
...Happy Reading....
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, semuanya diam tanpa kata. Wisnu sibuk dengan kemudinya, tapi setengah pikirannya melayang pada Ines yang datang ke pemakaman istrinya.
Sementara Ines duduk di jok belakang bersama si kembar yang mengapitnya di kiri-kanan dengan kepala bersandar di lengannya. Kedua anak itu masih takut dengan Wisnu karena telah melanggar perintah ayahnya. Dan Ines diam dengan pikiran melayang pada makam Ayirin.
Dia mengira istri Wisnu ada di Amerika atau di tempat lain. Tapi ternyata sudah meninggal, tak ada lagi di dunia ini.
Dan hatinya kembali sedih mengingat kedua anak ini yang hidup selama 12 tahun tanpa merasakan kasih sayang ibu mereka.
Hanya Rani dan Winda yang selama ini merawat dan membesarkan mereka, berusaha memberikan cinta dan kasih sayang seorang ibu.
Hingga akhirnya mobil memasuki parkiran apartemen. Semuanya segera keluar. Saat hendak masuk lift, seorang satpam penjaga parkiran menyapa mereka.
"Selamat siang tuan Wisnu." sapanya sopan.
Wisnu membalas sapaannya.
Pria berusia hampir setengah abad itu sudah terbiasa dengan Wisnu. Karena Wisnu sering meminta bantuan untuk mengawasi dan membersihkan apartemennya kala dia keluar negeri dan luar daerah untuk waktu yang lama.
Pria itu menoleh pada Ines seraya tersenyum.
Ines membalas senyumannya sekilas.
"Setelah 10 tahun berlalu akhirnya saya melihat tuan membawa wanita ke apartemen ini untuk pertama kali." kata Pria itu pada Wisnu.
Wisnu hanya tersenyum kecil.
"Istrinya ya?" kata pria itu kembali dengan berbisik.
Dahi Ines mengerut mendengar ucapannya
Meski berbisik telinganya sempat menangkap. Ines segera masuk ke dalam lift seraya menarik tangan Azham dan Azhar meninggalkan Wisnu yang masih diam di tempatnya menanggapi pertanyaan pak satpam.
Sejam berlalu, setelah melaksanakan Dzuhur dan menidurkan si kembar, Ines segera turun. Dia mendapati Wisnu sedang mengerjakan sesuatu di dapur.
"Sekretaris Wisnu. Azham dan Azhar sedang tidur siang. Aku pamit dulu, mau kembali ke kost. Permisi." katanya pelan.
Bukan tanpa alasan bagi Ines untuk segera keluar dari tempat itu setelah mengetahui Wisnu seorang duda. Entah bagaimana penilaian orang terhadap dirinya jika tahu dia tinggal di apartemen seorang duda.
Apalagi setelah mendengar pertanyaan pak satpam tadi tentang status hubungannya dengan Wisnu. Mengira dia adalah istri Wisnu.
Wisnu tak menanggapi perkataan Ines, dia hanya menatapi kepergian gadis itu dengan pikirannya sendiri. Setelah Ines pergi Wisnu balik lagi ke kantor, setelah sebelumnya menghubungi Florencia untuk menemani si kembar.
Ines yang niatnya mau pulang ke kostnya malah ke sasar ke butik Ara. Tanpa sadar dia menyebutkan alamat butik Ara saat naik tadi.
Selama perjalanan dia melamun hingga tidak sadar dengan arah jalan. Sopir menurunkannya di depan butik Ara sesuai alamat yang dia berikan.
Tanggung sudah di depan butik Ara, dia segera masuk. Pelayan yang sudah mengetahui tentang dirinya sebagai sahabat Ara segera membawanya ke ruang kerja Ara.
Ara tinggal seorang diri di ruangannya karena Rafa sudah balik ke kantor dua jam lalu setelah mendapatkan keinginannya.
"Nes...?" Ara kaget dengan kedatangannya tanpa memberi tahu. Karena tidak biasanya Ines datang tanpa memberi kabar.
Ara semakin kaget melihat wajahnya yang lebam membiru.
Ines segera menceritakan kejadian buruk yang menimpa dirinya. Tapi keadaannya sudah tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Ara lega mendengarnya. Dia tidak menyangka ada orang jahat yang ingin berbuat jahat pada sahabatnya ini.
Ines beralih cerita tentang Azham dan Azhar. Dia menceritakan tentang kunjungan mereka ke makam Ayirin serta ketidak tahuannya tentang kematian Ayirin.
