Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 241


__ADS_3

...Happy Reading....


Pintu di buka, masuklah Raymond Alkas menatap garang pada Ara dan Ines.


"Tahan mereka dan bawa ke pos kalian." titahnya pada dua orang petugas keamanan yang berada di belakangnya.


"Tante, pernikahan ini tidak boleh terjadi, kak Dion tidak boleh menikah." ucap Ara hampir menangis.


"Ara benar tante, kak Dion tidak boleh menikah." Ines ikut bersuara meski saat ini dia sangat takut.


Perkataan mereka membuat Raymond Alkas semakin emosi. Dia menarik tangan Ara kuat menjauhi dari Dinda.


"Jauhi istriku dan keluar dari ruangan ini wanita perusuh," ucapnya kasar.


"Jangan kasar pada Ara pa, jangan menyentuhnya! Biarkan dulu dia bicara, beri dia kesempatan untuk bicara." kata Dinda keras.


"Justru aku belum melakukan kekerasan padanya karena masih melihat dia sebagai sahabat Dion dan Cindy, tapi kelakuannya malah semakin menjadi. Dia hanya ingin menghentikan pernikahan Dion."


"Om benar, aku memang ingin menghentikan pernikahan ini, karena semuanya untuk kebaikan kak Dion dan juga kalian." kata Ara menatap Raymond Alkas tajam.


"Omong kosong, cepat bawa dia keluar dari ruangan ini, bawa mereka berdua keluar dari gedung ini." menatap sinis pada Ara.


Kedua petugas keamanan segera memegang kedua tangan Ara dan Ines, menarik paksa keduanya untuk keluar.


Keduanya berusaha melawan dan melepaskan diri.


"Tante, kak Dion tidak boleh menikah, batalkan pernikahan ini! Karena kak Dion sudah menghamili seorang wanita." ucap Ara kembali dengan air mata yang mengalir.


Dinda dan Raymond Alkas melongo mendengar perkataannya.


"Apa?" Ucap Dinda terbelalak.


"Beraninya kau mengarang cerita buruk pada putraku? Ini pasti adalah trik kotormu untuk menghentikan pernikahan Dion. Kau memang gadis rendah dan licik, menggunakan berbagai cara untuk menghentikan pernikahan putraku. Kau pasti salah satu dari wanita rendah yang mengejar anakku dan tidak suka dengan pernikahannya, makanya kau gunakan cara licik seperti ini untuk menghentikan pernikahan Dion, dasar wanita ******! Bawah dan seret dia ke kantor polisi !" maki Raymond Alkas menatap menyeringai pada Ara.


Ara geleng geleng kepala.


"Apa yang papa katakan? Ara adalah istri tuan Ravendro Artawijaya. Jangan menghina dan merendahkannya." kata Dinda keras.


Raymond Alkas terkejut.


Dia langsung menoleh pada Dinda dengan mata membulat.


"Apa katamu?"


"Ara adalah istri tuan Rafa Ravendro Artawijaya. Kita melakukan kesalahan yang sangat besar memperlakukan istri tuan Artawijaya dengan kasar." ucap Dinda kembali.


"Lepaskan dia." sentaknya kembali pada petugas keamanan.


Mereka patuh dan segera melepaskan Ara.


Raymond Alkas masih dalam pemikiran antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang Dinda katakan. Dia menatap Ara dengan menyelidik.


"Ara, maafkan ucapan kasar suamiku. Maaf kan kami Nyonya Artawijaya." ucap Dinda dengan wajah bersalah, tangan terlipat di depan dada.


"Maafkan atas perkataan dan perlakuan kasar suamiku Nyonya." pintanya lagi.


Raymond Alkas semakin terkejut, terdiam di tempatnya setelah mendengar perkataan istrinya dan juga permohonan maafnya pada Ara. Antara percaya dan tidak mendengar perkataan istrinya tentang status Ara.


Karena yang di ketahuinya Istri Ravendro Artawijaya bukan gadis cupu seperti ini, tapi seorang wanita muda cerdas, cantik, anggun mempesona.


Dia mengamati Ara dengan cermat. Sesaat kemudian matanya membulat mengingat kejadian kemarin di ruang meeting kantor RA Group. Seorang wanita berambut keriting datang tiba tiba dan membuat rapat penting terhenti beberapa saat, dan hal itu menjadi bahan pembicaraan semua peserta rapat, karena Ravendro lebih mementingkan wanita itu dan meninggalkan pertemuan.


