
Mereka menuju salon mewah yang khusus untuk mengeritingkan rambut, atas recommend dari Cindy.
Ara ingin mengeritingkan kembali rambutnya atas perintah Rafa.
"Kak Dion gak perlu temani kami, sebaiknya pulang saja. Kakak pasti punya kerjaan kan?" ucap Ara pada Dion.
"Punya tapi nanti malam. Nggak apa-apa kok, aku akan temani kalian." kata Dion tersenyum. Yang sebenarnya dia meman punya beberapa agenda penting hari ini.
Ines dan Cindy lebih memilih membuka browsing di internet sambil mendengarkan musik biar tidak bosan menunggu. Dion sedang melakukan pekerjaan lewat ponsel pintarnya. Sesekali dia menoleh pada Ara.
Proses pengeritingan di mulai dengan mencuci rambut terlebih dahulu oleh seorang staf pegawai salon sebelum di beri obat pengeriting, lalu di lanjutkan dengan tahap selanjutnya dan selanjutnya lagi.
Suasana salon lumayan ramai, tapi tenang.
Para pengunjung di sajikan dengan Alunan musik untuk mengusir rasa kebosanan. Hingga sebuah lagu dari Seventen berjudul "Kemarin" mengalun indah menyayat hati Ara. Dia terhanyut dalam Alunan lagu yang menyayat hatinya, tanpa sadar air matanya mengalir jatuh.
Kemarin engkau masih ada di sini
Bersamaku menikmati rasa ini
Berharap semua takkan pernah berakhir
Bersamamu, bersamamu
Kemarin dunia terasa sangat indah
Dan dengan mu merasakan ini semua
Melewati hitam putih hidup ini
Bersamamu, bersamamu
Kini sendiri di sini
Mencari mu tak tahu di mana
Semoga tenang kau di sana
Selamanya....
Aku selalu mengingat mu
Doakan mu setiap malam ku
Semoga tenang kau di sana
Selamanya....
Ara menangis terisak sambil menutup ke dua telinganya.
Dion yang sesekali melihatnya terkejut melihat keadaannya.
__ADS_1
"Ara." dengan cepat Dion bangkit dari duduknya mendekati manajer salon.
"Matikan musiknya, cepat." ucapnya pada sang manajer.
Sang manajer terkejut dan kebingungan. Dia cuek dan malah marah.
"Aku bilang matikan." sentak Dion mulai marah. Tapi manajer malah mengatai dengan kasar.
"Mana bosmu, panggil bosmu cepat dan matikan segera musiknya," bentak Dion kembali sambil menarik kerah manajer.
Sontak teriakannya yang keras menarik perhatian pengunjung salon, mereka langsung berpaling ke arah keributan.
"Matikan atau kau tidak akan bisa bekerja lagi selamanya." sentak Dion kembali dengan sorotan mata tajam menahan amarah.
"Matikan ...." teriaknya kembali memukul keras meja kerja sang manajer.
Terlihat seorang wanita keluar tergesa-gesa dari ruang kerjanya menuju ke arah mereka. Dia adalah pemilik salon. Wajahnya terlihat pucat begitu melihat Dion. Dia langsung menampar sang manajer.
"Matikan." ucapnya dengan suara di tekan kuat. Manajer kelabakan dan cepat bergerak mematikan musik sambil memegang wajah yang sakit.
"Tuan, maafkan kami." pinta pemilik salon pada Dion sambil memelas dan memohon.
"Pecat dia." melirik tajam pada sang manajer
"Kalau tidak aku akan menutup tempat bisnis mu ini selamanya," sambungnya Kembali dengan tegas.
Pemilik salon terkejut dan ketakutan. Dia kembali menampar Manager penuh amarah.
Sementara Dion berlari menuju tempat Ara.
"Kemana dia." tanyanya pada pegawai staf yang melayani Ara tadi.
"Pe- pergi ke toilet tuan." ucap sang pegawai ketakutan melihat wajah sangar Dion yang di penuhi amarah.
Dion segera berlari ke arah toilet.
Di dapatnya Ara sedang duduk jongkok di sudut toilet sambil menutupi telinganya, terisak-isak menahan suara tangis.
"Ara.." Dion mendekat, kemudian berlutut dan segera memeluknya.
"Tenanglah, musiknya sudah berhenti, jangan sedih lagi." Dion memegang wajahnya, menyapu air mata yang membanjiri wajah Ara.
