Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 135


__ADS_3

...Happy Reading....


Setelah selesai makan, Raka dan Ara masuk ke ruang kerja Rafa.


"Kak___" panggil Raka.


"Hmmm." respon Rafa tetap fokus pada layar komputernya.


Raka mendekat, melihat kakaknya yang sangat serius menatap layar komputer.


"Belum selesai?"


"Sedikit lagi." jawab Rafa tanpa melihat wajah Raka.


"Biar aku bantu menyelesaikannya, kakak sarapan dulu." Raka melangkah berdiri di belakang kursi kakaknya dan ikut melihat layar komputer. "Apa ada masalah?" tanyanya.


"Hhhmmm." Rafa kembali menjawab dengan berdehem. Wisnu masuk dengan berkas di tangan. Rafa mengangkat wajahnya melihat kedatangan Wisnu. Matanya sekilas melihat pada Ara yang berdiri diam mematung di depan pintu. Bertepatan Ara melihat ke arahnya. Ara buru buru melihat ke arah lain.


"Kau sudah menyelesaikan pekerjaan mu?" tanya Rafa melihat kembali pada Wisnu.


"Sudah Tuan, saya sudah menyalin semua datanya."


"Teruskan yang ini, periksa dengan teliti. Aku mau mandi." Rafa bangkit dari duduknya.


"Baik Tuan." Wisnu mendekat ke arah mereka.


"Kalian sudah sarapan?" menoleh pada Raka dan Ara bergantian.


"Sudah kak!" jawab Raka ."Oh ya sekretaris Wisnu, biar aku saja yang kerjakan. Anda belum sarapan bukan? Sarapan lah bersama kakak." lanjut Raka melihat pada Wisnu. Lalu dia melihat pada Ara."Sayang, kemari, duduk di sampingku. Bantu aku." katanya melambaikan tangan pada Ara.


Rafa melangkah ke pintu, matanya menangkap sesuatu yang mengikat di rambut Ara. Benda yang di yakini adalah miliknya.


Ara menunduk ketika ia lewat, tak berani melihat wajahnya. Lalu segera mendekati suaminya.


Wisnu mengikuti Rafa keluar, karena dia juga harus mengurusi keperluan tuannya.


"Tuan, pimpinan Riz company memaksa ingin bertemu dengan anda,"


Rafa mendengus kasar mendengar perkataannya. Pimpinan Riz company adalah ayah dari sala satu gadis yang di hukum Wisnu semalam. Sejak semalam tak pernah menyerah memohon pengampunan Rafa.


Rafa membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Lalu segera masuk kedalam bathtub dan berendam. Tatapan mengarah pada pemandangan pantai di depan yang terlihat sedikit gelap karena cuaca mendung disertai rintik-rintik hujan yang turun.


"Apa mama sudah sampai di Jakarta?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Sudah Tuan, pak Sam dan ucil menjemput Nyonya di bandara." kata Wisnu sambil memungut pakaian tuannya.


Maya bertolak ke Jakarta jam 4 subuh karena ada urusan penting.


"Dan Nona Nesa sedang menikmati pelayanan pijat spa."


Rafa kembali mendengus kasar. Nesa tak mendengarkan perkataannya untuk segera pulang ke jakarta bersama mamanya. Kakaknya itu hanya mementingkan kesenangan diri dan tidak memikirkan anaknya.


Rafa memejamkan mata, bersandar di pinggiran bathub. Rasa lelah dan ngantuk yang dirasakan akibat lembur semalaman bersama Wisnu. Memeriksa laporan keuangan perusahaan cabang, hotel dan restorannya. Setelah di periksa dengan teliti terdapat kejanggalan yang tidak sesuai.


Sementara di ruang kerja. Ara dan Raka berkutat menyelesaikan pekerjaan Rafa. Telpon Ara berdering di dalam tas Selempang. Raka segera mengambil benda pintar itu karena jari jemari Ara sedang aktif di keyboard komputer.


"Siapa kak?"


"Ustad Arif Rahman," Raka menekan speaker. Terdengar suara suara dari seberang. Ustad Arif, guru ngaji Raka sewaktu kecil. Sudah dua bulan di percayakan untuk mengajari anak anak panti Asuhan. Dia juga mengajak 2 orang murid perempuan dan 2 laki laki sesuai permintaan Ara untuk mengajari anak-anak baca tulis Al-Qur'an dan juga ilmu agama lainnya.


"Assalamualaikum ustadz." ucap keduanya.


"Waalaikumsalam ...." balasan dari seberang.


Beberapa saat terlibat pembicaraan di antara mereka. Hingga akhirnya telepon di tutup.


Raka melihat ke arah jendela.


"Bentar kak, tinggal menyalin filenya saja." Ara segera mengcopy data yang ia kerjakan ke flashdisk yang di letakkan Wisnu tadi.


Tuuuut


Tuuuut


Terdengar panggilan video masuk dari ponselnya.


"Pak Sam?" kata Ara setelah melihat siapa yang menelpon. Ara segera mengangkat telepon.


"Anteeee......" suara girang sekaligus wajah ceria si kembar muncul di layar ponselnya.


"Cio Cia__sayang." seru Ara tersenyum senang melihat bocah bocah itu.


"Ante kapan pulang? Kami rindu ante." wajah cemberut keduanya.


"Ante juga sangat rindu kalian sayang, ante pengen banget meluk dan cium kalian."


"Sama paman nggak rindu ya?" Raka ikut bicara.

__ADS_1


"Rindu paman. Paman dan Ante cepat pulang."


"Iya sayang."


Muncul Rafa yang sudah memakai pakaian kantor setelan jas warna abu-abu.


"Kakak semakin tampan dan berkharisma." puji Raka yang terpukau dengan wajah tampan dan juga penampilan kakaknya.


Rafa hanya menanggapi dengan senyuman.


Sementara Ara melanjutkan obrolan dengan si kembar.


"Kakak akan pergi sekarang ke kantor?" tanya Raka.


Rafa mengangguk, menuju meja kerjanya.


"Ara sudah menyalin semua datanya." Raka menyerahkan flashdisk yang langsung di terima Rafa.


"Sudah bicara sama mama?" suara Ara bertanya pada si kembar.


Rafa dan Raka melihat ke padanya. Rafa mendengar suara si kembar.


"Sudah Ante, kata mama dia balik besok."


"Ante, apa Daddy yang dekat dengan paman Raka?" tanya Cia melihat sosok Rafa di dekat Raka.


"Iya sayang."


"Cia mau bicara sama Daddy." rengek Cia.


"Tapi Daddy mau ke kantor sayang. Daddy mau kerja." kata Ara.


Rafa mendekat kepadanya.


"Berikan padaku. Aku akan bicara dengan mereka." menyodorkan tangan meminta ponsel Ara.


Ara sedikit terkejut. Dia segera meletakkan handphone di telapak tangan Rafa yang terbuka.


Rafa segera beralih ke jendela, menatap ke luar.


Terdengar percakapan disertai gelak tawa darinya dan si kembar. Bocah bocah itu meminta oleh oleh darinya dan juga pada mereka semua.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2