
Dengan menggunakan ojek mang Saleh, Ara mencari alamat itu. Saleh tau tempat itu karena dia sering ke kawasan apartemen itu mengantarkan penumpang nya. Cukup 30 menit berputar putar akhirnya sampai juga pada alamatnya.
Sebuah apartemen mewah yang terpisah dari apartemen lain yang berada di kawasan itu.
Ara segera turun, memperhatikan sekelilingnya. Di sebrang jalan kanan ada pos pangkalan ojek. Terlihat ada beberapa tukang ojek yang sedang duduk ngobrol menunggu calon penumpang.
Di samping pangkalan ojek ada warung makan.
Di seberang jalan kiri ada juga pos ronda.
Terlihat ada beberapa orang yang sedang asyik main kartu, ngobrol sambil ngopi.
"Bentar ya mang," menyerahkan helm.
"Iya Non, mang tunggu di pangkalan ojek ya?" saleh menunjuk ke tempat pangkalan ojek.
"Iya mang,"
Para tukang ojek melihat ke arah mereka dan menyapa dengan menundukkan kepala.
Ara membalas dengan senyuman meski tak kenal. Lalu segera melangkah mengikuti petunjuk yang di tulis pak Sam tadi. Ini seperti rute perjalanan untuk masuk ke dalam bangunan megah ini, tapi kenapa masuknya lewat lorong? padahal di depannya ada pintu gerbang besar untuk jalan masuk, tapi tergembok.
Sejujurnya Ara merasa khawatir masuk ke lorong ini, tapi dia lebih percaya pada Sam. Tidak mungkin pak Sam akan membawanya ke dalam berbahaya.
Lorong itu jauh dari jalan raya, agak berlari Ara menelusurinya, hingga ia mendapat sebuah pintu gerbang besar yang tidak tergembok.
Ara segera masuk, menaiki beberapa anak tangga, setelah sampai di atas, dia terpukau dengan mata dan mulut terbuka, menatap takjub kedepannya. Matanya di suguhkan dengan pemandangan taman yang sangat indah.
__ADS_1
Ternyata lorong itu terhubung dengan taman halaman samping apartemen mewah ini. Ada juga beberapa gazebo yang terdapat di halaman depan dan samping kiri kanan apartemen, kolam renang yang luas, garasi dengan beberapa mobil mewah terparkir rapi.
Bangunan ini di kelilingi oleh tembok pagar tinggi berduri.
Apartemen siapa ini? guman Ara. Dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu masuk utama yang tertutup.
Ara mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban. Ara cemberut bingung.
Apa tuan rumah sedang keluar? batinnya.
Dia mencari bel rumah, tapi tak ada. Rumah semewah ini masa gak masang bel? gumamnya.
Ara memperhatikan pintu yang menggunakan kunci otomatis, yang masuk harus menggunakan akses kartu dan kode pin.
Lama Ara mondar mandir di depan sambil mengetuk dan mengucap salam. Dia meraih ponsel untuk menghubungi Pak Sam, tapi dia lupa ternyata hp mati tidak sempat di isi.
Dia kembali mendekati pintu itu, iseng saja dia menekan nekan angka pada kunci otomatis.
Clek...terbuka
Hah? Ara terperangah dengan mata membulat.
Yang di tekan tadi adalah angka kelahirannya.
Mungkin pemilik apartemen mewah ini sama tanggal bulan dan tahun kelahiran denganku, batin Ara.
Ara mengucap salam, tak ada jawaban. Kembali dia mengucap salam, tapi tetap tak ada sahutan. Perlahan dia membuka pintu sedikit dan masuk dua langkah, pintu kembali tertutup otomatis membuat nya kaget.
__ADS_1
Di perhatikan sekeliling ruangan yang begitu besar dengan fasilitas yang mewah, ada beberapa ruangan di lantai bawah itu.
Suasana sedikit gelap karena tidak ada cahaya masuk semua jendela tertutup tirai.
"Permisi." ucapnya.
Hening, sunyi tak ada suara.
"Permisi.....!" agak keras. Terap sama tak ada suara.
Apa pemiliknya berada di lantai atas ya? batinnya melihat lantai atas.
Ara segera menaiki tangga menuju lantai atas, memperhatikan sekelilingnya. Matanya menatap sebuah pintu yang tertutup. Masuknya menggunakan akses kartu dan kode pin. "Ini ruangan apa? hanya ruangan ini yang ada di atas." Batinnya.
Iseng lagi dia menekan angka lahirnya, dan pintu terbuka.
Ara semakin bingung dan heran. Kenapa aku bisa masuk dengan semudah ini?
Keringat dingin mulai membasahi wajahnya, Rasa takut mulai menghinggapi. Ingin turun tapi sekilas teringat pada Sam. Tak mungkin Sam membawanya ke dalam bahaya. Pikirnya positif. Ara memasukkan kepalanya, melirik ke dalam..... gelap di lihatnya.
Perlahan dia segera masuk.
pintu tertutup kembali secara otomatis. Ara
melangkah perlahan. Meski agak gelap dia bisa melihat ada sebuah ranjang di depannya. Sudah dapat di pastikan kalau ruang ini adalah ruang kamar.
"Jadi Ini ruang kamar?" gumamnya pelan Kembali cemas dan takut.
__ADS_1
*****