Dia juga hadir dalam pertemuan itu. Dia memang tidak melihat wajah Ara, hanya punggung, rambut keriting dan kacamatanya saja dalam gendongan Rafa, karena tubuh Ara membelakangi mereka.


Dan desas desus mengenai siapa wanita itu, dia mendengar wanita itu adalah istri Ravendro Artawijaya. Dan wanita itu sangat mirip dengan wanita yang ada di hadapannya sekarang, Ara.


Raymond membuang napas berat, perasaan khawatir serta gelisah menyelimuti hatinya karena mengingat perlakuannya kasar tadi pada Ara.


"Hentikan pernikahan ini tante, aku mohon." pinta Ara kembali mendekati Dinda.

__ADS_1


"Suruh mereka keluar dari ruangan ini." katanya kembali seraya menoleh pada pihak keamanan.


"Dan aku meminta tolong, suru kak Dion kemari." tambahnya lagi.


Dinda memberi isyarat pada dua Security untuk keluar dan meminta Dion kesini. Dion ditahan diluar atas perintah ayahnya karena terlalu melindungi Ara.


Beberapa saat kemudian Dion masuk.


"Ara, kau baik baik saja? Apa papa berbuat kasar padamu?" langsung memeriksa tubuh Ara dari kepala hingga kaki.


"Dion, jaga sikapmu." kata Dinda dengan isyarat tatapan melotot.


Raymond Alkas mendekati Ara.


"Aku tidak tahu apa benar yang di katakan istriku mengenai status dirimu sebagai istri tuan Ravendro Artawijaya. Karena istri tuan Ravendro yang aku lihat di acara pertemuan paris Waktu itu wanita muda, cantik dan cerdas. Dan kemarin saat di ruang meeting RA Group aku juga melihat tuan Ravendro bersama seorang wanita,"


"Aku memang istri dari Rafa Ravendro Artawijaya tuan Alkas. Aku menantu Artawijaya. Wanita yang anda lihat bersama tuan Ravendro di acara pertemuan Paris dulu adalah aku. Begitu juga dengan wanita yang anda lihat di pertemuan ruang meeting RA kemarin.Tapi Itu tidak penting sekarang, yang lebih penting sekarang adalah batalkan pernikahan ini. Kak Dion tidak boleh menikah." kata Ara.


"Itu tidak mungkin, pernikahan sudah di depan mata dan akan segera di laksanakan. Semua tamu undangan, para penghulu sudah dan kedua keluarga calon sudah berada di tempat. Pernikahan ini harus tetap di laksanakan," titah Dion. Dan bukan karena alasan tamu dan penghulu, tapi karena adanya perjanjian kerjasama di antara kedua perusahaan.


"Bagaimana mungkin kalian akan menikahkan kak Dion dengan Sophia, sementara ada wanita lain yang sedang menderita mengandung anaknya?"


"Apa?" Dion terbelalak.


Dinda dan Raymond Alkas kembali di buat terkejut.


"Ara, apa yang kamu katakan barusan?" Dion bertanya kembali sambil menatap dalam-dalam mata Ara.


Dia memegang kedua bahu Ara kuat.


"Wanita yang mengandung anakku? Apa maksudmu?"


Ara mengangguk sedih, air matanya mengalir di kedua ujung matanya .


"Iya kak___Cindy___Cindy sedang mengandung anak kakak." ucapnya perlahan menatap sedih.


Ketiganya kembali terbelalak.


"Iya, Cindy sedang mengandung anak kakak, usia kandungannya sekarang sudah memasuki 4 bulan." Ines menyela menjawab.


Lagi lagi mereka di buat tercengang oleh perkataan Ines. Ketiganya menatap Ines tanpa berkedip.


"Tolong jangan menikah dengan Sophia, hentikan pernikahan ini. Kasihan Cindy. Dia sangat menderita." kata Ines berurai air mata.


Melihat ekspresi sedih dan keseriusan Ara dan Ines membuat mereka ingin mempercayai kata kata mereka dan tidak sedang mengarang cerita.


Ara menatap Dinda dan Raymond.


