Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 291


__ADS_3

Suara alarm subuh yang di setel jam 4 terdengar agak keras membangunkan Ines yang tertidur nyenyak.


Ines menggeliat di tempat tidur. Lalu merenggangkan kedua tangannya


ke atas sambil menguap. Setelah matanya terbuka lebar, dia terkejut melihat sekelilingnya.


"Ya ampun, aku tertidur di sini? di rumah sekertaris Wisnu?" Ines menoleh ke arah Azham dan Azhar di samping kiri kanannya yang tertidur pulas dengan kaki menempa pada perutnya.


Ines segera bangun setelah meletakkan kaki kedua anak itu ke sebelah dengan perlahan lahan.


Ines segera turun dari tempat tidur. Dia melangkah menuju nakas mematikan alarm pada ponselnya.


Ines kembali menatap Azham dan Azhar, lalu memperbaiki posisi tidur mereka pelan pelan, setelah itu menutupkan selimut ke tubuh mereka.


Ines memegang tenggorokannya yang terasa haus. Ines keluar dari kamar untuk pergi ke dapur. Niatnya ingin minum, meski dia ragu karena tidak meminta dulu pada pemiliknya.


Habis bagaimana lagi, pemiliknya sedang tidur, Gak sopan ganggu tidur orang. Nanti saja setelah Wisnu bangun, baru dia akan memberi tahu kalau telah meminum air segelas. Begitu yang ada dalam pikirannya.


Dia berhenti di depan pintu kamar Wisnu.


"Katanya mau mengantar ku pulang, tapi kenapa gak bangunin aku sih?" sungutnya kesal. Meski dia kenal Wisnu dan di sukai oleh anak anaknya, bukan berarti dia bisa tidur dan menginap di rumah ini. Apalagi tak ada Rani dan juga ibunya Azham Azhar.


Ines kembali melanjutkan langkah. Saat menuruni tangga pertama, matanya melihat bercak bercak merah. "Apa ini?" batinnya.


Dia turun di tangga ke dua, terdapat juga bercak seperti itu. Ines semakin penasaran. Matanya di alihkan pada tangga berikutnya dan seterusnya. Terdapat bercak merah yang sama.


Rasa takut mulai menghinggapi Ines. Ines menarik nafas dalam dalam, keringat dingin mulai muncul di pori pori kulitnya.


Karena penasaran dan ingin menyakinkan bercak apa itu, dia menurunkan tubuhnya dan mencolek sedikit bercak tersebut dengan jari telunjuk, lalu di ciumnya.


Ines terkejut "Darah?" mata membulat.


Ines semakin takut dan mulai gemetar membayangkan hal yang buruk. Wajahnya seketika pias. Otaknya berpikir keras untuk melakukan apa.


Beberapa detik kemudian.


"Aaaaaaaaa...." pekiknya keras.


Ines segera naik kembali dan terus berteriak.


Dia berlari ke kamar Wisnu.


"Sekertaris Wisnu bangun___Ada orang lain di rumahmu___sepertinya ada pencuri___ada darah___sekretaris Wisnuuu." teriaknya sambil mengetuk kuat pintu kamar Wisnu.


"Sekretaris Wisnuuu...." teriaknya semakin keras.


Pintu kamar terbuka tiba tiba.


Muncul Wisnu dengan wajah panik karena mendengar teriakannya. Wisnu hanya memakai celana jeans biru tanpa kaus.


Tubuh Atasnya terbuka.


Karena ketakutan, tanpa sadar Ines mengetuk wajahnya.


"Ada orang jahat di rumah anda. Ada ceceran darah di tangga. Sepertinya ada pencuri, perampok__" kata Ines asal menerka.


Ines menutup wajahnya dengan tangan begitu sadar dengan tubuh terbuka Wisnu.


Wisnu segera menahan tubuh Ines dan membekap mulutnya yang terus teriak.


"Ssst diam. Jangan berteriak. Kau akan membangunkan anak anak. Kecilkan suaramu." menekan suaranya sambil menatap tajam.


Ines kembali ingin bicara, tapi mulutnya kembali di bekap Wisnu.


"Tak ada pencuri atau perampok di rumah. Sudah diam, jangan bicara lagi." sentak Wisnu.


"Tapi darah darah itu___" kata Ines berusaha bicara di sela bekapan tangan Wisnu


"Itu darahku." kata Wisnu tegas.


Ines melongo.


"Darah anda?" suara rendah.


Wisnu tak menjawab. Dia segera melepaskan pegangannya pada tubuh Ines, dan juga bekapannya. Lalu segera masuk ke dalam.


Ines terkejut melihat luka di punggung atas Wisnu."Sekertaris Wisnu, punggung anda terluka." Tanpa sadar dia mengikuti langkah Wisnu, masuk ke dalam kamar.


