Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 126


__ADS_3

Aaaaa... terdengar jeritan lagi mengagetkan mereka .


lebih keras dari sebelumnya .


"Ampun tuan, jangan sakiti kami, ampuni kami."


Plak plak


Plak plak


Hati Ara teriris mendengar jeritan memilukan itu.


Tanpa pikir panjang, dia segera membuka pintu.


Raka terlambat menahannya.


Ara tercengang menyaksikan keadaan di dalam .


Dua orang gadis yang sedang berlutut dengan kondisi wajah yang sangat memprihatinkan.


Lebih terkejut lagi Ara melihat siapa orang yang berdiri di hadapan ke dua gadis itu dengan muka sangar.


"Sekretaris Wisnu ?" matanya melotot memandangi sekretaris pribadi kepercayaan kakak iparnya itu.


Di samping kedua gadis itu berdiri dua orang laki laki yang merupakan anak buahnya, berdiri tegap dengan wajah lebih sangar sambil memegang kuat rambut kedua gadis itu.


Wisnu sendiri terkejut mendengar ada yang membuka pintu, dan dia tidak menyangka kalau yang membukanya adalah nona mudanya .


Dia mengira tuan dan nona mudanya sudah ke kamar hotel, karena melihat keduanya sudah tidak berada di ruangan ballroom. Di tambah lagi dengan perkataan Rizal yang mengatakan kalau mereka capek dan ingin segera istrahat.


"Nona muda." Dia langsung menundukkan kepalanya, di ikuti oleh kedua anak buahnya.


Ara menatapnya tajam, lalu menoleh pada gadis gadis itu.


"Kalian ..?" dia ingat siap ke dua gadis itu.


Mereka berdua yang mengatakan hal hal buruk padanya di ballroom .


Wajah keduanya terlihat lebam dan biru, pipih memerah, darah menetes di sudut di bibir yang pecah.

__ADS_1


Wajah Ara ikut meringis melihatnya, karena dia dapat membayangkan rasa sakit itu.


Dia melangkah mendekati Wisnu.


"Apa yang kau lakukan pada mereka sekretaris Wisnu ?" katanya dengan bibir bergetar, antara sedih dan takut .


"Kenapa kau memukul mereka? kenapa kau melakukan kekerasan seperti itu pada mereka?" katanya agak keras.


"Nona muda, maafkan saya karena membuat anda melihat hal ini " jawab Wisnu


"Apa?" Ara terkejut mendengar jawaban itu.


Raka muncul di belakangnya .


"Sayang..."


Ara memeluk suaminya.


Raka menatap Wisnu dan ke-dua gadis itu.


Sebenarnya dia sudah mengetahui siapa yang berada di dalam ruangan tertutup ini, setelah mendengar suara umpatan dan makian tadi.


Makanya dia berusaha mengajak Ara pergi dan tak ikut campur.


Raka menatapnya tajam, karena dia juga ingin tahu apa yang terjadi.


Wisnu tidak dapat menjelaskan sekarang karena ada Ara. Dia menundukkan kepalanya lalu segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk membawa kedua gadis itu keluar lewat pintu sebelah.


"Tuan, Maafkan kami, ampuni kami, mau di bawa kemana kami ?" jerit kedua gadis itu .


"Nona muda tolong maafkan kami, maafkan kami ! tolong kami nona." pinta mereka menoleh pada Ara.


Ara tersentak dan segera berbalik .


Dia melihat anak buah Wisnu menyeret paksa kedua gadis itu keluar.


"Kalian mau membawa mereka kemana sekretaris Wisnu?" teriak Ara.


Dia berjalan cepat mendekat

__ADS_1


"Lepaskan mereka."


"Permisi tuan muda, nona muda !" Wisnu berbalik.


Ara berlari cepat ke arahnya, lalu memegang jas belakangnya.


"Berhenti, aku bilang lepaskan mereka ! apa kau tidak mendengar ku sekretaris wisnu? Berhenti, ini perintahku," sentak Ara keras .


Langkah Wisnu terhenti mendengar perintah nona mudanya, begitu juga dengan ke dua anak buahnya.


Ara segera melangkah ke depannya .


Nafasnya memburu cepat, dadanya turun naik menahan tangis dan Amarah.


Dia menyapu sisa air matanya yang tadi jatuh.


"Apa yang mereka perbuat padamu sehingga kau melakukan kekerasan seperti itu? hah ? apa salah mereka padamu?"


"Katakan kesalahan apa yang melakukan padamu? jawab aku sekretaris Wisnu." memegang tangan laki laki itu, berbicara dengan suara rendah karena mulai terisak.


"Nona muda ..." Wisnu tidak tega melihat kesedihan itu, tangan gemetaran memegang tangannya.


"Bagaimana jika saudara perempuanmu di perlakukan buruk seperti itu? hah...?" suara Ara melemah seiringan dengan air mata yang jatuh .


"Nona maafkan aku,"


"Jangan meminta maaf padaku, kau tidak melakukan kesalahan padaku. Tapi mintalah maaf pada mereka dan lepaskan mereka, aku mohon." pinta Ara menautkan kedua tangan di depan dada.


Raka memeluknya dari belakang.


"Sayang, sekretaris Wisnu hanya melaksanakan perintah, jangan menekannya." ucapnya pelan.


Tangis Ara terhenti ucapan suaminya, dia berbalik menatap suaminya.


Sedangkan Wisnu segera melanjutkan langkahnya setelah mendapat isyarat dari Raka.


Kedua anak buahnya membekap kuat kedua mulut gadis itu supaya tidak mengeluarkan suara yang akan di dengar nona muda mereka, lalu mengikuti langkah Wisnu dengan cepat.


*****

__ADS_1


Happy Reading πŸ˜ŠπŸ™


__ADS_2