
Sebuah panggilan telepon masuk dalam ponsel Dion.
Bela? batinnya.
Seringai kecil muncul di sudut bibirnya.
"Akhirnya kau menelpon juga wanita murahan."
Dia segera mengangkatnya.
"Halo, siapa ini?" berpura-pura.
"Halo pak presdir.." suara manja dan menggoda seorang perempuan terdengar dari seberang.
"Kau? Wanita rendah, di mana dirimu." maki Dion setelah memastikan suara itu memang suaranya.
"Halo sayang, sepertinya kau sangat merindukanku ya__." kata Bela tertawa kecil.
"Laknat kau Bela. Tega teganya kau menghancurkan rumah tangga ku. Kau harus menjelaskan kepada istriku kalau semua yang terjadi semalam adalah jebakan mu." sentak Dion keras.
"Uuhh kaciaan. Aku turut prihatin. Sepertinya istrimu tidak percaya padamu ya? Hahaha."
"Sudah sepantasnya dia tidak percaya. Bukankah kita melakukannya suka sama suka sayang? Lebih bagus kan dia mengetahuinya kalau memang kita bercinta semalam, walau hanya sesat." Kata Bela tertawa senang.
"Wanita ******! Awas saja kalau aku menemukan mu." maki Dion keras.
"Buat apa kau repot repot menjelaskan kepadanya? Wanita bodoh itu tidak pantas untukmu. Hanya aku yang pantas untukmu sayang."
"Jangan mengatai buruk istriku wanita ******." teriak Dion keras.
"Kenapa kau tak suka aku menyebutnya bodoh? Memang istrimu bodoh, dongo, dungu, bego, dan tolol kan? hahaha.."
"Bela..." teriak Dion keras penuh emosi. Seandainya saja wanita itu ada di depannya, pasti sudah di cekiknya sampai mati.
"Hey, Jangan meneriaki ku Dionel Alkas__." sentak Bela.
Dion mengeram tertahan menahan kemarahan dengan tangan terkepal kuat bergetar. Seandainya kalau bukan karena menginginkan pengakuan Bela untuk membuktikan dirinya tidak bersalah di depan Cindy, sudah di maki makinya abis wanita ini.
"Bela, aku sudah menganggap mu sebagai adik sama seperti Dwi. Mengertilah, aku sudah menikah dengan Cindy." merendahkan suara.
"Tapi aku menyukaimu Dionel Alkas, aku tidak mau menjadi adikmu. Aku ingin kau menjadi kekasihku, milikku."
"Berpikirlah realistis Bela, aku sudah menikah dan istriku Istriku sedang hamil. Kau juga seorang perempuan. Tega kah kau menghancurkan rumah tangga wanita lain?"
__ADS_1
"Terus apa peduliku? Hah? Aku membenci istrimu. Aku senang melihat dia hancur." teriak Bela keras.
"kenapa kau membencinya, apa dia berbuat salah padamu? Apa dia menyakitimu? Kau datang ke rumah kami sebagai sahabat Dwi. Dan kami menerimamu dengan baik seperti keluarga sendiri. Tapi kamu sungguh tidak tahu diri merusak rumah tangga ku. Kau memang picik. Kau jahat Bela." sentak Dion keras.
Bela tertawa keras.
"Semua karena kamu Dionel Alkas. Aku mencintaimu. Tapi kau menolak ku semalam, Makanya aku akan menghancurkan rumah tangga mu."
Dion tersenyum menyeringai mendengar ucapannya. Karena semua percakapan ini sedang di rekamnya.
"Lagi pula kau tidak mencintainya kan? Aku tahu itu Dion. Kalian menikah hanya karena untuk menutupi kehamilannya. Bukan karena cinta__pernikahan kalian terpaksa. Jadi untuk apa kau bersikeras menjelaskan semua kepadanya? Bukankah itu malah bagus untuk menunjukkan ke pada si dungu bukti kau tidak mencintainya? Sebaiknya tinggalkan wanita bodoh itu.".kata Bela tertawaan kecil dan sinis.
"Ayolah Dion__dari pada dengannya, mending kau bersamaku. Aku lebih baik daripada dia. Untuk apa aku bertahan dengan wanita yang tidak kau cinta." lanjutnya kembali.
"Kata siapa aku tidak mencintainya, hah? aku mencintai Cindy, .aku menyayanginya. Kau salah besar." sentak Dion keras menegaskan.
"Ya yaaah, kau memang mencintai dan menyayangi si dungu itu, tapi hanya sebagai adikmu. Kau pikir aku tidak tahu? Sebaiknya kau jujur kepadanya agar tidak membuatnya terus terluka dan sakit hati. Jangan membohonginya terus dengan perasaan yang palsu."
Dion mengeram menahan kemarahannya.
