
...Happy Reading....
"Tidak Sophia, bukan Ara wanita yang mengandung anak Dion.Tapi...!" kata Dinda.
"Jangan katakan tante, jangan beritahu Sophia wanita itu, nanti dia akan mencelakainya." potong Ara cepat.
Sophia kembali mengeram keras mendengar ucapannya.
"Wanita sialan." ucapnya keras semakin emosi. Dia memegang kuat rahang Ara, lalu mendaratkan tamparan keras dan memperkuat Jambakkanya di rambut Ara.
Ara kembali menangis dan menjerit. Merasakan perih di pipinya dan juga di kulit kepalanya. Dia tidak punya tenaga untuk melawan Sophia. Tubuhnya lemas, perutnya sangat lapar, kepalanya pusing, keringat dingin membasahi tubuhnya. Rasa rasanya dia mau pingsan.
Raymond iba melihat penderitaan Ara.
"Tuan Abimanyu, wanita itu tidak bersalah. Lampiaskan kemarahan kalian padaku. Aku bersedia menanggung semua hukuman mu. Jangan sentuh wanita itu. Hentikan putrimu!" pinta Raymond pada Abimanyu.
Abimanyu tersenyum sinis. Sophia pun demikian. Dia kembali menjambak rambut Ara.
Dinda dan Ines menjerit iba mendengar jeritan kesakitan Ara.
Dinda sungguh tidak menyangka kalau Sophia memiliki temperamen buruk. Sangat jauh berbeda dengan sifat lembut yang di miliki Ara. Pantas saja Dion sangat mencintai Ara dan menginginkan wanita ini menjadi istrinya.
"Ara....!" pekik Ines tak tega melihat kesakitan Ara. Dia hendak mendekat membantu, tapi Sophia kembali melakukan kekerasan pada Ara, sehingga Ines kembali mundur tidak berkutik.
Ines menangis terisak isak melihat penderitaan sahabatnya tanpa bisa melakukan sesuatu untuk membantu.
"Aku baik baik saja Nes....kamu jangan menangis," ucap Ara berusaha tersenyum.
Dia menoleh pada Abimanyu
"Tuan Abimanyu, apa untungnya bagi kalian melakukan kekerasan ini? Apa yang kau dapat kan dengan menyiksa aku seperti ini?" ucap Ara lemah.
"Meski kalian siksa aku sampai mati pun, kalian tidak akan mendapatkan keinginan kalian. Akan ku pastikan pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Putrimu tidak akan menikah dengan kak Dion. Kak Dion hanya akan menikah dengan wanita yang sedang mengandung anak anaknya." kata Ara tegas dan lantang.
Perkataannya memancing kemarahan Abimanyu.
"Wanita ******, sejak tadi kau terlalu banyak bicara. Akan ku robek mulut kotor mu itu." katanya menatap menyeringai.
Dia melepaskan Ray dan berjalan cepat mendekati Ara.
"Jangan Abimanyu, jangan menyakitinya. Kau akan menyesal ...." Raymond berjalan cepat menahan tubuh Abimanyu. Tapi sebelum tangannya menyentuh kulit Abimanyu, Abimanyu berbalik tiba tiba dan melayangkan tendangan keras ke wajahnya.
Raymond jatuh terjungkal keras ke lantai mendapat pukulan tiba tiba. Darah segar kembali mengalir di bibir dan hidungnya.
Dinda, Ara dan Ines kembali menjerit jerit ketakutan.
Abimanyu melanjutkan langkah mendekati Ara dengan emosi yang meluap-luap, karena merasa di tantang terus dan rendahkan oleh wanita ini sejak tadi.
"Sepertinya aku harus membungkam
mulut kotor mu itu selamanya." menatap bengis pada Ara.
Dia hendak membekap mulut Ara.
Tapi sebelum tangannya menyentuh mulut Ara, dua buah pisau belati melayang cepat dan menancap kuat di kedua lengannya.
__ADS_1
"Aaaa...." dia memekik keras.
Darah langsung keluar dari tancapan belati dan jatuh menetes di lantai.
Semua yang ada di ruangan itu terkejut.
Mereka ketakutan melihat darah jatuh bercucuran di lantai.
"Abimanyu," sebuah panggilan keras menggelegar memenuhi setiap sudut
ruangan itu.
Semuanya kembali di buat kaget, dan memalingkan pandangan ke arah datangnya suara.
Sebuah tendangan kuat tiba tiba menghantam wajah Abimanyu, tubuh lelaki itu terlempar menghantam tembok.
Abimanyu kembali memekik kesakitan.
Di antara kesakitannya, dia berusaha melihat siapa penyerangnya.
"Tuan Ravendro Artawijaya?" dia terbelalak.
Rafa mendengus geram menatap tajam dengan sorotan menyala seakan-akan hendak menerkamnya.
"Beraninya kau menyakiti istriku Abimanyu?" Rafa kembali melayangkan tendangan beruntun ke wajahnya yang berusaha bangkit.
Darah segar mengalir dari pelipis, mulut, hidungnya bahkan telinganya.
"Sedikit saja kau menyentuh kulit istriku, akan ku potong potong kedua tanganmu itu," sentak Rafa kembali dengan keras.
"Istri anda? wanita ini istri anda?"
