
Di sebuah tempat latihan kelas dansa ballroom .
Ara sedang melakukan latihan tari dansa, sudah tiga jam dia latihan di bawah bimbingan instruktur perempuan berwajah bule, yang juga sebagai pasangan dansanya untuk menggantikan Rafa.
Sebenarnya latihan ini harus bersama pasangan, tapi suaminya sedang sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
Jadi sebagai pengganti suaminya adalah instruktur nya sendiri, karena Rafa melarang memakai instruktur laki laki.
Untung saja Ara bisa sedikit menguasai bahasa Inggris, jadi dengan cepat bisa faham dan menangkap apa yang di katakan coachnya.
Di sebelahnya juga ada Moly yang sedang latihan. Moly melakukan latihan langsung di bawah bimbingan instruktur laki laki.
Ara memberi isyarat pada Moly untuk istrahat,
Moly menganggukkan kepalanya.
Ara segera ke ruang ganti, membasuh sebagian tubuhnya karena berkeringat dan juga mengganti pakaiannya.
Lalu dia turun ke lantai di bawah, menuju kafe untuk menikmati minuman sambil menunggu moly yang sedang merampungkan beberapa tariannya. Smoothie strawberry menjadi pilihannya untuk menyegarkan tenggorokan yang kering.
Sambil menikmati minumannya, dia mendengarkan alunan musik Broken Angel yang di bawakan oleh anak anak band yang sedang mangkal di kafe tersebut untuk menghibur para pengunjung.
Lagu itu mengingatkannya pada almarhum suaminya . terbesit kerinduan di hatinya.
Ara menyalakan ponselnya, membuka galeri fotonya bersama Raka.
Dia menyentuh wajah alamarhum suaminya sambil tersenyum, Raka juga sedang tersenyum ke padanya.
"Selamanya kakak akan selalu ada di hatiku, kakak akan selalu menjadi cinta pertama dan sejatiku." gumannya pelan penuh haru.
dia menyentuh cincin pernikahannya dengan Raka, mengecupnya pelan.
Tanpa menyadari sepasang mata di belakangnya sedang memperhatikan apa yang dia lakukan dan mendengarkan apa yang di ucapkan nya .
Ara kembali menggeser foto foto di galerinya, menatap kenangan kenangan bersama Raka dengan kerinduan yang mendalam.
Musik terhenti sesaat, lalu mengalun kembali.
Terdengar alunan musik dari Jhon legend
" All of me "
What would l do without your smart mouth
Drawing me in, and you kicking me out.
Got my head spinning, no kidding
l can't pin you down
What's going on in that beautiful mind.
Gerakan tangan Ara berhenti setelah beberapa saat mendengar suara penyanyinya.
Suara yang seperti tidak asing baginya,
rasanya dia mengenal suara ini.
Segera dia mengalihkan pandangannya ke panggung band.
Dan...Hah? dia melongo melihat kakak iparnya sedang berdiri di sana, tersenyum ke arahnya melambaikan satu tangannya sambil mengucap lirik demi lirik menyanyikan lagu dari Jhon legend tersebut.
suaminya itu terlihat santai dengan memakai kasual yang membuatnya semakin tampan, maskulin dan dewasa. Perpaduan antara jaket kulit hitam, kous oblong yang fit di tubuhnya, serta celana panjang yang juga pas di tubuhnya.
Ara tersenyum kecil dan terheran-heran menatapnya.
Rafa mendekatinya, memegang kedua tangannya, mengecupnya lembut sambil terus bernyanyi.
Terdengar tepukan tangan dari beberapa pengunjung, mereka bertepuk antusias setelah tahu ternyata lagu tersebut di persembahkan serta di tujukan kepada seseorang yang di cintai.
"Its Amazing " kata seorang pengunjung.
" Kereeeen " kata pengunjung laki laki lain memberikan jempol pada Rafa.
Ara terkejut menyadari pertunjukan suaminya menjadi perhatian pengunjung kafe.
Dengan cepat dia menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, di masukan ke dalam jaket kulit suaminya.
Dia khawatir akan ada yang mengambil gambar mereka, terus mengunggahnya.
Rafa tertawa kecil, terus melanjutkan nyanyiannya sambil memeluk tubuh istrinya.
Cause all of me loves all of you.
Love your curves and all your edges.
All your perfect inperfektions
Give your all to me, l'll give my all to you.
Your re my end and my beginning
Even when l lose l'am winning
Cause l give you all, all of me
And you give me all, all of me.