"Berhentilah menangis, jangan sedih lagi." menggenggam kedua tangan Ara yang gemetaran.
Ara terisak.
"Kak, maafkan aku, lagu itu mengingatkan aku pada al ..."
"Ssst... diamlah, jangan bicara lagi.Tak usah kau jelaskan apa pun. Jangan mengatakan alasannya, itu hanya akan membuat mu semakin sedih. Aku tidak tahan melihat Air mata mu. Tolong berhentilah menangis." kata Dion cepat sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Ara.
Lalu menarik kembali tubuh Ara ke dalam pelukannya. Dia ikut sedih melihat air mata Ara.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, jangan bicara apapun dan jangan memikirkan hal hal yang membuatmu sedih." ujar Dion kembali.
Dia tahu penyebab kenapa Ara sedih dan menangis mendengar lagu itu. Tapi dia tidak ingin mengungkitnya karena tidak ingin Ara semakin bersedih teringat pada almarhum suaminya, Raka. Dia yang baru mengetahui tentang status Ara seminggu yang lalu.
Sebenarnya Dion tahu tentang kematian Raka karena Raka merupakan putra konglomerat dan adik dari Rafa Ravendro Artawijaya.
Tapi dia tidak tahu kalau Ara adalah istri Raka.
Dion terkejut setelah mengetahui status Ara.
Dia mengira Ara adalah seorang gadis mahasiswi yang masih singel.
Tapi hal itu tidak membuat hatinya berubah. Dia malah semakin mencintai wanita ini. Lebih lagi setelah di ketahui Ara sudah menjadi seorang janda, karena tidak mungkin baginya mencintai dan memiliki wanita yang bersuami.
Keadaan Ara mulai tenang, tak terdengar lagi suara isak tangisnya. Dia segera melepaskan pelukan Dion.
"Aku udah baikan kak." ucap Ara berusaha tersenyum.
Dion memperhatikan wajahnya, menyapu sisa air mata Ara, memperbaiki letak kacamata, memperbaiki rambutnya yang sudah keriting. Hanya tinggal di cuci saja.
"Kita pulang ya?" ajaknya pelan.
Ara mengangguk
"Tapi aku malu dan nggak enak sama pengunjung salon."
"Kamu tenang saja." Dion memegang tangannya mengajaknya ke luar.
Keadaan di luar sudah sepi tak ada pengunjung lagi yang terlihat, salon juga sudah di tutup.
"Ara, kamu baik baik saja ?" tanya Ines dan Cindy berlari menyongsong kedatangan mereka. Keduanya segera memeluk Ara.
Mereka tidak mendengar suara ribut-ribut tadi. Keduanya berada di ruang sebelah sambil mendengarkan musik lewat headset, kuping merek tertutup oleh benda itu.
Pemilik salon segera menutup tempatnya dan menyuruh pengunjungnya keluar paksa, dari pada dia yang kehilangan pekerjaan dan juga tempat bisnisnya. tidak memperdulikan amarah dan umpatan para pengunjung. Dia hanya bisa meminta maaf.
Dion memberi isyarat pada Cindy untuk membawa Ara dan Ines ke mobil lebih dulu. Cindy mengangguk dan segera mengajak kedua temannya keluar dari salon.
Selepas kepergian mereka, pemilik hotel dan manajer berlutut di hadapan Dion.
"Tuan, maafkan saya yang tidak mendengar kan ucapan anda, maafkan saya yang tidak mengenali anda. Tolong jangan pecat dan hukum saya." pinta manager menghiba.
Dia baru tahu kalau Dion adalah orang yang sangat berpengaruh di kota ini. Dion memang bukan pemilik salon ini tapi dia bisa menutup tempat ini dengan satu perintahnya saja.
Dion menatap mereka tajam dengan kemarahan.
"Dengarkan baik baik, aku tidak mau kejadian ini tersebar keluar, apalagi sampai tersebar ke media sosial ! Pastikan hal itu tidak terjadi. kalian faham?" ucapnya tegas penuh tekanan.
"Baik tuan, kami mengerti, kami akan pastikan hal itu tidak akan terjadi, kami janji semuanya akan aman," ucap keduanya cepat dengan senang, perasaan lega.
Dion segera meninggalkan mereka, menuju parkiran mobil.
__ADS_1
*****
Jangan lupa like dan komentar nya yaa ππ