Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 277


__ADS_3

Sementara di luar kamar, Dinda dan Ray baru saja naik setelah mendapat laporan dari pelayan mendengar ribut ribut di kamar Dion dan Cindy. Setelah tiba di atase keduanya semakin jelas mendengar perdebatan itu.


Telepon Cindy berbunyi.


Cindy menggigit kuat dada Dion sehingga pelukannya lepas. Dia segera naik ke atas ranjang meraih ponselnya.


Dion melihat kearahnya sambil meringis dan menekan dadanya yang sakit.


Air mata Cindy semakin membanjir setelah melihat isi pesan masuk yang di kirim oleh nomor yang tadi.


Hatinya semakin hancur, terluka, sakit dan perih. Dia menatap semakin tajam dan jijik pada Dion. Tangannya gemetaran hingga benda pipih itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.


Dion kembali kaget, bingung dan bertanya-tanya pesan apa yang masuk hingga membuat Cindy semakin sedih dan marah.


Gambar Foto sepasang pakaian dalam pria dan wanita tergeletak di lantai bawah ranjang kamar hotel. Berwarna merah dan hitam.


Cindy tahu warna hitam itu adalah warna pakaian dalam suaminya, karena dia sendiri yang menyiapkannya. Itu artinya Dion sudah melakukan hubungan badan dengan Bela?


Air mata Cindy semakin deras mengalir, hatinya semakin sakit dan terluka. Dia tidak menyangka suaminya akan mengkhianatinya meski dirinya sedang hamil. Dia tidak menyangka kakaknya akan menyakiti dirinya.


Tapi tiba-tiba tangisnya berhenti. Dia menyapu air matanya. Dia tidak mau menangis lagi. Dia tidak perlu berkata apa apa lagi pada Dion, apalagi marah, berteriak dan bertanya meminta penjelasan.


Tidak...dia tidak mau melakukan hal itu. Karena tidak ada gunanya lagi Dion menjelaskan apa pun.


Sudah terlalu dalam luka di hatinya dan sangat perih di rasakan melebihi perih sakitnya teriris pisau.


Sambil terisak isak dia melangkah dengan lemas ke arah pintu.


"Cindy..." Dion melangkah mendekatinya.


"Tetaplah di tempatmu tuan Dionel Alkas." Sentak Cindy keras.


Cindy terhenyak seketika langkahnya terhenti.


"Jangan mendekat. Aku benci dirimu. Aku membencimu." kata Cindy cepat dengan tatapan sedih penuh kebencian. Suara rendah. Tak ada lagi kekuatan untuk berteriak. Tubuhnya semakin lemas dan gemetar.


"Cindy, kamu salah paham sayang. Kakak di jebak. Tidak terjadi apa-apa antara kakak dengan bela. Percayalah!" Dion berusaha menjelaskan kembali.


"Tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku tidak mau mendengarnya!" kata Cindy.


Cindy membuka pintu. Dia kaget melihat Dinda dan Raymond berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Pamaaan... huuuuu..uuuu," Cindy langsung menubruk dan memeluk Raymond. Dia menangis keras.


Dion yang mendengarnya terenyuh dan ikut menangis. Tubuhnya jatuh melorot ke bawah meratapi rasa bersalahnya. Seharusnya dia menjaga emosi Cindy yang sedang hamil.Tapi lagi lagi dia menyakiti Cindy dan membuatnya menangis.


Cindy semakin keras menangis memeluk kuat pamannya. Dia lebih memilih pamannya ketimbang Dinda. Karena Ray adalah kakak dari mamanya. Dan sudah sepantasnya Ray tempatnya untuk menangis membagi segala kesedihannya sebagai ganti ibunya.


Dan Dinda memaklumi hal itu. Dia membelai punggung Cindy lembut memberi ketenangan.


Ray memeluk Cindy erat. Dia juga ikut sedih dan prihatin. Entah ada masalah apa di antara anak dan keponakannya ini. Dia memilih untuk diam dulu tanpa bertanya. Dia harus menenangkan Cindy yang saat ini di penuhi amarah dan kesedihan.


Tatapannya tajam penuh amarah pada Dion yang berlutut sedih. Entah apa yang dilakukan Dion pada Cindy sehingga membuat keponakan sekaligus menantunya ini marah dan menangis keras. Sudah dapat di pastikan hati Cindy saat ini sedang terluka.


Dion memang anaknya, tapi Cindy juga adalah keponakannya. Dia tidak akan terima bila ada yang menyakiti Cindy meski itu adalah Dion, putranya sendiri.


Cindy terus menangis menumpahkan segala kesedihan dan emosinya.


Dinda juga lebih memilih diam seraya menyapu lembut rambut anak mantunya ini.


