
Acara sederhana yang di gelar oleh Dinda dan Raymond Alkas atas pernikahan Dion dan Cindy. Tidak banyak yang datang, hanya beberapa kerabat dan keluarga.
Dion dan Cindy menyalami dan mengucapkan terimakasih atas kedatangan dan doa dari mereka.
Meski ada beberapa suara sumbang yang di dengarnya, mempertanyakan pernikahan mereka yang di laksanakan secara mendadak dan tertutup, Cindy lebih memilih diam dan mengabaikannya.
Setelah acara syukuran selesai dan tamu undangan kembali.
"Kak, aku mau pulang ingin istrahat, kepalaku pusing," bisik Cindy pada Dion.
"Mama nyuruh kita nginap di sini beberapa hari. Aku gak enak menolak. Mama terus maksa. Kita juga udah menolak untuk tinggal di sini kan? jadi gak apalah kita tinggal beberapa hari di sini ngikutin kemauan mama, biar mama gak tambah kecewa," ujar Dion.
Cindy mendesah pelan.
"Baiklah kak, tunggu sebentar aku mau menemui mama Dinda dulu,"
Cindy mendekati Dinda yang sedang beres beres bersama pelayan.
"Cind, kamu ada perlu sesuatu?" tanya Dinda melihat kedatangannya.
"Gak ma, aku hanya ingin pamit untuk istirahat. Maaf ya ma, aku gak bisa bantu beres beres. Aku merasa nggak enakan...,"
"Kamu gak perlu melakukan apapun, kamu lagi hamil, gak boleh capek dan stress. Ada pelayan di sini yang akan mengerjakan semuanya.
Sebaiknya kamu istirahat saja, pergilah istrahat di kamar kakakmu...." kata Dinda tersenyum sambil menyentuh perutnya.
"Iya ma.. terimakasih."
"Jaga cucu mama dan papa Ray baik baik ya?"
"Iya ma.." Ucap Cindy tersenyum merasa terharu dengan kasih sayang dan perhatian mama mertuanya ini.
"Dion..," Panggil Dinda agak keras seraya menengok ke arah Dion yang sedang menerima telepon.
"Ya mam..," seru Dion
"Temani istrimu ke atas nak."
Cindy merasa canggung mendegar ucapan Dinda. Dia menunduk malu malu.
Dinda tersenyum melihat tingkahnya.
Dion mengakhiri pembicaraannya di telpon, lalu di matikan.
Dia segera melangkah menuju pada Dinda dan Cindy.
"Ada apa ma?"
"Istrimu merasa gak enakan, dia mau istrahat. Temani dia ke atas. Ajak dia ke kamarmu." kata Dinda kembali seraya mengelus perut Cindy.
"Baik ma, ayo Cin, kakak antar ke kamar,"
Dion segera memegang tangan Cindy.
"Kami permisi dulu ma," pamit Cindy.
Dinda mengangguk tersenyum.
Keduanya segera berjalan menuju tangga.
Saat hendak menaiki tangga, mereka di
kejutkan dengan suara seorang wanita dari belakang.
"Kak Dion...," panggilan dari ruang keluarga.
Keduanya menghentikan langkah dan segera menoleh kebelakang.
Terlihat dua orang gadis cantik mendekat pada mereka.
__ADS_1
Sala seorang di antara mereka yang memanggil Dion tadi berlari kecil pada Dion dan langsung memeluk Dion begitu dekat.
"Dwi..?" ucap Dion balas memeluk gadis itu. Heran dan bingung dengan keberadaan adik sepupunya ini di rumah ini.
Dwi adalah sepupu Dion, keponakan dari mamanya, Dinda.
"Kau ada di sini?" kaget.
"Iya kak, aku baru nyampe di Indonesia."
"Kamu kok nggak bilang-bilang mau ke sini, kakak kan bisa suruh sopir buat jemput kamu di bandara."
"Aku mau kasih kejutan sama kalian, terutama pada kakak. Kakak senang nggak aku di sini?"
kata Dwi dengan mata berbinar-binar.
"Ya senang dong, kakak ucapkan selamat datang di rumah Ini." Kata Dion seraya mengacak rambut adik sepupunya ini.
Lalu keduanya kembali berpelukan.
Dwi teringat teman yang datang bersamanya.
"Oh ya kak, Aku ke sini sama temanku." menoleh pada teman wanitanya yang berdiri tak jauh di belakangnya.
Dwi menarik tangan Dion mendekat pada Bela, meninggalkan Cindy yang berdiri mematung di tangga pertama.
"Kenalkan temanku Bela. Dan Bel... kenalin kakak sepupu gue, kak Dion. Dionel Raymond Alkas, anak satu-satunya Paman Ray dan tante Dinda." kata Dwi saling memperkenalkan Keduanya.
Bela mengulas senyuman dan segera mengulurkan tangan kanannya yang langsung di sambut Dion.
"Sangat tampan," batin bela sambil menjabat hangat tangan Dion.
Dia menatap Dion lekat.
"Bela..," ucapnya sambil tersenyum manis.
Dion menjabat tangannya
Mata Dwi melihat ke arah Cindy.
"Kak, itu...,?" tanya Dwi menujuk ke arah Cindy dengan dagunya.
Dion mendekati Cindy dan memegang tangannya.
"Oh ya, kenalin ini Cindy..istri kakak." ucap Dion memperkenalkan Cindy.
Cindy memberikan senyuman pada mereka berdua.
Wajah Bela langsung berubah mendengar ucapan Dion.
Sedangkan Dwi terkejut.
