal dan tak terima terus menyerangnya membabi-buta. Melayang kan tangan dan kakinya... mencakar dan menjambak rambut Wisnu.
Dan Wisnu hanya membalasnya dengan sentuhan sentuhan nakal dan ciuman.
"Dasar gila.....!" teriak Ines.
"Aku gila karena mu nona Ines Damayanti!" ucap Wisnu
"Ih menyebalkan....dasar sinting!" Ines semakin emosi
"Semua Karena mu...!" kata Wisnu.
"Aku membencimu....!" teriak Ines semakin geram dan semakin bernafsu menyerang dengan mengerahkan seluruh kekuatannya meski sangat tak sebanding dengan kekuatan Wisnu yang mampu merobohkan puluhan musuh musuhnya seorang diri.
"Tapi aku menyukaimu! Aku rasa aku mencintaimu ibunya A'A....aku mencintaimu! aku menyayangimu!" teriak Wisnu agak keras menegaskan perasaannya seraya mengecup kening Ines secepat kilat, menghindari cakaran kuku tajam wanita ini.
"Diam brengsek, tutup mulutmu gobalmu itu.....aku sangat membencimu!" teriak Ines kembali melayangkan tendangan ke perutnya meski dia sempat terkejut mendengar ucapan cinta pria ini. Mencintaiku? apakah dia sudah bisa melepaskan Ayirin dari hatinya dan mengisinya dengan diriku? batinnya.
Karena setahunya Pria ini sangat mencintai almarhum istrinya dan tidak membuka hati untuk wanita lain selama belasan tahun hingga akhirnya menikahi dirinya. Itu pun hanya karena sukanya anak anaknya kepada dirinya.
Dan untuk beberapa menit berlalu pergulatan berakhir. Dan berganti kembali dengan pergumulan panas yang berlanjut di bathtub setelah Wisnu mengangkat tubuh Ines ke kamar mandi dan memaksanya mandi bersama.
Wisnu terus menyirami rahim Istrinya agar segera tumbuh benih-benih calon anaknya.
Tak perduli dengan keluhan dan tangisan Ines yang tak mampu lagi dengan serangannya.
******
Untuk kesekian kali Maaf karena selalu lama up. Lama gak up bukan berarti novelnya
__ADS_1
Hiatus ya....π Kalau Hiatus pasti ada pemberitahuan. Dan tanpa rasa bosan author tetap meminta dukungan dari reader semua ππ