"Ayirin meninggal 12 tahun yang lalu. Dia masih berjuang selama 7 bulan dalam komanya antara hidup dan mati untuk menyelamatkan janinnya, yaitu Azham dan Azhar!" Ara menceritakan kejadian masa lalu Wisnu dan Ayirin hingga lahirnya Azham dan Azhar.
Ines terisak-isak mendengar cerita Ara. Dia benar benar sedih dan terharu dengan pengorbanan seorang Ayirin.
"Nes... selama hidup mereka, si kembar tidak pernah dekat dengan wanita dewasa. Selama ini tante Rani dan kak Rafa sudah mencarikan wanita sebagai ibu sambung mereka. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang di sukai si kembar. Tak ada yang bisa dekat dan cocok dengan mereka. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan dirimu." kata Ara menatap wajahnya lekat.
Keduanya saling menatap. Ines menangkap sesuatu dari ucapan sahabatnya ini.
"Anak anak itu menyukai dirimu. Mereka sendiri yang menemukan dirimu. Itulah kenapa mereka ingin dekat dan bersamamu terus, tak mau kau tinggalkan. Takut kau pergi meninggalkan mereka. Karena mereka menyayangi mu dirimu." Kata Ara kembali.
Air mata Ines kembali jatuh mendengar ucapan Ara. Yang di katakan Ara benar. Anak anak itu sangat menyayanginya dan tak ingin dia pergi meninggalkan mereka.
Ara menyapu air mata Ines.
"Nes, jujur aku dan suamiku... menginginkan kau menjadi ibu sambung mereka. Ibu Rani juga sangat menginginkan kau menjadi Ibunya si kembar, serta menjadi istri sekretaris Wisnu." katanya pelan pelan.
Ines terbelalak mendengar ucapannya. Seakan tak percaya mendengar penuturan Ara.
"Benar Nes, karena si kembar hanya menyukai dirimu. Katamu kamu juga menyukai dan sayang sama mereka bukan?" tanya Ara.
"Kamu mau nggak menjadi ibunya Azham dan Azhar? Memberikan cinta dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah mereka dapat dan rasakan dari seorang ibu? Karena si kembar hanya butuh dirimu menjadi ibu mereka." sambung Ara.
Ines tertegun mendengar ucapan sekaligus pertanyaan sahabatnya ini.
"Selama 12 tahun ini sekretaris Wisnu bertahan menduda karena sayangnya kepada anak anaknya. Dia tidak mau menikah dengan wanita yang tidak di sukai dan tidak bisa membuat anak anaknya bahagia. Karena kebahagiaan hidupnya hanya pada anak anaknya." kata Ara lagi.
"Tapi Ra, Bagaimana mungkin aku menjadi ibu si kembar?" Ines ragu dan masih merasa tidak percaya dengan permintaan Ara yang menginginkan dirinya menjadi ibu sambung si kembar.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah sudah berkehendak Nes__! Allah mempertemukan dirimu dengan si kembar tanpa ada alasannya. Dan sudah pasti mungkin kau bisa menjadi ibu bagi Azhar dan Azham karena kalian cocok, saling menyukai dan menyayangi." kata Ara.
"Dan mengenai perasaan mu dan juga perasaan sekretaris Wisnu ___Aku tahu kau tidak menyukai sekretaris Wisnu, begitu juga sebaliknya. Tak ada rasa cinta di antara kalian. Bisa nggak kalian mengesampingkan perasaan yang tak ada itu demi anak anak?" pinta Ara."Katamu kamu sayang sama si kembar?"
"I iya Ra, aku sayang sama Azham dan Azhar. Tapi ayahnya itu....huh....aku benar-benar gak suka dengan sikapnya. Terlalu dingin dan angkuh. Aku juga takut padanya, kalau marah pasti kayak Monster." kata Ines ngeri membayangkan kepribadian Wisnu yang kejam dan menakutkan.
Ara tersenyum lebar mendengar ucapannya.
"Nes, meski terlihat dingin dan kejam, sekretaris Wisnu sebenarnya pria yang baik dan bertanggung jawab. Dan hingga detik ini dia tidak menikah demi cintanya pada sosok almarhumah istrinya. Aku yakin kok Nes, seiring berjalannya waktu dia akan bisa mencintaimu, begitu juga dengan dirimu. Kalian akan bisa saling menerima satu sama lain." kata Ara memegang tangan Ines.