"Istri kakak? bukannya kakak menikah dengan...," tapi ucapannya berhenti. Merasa ada yang aneh, Karena yang dia tahu Dion akan menikah dengan Sophia, seperti di beritahukan oleh Dinda pada mereka di Australia.
"Jadi kakak sudah menikah? kok kami gak tahu..?" mengalihkan kata kata.
"Iya, pernikahannya hanya sederhana dan tertutup, tidak mengundang siapapun. Itu keinginan kami."
"Terus kakak nikahnya kapan, dan istri kakak tuh statusnya....?" Bisik Dwi menujuk Cindy kembali dengan dagunya.
Dwi yang memang tidak mengetahui Cindy sebagai keponakan Raymond Alkas, karena dari kecil Dwi tinggal di Australia. Dan tidak dekat dan tidak mengetahui keluarganya yang berada di Indonesia baik dari pihak Dinda dan juga Raymond Alkas.
Dwi juga sebenarnya tidak begitu dekat dengan Dion. Mereka jarang sekali saling berhubungan.
Tapi Dion tahu semua sepupunya sebelah papa dan mamanya meski tidak dekat.
Hanya Cindy saja yang dekat dengannya selama ini.
"Kakak baru menikah semalam. Dan Cindy adalah keponakan papa." jawab Dion.
__ADS_1
"Ooo, jadi kakak baru menikah? seharusnya aku datang lebih awal biar bisa melihat kakak menikah." keluh Dwi.
Cindy yang dari tadi hanya diam sambil memperhatikan obrolan mereka berbisik pada Dion.
"Kak, aku mau ke atas dulu." karena merasa semakin pusing dan mual.
" Baiklah, ayo kita ke atas...."
"Nggak usah, biar aku sendiri saja, kakak temani mereka. Mereka baru datang nggak ada yang nemenin."
"Dwi...?" Panggil Dinda yang baru muncul dari dapur.
"Tante Dinda...," seru Dwi begitu melihat Dinda. Dia segera melangkah mendekati Dinda kemudian memeluk tantenya ini.
Mereka saling berpelukan lama, Dwi mengecup kedua pipi Dinda.
"Bagaimana kabar tante?"
"Tante baik, kamu sendiri bagaimana? kenapa nggak kasih tahu kalau ke sini?"
"Aku mendadak ke sini tante... sekalian aku juga mau ngasih surprise buat kalian. Oh ya tante ini temanku Bela."
Dinda tersenyum pada Bela. Bela segera menyalami Dinda.
"Ayo.. silahkan duduk." kata Dinda
"Ma, kami ke atas dulu." kata Dion
"Iya nak, pergilah kalian istrahat, mama akan temani mereka."
"Dwi, Bela..kami ke atas dulu." kata Dion kembali. Cindy juga memberikan senyuman pada mereka berdua.
Lalu keduanya segera naik ke atas saling berpegangan tangan.
Bela menatap kepergian mereka.
"Bel, ayo Duduk..," ajakan Dwi membuatnya kaget dan gugup.
Dia segera mengambil tempat duduk di dekat Dwi. Mereka duduk berhadapan dengan Dinda.
"Jadi, ada apa kalian datang ke Indonesia mendadak begini?" Dinda memulai pembicaraan.
"Nggak ada hal yang penting sih sebenernya. Kami hanya ingin jalan-jalan menikmati keindahan alam Indonesia. Boleh ya kami nginap di rumah tante?"
"Tentu boleh Dwi, tinggallah semau kalian. Anggap rumah sendiri. Tante malah senang kalian di sini, biar kamu bisa dekat dengan kakakmu, Dion. Dan lagi pula dari pada tinggal di hotel buang buang duit mending tinggal di rumah tante saja. Masih ada dua kamar kosong di bawah. Kalian bisa tidur di situ. Di atas juga ada dua kamar kosong. Satu kamar tamu dan satunya lagi kamar Cindy. Tapi karena dia udah nikah dengan kakakmu jadi mulai sekarang dia akan pindah ke kamar kakakmu." kata Dinda panjang lebar.
"Terimakasih tante," ucap Dwi senang.
"Jadi sebelum nikah sama kak Dion, Cindy memang udah biasa tidur di sini ya tante?" tanyanya kembali.
"Gak juga, hanya terkadang dia tidur di sini, karena dia punya apartemen sendiri. Dia datang kesini saat Dion menyuruhnya datang." kata Dinda kembali menjelaskan.
Pelayan datang membawakan minuman untuk mereka dan menaruh di meja.
" Silahkan di minum, setelah itu kalian mandi dan makan. Tante akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan kalian. Dan untuk kamar tidur kalian pilih yang mana? mau kamar bawah atau atas? tante akan menyuruh pelayan untuk menyiapkannya."
"Maaf tante, kalau boleh saya ingin tidur di kamar atas." ucap Bela pelan dan ragu ragu.
"Kita tidur di kamar atas aja ya Wi? biar bisa melihat pemandangan alam dari atas." pintanya pada Dwi meminta persetujuan temannya ini.
"Oke, aku setuju, kita tidur di kamar atas saja." Dwi menyetujui keinginannya.
"Kalau begitu tante akan menyuruh pelayan untuk menyiapkannya dan mengantar kalian ke atas." ujar Dinda.
Lalu segera memanggil dua pelayan untuk menyiapkan kamar atas.
Bela menyeruput minumannya seraya memandang ke lantai atas dengan senyuman tipis.
Sesungguhnya dia punya alasan lain kenapa meminta kamar tidur di atas.
__ADS_1
****
Happy Reading π