Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 29


__ADS_3

...Happy Reading....


Wisnu segera menutup pintu setelah Nesa keluar, lalu segera berdiri tidak jauh dari belakang tuannya.


"Apa yang membuat mu kesini?" Rafa memecah kesunyian.


"Aku ingin bicara denganmu sayang, tapi bisa kah dia keluar dulu dari tempat ini?" Levina melirik pada Wisnu.


Brengsek si sekretaris ini, kenapa sih dia tidak keluar bersama kak Nesa? Kenapa masuk lagi? Apa dia tidak mengerti jika aku ingin berduaan dengan Rafa? Levina menyoroti Wisnu dengan tatapan sinis.


Wisnu tidak perduli dengan tatapan itu.


Dia membalas menatap sinis dan tetap berdiri di tempatnya. Selama tuannya tidak memberi perintah untuk keluar, maka dia akan tetap berada di belakang tuannya dan terus berada di ruang ini.


"Kau tau, dari dulu dia tidak bisa jauh dariku. Katakan saja kenapa kau kemari sampai meminta bantuan kak Nesa." Kata Rafa seraya duduk di sofa. Dia mengangkat kakinya sebelah di letakkan di paha sebelah, dan merenggangkan ke dua tangannya di atas sofa.


Levina merasakan perubahan yang terjadi pada kekasihnya ini. Dulu Rafa tidak seperti ini. Rafa akan menyambutnya dengan pelukan hangat dan kecupan. Tapi kini Rafa terlihat sangat berbeda sekali, dingin dan acuh. Levina juga dapat merasakan kalau Rafa tidak menyukai keberadaannya di sini.


Levina memasang senyum manis. Dia mendekat dan duduk di samping pria tampan ini."Sayang, kau tidak seperti biasanya. Sikap mu sangat berubah. Kau sangat dingin.Tidak sehangat dulu. Aku merasa kau tidak senang dengan dengan kedatangan ku. Padahal kita sudah lama tidak bertemu." kata Levina manja, lemah lembut.


"Itu hanya perasaanmu saja." kata Rafa tanpa menatap. Dia memberi isyarat pada Wisnu untuk membawakannya minuman.


Dengan sigap Wisnu segera menuruti perintah tuan nya. Dia mengambil sebotol air mineral pada lemari pendingin. Kemudian meletakkannya di depan tuannya dan menuangkan nya ke gelas. Lalu kembali ke tempatnya yang tadi.


Rafa meneguk minum.


Levina memperhatikan itu, dia merasa Rafa memang sengaja ingin menghindar dari pertanyaannya.


"Lalu kenapa kau menghindari ku? Selama 4 bulan terakhir ini kau menjauh dariku. Bahkan kau tidak mau menerima telepon ku." kata Levina menatap lekat wajah Rafa.


Merasa tak ada jawaban Levina merebahkan kepalanya ke dada Rafa. Dia melingkarkan sala satu tangannya ke perut Rafa dengan erat ketika Rafa akan berdiri menghindarinya.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku? Sudah lama kita tidak berduaan menghabiskan waktu bersama seperti ini." kata Levina selembut dan semanja mungkin. Dia memainkan jari telunjuknya ke area perut Rafa. Meraba dada pria itu untuk memancing hasrat Rafa.


Rafa segera menangkap tangan Levina, lalu menggeser bokongnya ke sebelah, menjauh Levina. Dia meneguk kembali minumannya.


Levina mendengus kesal dengan sikap penolakan yang membuatnya kesal dan malu.

__ADS_1


"Bukannya kau yang tidak senang bersamaku? Kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman teman model mu. Fotografermu dan juga kameranya bukan?" kata Rafa setelah selesai minum.


Levina yang mulai kesal bangkit berdiri."Jangan membuat alasan yang tidak masuk akal Rafa, kau sudah tau profesi ku." katanya dengan suara meninggi.


"Jaga nada bicaramu Nona." Wisnu menyela melihat perubahan sikap dan suara Levina.


"Diam kau, jangan ikut campur dengan urusan kami." Levina mengarahkan jari telunjuknya pada Wisnu.


Wisnu menatap sinis."Aku tidak suka ada orang yang berbuat tidak sopan dan kurang ajar pada tuanku! Jadi sebaiknya rendah kan dan pelankan suara mu." sentak Wisnu.


"Cukup Levina." kata Rafa segera melihat Levina hendak membalas perkataan Wisnu. Dia menghentakkan gelas ke meja. Menatap tajam pada keduanya.


Wisnu dan Levina terdiam tak beradu mulut lagi.


"Jangan membuat kekacauan di sini, aku sangat sibuk. Sebaiknya kau pulang." kata Rafa dengan nada mulai tinggi menatap Levina.


