
Rumah sakit AZ'FA Azahra Harapan mulai.
Rafa membelai lembut pipi istrinya yang terbaring lemah tak sadarkan diri, sala satu tangan Ara terpasang infus.
Rafa memegang tangan itu dengan lembut.
Berulang kali tangan itu di kecupnya.
Sudah 4 jam dia duduk menemani Ara yang masih tertidur.
Tatapannya sedih, hatinya sakit penuh penyesalan memperhatikan memar kebiruan di wajah istrinya.
Dia merutuki dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada istrinya.
"Sayang, maafkan aku." mengecup dan mencium kedua tangan Ara.
Pintu di ketuk, masuklah Rizal dengan jas putih kebesarannya.
"Kau sudah mengompres wajahnya dengan es? suhu dingin dari es akan meredakan proses pembengkakan dan peradangan."
Rafa mengangguk.
Rizal memeriksa denyut nadi, kedua mata Ara.
"Semua baik dan normal, kau jangan khawatir, istrimu baik baik saja. tuntung saja tidak ada luka dalam." katanya begitu selesai memeriksa Ara untuk yang ke tiga kalinya dalam 4 jam.
"Syukurlah, mama bagaimana?"
"Tante Maya baik baik saja. Beliau sedang tertidur, kak Nesa dan pak Sam menjaganya. Untunglah tidak ada luka yang berat pada tubuh tante Maya dan Ara." Rizal menghela nafas.
"Aku nggak nyangka Levina bisa berbuat sekejam itu, seharusnya kau tidak memberinya kesempatan kedua. Ya ampun, dia benar benar wanita kejam seperti iblis." sambung Rizal kembali mengingat perlakuan kejam Levina pada video yang di rekam oleh wanita itu.
Rafa mendengus geram
Pintu kembali di buka, keduanya menoleh.
Masuklah Moly dan Rahmia.
Keduanya segera bangkit berdiri.
"Tante Mia .." ucap keduanya mendekat dan
menyalami Rahmia.
"Halo bos, hay dokterku." sapa Moly bergantian memeluk mereka.
"Kami baru dari ruang tante Maya, beliau sedang tidur." ujar Moly kembali.
Mia mendekat ke bed tempat tidur Ara, memperhatikan Ara dengan sedih dan iba.
"Anak malang, sungguh kasihan sekali dirimu menderita menahan kesakitan karena kekejaman Levina." menyapu rambut Ara lembut.
Moly ikut mendekat dan menyapu lembut tangan Ara yang terpasang infus .
"Bagaimana keadaannya ?"
"Untungnya tidak ada luka berat dan luka dalam pada tubuhnya."
__ADS_1
"Syukurlah, terus bagaimana dengan Levina? kau sudah menyerahkannya ke pihak yang berwajib?"menoleh pada Rafa.
"Aku lebih suka dia mati saja." sela Rizal geram .
"Aku juga maunya seperti itu, tapi Ara pasti akan mempertanyakannya bila dia bangun nanti, dia sangat tidak menyukai sifat dendam." Rafa membuang nafas berat.
"Benar benar iblis Levina, dia bahkan merekam kekejaman sadisnya pada Ara dan tante Maya. Ara bahkan tidak memberikan perlawanan dan tidak membalas setiap pukulannya tapi dia tetap melakukan kekejaman dengan sadis. Adik iparku yang malang, wajahnya yang cantik jadi ternoda oleh memar memar menyebalkan ini." Rizal menyentuh pipi Ara.
" Hey, apa yang kau lakukan, jangan sentuh istriku." sentak Rafa menatapnya tajam.
Rizal mendesis kesal membalas menatapnya dengan ekor mata.
"Tapi cantiknya gak ilang, dia tetap manis dan menggemaskan." ujar Rizal tersenyum dan kembali menyentuh pipi Ara lembut .
"Lepaskan tangan kotormu itu dari tubuh istriku." Rafa bangkit melepas sendalnya dan di arahkan pada Rizal.
Rizal cepat mengelak menghindar bersembunyi di belakang Moly.
"Ya ampun, apa apaan kalian ini? Ara sedang sakit kalian malah membuat keributan." sentak Rahmia geleng geleng kepala melihat kelakuan mereka.
