
Dengan mengendarai ojek langganannya,
Ara menuju rumah orang tuanya yang kini sudah di rubah fungsinya menjadi Panti Asuhan.
Masyarakat setempat sudah mengetahui tempatnya itu dengan melihat papan yang di pasang Tito 3 bulan lalu bertuliskan
"PANTI ASUHAN AZAHRA"
"Mang, boleh tungguin saya gak?" Ara turun dan melepaskan helm begitu sampai .
"Boleh non..,"
"Tapi mungkin lama mang."
"Gak apa apa non, mang tunggu, tapi jangan kelamaan juga ya non, soalnya mang khawatir biasanya malam hari rawan kejahatan di jalan."
"Iya mang, setelah magrib kita balik."
"Baik non..,"
"Mari mang kita, mang saleh duduk aja dulu di teras, nanti saya buatkan kopi."
"Non, kalau boleh mang tahu, nona Ara ngapain jauh jauh ke sini? ini panti Asuhan kan? maaf ya non kalau mang nanya."
"Ini tempat kelahiran saya mang, dan panti asuhan ini adalah rumah orang tua saya, tapi sudah saya jadikan asrama bagi anak anak yang kurang beruntung." jawab Ara sambil tersenyum.
"Ooo.." tukang ojek yang bernama saleh itu manggut manggut, umurnya 43 tahun, dia sudah menjadi ojek langganan Ara sejak Ara kuliah.
Orangnya baik dan jujur, makanya Ara menyukainya, dan selain saleh ada juga taksi online langganan Ara yang bernama Narto.
Narto adalah tetangga saleh, ia lebih muda dari saleh.
__ADS_1
"Jadi panti Asuhan ini milik non ?"
Ara mengangguk tersenyum
"Ayo masuk mang." ajaknya seraya menepuk pelan bahu Saleh.
Mereka di sambut Tito dan mbok Imah.
Ara masuk ke dalam, mang Saleh duduk di teras.
Tidak lama Tina anak perempuannya mbok Imah membawakan segelas kopi dan sepiring pisang goreng panas pada saleh.
Di dalam Ara, Tito dan mbok Imah bicara di ruang sholat.
Tito menunjukkan pada Ara anak anak yang masuk semalam.
"Ini pakaian mereka." kata Ara seraya memberikan dua tas kresek jumbo.
"Iya mbok, saya juga berpikir begitu, karena setiap hari anak anak panti makin bertambah."
"Sepertinya keberadaan panti ini sudah tersebar luas di masyarakat, sehingga anak anak itu datang ke tempat ini." kata Tito
Tito memanggil anak anak itu, memberikan pakaian mereka masing masing, dan mengenalkan Ara pada mereka.
Mereka menyalami Ara dan mengucapkan terima kasih.
"Sungguh kasian sekali mereka ! aku akan berusaha mencari donatur yang mau berbagi rezeki untuk mereka. Saya ingin anak anak ini bisa sekolah."
"Semoga Allah meridhoi tujuan mulia nona." kata si mbok
"Aamiin, tolong doakan biar saya cepat mendapatkan donatur."
__ADS_1
"Iya non, sudah pasti kami selalu berdoa untuk kebaikan anak anak."
Ara memperhatikan anak anak itu satu persatu, bermain bersama dengan tingkah polosnya mereka. Saling bercengkrama tanpa ada tekanan, tanpa paksaan, tanpa tangisan, tanpa kekerasan, tanpa kehausan tanpa kelaparan.
"Ya Allah, tolong jaga mereka ! dan bantulah aku untuk memberi kehidupan yang layak pada mereka." bisik Ara dalam hatinya.
*****
Setelah magrib Ara pamit pada mereka.
Anak anak mengantarnya sampai ke halaman.
"Anak-anak, nanti tambah rajin shalat dan mengajinya ya, jangan nakal, kalian harus saling menyayangi, saling membantu.
Yang tua harus bisa bantu jagain adik adiknya ya, bantu pekerjaannya mbok Imah, kak Tito dan kak Tina. Dan yang sudah tahu menulis dan membaca ajarin adik adiknya ya ?"
"Apa kita akan masuk sekolah kak?" tanya sala seorang anak laki-laki yang paling tua di antara mereka.
"Insyaallah, akan kakak usahakan, tolong kalian bantu doa ya? dan kamu Doni, Irfan dan Rani, nanti tolong ajarin adik adikmu yang belum bisa baca dan menulis ya ?"
"Iya kak..," jawab mereka dengan semangat
"Kakak balik dulu." kata Ara.
"Nanti kesini bawa oleh-oleh lagi ya kak..," kata yang lain.
"Iya sayang, nanti kakak bawain lagi." Ara tersenyum ke arah mereka.
Mang saleh yang menyaksikan kebersamaan itu terharu. Dia sangat bangga pada Ara.
*****
__ADS_1
Jangan lupa like, hadiah, vote dan komentarnya ππ