
Dua bulan setelah kepergian Raka.
Semua penghuni rumah megah ini mulai beraktivitas seperti biasa. Rafa sudah memulai aktivitas pekerjaan kantornya sejak seminggu kepergian Raka. Dia lebih memilih bekerja ketimbang berdiam diri di rumah yang hanya akan membuatnya berlarut terus dalam kesedihan dan tidak akan bisa melupakan Raka. Untuk mengusir kesedihannya, dia menyibukkan diri dengan bekerja siang dan malam. Bahkan terkadang dia bolak balik luar negeri dan terkadang menetap di sana selama berhari-hari untuk mengurus bisnisnya yang ada di sana. Dan saat ini dia sedang berada di Inggris menghadiri acara forum penting usaha bisnis sedunia.
Meskipun jauh, dia tetap memantau perkembangan orang rumah, terutama pada Ara. Melalui kamera CCTV yang terpasang di kamar pribadi Ara tanpa sepengetahuan Ara.
Lewat Florencia dia dapat mengetahui langsung perkembangan serta apa saja yang di lakukan Ara. Dia khawatir Ara melakukan hal-hal yang tidak di inginkan karena melihat kondisi jiwa gadis itu yang belum bisa m
ikhlas dan rela melepas kepergian Raka.
Florencia yang melihat rekaman CCTV, lalu di laporkan padanya.
Maya dan Nesa sudah melakukan aktivitas setelah dua minggu kepergian Raka. Mereka juga tak mau berlarut terus dalam kesedihan.
Keduanya ikut menyibukkan diri dengan bekerja agar tidak terus kepikiran pada Raka dan berlarut terus dalam kesedihan.
Sedangkan Ara lebih memilih mengurung diri di kamar. Memperbanyak beribadah, berdoa, mengaji bahkan berpuasa untuk mengobati kesedihan dan rasa rindu pada almarhum suaminya.Terkadang dia juga bermain bersama si kembar di dalam kamar ketika kedua bocah itu menyambanginya. Membimbing mereka belajar, shalat dan mengaji. Hanya sesekali dia turun dan keluar dari kamar, saat Maya mengadakan doa tahlilan dan yasinan bersama tetangga, kerabat dan tamu lainnya.
Ara belum menginjakkan kakinya di kampus karena belum mendapat izin dari kakak iparnya. Rafa khawatir akan kondisinya yang masih lemah dan belum kuat melakukan aktivitas.
Terkadang kedua temannya Ines dan Cindy datang mengunjunginya. Menghibur dirinya dengan berbagai cara dan celotehan mereka untuk membuat Ara tersenyum dan ceria kembali. Dan berkat kedua temannya ini dia dapat menyelesaikan tugas tugas mata kuliah yang tertinggal.
Rizal juga selalu datang mengunjunginya, menghiburnya serta memeriksa kondisi kesehatan gadis itu di saat dia tidak ada kerjaan. Sam dan para pelayan juga ikut menghiburnya dengan berbagai cara mereka. Ara sangat bersyukur, masih ada yang sayang dan peduli padanya setelah kehilangan suaminya.
Saat ini Ara sedang bahagia, karena semalam Raka suaminya datang ke dalam mimpinya.
Sosok suaminya itu datang menghibur dirinya, membelai wajahnya dengan lembut, memeluknya, menguatkan hatinya agar tidak berlarut-larut terus dalam kesedihan, dan harus melanjutkan hidup meski tanpa dia di sisinya. Raka mengatakan jangan meratapi terus kepergiannya, karena itu membuatnya ikut sedih dan tidak tenang di alam kubur. Bahkan suaminya masih sempat menciumnya lembut dan dia pun membalas
ciuman itu. Dan saat bayangan suaminya semakin menjauh menghilang, dia berteriak teriak memanggil Raka untuk tidak pergi meninggalkannya.
Hingga suara alarm azan subuh di hp membuatnya terbangun dari mimpi indahnya.
Ara kaget dan langsung terbangun. Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi.
