Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 53


__ADS_3

"Tu tuan anda...?" ucapnya terbata bata.


Belum selesai dia berkata, terdengar suara teriakan Cio dan Cia dari dalam kamarnya.


"Daddy..... daddy...." bocah bocah itu berlari kencang ke arah Rafa dengan senang.


Rafa mengalihkan pandangannya, dia langsung tersenyum melihat kedatangan anak anak itu.


Segera dia berlutut sambil melebarkan kedua tangannya menyambut dan memeluk keponakannya ini, mencium kepala mereka lalu membawa keduanya dalam gendongannya.


Sungguh dia sangat rindu dengan kedua keponakannya ini.


Rafa berdiri menggendong mereka.


"Daddy pulang, daddy pulang." seru mereka gembira, mencium ke dua pipi Rafa, melonjak lonjak kegirangan dalam gendongan pamannya yang mereka pikir adalah ayahnya.


Rafa sekarang mengerti tikus mainan itu, ulah jahil kedua keponakannya ini.


Tapi sungguh dia tidak menyangka kalau Ara sangat takut dengan binatang kecil ini.


Bahkan saat ini dia masih melihat ketakutan di wajah Ara.


Sedangkan Ara terperangah ketika mendengar Cio Cia menyebut Daddy pada pria ini.


"Daddy ?" ucapnya tanpa tanpa sadar menyebut kata itu.


Karena dia tahu si kembar menyebut kata itu hanya pada Rafa, kakak kedua suaminya yang mereka anggap sebagai ayah.


Berarti pria di depannya ini ....


Rafa meliriknya sekilas, melirik wajah yang celingukan kebingungan mencari tahu tentang dirinya.


Ara kembali menatapnya lekat


"Ka- kakak ipar?" ucap nya terbata bata dengan ekspresi sangat terkejut.


Rafa menoleh kearahnya, menatapnya. Keduanya saling menatap lekat.


"Ja jdi anda, kak Rafa ?" ucap Ara kembali bertanya untuk memastikan kalau pria di depannya ini memang kakak ipar keduanya.


Rafa tak menjawab, hanya terus menatapnya tajam.


Ara menelan ludah pahitnya, dia segera menundukkan kepalanya sambil meremas kuat kedua tangannya di bawah perut.


Rafa terus menatapnya tak berkedip dengan jantung semakin berdegup kencang, berulang kali dia menelan ludahnya.


Sedangkan Wisnu sudah berbalik membelakangi mereka saat nona mudanya itu turun dari gendongan tuannya.


"Ini daddy kami ante," kata Cio.


Sedangkan Cia asik mengecup ngecup


wajah Rafa.


Perlahan Ara mengangkat wajahnya, menatap pada Rafa yang masih menatapnya.


Ara menyapu keringat dan sisa air mata


di wajahnya.


Dada nya naik turun pengaruh dari nafasnya yang tak beraturan.


Dia maju selangkah mendekat ke pada Rafa.


"Kakak ipar, maafkan aku. A- aku tidak sengaja naik dan memeluk tubuh kakak tadi. Aku sangat ketakutan hingga tidak menyadari siapa orang yang ku peluk. A-aku pikir kakak adalah kak Raka yang baru pulang dari kantor. Aku juga nggak tahu kalau kakak sudah kembali dari luar negeri. Aku benar-benar minta maaf kak," ucapnya pelan terbata bata dengan raut wajah memelas.


Rafa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Tidak tahan melihat lekukan keindahan di depannya. Dia mendesah kasar dan frustasi.


Ara semakin takut melihat Rafa hanya diam dan membuang pandangannya darinya.


Dia merasa Rafa sangat marah padanya.


"Kakak ipar, tolong jangan marah, maafkan aku kak, aku benar-benar tidak sengaja. Aku...." ucapannya terhenti mendengar suara agak keras dari samping mereka.


"Kak Rafa, kak Rafa ....!" terdengar suara memanggil Rafa.


Nampak Raka yang sedang berlari cepat ke mereka. Rafa menurunkan si kembar setelah melihat siapa yang datang.


Dia tersenyum senang.


Segera dia melebarkan kedua tangannya menyambut adiknya.


Raka semakin mendekat dan langsung memeluknya dengan erat.


"Kakak, aku sangat merindukanmu. Akhirnya kakak kembali pulang ke rumah. Aku sangat senang dan bahagia sekali." ucap Raka sendu.


Rafa ikut memeluk tubuh adik bungsunya ini erat. Ada rasa sedih dan bersalah di hatinya. Tapi dia tidak mau menampakkannya.

__ADS_1


Dia mengusap ngusap kepala dan pundak adiknya penuh kasih sayang.


Wisnu yang menyaksikan pertemuan ini ikut terharu dan senang.


