
Ara mengetuk pintu kamarnya, mengucap salam lalu masuk.
"Waalaikumsalam, udah pulang?" Raka menyambutnya, lalu mengecup sekilas bibir istrinya.
"Kakak mau mandi?" tanya Ara melihat handuk di tangan Raka.
"Iya sayang, apa kau mau mandi bersamaku?" Raka tersenyum menggoda.
Ara tersipu malu, dia mencubit kecil perut suaminya."Cepat kak, bentar lagi magrib."
"Awww, baik sayang." Raka menjerit pura-pura kesakitan, lalu segera masuk ke kamar mandi.
Saat makan malam bersama. Semua sudah berada di meja makan.
"Sam, apa Tuan mu tidak turun untuk makan?" tanya Maya menoleh pada Sam, karena melihat kursi Rafa kosong.
"Tuan Rafa sedang tidak berada di rumah. Sekertaris Wisnu memberitahu kalau mereka sedang keluar kota." jawab Sam.
Ara menghela nafas. Dia merasa bersalah karena menyembunyikan tentang keadaan Rafa pada orang rumah. Dia menatap wajah Maya, Raka dan Nesa secara sembunyi sembunyi. Mau bagaimana lagi, dia harus mengikuti perintah Rafa, dan di sisi lain dia juga tidak mau Maya dan Raka shock jika mengetahui keadaan Rafa yang sebenarnya, karena ibu mertua dan suaminya memiliki penyakit.
"Ante udah janji kan mau membacakan cerita dongeng?" sela Cio memecah keheningan.
"Iya sayang, tante ingat kok! Sebentar kita ke perpustakaan Daddy. Cio dan Cia nanti pilih buku ceritanya. Tapi izin dulu sama mama yah?" Ara melirik Nesa yang sedang asyik menyantap makanannya.
Cio dan Cia menoleh pada Nesa.
__ADS_1
"Boleh yah Ma?" meminta persetujuan mama mereka.
"Gak boleh, kalian harus berusaha sendiri, harus mandiri, jangan bergantung terus pada orang lain. Kenapa sih harus ini dan itu selalu saja sama Ante' mu?" kata Nesa menatap tajam keduanya.
Wajah si kembar langsung berubah cemberut sedih.
"Kak Nesa, Ara bukan orang lain. Dia istriku. Ara senang mengajari mereka. Lagi pula anak anak masih terlalu kecil untuk belajar mandiri. Kau harus menemani dan membimbing mereka." ujar Raka.
Ara langsung menyentuh lengan suaminya, menggelengkan kepala sebagai isyarat agar Raka tidak perlu menanggapi perkataan Nesa yang akan menimbulkan perdebatan sementara ada Cio dan Cia.
"Sudah sudah, jangan ribut di meja makan." Maya menyela.
Raka dan Ara meneruskan makannya.
Nesa menatap kesal pada si kembar.
"Nanti mama marah marah lagi pada kita." kata Cia dengan wajah sedih. Dia menunduk karena takut melihat mata Nesa yang melotot ke arahnya.
"Sudahlah Cia, habiskan makannya, jangan memelas terus dan menjelekkan mama di depan mereka." Sentak Nesa. Dia sangat kesal dengan keadaan ini karena perbuatan Rafa. Rafa memboikot beberapa perusahaan yang bekerja sama dengannya dan memutus kontrak kerja sama.
Tentu saja hal itu bisa di lakukan Rafa dengan segala kekuasaan yang dia miliki. Belum lagi Rafa telah menyita kartu kreditnya, sehingga dia tidak leluasa belanja barang-barang branded dan ngumpul bersama teman teman sosialitanya dan para gengnya.
Raka menatapnya."Bersikaplah baik di depan anak anak. Mereka anak anakmu, kenapa kakak selalu kasar sama mereka?"
"Seharusnya kakak bersyukur karena punya mereka sebagai ganti Mas Revan! Mas Revan pasti sangat sedih di alam sana melihat kelakuanmu yang mengabaikan anak anak." kata Raka kembali.