__ADS_1
"Tapi lepas dari semua itu, aku tidak akan memaksa jika hatimu menolak. Karena aku pun menginginkan kebahagiaan untukmu tanpa tersakiti. Semua keputusan ada pada dirimu." katanya kembali.
Ines menatap wajah Ara yang tersenyum tulus kepadanya. Tidak memaksa dan mementingkan kebahagiaannya.
"Aku sahabatmu, aku hanya ingin selalu melihat kau dan Cindy bahagia. Kau percaya padaku kan?" kata Ara lagi.
Ines mendesah sedih dan tersenyum terharu. Dia tidak perlu ragu lagi dengan ketulusan sahabatnya ini. Keduanya saling menatap tersenyum. Lalu berpelukan.
"Tapi Ra, pria itu benar benar sangat menyebalkan. Susah banget di ajak ngomong." kata Ines kesal mengingat sikap Wisnu yang selalu membuat tensinya selalu naik.
"Tapi meski begitu, dia baik bukan? Katamu sudah beberapa kali sekretaris Wisnu menyelamatkan dirimu." kata Ara setelah melepas pelukannya.
"Iya juga sih! Tapi tetap saja aja aku kesal padanya. Dia benar benar pria yang menyebalkan." kata Ines cemberut mengingat kelakuan Wisnu.
"Itu tidak akan terjadi lagi jika kau sudah menjadi istrinya. Dia akan tunduk kepada mu selama yang kau lakukan adalah hal baik. Jadi gimana, kamu mau kan jadi ibu sambung Azham dan Azhar?" tanya Ara memastikan keputusannya.
Ines membuang nafas panjang."Katamu sekre menyebalkan itu tidak dapat melupakan almarhumah istrinya. Dia pasti nggak mau sama aku. Dan gak mungkin juga aku nawarin diri buat jadi istrinya, aku punya harga diri dong. Masih banyak cowok cowok single dan jomblo suka sama aku. Gak mau aku mempermalukan diriku untuk meminta jadi istrinya. Ih amit amit deh....!" katanya ketus.
"Gimana kalau aku jadi Kakaknya Azham Azhar saja? Gak perlu ada hubungan pribadi dengan ayah mereka. Anak anak itu kan hanya ingin dekat dan terus bersama diriku?!" kata Ines kembali.
"Yang kamu pikirkan itu benar Nes. Tapi lepas dari itu coba pikirkan, bagaimana penilaian orang melihat dirimu tinggal serumah dengan seorang Duda tanpa ada ikatan pernikahan? Karena bukan hanya seminggu, sebulan, dan setahun kau akan tinggal bersama mereka." kata Ara kembali menjelaskan.
"Ya dia gak usah tinggal serumah sama aku dan si kembar. Cukup datang kunjungi anak anak saja." dalih Ines tetap menolak. Karena tidak yakin menikah dengan Wisnu.
"Itu akan membuat si kembar kecewa dan sedih. Mereka ingin kamu jadi ibu mereka, bukan kakak mereka! Tinggal serumah dengan keluarga yang lengkap, Ayah dan ibu."
"Ya ampun Ra, Perjalanan hidup ku masih panjang. Gue masih ingin menikmati masa muda ku dengan bebas. Gue belum mau menikah, Apalagi sama duda menyebalkan itu. Itu sesuatu yang gak mungkin Ra___ sama sekali gak mungkin. Gue masih sangat muda, masa menikah sama duda tua itu?" gerutu Ines, tegas menolak.
"Inilah takdir Allah yang tidak akan pernah kita tahu Nes. Aku aja nggak nyangka bisa nikah sama kakak iparku sendiri. Begitu juga dengan Cindy, nikah sama kakak sepupunya, kak Dion. Mungkin aja tuhan memang menakdirkan sekertaris Wisnu sebagai jodohmu melalui Azham dan Azhar!" kata Ara menatap lekat sambil tersenyum. Lalu dia memegang tangan Ines. Keduanya saling menatap.
"Kamu sayang kan sama Azham dan Azhar?"
Ines menatap netra Ara, memikirkan pertanyaan itu dengan hatinya. Lalu dia mengangguk.
Ara tersenyum."Berarti kamu bersedia kan menjadi ibu bagi mereka?" tanya Ara kembali.
Ines termangu. Jujur dia menyukai bocah bocah itu. Baik dan sopan. Begitu menyayanginya dan takut kehilangan dirinya.
