
...Happy Reading....
Setelah di bersihkan, Ara segera menutup kedua luka itu dengan perban, 30 menit berlalu semuanya sudah selesai di ganti. Ara memperhatikan wajah Rafa yang sedang terpejam.
"Sudah selesai kak..." ucapnya.
Lalu kembali membasuh keringat di wajah, leher, tangan, dan seputar dada kakak iparnya yang berkeringat banyak.
Tak ada suara maupun pergerakan dari Rafa.
"Apa kakak tertidur? atau pingsan?" batinnya.
Di perhatikan mata Rafa masih tertutup, hanya nafas yang terdengar keluar masuk.
Ara menempelkan punggung tangannya ke dahi Rafa, masih tetap panas.
Ara menutup kan selimut pada tubuh Rafa sebatas perut.
Dia mengambil termometer di dalam kotak obat, lalu menyelipkan benda itu ke ketiak Rafa.
4 menit kemudian alat itu berbunyi dan terlihat jelas hasil suhu tubuh Rafa 39⁰c. Ara terperanjat melihat hasilnya."Pantas saja tubuh kakak ipar panas sekali," gumamnya.
__ADS_1
Ara segera turun ke bawah menuju dapur untuk membuat air hangat, lalu segera kembali dalam beberapa menit. Dia masuk ke kamar mandi untuk mencari handuk yang akan di gunakan untuk mengompres. Di gunting menjadi tiga bagian, kemudian di celupkan kedalam air hangat yang suhunya 37 derajat Celcius.
Satu di tempelkan di kening dan dua di apit kan pada ketiak Rafa. Selang beberapa menit di bolak balik handuk itu berulang-ulang, kalau sudah kering, di celupkan lagi. Berulangkali hal itu di lakukan.
Sambil menunggui kakak iparnya bangun, Ara membersihkan tumpahan makanan di lantai, bubur dan sup kuah.
"Makanan ini pasti di buat pak Sam untuk kakak ipar. Lalu bagaimana ini? Kakak akan makan apa kalau bangun nanti?" gumamnya.
Setelah lantai bersih, Ara kembali turun ke dapur. Dia langsung membuka kulkas. Siapa tau ada bahan makanan yang bisa di masak, tapi kosong, hanya ada berbagai macam minuman, penyedap dan beberapa butir telur.
"Mereka pasti hanya biasa memesan makanan Gofood." batinnya.
Sekilas Ara melihat rice box mini di dekat kulkas. Ara segera membukanya, dia tersenyum."Masih ada sedikit beras untuk membuat bubur kak Rafa," gumamnya senang.
mentah terlalu banyak karena akan Expired dan tidak layak lagi di konsumsi bila tersimpan lama. Dia hanya membeli bahan makanan tergantung lamanya mereka tinggal di apartemen. Kalau ingin memasak dia hanya akan membeli bahan makanan seperlunya saja.
Ara segera memasak bubur dan merebus dua butir telur. 20 menit berlalu, dia segera naik ke atas sambil membawa nampan berisi bubur, telur yang sudah matang, air putih, madu dan segelas teh hangat, sebotol air mineral dan madu. Dia menatap Rafa yang masih tertidur. Sudah dua jam berlalu, mata itu masih terpejam. Perlahan Ara mendekat, meraba kening Rafa. Panasnya belum berkurang. Ara kembali meletakkan handuk basah di kening dan ketiak kakak iparnya itu.
"Kak, bangunlah. Aku sudah buatkan bubur dan teh hangat untuk kakak. Makanlah dulu, supaya demam kakak bisa turun." kata Ara pelan. Tak ada sahutan, mata Rafa tetap terpejam.
"Kak Rafa__!" panggilnya lagi.
__ADS_1
Tetap tak ada sahutan.
Perlahan dia menyentuh tangan Rafa, di tekan tekan tidak terlalu keras.
"Kakak ipar, bangunlah, makan dulu." terus menekan nekan. Hasilnya tetap sama, tidak ada pergerakan.
"Bagaimana ini? Kak Rafa gak bangun bangun. Apa yang harus aku lakukan?" dia mulai khawatir.
Ara menarik nafas pelan. Matanya terarah pada laci nakas. Ara menariknya perlahan. Ada beberapa macam obat yang masih utuh. Ara segera mengambilnya, memperhatikan nama obat obatan itu. Meski bukan seorang dokter, Ara tau ini adalah obat untuk luka dan vitamin.
"Ini pasti obat kakak ipar, tapi kenapa tidak diminum?" gumamnya. Dia menoleh lagi pada Rafa.
Tiba tiba terdengar bunyi dari laci nakas. Ara menarik laci nakas. Bunyi itu berasal dari sebuah ponsel. Dia segera meraih benda itu. Di lihatnya dokter Rizal memanggil. Ara bingung, dua hati mau mengangkat atau tidak, karena teringat kata kata Rafa tadi. Setelah berpikir lagi, Ara memilih mengabaikannya. Dia tidak ingin mencari masalah lagi yang akan mengundang kemarahan Rafa.
Panggilan itu berhenti, Rizal menelpon lagi, Ara tetap mengabaikannya. Tidak lama terdengar bunyi pesan masuk. Ara juga tidak membukanya. Dia hanya melihat di layar pesan itu yang bertuliskan:
"Bos bagaimana keadaan mu? Jangan lupa makan dan minum obatmu, dan kalau boleh aku sarankan kau harus datang ke rumah sakit. Lukamu itu harus di jahit secepat mungkin, jangan keras kepala."
"Kenapa kak Rafa tidak mau minum obat, tidak ke rumah sakit dan melakukan operasi? Lukanya kan cukup parah." batin Ara seraya melihat Rafa. Ara meletakkan kembali HP itu ke laci. Dia tiba-tiba teringat sesuatu, "Ya ampun Mang Saleh. Beliau pasti sedang bingung menungguku. Aku sudah lama membuatnya menunggu." Gumamnya teringat dengan Saleh yang menunggunya di pangkalan ojek.
Ara segera meraih tasnya, dan mengambil ponselnya. Terus di aktifkan, tapi tidak bisa hidup. Dia baru ingat kalau ponselnya habis daya. Ara mengambil power banknya untuk di gunakan mengisi daya ponselnya. Dia harus segera menghubungi mang Saleh. Hati dan pikiran Ara jadi tidak tenang mengingat tukang ojek itu.
__ADS_1
"Maafkan aku Mang Saleh, aku benar-benar lupa." ucapnya sendiri. Terlalu sibuk dan cemas pada Rafa membuat dia lupa pada tukang ojek itu. Ara menoleh pada Rafa, tapi pria itu masih tertidur.
Bersambung.