"Wanita gila, psikopat." gerutu Dion geram dalam hati dengan emosi menggebu ngebu.
"Aku mohon Bela. Tolong jelaskan pada Cindy kalau foto foto yang kau kirimkan itu hanya untuk menjebak ku." berusaha menekan emosinya.
"Tunggu Bela, tunggu. Tjangan di matikan dulu teleponnya." seru Dion terburu-buru karena merasa Bela akan mematikan telepon.
Bela tersenyum sinis mendengar kepanikan Dion.
"Aku mohon dengan sangat. Karena ulahmu, Cindy sangat membenciku. Dia bahkan tidak mau bicara lagi dengan ku___!"
"Itu bagus kan, tinggal kan saja dia. Dan aku siap menggantikan dirinya." potong Bela.
"Itu tidak mungkin Bela, Cindy sedang hamil. Aku tidak ingin dia stres karena akan
mempengaruhi janin di kandungnya."
"Stress? Dan lama lama bisa gila dong? Bagus kan? Hahaha..Aku sangat senang jika si dungu itu jadi gila benaran Dion."
"Bela..." teriak Dion keras.
"Kalau dia jadi gila benaran, kau bisa meninggalkannya Dion. Toh kamu juga tidak mencintainya kan?" lanjut Bela tertawa terbahak-bahak.
"Cindy sedang hamil anakku Bela, aku menginginkan anak anakku tumbuh sehat dalam rahimnya. Makanya aku mohon jelaskan kepada dia agar dia tidak stres dan tidak berbuat macam-macam yang akan berdampak buruk pada anak anakku. Aku mohon Bela....aku mohon dengan sangat." pinta Dion berusaha bicara rendah, padahal saat ini tubuhnya benar benar di penuhi amarah yang semakin memuncak. Ingin sekali dia membunuh wanita ini.
__ADS_1
"Baiklah....tapi ada syaratnya."
"Katakan apa syaratnya?" dengus Dion menahan kemarahan.
"Jadilah milikku. Tinggalkan dia. Aku ingin sekali bersama mu Dionel Alkas. Menghabiskan hari hariku hanya bersama mu."
"Wanita gila, tidak punya hati dan perasaan" umpat Dion dalam hati
"Itu tidak mungkin. Cindy sedang hamil anakku. Papa dan mama juga pasti tidak akan terima dan marah besar karena anak yang di kandung Cindy adalah cucu mereka."
"Ya sudah, terserah dirimu,.aku tidak akan memaksa, bye." Bela merenggut sinis.
"Tunggu Bela__Baiklah__Aku akan mengikuti syaratmu. Tapi tunggulah sampai Cindy melahirkan dan aku akan mengambil anak anakku darinya. Tapi sebelumnya kau harus berjanji dulu untuk menjelaskan semuanya kepada istriku secepatnya agar dia percaya."
Bela tersenyum licik.
"Baiklah aku akan jelaskan pada si dungu itu. Tapi kau jangan ingkar janji Dionel Alkas."
"Aku berjanji Bela. Karena aku sangat menginginkan anakku."
"Dan sebelum aku menjelaskan pada si bodoh itu, kita harus bertemu dulu Dion. Aku sangat merindukanmu sayang. Kita bersenang senang dulu. Aahkkhh....aku ingin sekali bercinta denganmu pak presdir. Kenapa kau menolakk semalam. Seharusnya kau meladeni ku dan kita menghabiskan malam bersama penuh cinta dalam kenikmatan." Kata Bela konak sambil berkhayal mesum sambil menjamah tubuhnya penuh gairah membayangkan tubuh kekar berotot Dion.
Dion langsung mematikan telepon. Dia tersenyum licik dan memaki Bela.
"Cihh, Menjijikkan. Kau yang bodoh dan gila. Bukan hanya kau yang bisa bermain kotor, aku pun bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih buruk. Lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu jika bertemu." dengusnya geram.
Dion memegang ponselnya erat. Rekaman percakapan ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
"Aku harus segera menemui Cindy. Hatinya sangat hancur dan terluka. Maafkan kakak Cin, kakak harap kau percaya dengan bukti ini. Dan kita akan menjalani hidup dengan tenang lagi tanpa ada masalah." gumamnya.
Dia segera mencari kontak Cindy, tapi lagi lagi tidak tersambung. Dion membuang nafas kasar.
Dia mencari nomor Ara. Saat ini istrinya pasti bersama Ara dan Ines. Tapi nomor Ara juga tidak aktif.
"Apa mereka sengaja untuk menghindari panggilan ku?" keluh Dion.
Dia mencari nomor Ines dan segera menghubungi. Berharap nomor gadis itu aktif.
Aktif dan berdering. Dion lega.
...Bersambung....
Maaf baru bisa up π
__ADS_1
Tinggalkan jejak dukungan π