"Keluar kau dari sini, kau sudah tidak di perlukan lagi di sini." sentak Rafa keras.
Moly hanya senyum senyum melihat tingkah mereka kayak anak kecil.
"Yuk ma, kita pulang, nanti besok pagi kita kemari lagi." katanya pada Mia.
"Baiklah, ayo kita pulang, udah di usir juga
kok." Rizal menatap sinis pada Rafa.
Rafa kembali melempar sendal yang satunya kearahnya.
"Ya tuhan." Mia menepuk nepuk jidatnya melihat kelakuan keduanya yang tidak pernah berubah dari dulu.
"Bos, kami pulang dulu ya ? esok aku singgah kesini sebelum ke kantor."
"Baik, terimakasih atas kunjungan kalian."
Rafa memeluk mereka berdua bergantian.
"Jaga istrimu baik baik nak, hubungi tante mengenai perkembangannya ya."
"Baik tante."
"Ayo Moly, mama mau ke ruangan tantemu dulu, mau pamit pulang sama Nesa."
Moly melambaikan tangan sebelum keluar dari pintu. Saat menuju ruang Maya, sebuah tangan kekar menarik tubuhnya ke belakang dan memasukkannya ke ruang kosong di sebelah ruang Maya.
Moly terkejut .
"Sayang, aku merindukan mu." Rizal menekan tubuhnya ke dinding, lalu segera mencium bibirnya tanpa jeda. Ciuman dalam dan panjang terjadi di antara keduanya.
Dan berhenti saat keduanya mulai tersengal sengal dengan nafas memburu cepat tak beraturan.
Rizal menyapu lembut wajah Moly, mengecup keningnya dan turun ke bibirnya lagi.
"Aku mau lagi sayang." melanjutkan ciuman sejenak.
__ADS_1
"Cukup Zal, mama pasti mencari ku." Moly menarik wajahnya .
Rizal kecewa.
Moly segera mengecup bibirnya melihat kekecewaan itu.
"Kamu culik aku, mama pasti kebingungan mencari ku, ayo.." Moly menarik tangannya.
"Baiklah sayang." dengan langkah gontai mengikuti langkah Moly .
"Apa kalian bawa sopir ?"
"Kenapa ?" dahi Moly mengerut
"Katakan pada mama mu aku akan mengantarmu pulang."
"Kau tidak boleh ke mana mana, Rafa membutuhkan mu di sini, tante Maya dan nona Ara butuh kamu."
"Aku akan meminta izin sebentar padanya, aku juga butuh kamu sayang, aku merindukanmu." Rizal memeluk pinggangnya.
"Lepas sayang, nanti di lihat orang." melepaskan tangan Rizal.
"Kalau begitu, ayo ke ruangan ku." Rizal menarik tangannya.
Moly terbelalak
"Jangan yang, nanti mama mencari ku."
"Aku janji gak lama, sekarang aku akan telepon mama mu, meminta izin meminjam dirimu sebentar." Rizal tersenyum mengedipkan mata.
Rizal mengeluarkan ponselnya.
Moly kembali terkejut .
Dia mendorong tubuh Rizal ke tembok yang terlindung bunga besar.
Lalu segera menciumi bibir dokter tampan itu .
menciumi, meng*s*p bergantian bibir atas bawah Rizal, memasukkan Li*ahnya menyapu rongga mulut Rizal.
Rizal tentu saja membalasnya dengan penuh gairah mengimbangi ciuman kekasihnya yang sudah 6 bulan ini di pacarinya.
Dia memeluk pinggang dan menahan tengkuk Moly kuat.
Moly mengalunkan tangannya ke leher Rizal dan semakin menekan tubuh Rizal ke dinding.
Ciuman panjang kembali terjadi, saling menyerang dan membalas.
Hingga telepon Moly berdering menghentikan aksi mereka.
Mereka segera melepas ciuman dan mengatur nafas.
Moly segera meraih ponselnya di saku jasnya .
"Mama menelepon, aku pulang dulu."
"Baiklah, aku akan mengantar kalian sampai loby." Rizal menyerah tak ingin memaksa lagi meski dia kecewa. Dia menggenggam tangan Moly erat melangkah menuju ruang Maya.
__ADS_1
*****
Terimakasih sudah mampir π