"Nggak tahu deh Ra, yang jelas aku sayang sama mereka."
"Artinya kau bersedia menjadi ibu sambung mereka." kata Ara menarik kesimpulan dari perkataan Ines.
"Tapi gue nggak mau merendahkan harga diriku pada ayah mereka. Aku gak suka sama duda kejam menyebalkan itu. Aku benar benci sama sikapnya. Gak mau aku jadi istrinya." sungut Ines teringat sikap Wisnu yang menyebalkan.
Ara tersenyum lebar omelannya. Ara mengerti dengan penilaian buruk Ines pada Wisnu.
"Tapi gimana kalau sekretaris Wisnu berniat ingin menikah mu, menjadikan dirimu istrinya dan juga ibu sambung anak anaknya?"
Ines terhenyak." Mau nikahin gue?"
"Iya...." Ara mengangguk dan menatap serius.
Ines jadi gelisah. Hatinya tidak tenang.
Dahi Ara mengerut mendengar ucapannya.
"Karena di antara kami nggak ada rasa apa pun, maka gak boleh ada sentuhan fisik setelah nikah. Gak boleh saling mengekang. Gak boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing, gak boleh ngelarang aku dekat dan berhubungan dengan siapa pun. Aku juga sama seperti itu. Gak akan perduli dan ikut campur dengan kehidupannya. Dan pernikahan kami harus di rahasiakan, Aku gak mau ada yang tau selain kita. Pokoknya tujuanku nikah sama dia hanya demi Azham Azhar. Dan jika si kembar sudah dewasa, mulai mengerti tentang artinya hidup dan tanggung jawab, maka aku dan dia Pisah alias Cerai! Itu syaratku, katakan pada sekretaris kompleks itu." katanya kembali dengan tegas.
Rafa, Moly dan Wisnu yang sejak tadi mendengar perbincangan mereka melalui kemera CCTV terkejut dengan syarat Ines.
Moly tertawa kecil mengejek Wisnu."Apa gunanya nikah kalau gak melakukan yang enak enak?"
Wisnu tak menggubris cibiran Moly. Karena saat ini hatinya gelisah tidak tenang dengan keputusan dan syarat Ines.
"Kok ngomonya buruk gitu sih Nes? Siapa tahu saja waktu akan membuat kau dan sekretaris Wisnu bisa saling menerima dan mencintai. Cindy sama kak Dion saja nikah gak ada rasa cinta, tapi akhirnya mereka bisa saling menerima. Aku juga gak bisa mencintai kak Rafa saat pertama nikah sama dia. Tapi karena besarnya perhatiannya, cintanya, kasih sayangnya, kebaikan hatinya yang melimpah, membuat hatiku luluh dan pelan pelan mulai mencintainya. Dan hingga akhirnya cintaku semakin hari semakin bertambah besar kepadanya. Aku yakin kau pun dan sekretaris Wisnu akan seperti itu!" kata Ara.
"Ah... sayangku, Kau membuatku melayang lagi. Aku juga mencintaimu sayang, sangat mencintai mu melebihi apapun di dunia ini." ucap Rafa mendengar kata kata cinta istrinya. Dia terlena lagi dan merasa melayang ke langit ke tujuh.
Moly mencibirnya.
"Gak tahu deh Ra gimana kedepannya. Semua kulakukan hanya demi si kembar dan Ayirin. Gue akan mengorbankan masa depanku sama si Duda pelit suaranya itu. Ya ampun, moga saja waktu cepat berlalu dan si kembar bisa cepat cepat tumbuh dewasa. Gue nggak sanggup hidup dengan pria dingin itu. Semoga saja bapak dan ibuku gak akan membunuhku. Mereka udah capek-capek menghidupi aku sampai degede ini, nyekolahin aku sampai sarjana tapi malah dapat Duda." sungut Ines kembali.
"Aku ingin menambah satu syarat lagi. Jangan sampai pernikahan aku dan sekretaris Wisnu di ketahui ayah dan ibuku. Tolong rahasiakan dari mereka. Aku tidak ingin mereka marah dan kecewa padaku!" pinta Ines.
