Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 158


__ADS_3

Setelah sholat mereka menuju parkiran di mana tempat mobil dion selalu diparkir. Honda jazz merah di pilih menjadi tunggangannya pergi pulang ke kampus agar tidak menarik kecurigaan orang tentang status dirinya.


Dion membuka kunci pintu mobilnya.


Ketiga gadis itu segera naik dan memilih duduk di bangku kedua.


"Nona nona, apa nggak ada yang bersedia duduk menemani aku di depan ?" ucapnya menoleh kebelakang.


"Hey, ayolah duduklah di depan ! Ines, Cindy Ara. Sala satu di antara kalian temani aku di depan dong." serunya kembali.


"Aku nggak mau, nanti pacar kak Dion lihat gimana? Aku nggak mau ya rambut indah ku nih kena jambak," kata Ines sambil memegang rambutnya dengan bibir mengerucut.


Mereka tertawa mendengar ucapan konyol Ines.


"Kamu aja Cin, kamu kan sepupu kak Dion." sambung Ines kembali.


"Nggak, aku pengen duduk aman dibelakang. Lo aja Ra, ayo pindah ke depan, temani kak Dion." Cindy menarik tangan Ara untuk keluar dari tempat duduknya.


"Maaf, aku di sini saja." jawab Ara pelan menatap mereka satu persatu.


"Aku benar-benar nggak bisa," ucapnya lagi sambil tersenyum, berharap kedua temannya itu mengerti dengan status dirinya sekarang.


"Oke, tidak apa-apa. Kalian di belakang saja ! let's go, kita pergi." ucap Dion dan segera menancap gas. Dia cepat menangkap penolakan Ara untuk duduk di depan bersama dirinya.


Ines dan Cindy untungnya cepat mengerti maksud perkataan Ara. Status Ara yang sekarang adalah seorang janda, yang tidak bisa sembarang berinteraksi dengan kaum lelaki, bisa saja di pandang buruk dan menimbulkan fitnah, walaupun hanya sebatas pertemanan.


Keduanya memeluk Ara dari samping.


"Maaf ya, kami lupa." bisik mereka pelan.


Ara mengangguk tersenyum sambil menyentuh pipi keduanya lembut.


Dion melirik mereka dari kaca tengah mobil.


Mobil berhenti di sebuah restoran mewah.


"Kak, beneran nih kita lunch di sini?" tanya Ines tak berkedip menatap restoran yang sangat mewah. Karena tempat ini hanya untuk kalangan para pengusaha kaya tajir melintir kelas atas.


"Ayo, aku sudah memesan tempat tersendiri untuk menyenangkan hati nona nona yang manis ini." ucap Dion tersenyum. Dia mengajak mereka menuju ruang privat yang sudah ia pesan, di temani pelayan hotel yang mengantar mereka.

__ADS_1


Ponselnya berdering.


"Bentar ya ! Cin, ajak Ara dan Ines, nanti kakak menyusul. Kakak terima telepon dulu." kata Dion. Dia juga memberi isyarat pada pelayan untuk menemani ke tiga gadis itu.


"Baik kak, ayo Ra, Nes kita duluan." ajak Cindy. Mereka kembali melanjutkan langkah. Menuju lift untuk membawa mereka ke atas.


Saat berbelok, mata Ara tanpa sengaja melihat sosok Rafa berdiri di depan pintu sebuah lift. Kakak iparnya itu bersama seorang wanita cantik dan seksi. Wanita itu memeluk lengan Rafa dengan mesra bergelayut manja, wajah tersenyum genit.


Ara memperhatikannya sejenak, dia berpikir untuk menyapa atau tidak? Ara berharap kakak iparnya tidak melihatnya. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju lift untuk menghindar dari kakak iparnya. Ara berjalan di belakang Ines dan Cindy untuk menyembunyikan diri.


Tapi mata elang Rafa menangkap keberadaan dirinya. Saat sang wanita berusaha mengecup pipinya, Rafa memalingkan wajah untuk menghindar. Saat itulah matanya menangkap sosok Ara. Rafa memperhatikan Ara tanpa berkedip. Dia sedikit terkejut melihat keberadaan Ara di tempat ini.


Kebetulan Ara juga sedang melihat kearahnya.


Merasa keberadaannya telah di ketahui, Ara menunduk menghindari tatapan Rafa.


Dia dua hati ingin menyapa atau tidak. Saat sudah berada di depan lift tujuan, Ara menundukkan kepalanya sejenak kepada Rafa sebagai isyarat menyapa. Lalu segera masuk ke dalam lift mengikuti langkah Ines dan Cindy.