Rafa segera mengakhiri lagunya, karena mendapat bisikan dari Ara untuk berhenti.
Dia mengakhiri lagunya sambil mengecup ngecup puncak kepala istrinya.
Terdengar beberapa pujian dari pengunjung.
"They are a great match and romantic."
"Perfect "
"Your voice is good, and you re very handsome " kata seorang pengunjung wanita, di ikuti oleh pengunjung wanita lain yang mengagumi ketampanannya.
Rafa menundukkan kepala sesaat dan mengucapkan terimakasih mendengar pujian pujian yang di tujukan padanya dalam bahasa Inggris.
"Kak, ayo cepat keluar dari sini." bisik Ara Kembali dari balik jaket.
__ADS_1
"Iya sayang." Rafa memberi isyarat pada wisnu untuk membayar tagihan minuman istrinya serta jasa anak muda band.
Lalu segera keluar dari tempat itu, turun ke bawah menggunakan lift. Menuju parkiran dan masuk mobil.
"Kakak kok bisa di sini? katanya sibuk." tanya Ara setelah mereka berada di dalam mobil.
"Aku kesini mau menjemputmu sekaligus mengajakmu makan siang bersama."
"Terus kak Moly bagaimana? dia masih latihan di atas, masa kita tinggalkan di sini?"
"Wisnu yang akan menunggunya sayang." kata Rafa Kembali. Dia mendekat meraih sabuk pengaman di samping tubuh istrinya lalu memasangkannya.
"Kamu pasti lapar kan ?" mengelus ngelus perut rata istrinya.
Ara mengangguk pelan.
Rafa mengecup bibirnya pelan.
"Kamu teringat Raka lagi ?" memegangi dagu istrinya.
Ara mengangguk pelan
"Lagu anak band mengingatkan ku padanya, kakak tahu darimana?" menatap wajah suaminya yang berada tepat di depannya .
"Aku tadi baru sampai dan berdiri di belakang mu, aku melihatmu membuka foto kenangan kalian. Aku juga mendengar ucapan mu padanya " kata Rafa agak sedih.
Jujur dadanya terasa sesak saat mendengar
Ara mengatakan Raka adalah cinta pertama dan sejatinya.
Mungkinkah tidak akan ada ruang lagi untuknya di hati istrinya?
Dia sengaja menyanyikan lagu jhon legend tadi untuk di tujukan pada istrinya sebagai ungkapan isi hatinya.
Ara melihat ada kesedihan di mata suaminya,
dia menghela nafas pelan sambil menelan ludah, lalu perlahan memegangi wajah suaminya, mendekatkan wajah dan hidungnya pada hidung suaminya.
" Maafkan aku karena tidak bisa menghilangkan kak Raka dari hatiku ! karena dia adalah laki laki pertama dalam hidupku, yang memberikan cinta pertama dan terbaik kepadaku. Dia juga adalah pria dan suami terbaik. Makanya aku tidak bisa melupakan nya. Karena sangat sulit untuk melupakan orang yang telah memberikan banyak cinta dan kebahagiaan pada diri kita." ucapnya pelan menatap pupil mata suaminya.
"Tapi percayalah, kakak juga ada di ruang hatiku, aku sangat menyayangi kakak sama seperti kak Raka." ucapnya kembali, tersenyum tulus, dia menyapu bibir suaminya perlahan, menangkup pipi suaminya.
Memiringkan sedikit kepalanya, mendekatkan kembali bibirnya dengan sedikit terbuka, lalu menciumi bibir suaminya dengan lembut sambil memejamkan mata.
Ara menghentikan ciumannya karena merasa tidak di tanggapi.
"Kok diam? kenapa gak di balas?" menatap lekat mata suaminya yang juga menatapnya tanpa suara.
Ara menghela nafas dengan wajah cemberut.
"Ya sudah, aku tidak akan cium kakak lagi, selamanya aku tidak akan mencium kakak. Kakak juga gak boleh cium cium aku lagi." menarik wajahnya mundur.
Rafa tertawa kecil dalam hati. 6dia menahan tengkuk istrinya cepat, lalu segera ******* bibir istrinya.
Terjadi ciuman dalam dan hangat beberapa saat, lalu berhenti di sertai nafas yang memburu cepat dari masing-masing.
Ara tersenyum dan mengecup kening suaminya.
"Aku menyayangi kakak, sangat menyayangi kakak sebagai suamiku." mencium lagi.