Meski sedih karena hanya dalam mimpi, tapi dia senang suaminya sudah datang menghibur dirinya dan memberi semangat untuk hidup.
"Kakak, terimakasih sudah datang menemuiku di dalam mimpi, terobati sudah rasa rinduku pada kakak. Berbahagialah di alam sana, aku pun akan berusaha untuk kuat dan melanjutkan hidupku seperti keinginan kakak. Tolong jaga dan lihatlah aku dari sana. Aku akan selalu merindukan kakak." gumamnya sendu tapi bahagia. Dia menyapu dua titik air mata yang jatuh di sudut bibirnya.
Kemudian dia segera bangun dan bersih bersih untuk melaksanakan shalat subuh. Hanya kepada Allah tempat dia menumpahkan segala tangisan kesedihannya, mencurahkan semua keluh kesahnya di kala rindu mendera dalam kesunyian malam kepada orang yang ia cintai yang telah pergi meninggalkan ia selamanya.
Di setiap sujud, setiap saat dia selalu mengirimkan doa untuk suaminya, orang tuanya, ayah mertuanya dan juga kepada orang orang yang menyayanginya.
Waktu menunjukkan pukul 06.30.
Terdengar pintu di ketuk, lalu masuklah si kembar.
"Anteee....!" mereka berlarian memeluk Ara.
"Sayang, udah siap siap mau ke sekolah ya?" Ara mencium kedua pipi mereka bergantian.
__ADS_1
Kedua bocah ini sala satu obat penghibur kesedihannya.
"Iya ante. Kami mau di antar sama ante, boleh nggak?" pinta Cia.
"Baiklah, Kebetulan pagi ini ante juga mau ke kampus, jadi kita bisa sama sama." ujar Ara tersenyum.
Si kembar melonjak girang.
"Apa ante sudah sembuh ?" tanya Cio.
"Iya sayang," jawab Ara tersenyum.
Si kembar hanya tahu kalau dirinya sakit karena sering mengurung diri di kamar.
"Ante udah cantik lagi, rambut ante udah gak kayak supermi lagi." ucap Cia memegangi rambut Ara yang sudah lurus kembali karena pengaruh obatnya sudah hilang. Lalu memperbaiki letak kacamata tebal Ara yang miring.
Ara sengaja masih terus memakai kacamata itu untuk menutupi kesedihan yang terlihat dari matanya.
Pintu di ketuk, masuklah pak Sam dengan wajah tersenyum.
"Selamat pagi nona muda." sapanya sopan.
"Selamat pagi pak sam." jawab Ara pelan.
"Maaf nona, saya di suru oleh tuan Rafa untuk memanggil nona sarapan. Semua sudah berkumpul di meja makan." Sam menjelaskan maksud kedatangannya. Biasanya dia membawa makanan Ara ke kamar, tapi kali ini tidak atas perintah tuannya.
"Apa kakak ipar sudah kembali dari luar negeri?"
"Baiklah pak Sam, Ayo Cio Cia, kita turun." ajaknya pada bocah-bocah itu sambil memakai tas ransel di punggungnya.
Dia mengikat rambutnya asal. Rambutnya indah dan lembut, biar di ikat asal pun tetap terlihat rapi.
Mereka segera keluar.
"Apa nona sudah mau ke kampus?" tanya Sam
"Iya pak sam, sudah dua bulan saya berdiam diri di kamar. Sementara tugas tugas kampus semakin menumpuk."
"Itu bagus nona. Biar pikiran nona bisa terbuka ke hal lain dan tidak terfokus terus pada kesedihan. Nona hati hati di luar ya, jangan sungkan untuk menghubungi saya jika butuh bantuan atau butuh sesuatu."
"Iya pak Sam, terimakasih atas kebaikan bapak selama ini kepada saya. Saya merasa seperti punya seorang ayah lagi." ujar Ara tersenyum.
Sam tersenyum.
"Jika nona merasa begitu, jangan sungkan kepada saya. Saya akan melayani nona sama seperti melayani tuan muda."