Ara lega karena kakak iparnya tidak menegur dan menghentikannya, sehingga dia bisa melanjutkan langkah dan bisa makan siang bersama teman temannya.


"Tuan, nona muda ada di sini." bisik Wisnu yang juga melihat keberadaan Ara.


Rafa mendengus kasar pada wanita itu karena sejak dari tadi berusaha untuk memeluk dan menciumnya.


"Jaga kelakuanmu Tania." sentak Rafa kasar menatapnya tajam. Lalu pergi meninggalkan wanita itu.


Tania mengumpat dan memaki kesal padanya.


Tania, sala satu artis papan atas yang berusaha mendekati dan ingin menjadi kekasih Rafa.


Dari dulu dia mengincar pengusaha sukses kaya raya itu. Meski dia tahu Rafa mempunyai kekasih bernama Levina.


Tapi ternyata sangat sulit untuk mendekati Rafa, mendapatkan hatinya, apalagi menjadi kekasihnya. Dia berjuang keras untuk mendapatkan pria tampan itu tanpa menyerah.


Bertemu dengan Rafa merupakan suatu keberuntungan. Saat itu dia hendak masuk lift, dia melihat Rafa keluar dari lift bersama Wisnu. Hatinya sangat senang, dengan cepat dia menyambanginya dan berbasa-basi. Tapi Rafa cuek dan acuh padanya, meski dia berusaha menggoda dengan memperlihatkan tubuh seksinya. Rafa malah menghindari, bersikap dingin dan kasar.


*****


Di ruang kerja gedung RA Group.

__ADS_1


"Tuan, nona muda sedang makan siang bersama teman temannya ! Saya mendapatkan informasi dari manajer restoran. Sala seorang temannya memesan ruang privat di lantai 4." kata Wisnu setelah mendapat informasi dengan keberadaan Ara di tempat ini.


"Siapa yang pesan tempatnya? kau tau Ara tidak pernah menggunakan kartu kredit yang ku berikan. Apalagi kalau hanya untuk di gunakan pada hal hal yang berbaur mewah. Dia lebih memilih makan di warung jalanan dari pada mengeluarkan uang untuk membayar makanan yang mahal." ucap Rafa menatap Wisnu.


"Temannya yang bernama Nona Cindy telah melakukan reservasi."


"Cindy ? siapa dia ?" dahi Rafa mengerut.


"Nona Cindy adalah sahabat karib nona muda di kampus. Selain dia ada juga nona Ines.


Mereka bertiga adalah sahabat karib sejak pertama masuk kuliah. Nona Cindy dan Ines beberapa kali datang ke rumah utama saat nona muda ulang tahun dan menghibur nona muda saat kematian tuan muda Raka." Wisnu memberikan penjelasan sesuai informasi yang di dapatkan.


Wisnu menyerahkan hp, memperlihatkan wajah Cindy dan Ines pada tuannya.


"Mereka berdua yang kita lihat bersama nona muda tadi saat memasuki lift restoran." Wisnu menambahkan.


Rafa mengingat kejadian tadi, memang kedua gadis itu yang bersama Ara tadi, di temani dua pelayan.


"Cari tahu lebih rinci tentang keduanya." ujarnya kemudian.


"Baik tuan." ucap Wisnu.


"Apa agendaku selanjutnya?"


"Dua jam lagi ada pertemuan dengan pimpinan dari kantor cabang 2 dan 5."


"Kau urus pertemuan dengan perwakilan dari Dubai, tetapkan segera jadwal pertemuannya. Jika mereka masih menunda dengan berbagai alasan, putuskan kontrak kerjasama dengan perusahaan mereka."


"Baik tuan."


"Pergilah, aku ingin istirahat." perintahnya kembali.


Wisnu segera keluar setelah menundukkan kepalanya.


Rafa menyandarkan kepalanya pada atasan kursi kerja. Meletakkan kakinya di atas meja, tangan di lipat di atas perutnya, mata di pejamkan.


Pikirannya belum lepas dari Ara. Mengingat kejadian tadi saat Ara menundukkan kepalanya tanpa menegurnya. Rafa tersenyum tipis, melihat wajah manis yang menatapnya tanpa senyuman, dan berusaha untuk menghindar darinya. Tubuhnya yang tak lagi kurus sudah berisi seperti sebelumnya, dengan perjuangan keras Ara dalam mengisi perut demi untuk bisa masuk kampus lagi, serta pantauan ketat darinya untuk makan tepat waktu dengan porsi yang banyak.


Meski begitu, kadang dia melihat kesedihan di mata adik iparnya itu karena sering teringat pada Raka.

__ADS_1


******


__ADS_2