"Om, tante. Cindy sedang mengandung cucu kembar kalian. Apa kalian masih tetap ingin kak Dion menikah dengan Sophia?"


"Kembar?" Dion kembali terkejut.


Mereka kembali di buat terkejut. Dinda terduduk lemah di kursi.


"Alasan Cindy menghilang beberapa bulan sejak kembali dari Paris karena untuk menyembunyikan kehamilannya! Bentuk perubahan tubuhnya yang berubah drastis bukan karena dia melakukan program diet, tapi karena sedang mengalami ngidam berat. Cindy kehilangan nafsu makan, susah tidur, sakit perut, mual dan muntah hingga tubuhnya kurus, mengecil dan tidak terawat."


Kata Ara.


"Kak Dion sering marah marah padanya karena dietnya itu kan? itu bukan diet kak, tapi karena dia hamil muda dan sulit makan! Dia berbohong dan menutupi kehamilannya dari kakak__dari kita semua."


Dion diam tertegun mendengar perkataan Ara, perasaannya campur aduk. Kaget, bingung, seakan tidak percaya. Tapi ada perasaan bahagia mendengar anak anaknya dalam kandungan Cindy.


Dia mengingat Cindy selalu mengalami hal aneh seperti yang di katakan Ara. Muntah muntah, sakit perut dan selalu makan buah mangga muda. Menutup hidung dan mulutnya saat memasak. Dion juga ingat sepatu dan pakaian bayi kembar, baju hamil yang di lihatnya di dalam mobilnya. Dan sikap Cindy yang berubah dari biasanya, ingin memeluk dan suka aroma tubuhnya.


Dion mendesah sedih mengingat semua itu.


Tapi dia bingung dan bimbang Cindy sampai bisa hamil karena dia? Karena dia tidak mungkin menyentuh Cindy. Dia sudah menganggap Cindy seperti adik kandung sendiri.


"Tante bukan tidak menerima kenyataan seandainya Cindy benar hamil anak Dion. Tante malah senang dan bahagia. Tapi bagaimana mungkin Cindy bisa hamil anak Dion?" Dinda menatap Ara dan Ines bergantian.

__ADS_1


Raymond Alkas sepemikiran dengan Dinda. Dia menatap Dion tajam dengan amarah.


"Apa yang kamu lakukan Dion? Selama ini kalian selalu bersama sama. Apa kalian melakukan hubungan___!"


"Pa, jangn berpikir kotor. Tidak mungkin kami melakukannya. Aku sendiri bahkan bingung, kenapa Cindy bisa hamil anakku. Kami memang selalu bersama sama, tapi kami tahu batasan hubungan kami. Aku hanya menganggap dia adikku, begitu juga sebaliknya. Kami saling menyayangi hanya sebatas kakak dan adik." potong Dion cepat.


"Lalu kenapa Cindy bisa hamil anakmu?" sentak Raymond Alkas keras. Mencengkram kerah Dion. Bagaimana pun Cindy adalah keponakannya. Dan sudah di anggap seperti putri sendiri.


Dinda segera berdiri melihat kemarahan suaminya."Hentikan pa, jangan pakai emosi!" Dia menarik tangan Raymond kerah Dion.


"Ini sesuatu yang sangat memalukan, ini aib buat keluarga besar kita dan akan berdampak buruk pada bisnis dan perusahaan." sambungnya kembali.


Dinda mendekat pada Ara dan Ines.


"Ara... Ines, katakan ini tidak benar. Ini pasti hanya lelucon kan nak? Jangan bercanda nak, ini gak lucu. Kalian dengar sendiri apa yang dikatakan Dion, dia tidak pernah menyentuh Cindy! Mungkin saja Cindy hamil dari pria lain !" ucap Dinda sedih.


"Ma.....!" sentak Dion menatap tajam mamanya. Dia tidak suka mamanya menuduh Cindy melakukan hal buruk seperti itu dengan lelaki lain. Karena dia sangat tahu sifat dan kepribadian Cindy yang sangat menjaga dirinya dari lelaki lelaki yang memacarinya.


"Mama pun tidak ingin berpikir seperti itu, mama bingung. Kau tidak menyentuhnya, tapi dia hamil. Dan kata Ara dan Ines dia hamil anak mu!" ujar Dinda sedih.