"Ma- maaf kan aku tuan Artawijaya, aku tidak mengetahui kalau dia adalah istri anda." ucap Abimanyu terbata bata di antara kesakitan dan ketakutannya.
Rafa mendengus seraya tersenyum menyeringai menatap sinis.
"Aku menjaganya dengan nyawaku, tapi kau dan putrimu seenak mau kalian ingin menyakitinya?" dia menarik kerah Abimanyu dan melayangkan tinju demi tinjunya ke wajah yang sudah hancur babak belur penuh darah.
Sophia menjerit jerit keras ketakutan.
"Papa ...! tolong hentikan tuan Ravendro." jeritnya keras.
Wisnu mendekat dan memelintir kedua tangannya kuat, memutar kebelakang.
"Aaaaaa...!" Sophia menjerit jerit kesakitan.
Tak hanya itu, Wisnu menggunting rambut Sophia dengan kasar.
"Tangan mu ini kau gunakan menyakiti nona muda bukan? kau menarik narik rambut nona muda dengan kejam bukan?" teriak Wisnu penuh amarah menatap tajam Sophia sambil terus menggunting tampa melihat kepala Sophia. Hingga benda tajam itu menguliti kulit kepala Sophia.
Terlihat darah di kepala Sophia dan juga yang mengalir di telinganya.
Kepalanya telah botak dan mandi darah.
Sophia tak berhenti menjerit merasakan kesakitan yang luar biasa.
__ADS_1
Dinda dan Ines menjerit ketakutan melihatnya,
Keduanya saling berpelukan.
Abimanyu juga tak berdaya untuk menolong putrinya.
"Jangan sakiti putriku tuan Ravendro, aku mohon. Hukum saja aku, pukul saja aku." pintanya memohon di sela sela pukulan Rafa yang terus melayangkan pukulan dan tendangan.
"Kakak... sekretaris Wisnu... Hentikan." ucap Ara lemah.
Tubuhnya terduduk berlutut lemas di lantai. Kepalanya semakin pusing melihat dan mendengar jeritan jeritan kesakitan dari Sophia dan ayahnya. Pandangannya mulai kabur.
Rafa dan Wisnu menghentikan aksi mereka mendengar suaranya. Rafa langsung mendekati dan mengendong tubuh istrinya.
Wisnu langsung menundukan kepalanya.
"Sayang...," Rafa memeluk tubuh istrinya yang tampak lemah, mengecup kening dan bibirnya berulang kali.
"Sayangku, kau pasti kesakitan kan? maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik sehingga merasakan kesakitan dari perbuatan jahat mereka!" ucap Rafa sedih dan menyesal.
"Hentikan kak, cukup. Jangan sakit mereka lagi. Aku juga bersalah karena telah menghentikan pernikahan itu, yang jelas membuat malu tuan Abimanyu dan keluarganya. Lepaskan mereka, jangan siksa lagi." ucapnya pelan dan semakin lemah.
"Aku akan membunuh mereka yang berani menyakiti dirimu sayang," mencium kening istrinya kuat dengan sedih.
"Cukup kak, aku baik baik saja. Mari kita pulang. Aku lelah dan sangat lapar," sambil menyentuh perutnya.
Berakhirnya ucapan Ara, tubuhnya melemah, pandangannya kabur, ruangan serasa berputar, kepalanya terkulai lemas, dia pingsan.
"Sayang... sayang..." Rafa panik.
Wisnu juga ikut panik.
Rafa menyentuh urat nadi istrinya dan lubang hidungnya, dia menarik nafas lega.
"Nona muda..," Wisnu juga sangat cemas.
Wisnu menarik kuat tubuh Abimanyu yang terkapar di lantai.
"Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada Nona mudaku." menyorot tajam penuh kemarahan.
Pimpinan Group X itu tersentak mendengar perkataannya.
Dan lebih terkejut lagi dia, bahkan serasa tidak percaya kalau wanita yang di perlakukan kasar olehnya dan disakiti oleh Sophia adalah istri dari seorang penguasa yang sangat berpengaruh dan di takuti oleh kawan dan musuh musuhnya.
Kekhawatiran bahkan ketakutan menyeruak di hatinya, karena Ravendro merupakan mitra bisnisnya yang paling banyak memiliki saham di perusahaannya.
Rafa memandang tajam pada Sophia yang terduduk terkulai tak berdaya dengan tubuh gemetaran, wajah pucat pasi dan memprihatinkan.
Sama seperti ayahnya, Sophia juga tidak menyangka kalau wanita yang di hina, di rendahkan, di sakiti itu adalah istri dari pengusaha besar dan berkuasa yang di kenali oleh seluruh pengusaha bisnis dunia.
Dia sendiri sudah sejak lama mengagumi dan tergila-gila dengan pesona ketampanan Rafa juga kekayaan yang di milikinya. Dan sangat berharap menjadi kekasih pria tampan ini.
Hanya saja Rafa sangat susah untuk di dekati.
Bahkan ayahnya pun tidak bisa membantu untuk membuat dirinya dekat atau hanya sekedar makan malam dengan pengusaha muda sukses tajir melintir ini, yang kekayaannya tidak terhitung dan tidak akan ada habis habisnya.
__ADS_1
Bersambung.