Wisnu tergugah mendengar permintaan itu. Itu artinya Ines tulus menyayangi anak anaknya. Demi anak anaknya, Ines rela bersedia menikah dengannya secara sembunyi sembunyi dan di rahasiakan dari orang tuanya. Meski Ines tahu pernikahan itu akan membuat orang tuanya kecewa nanti. Inez lebih memilih kebahagiaan anak anaknya dan mengesampingkan kekecewaan orang tuanya. Wisnu merasa tidak salah memberi setengah harta kekayaannya pada gadis itu.
"Tapi kabar bahagianya bapak dan ibu mu setuju kamu menikah dengan sekretaris Wisnu." kata Ara tersenyum penuh arti menatap Ines.
"What?????" Ines terbelalak menatapnya.
"Lo ngomong apa?"
"Benar Nes, ibu Rani dan kak Rafa sudah meminta dirimu pada orang tuamu. Sekretaris Wisnu juga ikut bersama mereka.Tapi meski orang tuamu setuju, mereka tetap menyerahkan keputusan di tanganmu. Bapak dan ibumu tidak akan memaksamu." kata Ara kembali menatapnya dengan serius.
Ines kembali terbelalak. Jadi Wisnu sudah bertemu dan meminta dirinya pada ayah dan ibunya? Dan orang tuanya setuju? batinnya seakan tidak percaya.
Sebenarnya orang tuanya Ines tidak setuju saat Rani, Rafa dan Wisnu datang ke rumah Ines. Melamar anak gadis itu mereka. Mengingat Ines masih terlalu muda untuk menikah, dan masih kuliah. Cita-cita dan hidupnya masih panjang. Apalagi lamaran itu tidak di ketahui Ines sama sekali. Di antara Wisnu dan Ines juga tidak ada hubungan pribadi layaknya pasangan kekasih. Tapi melihat keseriusan Wisnu, juga janjinya yang akan menjaga, melindungi, menyayangi, tidak akan menyakiti Ines, tidak akan meninggalkan Ines seumur hidup Wisnu, membuat hati orang tua Ines luluh. Terlebih lagi Rani menceritakan kisah pilu si kembar yang tidak mendapatkan kasih sayang dan cinta seorang ibu sejak mereka lahir, dan cinta itu mereka dapat dan rasakan dari Ines___ membuat hati orang tua Ines terenyuh dan tergugah.
Dan sebagai bukti keseriusan dan janji Wisnu pada orang tua Ines, dia memberikan setengah harta kekayaan yang di miliki pada Ines. Wisnu melakukan itu semata-mata demi kebahagiaan anaknya. Orang tua Ines menolak pemberian itu karena mengetahui ketulusan Ines menyayangi anak anak Wisnu. Tapi Wisnu tetap memaksa sebagai bentuk tanggung jawabnya pada Ines yang kelak akan menjadi istrinya.
.
.
Pernikahan pun segera di laksanakan setelah shalat Magrib, bertempat di rumah pribadi Wisnu.
Sesuai permintaan Ines, hanya mereka saja yang hadir. Rani, kedua orang tua Ines, orang tua Ayirin, Cindy dan Dion, Rafa dan Ara, juga Moly dan Rizal. Semuanya tampak bahagia.
Terutama si kembar sangat senang sekali. Mereka memanggil Ines dengan sebutan ibu.
__ADS_1
Dan Ines memanggil Wisnu 'Mas' sesuai saran dari orang tuanya.
Azham Azhar tak mau lepas dan jauh jauh dari Ines. Wisnu sangat senang melihat kebahagiaan di wajah anak anaknya.
Tapi hatinya juga sedih teringat pada Ayirin.
Mungkin ini arti dari mimpinya kemarin.
Saat Ayirin datang dan mengucapkan selamat tinggal padanya untuk selamanya. Ayirin tersenyum bahagia dan memintanya untuk hidup bahagia.
Orang tua Ines meminta pada Wisnu untuk menjaga putri mereka serta membahagiakan putri sulung mereka itu.
Rani juga sangat berterimakasih pada Ines dan kedua orangtuanya karena telah menerima Wisnu menjadi suami Ines dan menjadi ibu sambung Azham dan Azhar.
Selanjutnya Rafa dan Ara, Rizal Moly, Dion Cindy pamit. Begitu juga dengan orang tua Ayirin dan Ines.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Dion selalu berdering. Tapi dia mengabaikannya.
"Siapa kak? Kok gak di angkat?" tanya Cindy yang merasa risih dengan panggilan berulang itu.
"Bukan siapa-siapa. Gak usah di perduli kan." kata Dion menoleh padanya sekilas.