Ara menyentuh tangan Dinda. Dia mengerti perasaan dan juga apa yang di pikirkan wanita ini. "Ini benar tante, Cindy memang hamil anak kak Dion."


Dinda mengangkat wajahnya yang tertunduk.


Menatap Ara.


"Apa tante masih mengingat kejadian di Paris malam itu? Tante menyuruh Cindy menjaga kak Dion semalaman di dalam kamar hotel untuk menghindari kemarahan tuan Alkas. Apa kalian masih ingat kejadian itu?" Ara menatap mereka satu persatu. Membawa kembali ingatan mereka pada kejadian di salah satu hotel Paris beberapa bulan lalu.


Dinda Tampak mengingat apa yang di katakan Ara. Dia masih ingat dengan kejadian malam itu.


Ara menatap pada Dion.


"Kak Dion masih ingat kan kejadian malam itu? Di mana kakak telah meminum minuman yang telah di beri obat perangsang oleh Siska."


Dahi Dion mengerut mengingat kejadian malam itu, dan beberapa saat kemudian wajahnya berubah tegang mengerti arah ucapan Ara.


"Maksudmu semua terjadi karena pengaruh dari obat perangsang yang aku minum?"


"Iya___aku yakin kakak memaksa Cindy malam itu karena pengaruh obat perangsang yang menguasai tubuh kakak dan membuat kakak tidak sadar diri. Coba kakak ingat lebih jelas lagi kejadian malam itu."


"Apa maksud kalian dengan obat perangsang?" sela Raymond menatap tajam mereka berdua.


Ara segera menceritakan kejadian malam itu saat Siska memberi mereka minuman yang telah di beri obat perangsang dan juga rencana busuk Siska yang ingin memiliki Dion dengan cara kotor. Dan hanya hanya Dion yang sempat meminumnya.


"Ya tuhan, jadi saat aku menyuruh Cindy menjaga Dion dalam kamar hotel, Dion sedang dalam pengaruh obat perangsang?" ucap Dinda terperanjat. Karena dia menyuruh Cindy menyembunyikan dan menjaga Dion malam itu dalam sebuah kamar yang telah di pesan secara sembunyi sembunyi agar tidak di ketahui suaminya.


"Iya tante, Cindy takut mengatakan pada kalian karena hanya akan menambah kemurkaan tuan Alkas pada kak Dion. Dia terlalu takut, makanya tidak memberi tahu pada kalian."


Mereka kembali terkejut. Suasana di liputi ketegangan.


Tuan Alkas terduduk lemah, pikirannya kacau. Memikirkan nasib perusahaan, kemarahan Abimanyu dan kehamilan Cindy yang notabenenya adalah keponakannya sendiri,


dan anak anak dalam kandungan Cindy adalah cucu cucunya sendiri.


Dinda kembali terduduk lesu dengan pikiran yang tidak menentu. Tubuhnya terasa lemah dan gemetar.


Sementara Dion berusaha sekuat ingatannya mengingat yang terjadi malam itu. Dia ingat di mana malam itu dia melihat Ara di hadapannya. Hanya Ara yang ada dalam pikirannya. Lalu di peluk dan di ciumnya dengan paksa. Wanita yang diketahuinya adalah Ara itu menangis dan berusaha melawannya di tempat tidur, dan ternyata wanita itu bukanlah Ara tapi Cindy ?


Dan dia ingat, bercak darah segar yang dilihatnya mengotori seprei pagi itu. Yang kata Cindy adalah darah dari lukanya. Tapi ternyata adalah darah perawan Cindy yang telah di direnggutnya paksa.


"Arrkkkhhh.....!" Dion tiba tiba meraung keras sambil menjambak rambutnya kuat. Dia segera bangkit berdiri karena mengingat semuanya dengan jelas.


"Cindy, maafkan kakak Cind___,kakak manusia biadab!" ucapnya sendu dengan air mata menggenangi pelupuk matanya.


Raymond Alkas dan Dinda semakin sedih karena kebenaran Cindy hamil anak Dion memang benar.


"Maafkan kakak Cindy." desahnya semakin sedih dan bersalah. Air matanya telah jatuh.


...Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like, kopi, vote, Rate bintang lima dan masukan ke favorit ❤️ Terimakasih.


__ADS_2