"Kakak juga sangat tampan." tambahnya sambil tersenyum. Kembali menciumi bibir suaminya.
Rafa tersenyum kecil, dia segera membalas ciuman istrinya Kembali.
"You re so handsome. aku dengar beberapa mulut para pengunjung wanita mengatakan itu." kata Ara kembali di sela ciumannya.
Rafa tersenyum
"Apa kamu cemburu?"
"Nggak, buat apa? mereka benar kok, kakak memang So handsome." jawab Ara tersenyum kecil.
Rafa semakin gencar menciumnya.
"Kakak, apa kita akan terus berciuman seperti ini? aku sangat lapar." berkata dengan suara lemah.
Rafa menghentikan ciumannya.
"Maaf sayang, aku lupa ! kamu ingin makan apa? nanti kita akan ke restonya." menyapu sekitaran bibir istrinya yang basah.
"Di sini jual somay gak ya ? aku pengen makan somay."
"Somay ?" balik bertanya
Ara mengangguk.
"Makanan apa itu ?" dahi mengerut.
"Makanan Indonesia dong kak, sala satu jajanan kuliner yang paling laris dan di minati masyarakat kita ! kakak nggak tahu?"
"Nggak, aku baru kali ini dengarnya."
Ara tertawa kecil.
"Ya ampun kakak !" memaka dahinya.
"Kita balik ke rumah saja, aku akan buat sendiri." sambung Ara kembali.
"Katanya sangat lapar, nanti aja makan itu, kita cari makanan yang mengganjal perut mu dulu, aku nggak mau kamu nanti sakit perut menahan lapar." mengelus perut istrinya.
"Aku akan hubungi pak Sam dan buk Narsih meminta mereka untuk membuatnya . kau bisa makan saat pulang nanti."
"Baiklah." Ara mengalah sedikit kecewa.
*****
Setelah selesai makan siang dan melaksanakan Dzuhur bersama, Rafa mengantarkan kembali istrinya ke tempat latihan dance, lalu dia segera balik ke kantor cabang pembantu miliknya bersama Wisnu.
Ara melangkah menuju lift untuk membawanya ke lantai atas.
Saat hendak memasuki lift , sebuah tangan menarik tubuhnya dari belakang.
Ara terkejut, dia hendak berteriak tapi mulutnya langsung di bekap.
__ADS_1
"Ara, ini aku." pemilik suara itu segera membalikkan tubuh Ara menghadap ke padanya.
Ara terkejut melihat siapa yang di depannya.
"Kak Dion ?"
Dion tersenyum menatapnya.
Tanpa pikir panjang dia langsung memeluk tubuh Ara.
Melepas segala kerinduan yang beberapa minggu ini di pendam nya, kerinduan yang membuatnya sangat kehilangan dan menderita.
"Akh kakak..." Ara gugup dan risih merasakan pelukan itu, dia berusaha melepaskan tangan Dion.
Tapi Dion semakin memeluknya kuat .
"Biarkan aku memelukmu sejenak Ara, aku sangat merindukanmu ! aku hanya ingin memelukmu, karena kita sudah lama tidak bertemu dan berkumpul bersama." katanya kemudian, menyesap wangi aroma rambut Ara dan mengecupnya berulang pelan pelan tanpa sepengetahuan Ara.
Dia semakin erat memeluk merasakan kehangatan tubuh gadis ini.
"Aku sangat merindukanmu sayang, akhirnya aku menemukanmu dan bisa memelukmu." batinnya, kembali mengecup puncak kepala Ara.
"Sudah kak, gak enak di lihat orang yang lalu lalang melewati kita." kata Ara berusaha melepaskan tangan Dion.
Ara menekan sedikit Wajahnya di dada Dion, menyembunyikan wajahnya dari tatapan orang yang melalui dan melihat mereka berpelukan.
"Kak Dion, lepas ...aku juga merindukan Ara ! aku juga ingin memeluknya. Kakak pikir hanya kakak yang rindu padanya?" terdengar suara wanita dari samping mereka.
Ara mengenali suara itu, dia segera berpaling.
"Cindy ...?" terkejut senang.
Dion segera melepaskan pelukannya.
Cindy tersenyum dan langsung memeluk Ara .
"Ara ..aku juga merindukanmu."
"Cindy ...kau juga di sini?" kembali memanggil Cindy seakan tak percaya melihat sahabatnya ini ada di depannya. Dia ikut memeluk melepas rasa kangennya pada sala satu sahabatnya ini.
