
Rafa langsung menuju ke ballroom di mana para tamu undangan penting sudah menunggunya. Begitu ia masuk semua lampu kamera menyorot ke arahnya. Rafa segera berdiri ke podium memberi sambutan dan ucapan terimakasih kasih kepada semua pihak yang telah hadir, lalu melanjutkan acara ekspansi pembukaan hotel barunya.
Semua tamu undangan memberi ucapan selamat padanya.
Hotel baru bintang lima yang di beri nama AZ'FA Hotel memiliki kamar hotel berjumlah 224, dan 4 kamar suite.
Memiliki taman baik di luar maupun dalam bangunan, tempat parkir yang luas, lobby, lift untuk naik turun, restoran, toko obat, sarana olahraga, sarana rekreasi, kolam renang, night clubs kedap suara dan masih banyak lagi sarana penunjang lainnya.
Rahmia mendekati Rafa setelah dia turun dari podium.
"Selamat ya nak untuk hotel barumu."
"Terima kasih, semua berkat bantuan Tante dan Moly. Bagaimana kabar tante?" kata Rafa sekaligus bertanya.
"Alhamdulillah, Tante sudah merasa lebih baik! Oh ya, apa kau tidak memberi tahu orang rumah tentang acara ini?"
"Tidak, mereka juga gak tau kalau aku ada di Indonesia. Tante jangan beritahu mereka."
"Nak, apa kau tidak berniat untuk menetap di Indonesia? Mengurus perusahaan dan semua bisnismu yang ada disini."
"Aku belum tahu tan, sepertinya aku akan menetap di Amrik selamanya." kata Rafa tak bersemangat.
"Hey ada apa nak?" wajah Rahmia mengerut. Padahal baru 4 bulan lalu keponakannya ini mengatakan dengan begitu semangat ingin pindah ke Indonesia. Bahkan dia merubah nama hotel menjadi AZ'FA! Lalu apa yang mematahkan hatinya? batin Rahmia menatapnya lekat. Sebelumnya hotel ini akan di beri nama Ravend hotel, tapi tiba tiba saja Rafa merubahnya menjadi AZ'FA hotel.
Rafa membuang nafas berat, tak menjawab.
"Apa hubunganmu dengan dengan Levina baik baik saja?" tanya Rahmia kembali berusaha membaca pikiran ponakannya ini.
Rafa Kembali diam tak menjawab, dia hanya meneguk minumannya.
Rahmia tersenyum bisa menebak jalan pikirannya.
__ADS_1
"Kau terlihat seperti orang yang sedang patah hati Rafa!" ikut meneguk minumannya.
"Kau ini seorang Presdir, seorang Presiden Direktur dari perusahaan mu sendiri. Semua kalangan bisnis mengenalmu sebagai pria yang sukses, hebat dan berkuasa, bukan hanya di Indonesia tapi juga luar negeri mengetahui sepak terjang mu di dunia bisnis."
"Kau juga sangat tampan nak, wanita mana yang tidak mau denganmu? Wanita mana dapat menolak pesona seorang Rafa Ravendro Artawijaya yang memiliki segalanya?"
Rafa hanya tersenyum tipis dengan tatapan dingin. Dia kembali meneguk minumannya.
Rahmia tidak tahu apa yang di alami ponakannya ini. Biasanya Rafa selalu terbuka tentang apa saja dengannya termasuk soal wanitanya. Rafa lebih terbuka dalam segala hal kepadanya ketimbang pada Maya ibunya sendiri.
Tapi sejak hampir empat bulan terakhir ini Rafa menutup diri tak mau berbagi apa pun.
"Bagaimana kabar mamamu? Aku dengar dia sakit?" tanya Rahmia mengalihkan pembicaraan.
"Rizal sudah menanganinya!"
"Syukurlah, sudah lama aku tidak berbincang dengan kakakku itu!" kata Rahmia.
"Aku belum memikirkan tante, yang penting keadaan mama sudah membaik."
"Pulanglah walau sebentar, untuk berkumpul bersama keluarga mu! Raka selalu curhat kepada Tante. Dia sangat merindukan ayahnya." Rahmia tersenyum.
Rafa ikut tersenyum, mengingat kenangan masa kecil Raka. Setelah ayah mereka meninggal, Raka selalu menyebut dirinya ayah, karena begitu sayangnya dia pada adiknya itu.
"Aku tidak menyangka Raka kecil yang dulu cengeng sekarang sudah menikah! kau kalah darinya nak." ujar Rahmia.
Rafa hanya tersenyum tipis.
"Apa kau sudah pernah bertemu dengan istrinya? Wanita muda itu sangat baik dan cantik. Raka sangat beruntung memilikinya." ucap Rahmia kembali masih dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Rafa meneguk sisa minumnya. Dia segera bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Maaf tan, aku pergi dulu. Aku mau mengunjungi kantor, tolong tante handle
acaranya." katanya kemudian. Lalu cipika cipiki deng rahmia.
"Sebentar nak." Rahmia menahan lengannya membuat dia batal melangkah.
Rafa kembali berbalik menatap tantenya.
"Apa hubunganmu dengan Levina baik baik saja?" Rahmia menatap lekat.
Rafa tersenyum tipis.
"Hubungan kami sudah berakhir 7 bulan yang lalu tante. Aku sudah membuang dia jauh dari hati dan hidup ku!" bisiknya pelan.
Dahi Rahmia mengerut.
"Why?"
Rafa Kembali tersenyum sinis.
"Dia tidak pantas menjadi wanitaku, terutama menjadi menantu di keluarga Artawijaya!"
Mengecup kening Rahmia yang tampak kaget."Perempuan itu tidak layak menjadi menantu di keluarga kita!" bisiknya kembali. Lalu segera beranjak pergi dari ruangan itu tanpa pamit pada tamu undangan lainnya.
Rahmia menatap kepergiannya dengan berbagai pertanyaan.
...Bersambung....
Yang baru mampir, dukung author ya....
Tinggalkan like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima, terimakasih
__ADS_1