__ADS_1
"Cukup Raka, jangan mengingatkan ku pada Mas Revan." kata Nesa getir dan emosi.
"Sudah dua tahun berlalu, sudah sepantasnya kamu menata hidup kembali. Sudah cukup dua tahun masa berkabung mu atas kepergian mas Revan. Jangan kau limpahkan kesedihan mu atas kepergian mas Revan pada anak-anak." kata Raka kembali tidak memperdulikan kata kata kakak perempuannya ini.
"Kakak sangat mencintai mas Revan bukan? Kakak rindu padanya? Tatap wajah anak anak, di sana kakak akan melihat wajah suamimu. Wajah yang selalu terlihat ketakutan, sedih, akibat perlakuan buruk mu, tanpa cinta dan kasih sayang! Seperti itulah yang di rasakan Mas Revan di alamnya, hidupnya tidak tenang sedih dan kecewa melihat dirimu mengabaikan anak anak, memperlakukan mereka dengan kasar tanpa kelembutan cinta dan kasih sayang. Kau adalah ibu mereka, bukan musuh."
"Cukup Raka cukup." Nesa menghentakkan ke dua tangannya di atas meja dengan keras.
Hatinya seketika sedih bercampur amarah. Dia bangkit dan melangkah keluar dari meja makan tak perduli dengan si kembar yang ketakutan.
Ara segera mendekati si kembar dan mendekap keduanya.
Maya hanya bisa diam, sebenarnya dia juga tidak suka dengan sikap buruk Nesa pada si kembar, tapi di sisi lain dia juga sedih dan ikut merasakan bagaimana sakit dan hancurnya kehilangan orang yang sangat di cintai, karena di juga pernah merasakan itu saat kehilangan suaminya.
Sebenarnya dulu sewaktu Revan masih hidup, Nesa adalah ibu yang baik. Nesa sangat mencintai dan menyayangi si kembar layaknya seorang ibu pada anak-anaknya, bahkan sejak anak anak itu masih dalam kandungannya. Hingga si kembar lahir semakin sempurnalah kebahagiaan ia dan Revan.
Tapi setelah insiden buruk terjadi pada Revan saat usia si kembar masuk dua tahun. Di mana insiden buruk itu menyebabkan nyawa Revan, suami yang sangat di cintanya tidak tertolong hingga akhirnya meninggal dunia.
Dan Nesa menyalahkan si kembar atas kematian Revan. Dia sangat shock, hatinya hancur, kehilangan gairah dan semangat hidup, bahkan depresi.
Timbul kebencian pada anak anaknya karena menjadi penyebab kematian Revan. Sejak saat itu dia mengabaikan dan tidak perduli pada si kembar. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di luar, keluyuran bersama teman temannya. Ke bar, diskotik,.ke luar negeri, menghamburkan uang dari Rafa. Dia sudah sangat ketagihan minum dan pernah nekad bunuh diri ingin mengakhiri hidupnya. Dan jika saja Rafa tidak mengawasi dan memantaunya secara ketat, mungkin saja dia sudah terjerumus ke penyalahgunaan narkoba.
Nesa juga sudah tidak perduli lagi dengan pekerjaannya karena tak ada semangat untuk melanjutkan hidup. Dia stress berat dan hampir gila. Rafa dan Rizal berusaha mengobatinya dengan membawanya ke beberapa ahli psikiater / dokter spesialis kesehatan jiwa, bahkan Rafa sampai membawanya ke luar negeri, melakukan pengobatan. Setahun berlalu dalam penanganan Rizal dan Rafa, Nesa mulai sembuh dari kesedihannya yang panjang, tapi dia tetap membenci si kembar saat bayangan kematian Revan muncul dalam pikirannya. Hatinya kembali sakit dan melampiaskan pada anak anak, memperlakukan mereka kasar hingga sekarang ini.
Bersambung.
__ADS_1
πβ€οΈ