"Aku akan pergi setelah mengetahui alasan kenapa kau menghindari ku beberapa


bulan ini." Levina melemahkan suaranya agar tidak membuat pria ini marah dan mengusirnya.


Levina mengeram di dalam hati sambil menggigit bibirnya kesal."Brengsek, kalau bukan karena kehabisan uang, aku tidak akan mengejar mu seperti ini." batinnya mengumpat.


Cih, Wisnu mengumpat sinis melirik Levina dengan ekor matanya."Kau pikir aku tidak tau maksud mu ingin dekat dengan tuan Rafa? Kau mengejar seperti ini karena kehabisan uang kan? Dasar sampah menjijikkan." batinnya bisa membaca pikiran Levina.


"Kenapa sikapmu seperti ini, kau bahkan menolak pelukanku. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Levina memasang wajah sedihnya.


"Dulu kau begitu sangat suka aku mendatangi mu. Kau merindukan setiap sentuhan ku, pelukanku, suaraku, manjaku! Tapi kenapa kau sekarang menolak? Rafa sayang, apa kau sudah mencintai wanita lain? Apa ada wanita lain yang kau sembunyikan dariku?" katanya dengan tatapan sedih.


"Dengar Rafa, aku tidak akan pernah membiarkan wanita manapun mendekatimu. Apalagi sampai memiliki mu. Kau hanya milikku, milikku. Aku tidak akan terima bila ada yang berani mengambil mu dariku." kata Levina menekan kata katanya dengan tegas.


Rafa menatapnya tajam, tak menjawab.


Sedangkan Wisnu kembali menatap sinis.


"Memangnya siapa kau? Melarang tuanku mencintai wanita lain?" cibir Wisnu.


"Aku tahu kau masih mencintaiku sayang. Maaf bila aku punya salah padamu." Levina terisak dengan air mata kepalsuan memeluk tubuh Rafa dengan manja.

__ADS_1


Rafa membuang nafas kasar, lalu melepas pelukan Levina. Dia harus bisa membuat Levina tenang. Karena dia sangat tau orang seperti apa wanita ini. Arogan, kasar dan emosional. Bisa melakukan apa saja tanpa rasa takut.


Sebelum mendapatkan bukti yang jelas atas penghianatan Levina, dia harus berpura pura baik dulu pada wanita ini.


Rafa menatap Levina dengan senyum paksaan.


"Aku bukan menghindari mu Levina. Tapi karena aku memang sangat sibuk beberapa bulan terakhir ini." memegang bahu Levina.


Levina menjerit senang dalam hati ketika merasakan sentuhan ini. Pria dingin ini masih peduli padanya. Itu artinya dia masih punya harapan untuk terus menjadi kekasih pengusaha tampan kaya raya ini.


"Benarkah? Apa bukan karena kau punya wanita lain?" katanya sendu.


"Apa kau melihat aku bersama wanita lain selama ini?" Rafa balik bertanya.


"Aku tidak melihatnya. Tapi mungkin saja kau menyimpannya di dalam hatimu." Levina menunjuk dada Rafa.


Rafa termangu mendengar ucapannya. Dia menatap lekat wajah Levina. Pikirannya terbayang sesuatu. Hanya dia yang tahu. Dan mengingat itu membuat dadanya sesak.


Rafa segera bangkit berjalan ke dinding kaca. Menatap keluar melihat langit biru dan gedung gedung bertingkat pencakar langit untuk mengalihkan apa yang di rasakan saat ini.


"Aku tidak mau berdebat lagi Levina, aku punya pekerjaan yang harus segera di kerjakan! sebaiknya kau pulang. Nanti aku akan menghubungimu." katanya kemudian.


"Wisnu antar Levina keluar." perintahnya pada Wisnu.


"Baik sayang, aku menunggu telepon mu," kata Levina tersenyum senang. Dia mendekat Lalu mendaratkan satu kecupan tiba tiba di lengan Rafa. bibir kirinya. Rafa kaget tak bisa mengelak.


Cih menjijikkan, perempuan rendah, Wisnu mengumpat melihatnya. Dia berjalan ke pintu dan membukanya.


Levina keluar dengan sangat bahagia karena bisa membuat perhatian Rafa kembali lagi padanya.


Rafa segera menyapu bekas ciuman Levina dengan tisu yang di sodorkan Wisnu. Dia melangkah dan duduk di sofa membayangkan perkataan Levina.


"Aku memang sangat mencintainya dan masih terus menyimpannya di dalam hati. Sangat sulit mengeluarkannya dari hatiku, meski ku tahu, dia tidak akan pernah bisa ku miliki." batin Rafa. Dadanya kembali desak dan sakit.


Rafa menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Membayangkan kejadian semalam yang terjadi di rumah utama.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2