Dia melihat Wisnu duduk di depan kaca dengan posisi miring. Ada kontak obat di depannya.


Saat itu Wisnu sedang mengobati lukanya. Tapi kaget mendengar teriakkan Ines. Dia mengira sesuatu yang buruk terjadi. Dia panik dan secepatnya membuka pintu yang di ketuk keras dan berulang.

__ADS_1


Wisnu melihat Ines dari pantulan cermin.


"Kembalilah ke kamar Azham dan Azhar."


"Kenapa Anda tidak membangunkan aku? Katanya mau mengantarku pulang." Ines malah bertanya.


Wisnu tidak menjawab pertanyaannya.


Dia terus sibuk membersihkan luka dengan kapas. Sangat sulit karena berada di atas punggungnya.


Ines meringis melihatnya. Luka yang cukup besar."Dengan luka sebesar itu kenapa tidak ke rumah sakit saja?"


Tak ada jawaban.


"Sekretaris Wisnu!"


"Bisa diam gak sih?" sentak Wisnu keras membuat Ines kaget.


Ines langsung terdiam, ciut nyali.


"Kembalilah ke kamar. Pagi nanti aku akan mengantarmu pulang."


"I- iya___, tapi boleh kah aku minta sesuatu? Semalam anda menanyakan kepada ku ingin minum apa bukan? Semalam aku belum haus. Tapi sekarang aku sangat haus. Bolehkah aku minta minum?" katanya pelan pelan.


Wajah Wisnu mengernyit mendengar ucapannya.


"Tadi itu aku mau turun untuk minum, tapi batal setelah melihat ceceran darah di tangga. Aku ketakutan." sambung Ines.


Wisnu membuang nafas kasar. Dia segera bangkit berdiri dan melangkah mengambil air minum di nakas, lalu menyerahkan kepadanya.


"Terimakasih." kata Ines senang. Dia segera meminum sampai habis air segelas full itu. Hilang sudah rasa dahaganya.


Ines meletakkan kembali gelas. Sekarang dia baru sadar berada di kamar pria ini. Dia menyapukan pandangannya ke tempat tidur. Tak ada wanita atau ibunya si kembar di sana. Sepertinya istrinya memang tidak ada terlihat dari Wisnu yang hanya seorang diri mengobati lukanya.


Kemana istrinya? Apa berada di Amerika? batinnya.


Ines memperhatikan apa yang di lakukan Wisnu. Yang kesulitan membersihkan luka dengan bantuan pantulan cermin.


"Kenapa anda bisa terluka seperti ini?" tanyanya menatap luka yang cukup besar di atas punggung Wisnu.


Ines teringat dokter Rizal. Hubungan mereka bertiga yang dekat bersama suami Ara.


"Diamlah. Cerewet amat! Kembalilah ke kamar." bentak Wisnu kesal merasa risih dengan pertanyaan pertanyaan itu.


Ines kembali kaget. Menelan ludah.


Bukannya pergi ke kamar, Ines malah melangkah semakin mendekati Wisnu. Ines mengambil kapas.


Wisnu memperhatikan dengan mata elangnya apa yang dia lakukan.


"Maaf, bolehkah aku bantu anda untuk membersihkannya? Dari pada anda kesulitan begitu. Anggap saja sebagai balas budiku karena dua kali anda telah menolongku." kata Ines.


Wisnu hendak menjawab, tapi Ines segera menyapukan kapas di pinggiran lukanya dengan hati hati dan pelan.


"Darahnya masih terus mengalir." kata Ines sambil meringis.


Wisnu melihatnya dari pantulan kaca.


"Tahan sebentar. Aku akan menekan luka anda untuk menahan darah dan membantu proses pembekuan darah agar tidak mengalir." kata Ines seraya menekan luka dengan kasa agak kuat.


Wisnu meringis menahan kesakitan.


Ines kembali menambah kasa di atas karena kasa pertama sudah di penuhi darah. Di tekan lagi, di tambahkan kasa. Begitu seterusnya sampai pendarahan berhenti tak ada lagi muncul darah pada lapisan kasa teratas.


"Tolong jangan bergerak dulu, aku mau ke kamar mandi." katanya.


"Di mana kamar mandinya?"


Wisnu menunjuk ke satu arah. Ines segera melangkah cepat ke sana. Entah apa yang di lakukan di sana. Beberapa saat dia kembali membawa handuk yang sudah di basahi dengan air sabun.


Dia segera membersihkan pinggiran luka setelah melepaskan kasa yang penuh darah. Setelah itu dia memberi salep antibiotik pada pinggiran luka, lalu segera menutupnya dengan perban.


Ines melangkah ke depan Wisnu, sedikit menurunkan tubuhnya. Wisnu kaget dengan apa yang dia lakukan.