Keduanya melepas pelukan, saling menatap tersenyum. Rafa menangkup wajah adiknya, mencium keningnya, lalu memeluknya kembali.


Keduanya saling berpelukan melepas kerinduan dalam keharuan yang mendalam.


Sedangkan Ara yang sudah menyadari keadaan dirinya segera masuk ke kamar.


Dia baru menyadari dengan pakaian yang ia kenakan. Betapa malunya dia mengingat kejadian tadi.


Saat menaiki dan memeluk tubuh kakak iparnya tadi dengan pakaiannya yang tipis, pendek hanya tali satu terbuka bagian atasnya,


di tambah lagi dia tidak memakai Bra.


Baju tidurnya yang tampak basah oleh keringat. Sehingga lekuk tubuhnya terlihat, belahan dadanya, kedua buahnya yang terbentuk menonjol terpahat, juga lekukan pinggang paha dan bokongnya terlihat jelas di cermin.


Ara mendesah kasar, merutuki dirinya.


Dia mengira Rafa adalah Raka, yang baru pulang dan hendak masuk kamar.


Karena ketakutan membuat dia tidak lagi melihat jelas siapa yang berdiri di depan pintu.


Lagi pula mana dia tau kalau kakak iparnya itu sudah kembali ke rumah.


Karena yang dia tahu kakak iparnya itu sedang berada di luar negeri menetap di sana.


Ara kembali mendesah kasar, memaka jidatnya berulang ulang. Dia malu untuk bertemu dengan kakak iparnya.


"Sayang, ayo ke sini," Raka memanggilnya


membuatnya kaget.


Ara mendesah pelan, terlalu malu untuk menatap wajah kakak iparnya.


Segera dia memakai kimono untuk menutupi tubuhnya.


Perlahan dia mendekat.


Raka meraih pinggang rampingnya, membawa tubuhnya lebih dekat berdiri di depan kakaknya.


"Sayang, Ini kak Rafa, kakakku yang kedua. Kau baru pertama kali melihatnya kan?" katanya seraya memeluk pinggang ramping istrinya dari belakang, meletakkan kepalanya di antara bahu dan leher istrinya, lalu mengecup leher putih istrinya sekilas.


Ara jadi salah tingkah dan malu, dia segera mendunduk tak berani menatap wajah kakak iparnya.


"Kak Rafa, ini Ara istriku. Dia sangat cantik bukan? hatinya juga di penuhi banyak kebaikan, Dia sama seperti papa, suka berbagi dan peduli pada orang lain yang membutuhkan." kata Raka kembali sambil tersenyum.


"Istriku memang seorang pemalu kak, dia pendiam dan irit bicara, bicaranya hanya yang penting penting saja," kata Raka pada kakaknya karena melihat Ara yang hanya menunduk terus tidak berani menatap wajah kakaknya.


Mungkin pengaruh cerita yang di dengar dari pelayan bahwa kakaknya adalah pria dingin, angkuh dan pemarah hingga membuat istrinya takut pada kakaknya.


"Sayang, ayo sapa kak Rafa, kalian baru pertama kali bertemu kan? kau jangan takut, kak Rafa orangnya baik kok meski terlihat dingin begitu." ucap Raka pelan mengelus ngelus lembut pundak istrinya.


Ara menelan ludah pahitnya dan mendesah pelan. Perlahan dia mengangkat wajahnya. Menatap wajah Rafa yang juga sedang menatapnya.


Tatapan itu dingin dan angkuh tanpa senyuman.


Ternyata apa yang di katakan para pelayan


itu memang benar.


Ara berusaha tersenyum takut takut.


"Kakak ipar, aku Ara istri kak Raka," katanya pelan dengan suara rendah.


Lalu melangkah mendekat. Meraih tangan kanan Rafa dan mencium punggung


tangannya pelan pelan.


Lalu dia mundur kembali pada suaminya.


Rafa kaget dengan apa yang di lakukan Ara, mencium punggung tangannya.


Raka tersenyum dan kembali memeluknya dari belakang, lalu mengecup bibir sudut kanan Istrinya.


Ara kembali kaget dan langsung


mendudukan kepala.


Sedangkan Rafa segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dadanya bergemuruh kuat, darahnya berdesir.


"Sayang, sekarang kau sudah tau kak Rafa kan? dan yang lagi mengendong si kembar itu adalah sekretaris Wisnu." kata Raka menoleh pada Wisnu.


Wisnu yang sedang mengendong si kembar mendunduk kan kepalanya pada Ara.


Ara tersenyum sekilas kepadanya.


Sekarang dia sudah dapat melihat wajah kedua pria yang sangat mahal suaranya saat berbicara di telepon.

__ADS_1


Cio yang berada dalam gendongan Wisnu turun mendekat pada Ara, Cia juga ikut turun dan mendekat pada Ara.