Ada apa lagi di antara mereka? Karena dia melihat kebahagiaan terpancar dari keduanya dalam beberapa hari ini.


Baru beberapa jam yang lalu keduanya sangat senang dan bahagia karena terpilihnya Dion sebagai direktur utama dan pewaris tunggal DRA Group.


Sementara di dalam kamar, Dion yang telah melihat isi pesan di ponsel Cindy mendengus geram. Pantas saja Cindy sangat marah dan membencinya.


Amarahnya langsung meluap hingga ke ubun-ubun terasa mendidih.


Dia tidak memperkirakan tentang jebakan yang di lakukan Bela pada dirinya.


Segera dia melangkah keluar mencari Cindy untuk menjelaskan kembali.


Di lihatnya Cindy dalam pelukan papanya sedang menuruni tangga.


Dinda yang melihatnya segera memberi isyarat untuk tenang dulu dan membiarkan Cindy bersama Ray.


Dion mengikuti mereka perlahan-lahan dari belakang.


Sementara di luar pintu gerbang rumah Raymond Alkas. Bela tertawa terbahak-bahak sangat senang dan puas setelah mendapat laporan dari salah seorang pelayan yang bekerja di rumah Dinda. Pelayan yang dibayarnya tinggi untuk memberikan informasi padanya.


Pelayan tersebut memberikan informasi pertengkaran yang terjadi antara Cindy dan Dion. Cindy yang keluar dari kamar mereka, memilih tidur di kamarnya yang dulu dan pisah kamar dengan Dion.


Bela sudah memperkirakan hal itu akan terjadi setelah dia mengirimkan foto pakaian dalamnya dan juga pakaian dalam pria yang berwarna hitam seperti kepunyaan Dion yang sempat di tangkap oleh kamera Alin saat dirinya membuka rets celana kantor Dion.

__ADS_1


Bela kembali tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.


Dia sudah dapat memastikan sesuatu yang buruk akan terjadi pada rumah tangga pasangan yang baru menikah itu.


.


.


Waktu menunjukan pukul dua dini hari.


Setelah merasa tenang, Cindy memilih masuk ke dalam kamarnya yang dulu. Dinda sudah menawarkan diri untuk menemaninya karena khawatir dengan keadaan Cindy yang hamil dan masih syok.


Tapi Cindy menolak dan mengatakan dia baik baik saja. Dia hanya ingin sendiri.


Cindy berbaring sambil menyapu lembut perutnya. Dia masih menangis sesenggukan.


Meratapi nasibnya, pernikahannya dan juga rumah tangganya ke depan.


Dia pikir setelah kebahagiaan yang mereka jalani selama beberapa ini akan membuat dia dan Dion akan bahagia selamanya. Tapi ternyata hanya dia yang berpikir begitu, tidak dengan Dion.


Tentu saja, karena Dion tidak mencintainya.


Mereka menikah tanpa dasar cinta. Dan mungkin saja Dion sudah menemukan cintanya pada Bela.


Dulu dia percaya waktu Dion mengatakan kepadanya tidak menyukai Bela.


Tapi setelah melihat foto foto intim mereka di atas ranjang, membuat hatinya yakin Dion menyukai Bela dan punya hubungan gelap dengan wanita itu.


Cindy berpikir keberadaan Bela yang masih tinggal di rumah ini meski tak ada Dwi, di karenakan adanya hubungan di antara mereka berdua. Apalagi kedekatan dan bersentuhan seperti itu bukan baru kali ini terjadi di antara mereka. Juga Sikap Bela yang terlalu berani menyentuh Dion dan begitu perhatian padanya.


Bahkan saat dia dan Bela terkena susu panas di dapur waktu itu, Dion lebih perduli pada Bela ketimbang dirinya. Dion membiarkannya bahkan menganggap dirinya sengaja mencelakai Bela. Dion bahkan tidak menanyakan keadaan dirinya. Hal itu membuatnya yakin Dion peduli pada Bela.


Itu sudah membuktikan keduanya memang punya hubungan dan berhubungan secara diam-diam di belakangnya.


Cindy kembali menangis, air matanya tumpah ruah meratapi nasibnya dan juga anak anaknya ke depan. Dia tidak akan mengekang Dion untuk terus bersamanya. Biar bagaimanapun Dion adalah kakaknya dan butuh kebahagiaan dengan wanita yang di cintainya. Dan jika cinta itu Dion dapat kan dari bela, maka dia akan ikhlas demi kebahagiaan Dion. Tapi yang jelas dia tidak akan memberikan anak-anaknya pada Bela.


Karena perangai wanita itu tidak baik.


Karena terus menangis membuat Cindy lelah dan mengantuk. Akhirnya dia tertidur.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa dukung ya


__ADS_2