"Maaf___" kata Ines. Lalu segera membersihkan luka luka kecil pada dada Wisnu.


Wisnu menatap wajahnya. Ines tak perduli.


Dia tetap fokus dengan apa yang dia kerjakan meski saat inilah hatinya tidak tenang, jantung berdegup kencang. Sesekali mata mereka beradu bertemu. Ines salah tingkah dan buru buru membuang tatapannya.


Sementara dia berusaha sekuat tenaga menahan jantungnya yang meletup letup seakan mau copot dari tempatnya saat menyentuh dan melihat dada bidang kekar berotot pria ini. Perutnya yang kotak kotak bagai roti sobek. Membuatnya menelan ludah.

__ADS_1


"Ya tuhan.. ampunilah dosaku berani menatap tubuh suami orang! Kendalikan dirimu Ines, Pria ini sudah bersitri." rutuknya. Tanpa sadar menepuk kepalanya yang berpikir kotor.


Wisnu melihat dan dapat membaca jalan pikirannya. Dia juga dapat mendengar degup jantung Ines yang cepat.


"Akhirnya selesai juga. Aku ingin bicara dengan ibunya Azham dan Azhar."


Dahi Wisnu mengernyit, menatapnya. Seakan bertanya untuk apa dia ingin bicara dengan Ayirin.


"Aku ingin minta maaf karena telah menyentuh tubuh anda, suaminya. Yaa meski niatku hanya membantu." kata Ines kembali.


Wisnu terhenyak mendengar ucapannya. Dia tersenyum tipis.


"Di mana ibunya si kembar? Apa berada di Amerika?" tanya Ines.


Kembali tak ada jawaban. Wisnu hanya menanggapi dengan tatapan.


Ines mendengus pelan.


"Sekretaris Wisnu, apa aku harus membayar suaramu agar kau mau menjawab setiap pertanyaanku?" katanya sewot.


"Apa susahnya sih menjawab pertanyaan orang? Setiap kali aku bertanya kau hanya diam terus. Katakan, berapa aku harus membayar suaramu, hah?" berkata agak keras, menatap tajam.


Wisnu kaget mendengarnya. Dia kembali tersenyum dalam hati melihat kekesalan dari wajah manis ini.


Wisnu memajukan wajahnya tiba tiba membuat Ines kaget dan buru buru menarik mundur wajahnya. Terlambat sedikit pasti hidung mereka bersentuhan.


"Kalau begitu tidak usah bertanya." kata Wisnu menatapnya tajam. Lalu segera bangkit berdiri.


Ines menatapnya judes dan semakin kesal.


Dia ikut bangkit dan melangkah menuju pintu.


"Menyebalkan." umpatnya kesal hampir tak terdengar. Tapi Wisnu sempat menangkapnya.


"Tolong sampaikan permintaan maafku pada ibunya Azham dan Azhar. Karena telah masuk kamar kalian dan menyentuh suaminya." katanya ketus saat di pintu.


Lalu melanjutkan langkah menuju kamar Azhar dan Azham.


Wisnu menatap kepergiannya dengan tatapan senyuman penuh arti.


Ines masuk kamar si kembar masih dengan kekesalannya.


Dia melirik jam di ponselnya. Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Waktunya shalat subuh.


Dia mendekati tempat tidur, membangunkan anak anak.


"Azhar, Azham, ayo bangun. Waktunya shalat subuh." Ines berani membangunkan mereka karena kata Rani mereka anak anak yang rajin ibadah.


Kedua anak itu bergerak gerak mendapat panggilan yang berulang.


"Kakak cantik?" kata Azham.


"Bangun sayang, sudah waktunya shalat subuh." kata Ines tersenyum.


"Kak Ines masih di sini? berarti kakak gak pulang semalam? apa kakak tidur bersama kami?" rentetan pertanyaan dari mulut mereka.


"Iya sayang, kakak gak pulang karena ketiduran. Ayah kalian tidak membangunkan kakak." katanya seraya menyapu kepala keduanya.


Kedua anak itu langsung meluk Ines.


"Kami senang kakak tidur bersama kami." kata mereka.


"Nanti tidur bersama kami lagi ya? bacain dongeng yang banyak buat kami." kata Azhar manja.


Ines hanya mengangguk, karena dia tidak tahu apa masih bisa tidur di sini lagi. Tapi yang jelas dia juga senang bisa tidur dengan anak anak ini.


"Ayo, sekarang pergilah ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu. Setelah itu kita shalat bersama."


"Baik kak." Anak anak segera turun dan berjalan menuju kamar mandi.


Bersambung.


Maaf baru bisa up.


Minal Aidin Wal'faizin, Mohon maaf lahir batin


Tinggalkan jejak ya yang suka


karya author 😊😘


Terimakasih atas dukungannya πŸ™

__ADS_1


__ADS_2