"Ante, maafkan kami ya. Tikus itu mainan aku," Cio memegang tangan Ara.


"Iya ante, kami salah. Kami minta maaf. Ante jangan marah ya ?" Cia menyambung sambil memeluk Ara dari depan.


Dahi Raka mengerut


"Ada apa? Cio Cia kenapa minta maaf sama ante Ara ?" tanya Raka.


"Tidak ada apa apa kak," sela Ara seraya memeluk kedua bocah itu.


"Tante gak marah kok sayang, tapi tolong jangan gitu lagi ya ?" kata Ara seraya menyapu kepala mereka lembut.


Si kembar mengangguk.


"Tadi kami menakuti ante dengan tikus mainan. Soalnya kami ingin melihat wajah lucu ante saat di kejar kejar sama tikus. Kata ante Ara kan dia takut sama tikus dan kecoak." Cio menjelaskan pada mereka dengan gaya bahasanya yang polos.


"Ternyata ante benar benar takut sama tikus. Lucu deh liat ante lari ketakutan kesana kemari, loncat loncat di atas tempat tidur sambil nangis kayak anak kecil manggil paman Raka. Hahaha. Masa udah gede takut sama tikus kecil. Itu kan hanya tikus mainan," sambung Cia terus tertawa. Cio juga kembali tertawa.


Ara mendunduk malu seraya menutup wajahnya sesaat.


"Cio gak boleh begitu lagi sama ante Ara, ngerti ?" kata Raka menatapi mereka.


Kedua bocah itu langsung diam .


" Cio Cio jangan jahil tante Ara kayak gitu lagi, faham?" Rafa menatap mereka tajam.


"Iya paman, daddy. Kami janji gak akan nakal lagi sama ante Ara ! maaf ya ante." Cio memegangi kedua telinganya, di ikuti Cia sebagai tanda permintaan maaf.


Ara mengangguk tersenyum, lalu memeluk kedua bocah itu.


Ternyata anak anak ini sudah tau yang namanya tanggung jawab saat melakukan kesalahan.


Harus mengakui dan minta maaf. Dan itu sudah cukup bagi Ara.


"Sekarang, Cio dan Cia ke mbak Sita ya?" kata Raka.


"Iya paman." jawab mereka.


Cia memberi isyarat pada Rafa untuk menurunkan tubuhnya.


Rafa mengikuti perintah mereka jongkok di depan mereka.


Cio Cia langsung mengecup kedua pipinya secara bergantian.


Rafa tersenyum dan membalas menciumi kedua pipi mereka.


"Daddy jangan pergi lagi ya? daddy jangan tinggalkan aku sama kak Cio lagi." kata Cia mengelus ngelus pipi Rafa.


Rafa mengangguk pelan.


"Janji?" tanya Cio


Rafa kembali mengangguk ngangguk.


Si kembar kembali mencium ke dua pipinya, lalu segera berlari pada pada Sita.


Mereka berjalan menuju tangga untuk turun.


Raka memeluk kakaknya dari belakang saat kakaknya itu bangkit berdiri.


Menyamakan wajahnya sejajar dengan wajah kakaknya sampai pipi mereka menempel.


"Sayang, coba lihat wajah kami, hampir sama bukan?" katanya kemudian pada Ara


"Benar kan apa yang ku bilang? lihatlah baik baik sayang, wajah kami mirip kan ?" kata Raka kembali.


Ara melihat ke arah mereka, tapi matanya hanya menatap wajah suaminya, tidak berani menatap pada Rafa.


"I iya, kakak benar," katanya pelan. Kedua wajah itu memang mirip.


"Nah, sekarang katakan, siapa yang lebih tampan, aku atau kak Rafa? kak Rafa bukan?" kata Raka kembali sambil tersenyum melihat pada istrinya.


Rafa melepaskan pelukan adiknya.


"Raka, bagi kakak kamu adalah adikku yang paling tampan. Sekarang kakak ke kamar dulu. Kakak mau mandi, nanti kita ketemu lagi di meja makan." ujar Rafa mengalihkan pembicaraan, dia memegang wajah adiknya lembut, mengecup keningnya.


Melihat sekilas pada Ara lalu dan segera berbalik, berjalan melangkah menuju kamarnya.


"Baik kak," jawab Raka menatap punggung kakaknya yang berjalan.


"Permisi tuan muda, nona muda." Wisnu menundukkan kepalanya sejenak, lalu segera melangkah cepat mengikuti tuannya.


Raka tersenyum, sangat bahagia dengan kepulangan kakaknya, keluarganya sudah lengkap sekarang.


Setelah kakaknya masuk ke dalam kamar, dia segera mengajak Ara ke kamar mereka.


Dia juga mau mandi karena tubuhnya terasa gerah.

__ADS_1


*****


__ADS_2