
Ara mondar mandir di depan kamar hotel Rafa dengan perasaan campur aduk. Sekali kali dia menggigit kuku ibu jarinya. Cemas gelisah takut bercampur jadi satu, itu yang ia rasakan saat ini. Sudah hampir satu jam dia bolak balik di depan kamar Rafa, menunggu kepulangan kakak iparnya itu. Akhirnya setelah beberapa saat berlalu, yang di tunggu muncul juga bersama Wisnu. Ara menarik nafas lega karena penantian lamanya berakhir.
Rafa semakin mendekat dan berhenti di depannya. Rafa melihat sapu tangannya masih mengikat rambut adik iparnya ini.
"Selamat malam kakak ipar." ucap Ara dengan suara rendah.
"Malam." ucap Rafa datar, matanya melirik kebawah, melihat kedua tangan Ara yang saling meremas.
"Apa kau sedang menungguku?" tanyanya kembali menatap wajah Ara. Meski dia sudah tahu adik iparnya ini menunggu dirinya lewat video CCTV yang di perlihatkan Wisnu. Dan karena itu dia segera kembali meski sedang melakukan pekerjaan penting. Melihat Ara mondar mandir di depan kamarnya.
"Eh..? I-iya kak." jawab Ara terbata bata dengan pandangan menunduk.
Rafa menghela nafas kasar lalu membuangnya pelan."Aku sudah berulangkali bilang kalau sedang berbicara dengan seseorang biasakan untuk bersikap sopan dengan menatap wajahnya."
Ara kaget. Reflek langsung mengangkat wajahnya yang tertunduk, membuat matanya menatap tepat pada sepasang mata di depannya yang terlihat lelah. Keduanya bertatapan.
"Ma maaf kak." Ara jadi ragu untuk mengutarakan maksud kedatangannya setelah melihat sorotan mata kakak iparnya yang terlihat sayu. Sepertinya kakak iparnya capek dan lelah setelah bekerja.
Wisnu membuka pintu.
"Ada apa ?" tanya Rafa seraya melangkah masuk ke dalam.
"Silahkan masuk nona muda." ucap Wisnu melihat Ara yang diam di tempatnya.
Dia bisa menebak ada keraguan yang ada di hati nona mudanya untuk masuk.
"Lain kali saja sekretaris Wisnu, kakak ipar pasti capek dan lelah. Kak Rafa butuh istirahat." ujar Ara. Dia hendak berbalik, tapi terdengar suara agak keras dari dalam.
"Masuklah, kau sudah menunggu aku terlalu lama bukan?" kata Rafa dari dalam.
Ara menatap Wisnu.
"Tuan memang banyak pekerjaan hari ini yang membuatnya capek. Tapi dia masih bisa melayani keperluan anda." kata Wisnu tersenyum kecil.
"Masuklah nona..." katanya kembali.
__ADS_1
Ara membuang nafas pelan, lalu segera masuk perlahan. Dia melangkah menuju ruang tamu, di ikuti Wisnu. Rafa sedang membuka sepatu dan kaos kaki, lalu dasi, dan terakhir jas dan tuksedo.
Wisnu segera mengambil pakaian kantor itu di sofa lalu membawanya ke kamar mandi.
"Duduklah...." Rafa mempersilahkan Ara duduk sambil membuka kancing tangan kemejanya.
Ara melihat apa yang dia lakukan.
Wisnu kembali datang dengan sandal di tangan, kemudian di letakan di depan kaki tuannya.
Ara segera duduk di sofa. Dia memperhatikan Rafa yang sedang melipat kemeja sampai batas lengannya.
Rafa segera duduk di depannya yang di batasi meja. "Bicaralah .." katanya seraya menatap wajah Ara.
Ara menelan ludah mendengar kata itu. Dia mengatur nafasnya yang tak beraturan. Menguatkan hati meski ragu dan takut.
"Ada apa? katakan saja." kata Rafa kembali melihat keraguan itu.
"Kau tidak perlu takut padaku. Aku kakak ipar mu. Kakak dari suamimu." lanjut Rafa lagi melihat kedua tangan yang saling meremas karena takut.
Ara kembali menelan ludah. Lalu memberanikan diri menatap wajah Rafa.
"Kau adik ipar ku. Aku tidak mungkin marah dan benci kepada mu. Aku sudah melupakan soal semalam." kata Rafa.
Ara mengulum bibir yang kering.
"Dan terima kasih telah membebaskan kedua gadis itu." lanjutnya lagi.
"Sekarang katakan apa tujuanmu hingga menungguku!" kata Rafa ingin langsung ke pokok tujuan Ara ingin menemuinya.
"Aku....aku ingin meminta sesuatu dari kakak!" kata Ara terbata-bata kembali ragu.
Dahi Rafa berkerut, bola matanya memutar,
menatap dengan penuh tanya. Apa yang di inginkan gadis ini? Kedua kalinya gadis ini meminta sesuatu darinya setelah yang pertama meminta dirinya untuk minum obat dan mengembalikan Sita kembali bekerja.
__ADS_1
"Katakanlah ...! Kau ingin minta apa?" katanya datar menatap lekat wajah Ara.
Ara kembali menelan ludahnya yang terasa pahit sambil meremas kedua tangannya.
"To- tolong kembalikan perusahaan Riz Company." katanya perlahan dan sangat takut.
Wajah Rafa langsung berubah.
Ara langsung merasa ciut melihat perubahan itu, tapi dia harus tetap bicara demi kehidupan orang banyak.
"Kak, atas kelakuan buruk yang mereka lakukan padaku semalam, aku tidak marah, sakit hati, atau menaruh dendam pada mereka. Aku ikhlas bahkan sudah melupakan kejadian itu. Mona dan Lisa kedua gadis yang kakak hukum semalam karena telah menghina dan merendahkan ku." Ara memberanikan diri bicara.
Rafa mendengus kasar, dia bangkit dari duduknya. Wajahnya semakin merah karena emosi.
Ara pun ikut bangkit mendadak.
"Kakak, aku mohon. Tolong jangan hancurkan perusahaan itu. Kakak sudah menghukum Mona dan Lisa dengan sangat berat, jangan tambah lagi dengan menghancurkan perusahaan ayah mereka."
"Kembali ke kamarmu." kata Rafa dengan emosi yang di tahan.
"Kakak ipar, aku mohon...." pinta Ara kembali.
"Aku bilang balik ke kamarmu." sentak Rafa dengan nada mulai meninggi.
"Tapi kakak sudah sangat berlebihan."
"Diam, jangan membantah." bentak Rafa keras. Rahangnya bergetar menahan amarah menatap dengan sorotan mata tajam.
Ara tersentak, tubuhnya bergidik menegang mendengar bentakan keras itu. Hati dan tubuhnya di rasakan lemah, kedua tangannya semakin kuat saling meremas gemetar.
"Wisnu, antar nona muda mu ke kamarnya." kata Rafa sambil berbalik membelakangi Ara.
Ara menelan ludah. Hatinya terenyuh, dadanya terasa sesak, lidahnya terasa kelu tak mampu untuk membuka mulut. Dadanya bergemuruh kuat menahan tangis. Dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berbicara. Keberaniannya hilang berganti dengan ketakutan, setelah melihat wajah menakutkan di depan, sorotan mata tajam seakan mau menerkamnya.
Ara melihat pada Wisnu yang sedang melangkah ke arah pintu untuk mengantarnya.
__ADS_1
Sedih dan kecewa itu yang di rasakan.
*******