"Tapi dia menghubungi kakak terus. Siapa tahu saja penting." kata Cindy kembali.
Bukannya di angkat, Dion malah menonaktifkan ponselnya.
Hal itu membuat Cindy kesal dan curiga.
Dia menatap wajah Dion dengan cemberut.
"Kok malah di matikan? pasti dari wanita."
Dion tertawa kecil. Dia meraih tangan Cindy dan mengecupnya.
Cindy malah semakin kesal.
"Awas ya kalau aku tahu kakak dekat dekat lagi sama perempuan lain." katanya menatap garang.
Cindy menarik tangannya, lalu segera duduk menyamping membelakangi Dion. Dia menghadap pada kaca mobil dengan kekesalan yang mendalam.
Dion kembali tertawa kecil melihat kecemburuan istri dan adiknya ini.
"Cindy, udah jangan kesal begitu. Bukan siapa-siapa kok, kenapa gak percaya sama kakak." katanya kembali seraya meraih kembali tangan kanan Cindy.
Karena Cindy tetap masih ngambek juga, Dion segera menepikan mobil.
"Cind, sini lihat kepada kakak." kata Dion meraih wajahnya untuk di hadapkan padanya.
"Kasian anak anak, nanti ikut ikutan sifat ngambek ibunya."
"Salahkan bapaknya yang selalu buat ibu mereka kesal." jawab Cindy ketus manyun manyun.
Dion kembali tertawa. Dia memundurkan kursinya, lalu mendekati Cindy dan mengangkat tubuh kurus itu dan di dudukkan dalam pangkuannya.
"Apa yang kakak lakukan?" Cindy kaget dan kelabakan.
Keduanya saling berhadapan. Dion memegang wajahnya lalu mengecup kening dan bibirnya.
"Kenapa nggak percaya pada kakak? Kakak kan udah bilang selamanya kakak adalah milikmu. Dan hanya kamu yang ada di hati kakak."
"Mungkin hanya aku yang ada di hati kakak, tapi di luar hati kakak banyak." kata Cindy masih dengan kekesalannya.
Tawa Dion pecah. Segera di memangut benda kenyal merah yang mengerucut itu.
Dia mencium dan ********** dengan intens.
Makin lama Cindy terbuai dan akhirnya membalas ciuman itu.
"Akhh..." Cindy mengeluarkan ******* saat ciuman itu merambah ke leher jenjangnya.
Dan dia semakin mendesah dan mengerang saat bibir dan tangan Dion sudah mendarat di dadanya.
Sakit terasa karena buahnya yang bengkak, tapi juga terasa nikmat. Dion menghisap dan me****tnya dengan lembut.
Keduanya yang sudah terbawa oleh hasrat dan nafsu birahi, lupa kalau saat ini mereka sedang berada di pinggir jalan.
Dion, membuka rets celananya. Lalu menyibak sedikit benda tipis Cindy.
Cindy terkejut dan tersadar setelah merasakan sesuatu memasukinya di bawah sana.
"Kakak???" ucapnya menatap Dion. Nafasnya tersengal sengal.
Dion hendak turun, tapi Dion menahannya.
"Kita lagi di jalan kak, gimana jika ada orang...." ucapannya terpotong.
Dion langsung m*****t kembali bibirnya, seraya menggerakkan pinggul Cindy naik turun. Lenguhan kenikmatan keluar dari mulut mereka.
"Kakak hanya menyayangimu, kakak hanya mencintaimu. Hanya kamu dan anak anak kita yang ada di hati Kakak, selamanya." ucap Dion di sela aksi panasnya.
Siapa yang selalu menelpon Dion?
Bela.... Dion tahu itu adalah dirinya. Tapi Dion mengabaikannya karena tak ingin Cindy mengetahuinya yang nantinya akan membuat masalah dalam rumah tangga mereka lagi.
Bela kesal karena Dion belum juga menghubunginya untuk memintanya menjelaskan pada Cindy tentang jebakannya itu. Dia sudah menunggu beberapa hari tapi Dion belum juga menghubunginya. Dia sudah tidak tahan bertemu, bercumbu dan bercinta dengan pria yang membuatnya tergila gila itu.
Tapi sepertinya Dion telah menipunya. Dan hal itu membuat Bela sangat geram dan marah. Jadi dia meneror Dion.
Bersambung.
__ADS_1
Tinggalkan jejak π
Boleh juha votenya π besok udah masuk Senin lagi π