Keduanya saling berpelukan dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian kok bisa ada di sini ?" tanya Ara setelah mereka duduk di kafe yang berada di bawah di sekitar situ, dia menatap keduanya bergantian.
"Kebetulan kak Dion ada urusan penting di Swiss. Kak Dion ngajak aku, sebenarnya kami ngajak ines juga, tapi karena kak Dion perginya mendadak, Ines gak bisa ikut." Jawab Cindy.
Ara manggut-manggut "Aku juga kangen sama Ines." katanya pelan.
"Bagaimana keadaan kakak? apa luka kakak sudah sembuh?" memperhatikan Dion.
Dia meraih tangan kanan Dion yang terluka dulu.
Terlihat bekas luka jahitan yang sudah kering .
tapi belum sembuh sepenuhnya, hanya kering di luarnya saja, bagian dalamnya masih sedikit basah.
"Apa masih sakit kak ?" tanyanya kemudian sambil menekan pelan bekas luka itu.
Dion menatapnya dengan lekat.
"Luka nih gak sakit Ra, hanya hatiku yang sakit !" katanya pelan.
Ara menatapnya sedikit terkejut.
" Katanya kamu akan datang kembali mengunjungi ku, tapi nyatanya tidak. Kau bahkan tidak memberi kabar dan nomormu tidak bisa di hubungi, kau seolah menghilang dari ku, dari kami semua ..." kata Dion Kembali.
Ara membuang nafas panjang.
"Iya Ra, aku dan Ines juga selalu menghubungi mu, dan mengirim pesan. Tapi nomor mu gak aktif ! kamu juga gak ngasih tahu kalau mau ke paris. aku sama Ines nyari nyari dan khawatir sama kamu." sela Cindy menambahkan ucapan dion.
"Maafkan aku ya, aku perginya tiba tiba di ajak sama kakak iparku. Jadi gak sempat menghubungi kalian ! dan mengenai nomorku, aku sengaja menonaktifkannya." kata Ara merasa bersalah.
Dion tahu itu bukan sengaja di lakukan Ara, tapi di lakukan Ravendro.
"Ooh gitu ya ?" ujar Cindy
"Terus ngapain aja kamu di sini? apa kamu sudah jalan jalan dan shopping?" Cindy menatapnya tersenyum.
Ara mengangguk
"Iya Cin, sudah."
"Aku juga kepengen melihat keindahan kota ini , aku mau ke menara Eiffel, temani aku ya Ra ?"
"Aku akan usahain ya Cin.. karena sepertinya kami akan segera balik ke Indonesia setelah kakak ipar menghadiri pertemuan penting besok malam. Aku akan meminta izin dulu padanya."
"Baik Ra, aku sangat berharap dia mengizinkan mu . mumpung kita lagi di sini, kita bisa pergi bersama. Kita minta kak Dion untuk menemani kalau dia gak sibuk." menoleh pada Dion yang tidak berhenti menatap wajah Ara sejak tadi.
Ara mengangguk tersenyum.
"Sejak kapan kalian di paris? Kebetulan banget ya kita ketemu di sini?" katanya Kembali.
"Kami baru sampai tadi, dan pertemuan kita bukan karena kebetulan Ra, tapi karena takdir allah." jawab dion.
Padahal yang sebenarnya, dia menyuruh orang mengawasi kediaman Rafa sejak pagi tadi, setelah mereka berhasil menemukan alamat pengusaha besar itu.
Dion menyuruh mereka mengikuti kepergian Ara dan Moly. Karena beberapa jam yang lalu dirinya dan Cindy masih berada di pesawat dalam perjalanan menuju kota ini.
Setelah mendarat, mereka langsung menuju tempat kursus latihan ini.
Terdengar telepon Ara berbunyi.
Ara segera memeriksanya, dia kaget dan baru sadar melupakan moly di tempat latihan.
"Maafkan aku ya, aku harus pergi meninggalkan kalian. Aku kesini sama asisten kakak iparku, dia sedang menungguku di atas."
"Gak apa-apa Ra, pergilah, nanti aku akan menelpon mu, berikan nomor telepon mu." ujar Cindy.
Ara segera memberikan nomor teleponnya.
Setelah memeluk Cindy dan pamit pada Dion, dia segera berlari menuju keluar.
Dion menatap kepergiannya dengan senyuman penuh kebahagiaan.
__ADS_1
******
πππ