Ara tersenyum kembali dan mengangguk, dia sangat terharu atas kebaikan kepala pelayan ini. Meski suaminya sudah tidak ada, pak Sam tetap melayani dirinya dengan sangat baik selayaknya nona muda rumah ini.
"Biar saya saja yang memegang si kembar nona." kata Sam begitu mereka hendak turun tangga, dia khawatir dengan kondisi nona mudanya yang masih lemah.
__ADS_1
Mereka segera menuruni tangga dan menuju ruang makan.
"Daddy.." teriak si kembar begitu melihat Rafa di meja makan. Merek segera berlari mendekat dan memeluk Rafa.
"Daddy sudah pulang ?" tanya Cia Cio bergantian mencium pipi Rafa.
"Iya, sekarang duduk ya kita akan sarapan." ujar Rafa tersenyum membalas mengecup pipi mereka berdua. Kedua bocah itu menurut dan segera duduk di tempat duduk masing-masing.
Ara melepas tas ranselnya dan meletakkan di kursi, lalu perlahan dia mendekat.
"Selamat pagi kakak ipar, selamat pagi ma, selamat pagi kak Nesa." sapanya pelan dengan suara rendah.
"Duduklah, kita akan segera sarapan." kata Rafa seraya memperhatikan wajahnya yang tirus dan tubuh yang kurus.
"Selamat pagi nona muda. Silahkan duduk." sapa Wisnu sopan kemudian menarik kursi nona mudanya yang berada tepat di samping kanan tuannya.
"Terimakasih." ucap Ara pelan.
Saat hendak duduk, matanya menoleh sejenak pada kursi kosong di sampingnya, yakni kursi makan yang biasa di tempati suaminya, Raka.
Raut wajahnya langsung berubah sendu. Dia menelan ludahnya pahit, kepala menunduk menatap pinggiran meja, kedua tangan saling meremas di atas paha.
"Wisnu, tempatkan kursi tuan muda mu di dekat kursi ayah dan mas Revan." perintah Rafa kepada Wisnu sambil memperhatikan Ara.
Ara terkejut, dia menoleh pada kursi milik suaminya yang sedang di angkat Wisnu.
"Kak Raka...." ucapnya sendu melihat kursi suaminya telah di bawah Wisnu.
Dadanya bergemuruh menahan tangis dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Kedua tangannya semakin meremas kuat di bawah sana.
"Daddy, kenapa kursi paman di bawah? Kalau paman kembali gimana? Nanti paman cari kursinya. Biarkan kursi paman tetap di tempatnya." sela Cio tidak suka kursi Raka di keluarkan dari meja makan.
Air mata Ara langsung berderai jatuh membasahi wajahnya mendengar ucapan Cio.
"Paman pergi kemana sih. Sudah lama belum kembali. Kata ante Ara paman sedang pergi ke tempat yang indah, tapi kenapa kita nggak di ajak? Aku sama kak Cio mau ikut ke tempat indah itu." Cia menyambung ucapan kakaknya.
Wajahnya berubah mendung.
"Apa paman Raka nggak rindu sama kami? Udah lama paman nggak pulang lihat kita. Kami sangat rindu pada paman! Kami rindu main sama paman, belajar, shalat dan mengaji sama paman." sambung Cia sendu dengan wajah memerah.
Air mata Ara semakin banyak jatuh berderai. Ara dia tidak tahan lagi menahan Isak tangisnya. Dia menangis tersedu-sedu sambil menunduk.
Suasana meja makan di selimuti kesedihan mendengar pertanyaan polos kedua bocah itu.
Maya membuang nafas berulang-ulang untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Mama sudah bilang jangan menanyakan pamanmu lagi, kenap kalian tidak mendengar ucapan mama? Kalian nakal tau nggak ?" kata Nesa agak keras menatap tajam si kembar. Dia sambil menyapu air matanya dengan tisu.
Si kembar langsung terdiam dan menunduk sedih.
__ADS_1
******
Selamat membaca, terimakasih sudah mampir ππ